Minggu, 18 November 2012

janji part 4



Eri menggandeng lengan Ryzky kuat-kuat. Seperti anak ayam yang takut terpisah dari induknya. Sementara Ryzky hanya terus celingak-celinguk mencari tempat duduk yang kosong diruang VIP kapal yang mereka naiki.
Setelah sekian lama, akhirnya Ryzky menoleh juga pada Eri dengan tatapan putus asa. “Nggak ada yang kosong Ri.”
“Tuh ‘kan udah gue bilang. Duduk di deck aja. ‘kan bisa gelar tikar. Yuk!” Eri menggamit lengan Ryzky dan membawanya menuju salah satu deck kapal yang cukup sepi.
“Tikarnya mana?”
“Nih ambil di tas gue.”
Ryzky menatap Eri kagum. “Waah, nggak nyangka ya. Mau naik kapal aja sempet-sempetnya lo bawa tikar. Mau piknik, neng?” canda Ryzky.
Eri menggeram kesal. “Iiiih. Ya udah deh, terserah! Kalo lo masih ngejek gue, gak gue izinin duduk diatas tikar. Duduk dilantai aja sana. Bawel!” Eri sibuk menggeledah tasnya dan mengeluarkan tikar kecil berukuran 3x3 meter.
“Hehe, aku cuma bercanda kok. Eri ku sayang.”
Eri memegangi pipinya yang mungkin sekarang sudah merah. Merah karena rasa senang, malu sekaligus bingung yang bercampur aduk . Sejak kapan Ryzky memanggilnya dengan sebutan “sayang”??  Walaupun sudah resmi jadian sejak beberapa hari yang lalu, Ryzky nggak pernah sekalipun memanggil Eri dengan sebutan mesra layaknya orang pacaran. Ryzky tetap dengan kecuekannya memanggil Eri “lo”. Jadi wajar-wajar aja kalo Eri heran melhat sikap Ryzky yang jadi aneh gini.
“Lo kenapa sih Ki? Kesambet?” Eri memegangi dahi Ryzky dengan lagak menirukan gaya seorang dokter yang sedang memeriksa suhu tubuh pasien.
Ryzky mengehempas tangan Eri pelan. “Siapa yang kesambet? Ngaco!”
“Ya elo. Kenapa jadi manggil gue ‘sayang’? tumben!” Tanya Eri cuek. Padahal dalam hatinya deg-deg-ser tuh! Hehe.
“Nggak boleh? ‘kan kita udah pacaran Eri sayang.”
Cless! Hati Eri benar-benar mencelos dan meleleh sekarang mendengar semua yang diucapkan Ryzky. “Ngg.. Ya gue.. Ngg.. Aneh aja. Hehe.” jawab Eri garing, mencoba mengusir sedikit ketegangannya.
“Gimana mau duduk kalo tikarnya sekecil itu?” celetuk Ryzky tajam, membuat Eri menyadari sesuatu. Ia lupa membuka lipatan tikar, sehingga tikar yang tergelar hanya berukuran tak lebih dari 1 meter karena masih terlipat enam.
“Hehe. Maaf.” Eri membuka lipatan tikar dengan cepat. Secepat Ryzky duduk diatas tikar itu.
“Gue yang gelar. Elo enak-enak duduk.” Gerutu Eri. Ryzky hanya cengengesan nggak tahu malu.

* * * * * * * *

“Mama Papa lo mana?”
Ryzky hanya menggidikkan bahu. “Tau nih! Gue telepon aja deh.” Ryzky sibuk memencet-mencet tombol ponselnya, tak lama berselang ia sudah asyik mengoceh sendiri. “Pa dimana?.. Oh disitu.. Sebelah mana sih?.. Oh ya-ya.. Aku kesana sama seseorang.. Orang deh pokoknya, bukan monyet. Entar aku kenalin.. Oke, bye.”
“Dimana Ki?”
“Dekat gerbang sana. Jalan sedikit aja kok.”
Eri meraba detak jantungnya yang begitu kencang. Grogi banget rasanya mau ketemu lagi sama orang tua Ryzky yang sudah delapan tahun nggak ditemuinya. Eri merasa, ini bukan seperti perkenalan biasa. Karena statusnya dan Ryzky sekarang ‘kan pacaran. Berarti Mama Papa-nya Ryzky, calon mertua Eri dong. Membayangkan hal itu saja, membuat detak jantung Eri semakin menjadi-jadi.
“Ryzkyyyy!!! Ya ampun, Mama kangen.” Mama langsung memeluk Ryzky tanpa ampun, begitu melihat Ryzky sudah ada didepan matanya. Tak lama, Mama mengalihkan pandangannya pada Eri yang berdiri manis dibelakang Ryzky. “Ini siapa Ki?”
Ryzky melepas pelukan Mama. “Ini Eri Ma.”
Mata Mama membulat senang. “Ya ampun Eri. Sudah besar ya sekarang.” Mama lantas memeluk Eri hangat.
“Ini Eri yang teman kamu waktu kecil dulu?” bisik Papa ada Ryzky. Ryzky mengangguk.
“Kok bisa bareng kamu?”
“Panjang ceritanya Pa. Entar deh aku ceritain.”
“Eri mau kemana?” suara Mama membuat Papa dan Ryzky berhenti saling berbisik.
“Ke Bandung Tante.”
Alis Mama terangkat sebelah, tanda kebingungan. “Kok..,”
“Hmm, Ma. Entar aja ngobrolnya didalam mobil.” Putus Ryzky.
Kini bukan hanya Mama yang terlihat bingung, tetapi Papa juga. “Mobil?” Tanya Mama dan Papa kompak.
Ryzky menggaruk-garuk kepalanya, bingung. “Iya Ma, Pa. Gapapa ‘kan kalo Eri numpang mobil kita sampe ke Stasiun Gambir?”

* * * * * * * *

Tok tok tok! “Bi!!! Bibi!!!” Eri mengetuk-ngetuk pintu rumahnya tak sabar.
Cklik! “Eh Non Eri. Bibi kangen loh udah lama nggak ngeliat Non,” Bi Mar memeluk Eri. “Non sehat-sehat aja ‘kan?”
Eri melepas pelukan Bi Mar lalu mengangguk. “Rumah baik-baik aja ‘kan Bi?”
“He-eh Non. Tenang aja. Tapi dari dua hari yang lalu ada teman cowok Non yang nyari Non kesini.”
Eri meneguk segelas air es yang ada ditangannya dengan cepat. “Siapa Bi?”
Bi Mar mengetuk-ngetuk dagunya. “Kalo nggak salah nih Non, namanya Mandra.”
“Uhuk! Uhuk.. uhuk..” Eri tersedak air es yang diminumnya tadi sebagai refleksi dari kekagetannya. Sejak kapan dia punya temen namanya Mandra? Eri memutar bola matanya terlihat berpikir, dan mencoba membuka ensiklopedia nama orang-orang yang yang dikenal selama hidupnya. Mandra? Mandra? Mandra? Mandra mana ya? Adanya juga Manda, teman SMP Eri yang sekarang sudah jadi foto model top seantero Bandung. Tapi Manda ‘kan cewek, bukan cowok. Lagian ngapain Manda kesini? Eri memutar bola matanya mulai berpikir lagi. Tring! Eri teringat seseorang. Seseorang yang sangat dikenalnya, bahkan sangat dekat dengannya akhir-akhir ini. “Andra kali Bi?” Tanya Eri memastikan.
“Nah iya Non. Itu tuh. Hehe. maaf ya tadi salah sebut, Bibi nggak hapal banget namanya.”
Eri mengangguk maklum. “Aku masuk kedalam kamar dulu ya Bi.” Eri menenteng koper besar miliknya, berjalan menuju kamarnya yang ada didekat ruang TV. Sempat terlintas diotaknya niat untuk menelepon Andra. Tapi niat itu batal 100% mengingat besok sudah masuk sekolah. Sekalian aja interogasi dan cerita semuanya besok, pikir Eri.

* * * * * * * *

“Nggak nyangka ya Ki, kamu emang lagi untung rupanya.” Ujar Mama saat makan malam baru mulai.
“Untung kenapa?”
“Ya kamu ketemu Eri di Bandarlampung.”
Ryzky terkekeh membenarkan perkataan Mama barusan. Ia teringat kata Mama sebelum kepergiannya ke Bandarlampung. Mama bilang, kalau Ryzky lagi untung, pasti dia ketemu Eri di Bandarlampung sana. Ternyata keuntungan itu benar-benar datang.
“Hehe iya Ma. Bukan cuma beruntung malah.” Pancing Ryzky.
Papa dan Mama saling melempar pandangan penuh tanya. “Emang kenapa?” Tanya Papa.
Ryzky meletakkan sendoknya, berhenti makan sebentar. “Aku..,” Ryzky memajukan wajahnya ketengah meja makan, diikuti Mama dan Papa yang ikut memajukan wajahnya. “Aku..,” ulang Ryzky. “Aku..,” Ryzky melempar senyum penuh arti membuat Papa Mama semakin penasaran. “Aku jadian sama Eri.” Jreng-jreng-jreng-jreng.
Mama dan Papa kini saling tukar pandang lagi, namun dengan pandangan kegembiraan. “Wah selamat ya Ki.” Mama menyalami Ryzky, serasa menyalami mempelai pria dalam sebuah pesta perkawinan.
“Iya Ki. Papa juga ngucapin congrats buat kamu. Akhirnya anak Papa ini laku juga.” Sindir Papa, mengingat selama ini Ryzky memang belum pernah punya pacar, dan Eri adalah pacar pertama Ryzky.
Ryzky hanya tersenyum tersipu malu lalu kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda.

* * * * * * * *

Pagi yang cerah.
Secerah hati Eri. Ia bersiul riang sambil berjalan melewati koridor demi koridor SMA 17 Agustus. SMA yang sudah hampir sebulan ini tak dilihatnya karena liburan semester. Eri jadi kangen sama teman-teman sekelasnya. Teman-teman sekelasnya yang kadang jayus tapi gokil itu. Apalagi Andra, Eri sangat merindukan sahabat barunya itu.
“Andra!!!” Eri menghambur dari pintu kelas dan langsung berlari memeluk Andra yang sedang duduk dibangkunya sambil memetik gitar.
“Weits. Ngapa lo? Seneng amat?”
“Hahaha. Ya gue senenglah ketemu elo lagi. Gue ‘kan bisa ngejahilin lo.” Eri cekikikan.
Andra menempeleng kepala Eri sebal. "Enak aja lo!” Andra meletakkan gitar yang sedari tadi dipeluknya keatas meja. “Gimana cerita liburan lo di Bandarlampung?” tanya Andra penuh selidik.
Eri tak menjawab, hanya menggeleng-geleng malu dengan wajah yang bersemu merah.
“Kenapa sih lo? Ayan?”
Bletak! Sebuah jitakan maut Eri melayang tepat diatas ubun-ubun Andra. Enak aja! Orang lagi seneng gini malah dibilang ayan. Nyebelin!
“Lo yang ayan. Dasar stress.”
“Hehe. Ya gue bercanda kali Ri. Serius nih. Gimana cerita lo di Bandarlampung?”
Eri menoleh kepada Andra dengan mata yang berkilat senang. “Gue, disana dapet pacar baru Ndra. Hahahahaha.” Eri tertawa senang. Padahal ekspresi diwajah Andra tak terlihat senang sama sekali.
Andra menaikan sebelah alisnya. “Pacar? Siapa?”
“Ryzky. Temen gue dari kecil bla bla bla..,” Eri mulai berceloteh riang menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama liburan kepada Andra dengan se-detail mungkin.
Sampai cerita Eri selesai, tak ada satupun tanggapan yang keluar dari bibir Andra. Andra hanya melipat tangannnya didepan dada dengan raut yang susah ditebak. Entah itu senang, sedih atau marah. “Oh.” Jawab Andra pendek.
“Ih Andra, kok gitu doang sih nanggepinnya. Bukannya ngasih gue selamat kek, apa kek. Biasanya juga ‘kan lo lebih bawel dari burung beo-nya tetangga gue, kenapa jadi pendiem gini sih?” seloroh Eri. Namun Andra bergeming.
Buk! Eri memukul lengan Andra dengan tas sekolahnya. “Ih nggak seru ah cerita sama lo! Padahal gue mau cerita banyak tau!” sungut Eri kesal lalu memutar balik badannya dan berjalan menuju kursi tempatnya duduk yang ada dipaling belakang.
Sementara Andra hanya diam, hatinya merasakan sesuatu yang aneh. Seperti terluka karena teriris sesuatu yang tajam. Dan batinnya terasa pahit seperti baru menelan pil dengan berjuta-juta dosis yang bisa membuat orang jadi mual.
Pada  menit berikutnya Andra baru bergerak dari ketergemingannya. Mengambil gitar yang sedari tadi hanya membatu diatas meja. Memetik gitar itu perlahan, menyanyikan lagu mellow yang sedih dengan penuh penghayatan. Membuat Eri melongo tajam kepada Andra. Andra kenapa sih? Aneh banget. Batin Eri.


* * * * * * * *

“Udah deh Ri, gue udah gede. Gue  juga udah biasa keluar malem. Nyantai aja.”
“Tapi ‘kan..,”
“Eh udah dulu ya Ri, entar kalau sempet gue hubungin lagi. Bye!”
Klik! Sambungan telepon itu terputus secara tidak terhormat. Eri membanting ponselnya kesal keatas kasur lalu membenamkan wajahnya dibalik bantal, menangis.
Kenapa sih Ryzky berubah banget? Udah 3 minggu semenjak mereka jadian, Ryzky mulai berbeda. Bukan Ryzky yang dulu  asyik dan penyayang. Tapi Ryzky yang dingin, cuek, dan easy-going pada Eri. Sebenarnya apa sih salah Eri? Sampai Ryzky bersikap segitunya?
Ryzky malah jadi pembangkang sekarang.  Eri selalu melarang Ryzky untuk keluar dimalam hari karena takut Ryzky kenapa-kenapa, tapi Ryzky suka ngotot dan membantah. Ujung-ujungnya ya begini nih,  ribut yang selalu berakhir dengan tangisan Eri.
Eri mengangkat kepalanya dan menengok kearah LCD ponselnya, ia berharap Ryzky akan meneleponnya balik. Tapi sayang, itu nggak terjadi. Ryzky ‘kan sekarang cuek bebek sama Eri. Dia nggak pernah mengerti perasaan Eri. Apapun yang Eri lakukan Ryzky seperti tak mau tahu. Ryzky dan Eri pun jadi jarang berkomunikasi sekarang. Hanya pada saat penting-penting saja. Menyedihkan bukan? Jujur, Eri kecewa dengan semua ini! Haruskah hubungan ini dipertahankan? Ck! Entahlah. Eri bingung.

* * * * * * * *

“Siapa Ki yang telepon?”
Ryzky menoleh pada orang yang bertanya itu dengan tatapan masak-lo-nggak-tahu-itu-siapa?
“Oh. Pacar lo yang namanya Eri itu?”
Ryzky mengangguk.
“Kenapa dimatiin teleponnya?”
“Gue mulai jenuh sama semuanya Am.”
Cowok yang bertanya tadi yang ternyata bernama I’am itu membelalak kaget. “Jenuh? Jenuh gimana maksud lo?”
“Gue capek aja mesti long-distance gini.”
I’am menepuk-nepuk pundak Ryzky sambil tertawa kecil. “Lo tu lucu ya? Seharusnya elo tahu dari awal dong resikonya pacaran sama Eri. Kalau lo nggak siap buat resikonya, ya jangan dipacarin.”
“Tapi gue sayang sama Eri, Am.”
“Kalo sayang, jangan jenuh dong!”
Ryzky hanya bergidik menanggapi saran I’am. Pandangannya menerawang. Emang kalo sayang nggak boleh bosen ya? Kalo Ryzky bosen atau jenuh, berarti Ryzky nggak sayang dong sama Eri? Tapi suer deh! Ryzky sayang kok. Cuma sedikit jenuh aja karena long-distance dan jarang ketemu Eri.
“Balik yuk!”
“Kenapa? Tumben lo ngajak pulang jam segini. Biasanya juga nongkrong sampe hampir tengah malem.” Tanya I’am heran, mengingat ini baru jam 9 malam. Biasanya ‘kan Ryzky dan I’am menghabiskan waktu di kafe Starbucks ini sampe larut.
“Tau nih! Kepala gue mumet.”
“Karena Eri?”

* * * * * * * *

Eri menelungkupkan kepalanya keatas meja. Wajahnya yang lusuh dari semalam itu, belum juga hilang. Matanya yang sembab, bukti bahwa ia menangis hingga jam dua pagi. Sedangkan Ryzky? Ia belum menghubungi Eri hingga saat ini. Nomornya  terus saja mailbox bila Eri telepon. Kemana Ryzky? Eri benar-benar membutuhkannya sekarang.
“Ri?”
Eri mendongak dan mendapati Andra tengah menatapnya prihatin.
“Lo kenapa Ri?”
Eri hanya menggeleng lemah lalu kembali menenggelamkan kepalanya dibalik meja.
“Nggak mau cerita nih sama gue?” Andra membelai rambut Eri pelan.
“Entar elo ngetawain gue kalo gue cerita.” Suara Eri masih teredam dengan kayu meja yang menjadi sandaran wajahnya.
“Nggak. Gue janji.” Andra membentuk huruf “V’ diudara menggunakan tangan kanannya.
Eri luluh. Ia mengangkat wajahnya yang mendung itu, dan melempar sorot mata memelas pada Andra. “Cowok gue nyebelin Ndra!” pekik Eri histeris disusul dengan suara tangisan.
Andra jadi salah tingkah sendiri, karena teman-teman sekelasnya sekarang melempar pandangan kambing hitam kepada Andra. Seolah Andra-lah yang membuat Eri jadi mewek seperti ini. Padahal? Andra aja nggak tahu apa-apa kok.
Andra mengibas-ngibaskan tangannya pada semua orang yang menatapnya aneh. Sambil berkata “Bukan gue.” Tanpa bersuara.
Kini pandangan Andra kembali tertuju pada Eri. “Apa tadi?”
“Cowok gue nyebelin!” pekik Eri sekali lagi namun dalam volume yang sedikit mengurang.
“Nyebelin kenapa?”
Pandangan Eri pun menerawang kedepan, seolah semua kejadian menyebalkan yang membuatnya terluka kembali terulang didepan matanya. “Dia jadi aneh,” Eri mengehela nafas panjang. “Akhir-akhir ini, dia jarang ngehubungin gue. Kalo gue hubungin, selalu aja berlagak sok sibuk. Dia seperti nganggep gue nggak ada Ndra.” Air mata Eri mulai menitik lagi.
“Kenapa gitu?”
Eri menggidikkan bahu disusul dengan gelengan kepala. “Gue juga nggak tahu. Gue nggak ngerti Ndra. Dia berubah.”
Andra mengusap bahu Eri sayang. “Ri. Semua akan terjawab seiring waktu. Jangan terlalu dipikirin ya? Liat tuh mata lo udah ngalah-ngalahin mata panda.”
Eri tertawa, akhirnya. Mendengar candaan Andra. “Thanks for always beside me, Ndra.”

* * * * * * * *

“Ki? Lo kemana aja sih? Gue nyariin lo. HP lo mailbox terus.” Sembur Eri begitu Ryzky mengangkat teleponnya. Setelah sekian kali mencoba menghubungi Ryzky. Akhirnya bisa tersambung juga. Lagian Ryzky tuh kayak seleb sok sibuk aja sih. Ponsel pake susah dihubungi segala.
“HP gue lowbatt Ri.”
Lowbatt! Lowbatt! Emang dirumah lo nggak ada charger apa? Sampe nggak bisa nge-charge lagi?” kepala Eri sudah ditumbuhi tanduk sekarang saking kesalnya.
“Ri. Lo kenapa sih? Kok jadi marah-marah gini?”
“Ya  marahlah. Gue berhak marah sama lo karena perlakuan lo yang kayak gini ke gue.”
Diam.
Hening.
Ryzky tak bicara, begitu pula Eri.
5 menit…
10 menit..
Masih diam juga..
Eri mulai kehilangan kesabarannya.
“Ngomong kenapa sih!”
“Ngomong apa lagi Ri? Apa yang perlu kita omongin?”
“Banyak! Soal hubungan kita! Kenapa lo jadi aneh gini sih Ki? Kenapa lo berubah?”
“Berubah gimana?”
“Ya berubah! Lo jadi dingin dan cuek sama gue. Lo seperti nggak pernah peduliin gue Ki.”
Diam lagi.
Hening lagi.
Namun sekarang semua kebisuan itu hanya berlangsung selama 5 menit.
“Ri? Lebih baik kita putus aja ya? Gue nggak mau lo sakit.”
Deg! Mata Eri membasah, jantungnya berdetak sangat lambat, aliran darahnya tersendat. Tubuhnya terpaku tak bergerak. Mimpikah ini? Ryzky ingin mengakhiri semuanya?
“Kenapa Ki? Kenapa mesti putus?”
“Gue nggak bikin lo sakit karena kita pacaran jarak jauh gini.”
“Siapa bilang gue sakit?” sergah Eri marah. “Gue nggak sakit sama sekali Ki.”
“Tapi gue sakit.”
Eri mengambil bantal spongebob miliknya dan menyumbatkannya pada telinga. “Gue nggak mau denger!”
“Ri? Udahlah, kita bukan anak kecil lagi,” huh! Percuma, suara Ryzky tetap saja terdengar ditelinga Eri. “Mungkin kita memang lebih baik jadi temen aja, seperti waktu kita kecil dulu.”
Ryzky terhenyak, suara tangisan Eri terdengar dengan sangat jelas ditelinganya sekarang. “Ri, please jangan nangis.”
“Gimana gue nggak nangis kalo lo ngelakuin hal sekeji ini sama gue Ki!”
“Maafin gue Ri. Gue nggak bermaksud nyakitin lo. Mungkin lo bakal dapet cowok yang lebih baik dari gue nanti. Satu yang harus lo tahu, gue beruntung pernah milikin elo.”
Kalau saja  Ryzky ada dihadapan Eri sekarang, ingin rasanya Eri menampar Ryzky sekuat tenaga. Beraninya ia berkata seperti itu. “Kalo lo ngerasa beruntung punya gue, kenapa elo harus mutusin gue?” Eri terisak, Ryzky tak menjawab. “Dan cowok yang lebih baik gimana lagi maksud lo?! Jangan ngaco!”
“Yang jelas cowok itu nggak akan bersikap cuek dan dingin sama lo. Ri, please jangan marah sama gue, gue masih mau kita temenan.” Ucap Ryzky akhirnya.
“Hhh..,” Eri menghela nafas dalam tangisnya.
“Ri? Gue mohon, jangan buat semua ini menghancurkan persahabatan yang sudah kita bangun sejak sepuluh tahun yang lalu.” Kini suara Ryzky terdengar sangat memelas, membuat Eri tak tega.
“Ri? Gue mohon banget sama lo.”
Eri menyeka air matanya yang sudah banjir. “Ya.”
“Ya?” tanya Ryzky memastikan.
“Ya. Kita temenan.”

* * * * * * * *

Eri mondar-mandir gelisah didepan gerbang sebuah rumah yang cukup megah. Eri sedang menunggu si empunya rumah membukakan pintu gerbang.
Set! Celah dari pintu gerbang mulai terbuka, dan menyembul kepala Andra dari dalamnya. “Ri? Kenapa?”
Eri mendongak menatap Andra. Menunjukkan wajahnya yang sembab dan menyedihkan. “Gue mau curhat!”
Andra berdiri diambang pagar dengan pose berkacak pinggang. “Dari tampang lo yang suntuk itu, lo pasti mau curhat soal Ryzky ‘kan?”
Eri tak menjawab, hanya terus menerobos masuk kedalam rumah Andra lalu dengan seenak udel duduk dikursi teras milik Andra.
“Gak sopan!” celetuk Andra.
“Elo yang lebih nggak sopan! Ada tamu kok malah diajak ngobrol diluar gerbang!”
“Nggak sopanan mana sama tamu yang seenaknya aja masuk tanpa permisi?”
“Ya nggak sopanan tuan rumahnya bla bla bla..,”
Aduh! Naluri Tom and Jerry, anjing dan kucing, minyak dan air, kancil dan Pak tani-nya Eri dan Andra keluar deh. Kalo udah begini nih, bisa tunggu mulut berbusa dulu baru berhenti.
Dan benar saja, setengah jam pun berlalu dengan saling adu cemooh dan argumen yang nggak ada penting-pentingnya antara Andra dan Eri. Mulai dari saling ejek tentang tinggi badan, warna kulit, berat badan, sampe ukuran celana. Nggak penting semua ‘kan pokok bahasan ejekannya? Mbok ya kalo ribut itu ejekannya agak berbobot dikit kek. Ejek-ejekan tentang global warming misalnya, atau sebab musabab kematian Adolf Hitler, ejek-ejekan tentang sejarah perang dunia kedua juga bisa, atau ejek-ejekan tentang nama latin dari tumbuhan, atau mungkin ejek-ejekan tentang rumus kimia! (Loh, mau ejek-ejekan apa belajar bersama sih?)
“Capek mulut gue!” Eri menggigit bibirnya yang mulai lelah berkoar-koar sedari tadi.
“Salah sendiri! lo duluan yang ngajak ribut!”
“Eh kok gue? ‘kan lo duluan? Kenapa jadi nyalahin gue?”
“Ya elo lah kalo lo nggak nyerobot masuk kedalam rumah gue, ya gue nggak akan gini.”
Eri berdiri lalu berkacak pinggang. “Enak aja! ‘kan elo duluan yang bla bla bla..,”
Hadoooh! Kok mulai lagi sih ributnya? Males ah gue ngelanjutin ceritanya. Pokoknya si penulisnya ngambek  sama Eri dan Andra. Abisnya ribut mulu.
“Eh kok Mba penulisnya gitu sih?” gerutu Eri.
Penulis : “Ya abisnya kalian berdua ribut mulu! Males lah gue ngelanjutin ceritanya kalo ribut.”
“Tuh ‘kan Ndra. Gara-gara elo sih. Marah Mba penulisnya.”
“Kok gue?”
Penulis : “Tuh ‘kan mulai!”
“Iya-iya ampun deh. Nggak dilanjutin lagi. Suer!” Andra mengacungkan jarinya diudara.
“Iya Mba penulis. Nggak dilanjutin lagi deh. Lagian kalo Mba penulis ngambek, siapa yang ngelanjutin ceritanya?”
Penulis : “Iya, gue lanjutin ceritanya. Udah ah yang serius, jangan ribut-ribut lagi! Ceritanya nih, Eri lagi mau curhat sama Andra.”
Oke, back to story..
Eri menatap Andra lekat. “Gue putus sama Ryzky, Ndra.”
Andra terperanjat kaget dikursinya. “Putus? Kok bisa?”
Air mata Eri mulai menitik lagi. “Dia bilang dia nggak mau long-distance gini, Ndra.”
“Alah. Alasan aja pacar lo tuh!” Andra mengompori. “Emang kapan putusnya?”
“Tadi waktu pulang sekolah.”
Andra memeluk Eri penuh kasih sayang. ”Udah ya Ri, jangan nangis lagi. Gue nggak mau ngeliat lo sedih. Walaupun nggak ada Ryzky, gue yang akan selalu nemenin lo menggantikan dia. Gue janji.”
Eri mendongak, menatap Andra penuh tanya. “Maksudnya?”

* * * * * * * *

Eri ada dirumah Ryzky sekarang, dia bela-belain berangkat dari Bandung subuh-subuh dengan naik kereta, demi mengejar waktu supaya nggak kesiangan nyampe rumah Ryzky yang ada di Jakarta. Dan  emang pas banget, Eri tiba dirumah Ryzky jam 8 tepat. Dan Ryzky sepertinya memang belum bangun, karena sedari tadi tak ada tanda-tanda Ryzky sedang beraktifitas (Ini nih kebiasaan jelek Ryzky. Kalo hari minggu dan hari libur pasti bangunnya siang-siang). Eri sudah membawa kue tart besar, sekotak coklat dan kado yang dibungkus menggunakan kertas kado berwarna biru muda. Pasti udah pada tau dong kenapa Eri bela-belain kerumah Ryzky hari ini? Ya, Ryzky ulang tahun!
Bisa dibilang Eri emang nekat. Udah tau Ryzky dan dia nggak ada hubungan apa-apa lagi, tapi masih aja didatengin. Pake acara surprise segala lagi.
“Assalamu’alaikum.” Eri mengetuk-ngetuk pintu rumah Ryzky yang masih tertutup rapat.
Tak lama keluar seseorang yang sangat dikenal Eri dari balik pintu itu. “Tante Ayu?” Orang yang ternyata Tante Ayu alias Mama-nya Ryzky itu langsung disalami tangannya oleh Eri.
“Eri?” Tante Ayu menyinggahi bibirnya diatas pipi kanan dan pipi Eri secara bergantian. “Eri ngapain kesini?”
“Nyari Ryzky Tante. Mau kasih surprise.” Eri mengerling bangga pada setumpuk barang yang dibawanya dari Bandung tadi, barang-barang itu  diletakkannya diatas meja kecil yang ada di teras.
“Waah! Banyak banget Ri.” Tante Ayu  takjub sendiri. “Ayo masuk! Ryzky belum bangun, masih ada dikamarnya.” Tuh ‘kan bener! Ryzky belum bangun. Bangga Eri dalam hati.
Tante Ayu menggamit lengan Eri masuk kedalam rumah dan membawanya hingga kedepan sebuah pintu yang bertulis “Ryzky’s privat room”.
“Ketuk aja pintunya,” Tante Ayu mengedipkan sebelah matanya penuh arti pada Eri. “Goodluck ya. Ryzky pasti seneng dikasih kejutan sama pacarnya.” Tante Ayu berbalik dan pergi.
Apa kata Tante Ayu? Pacar? Jadi Tante Ayu belum tahu kalau Eri dan Ryzky itu udah.., aduh! Kok tiba-tiba Eri jadi nggak enak hati gini ya sama Tante Ayu. Hmm, udahlah forget it. Sekarang yang terpenting jalankan misi untuk memberi kejutan pada Ryzky (duilee, berat amat bahasanya?)
Eri baru saja mengangkat  tangannya keudara bersiap mengetuk pintu, namun terlambat, kepala Ryzky telah menyembul terlebih dahulu dari balik pintu itu.
“Eri?!” seru Ryzky tak percaya. “Elo ngapain?”
Eri diam, dan hanya memberi isyarat dengan bola matanya agar Ryzky melihat kearah tangannya yang sedang membawa kue tart.
“Buat gue?”
Eri mengangguk. “Happy birthday ya Ki.”
Ryzky tersenyum. Namun senyuman yang sangat hambar tanpa makna, membuat Eri sedikit kecewa. “Thanks.” Ujarnya pendek.
Ooh iya! Mungkin Ryzky bakal senang kalau Eri menunjukkan kado yang dibawanya. “Tunggu bentar ya Ki. Tolong pegangin!” Eri menyerahkan tart-nya pada Ryzky, lalu kedua tangannya sibuk mengaduk isi tas kecil yang dipanggulnya dibahu kanan. “Nih!” Eri menyerahkan kado dengan sampul berwarna biru yang dibawanya tadi kepada Ryzky. Namun Ryzky masih bergeming dalam kehambarannya.
Thanks.” Ujar Ryzky sangat pendek untuk kedua kalinya saat mengambil kado itu dari tangan Eri. Nggak ada kata lain apa selain “thanks”?! gerutu batin Eri sebal.
“Nih tart-nya!” Ryzky menyodorkan kue tart itu pada Eri lagi.
Dum! Eri tersentak mundur beberapa langkah melihat sikap Ryzky kepadanya barusan. Ia menutup (lebih tepatnya sih membanting) pintu kamarnya dengan kuat tepat didepan wajah Eri. Nggak sopan! Udah dapet kado, eh malah seenaknya banting pintu dan ninggalin Eri sendirian disini.
Eri hanya bisa terduduk lemas disofa yang ada disebelah pintu kamar Ryzky. Kue tart yang dibawanya tadi, diletakkan oleh Eri dilantai, tepat diujung kakinya.
Percuma gue kesini! Gue pikir hati Ryzky bakal luluh dan bisa sadar kalau gue masih sayang sama dia. Ternyata nggak! Jangankan untuk sadar. Dia menerima kehadiran gue disini juga nggak kok! Mending pulang aja deh! Putus batin Eri cepat dalam kekecewaan yang mendalam.
Eri baru saja bangkit dari kursinya ketika mendengar seseorang memanggilnya.
“Mau kemana lo?”
Eri menoleh dan mendapati Ryzky tengah berdiri dibelakangnya dengan menggunakan pakaian yang sangat rapi. Ryzky mengenakan kemeja polos berwarna putih, jins belel, dan sepatu  berwarna kecoklatan. Waah, jangan-jangan Ryzky mau ngajak Eri pergi atau jalan bareng lagi! Asyiik!
Ryzky menatap Eri datar. “Kita pergi!”

* * * * * * * *

Mobil Ryzky berhenti tepat didepan sebuah rumah sederhana yang minimalis. Rumah dengan warna ungu yang dominan. Eri jadi heran sendiri, ngapain Ryzky ngajak Eri kesini? Kok bukannya pergi ke restoran yang romantis atau jalan-jalan ke mall sih??
“Ngapain Ki kesini?” tanya Eri penuh selidik.
Ryzky diam, ia hanya turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Eri tanpa berkata apa-apa. Eri jadi ikut mengunci mulutnya rapat-rapat. Takut salah ngomong.
Ryzky menarik lengan Eri dan membawanya duduk diteras rumah itu. “Tunggu sebentar!” pinta Ryzky dengan nada dingin. Lalu masuk kedalam rumah itu tanpa permisi, meninggalkan Eri sendirian.
Eri mengusap wajahnya lesu. Ngapain sih kesini? Nggak jelas banget! Mana Ryzky nggak ngasih tahu apa-apa lagi ke Eri. Bikin Eri jadi penasaran.
Tuk! Tiba-tiba terdengar suara sepatu yang terhantuk kaki dari kursi teras yang memang terbuat dari kayu. Eri mendongak, dan mendapati Ryzky dan…, dan siapa itu ya? Eri nggak tahu. Yang jelas Eri nggak kenal sama cowok yang ada disamping Ryzky itu. Cowok itu emang cakep sih. Udah cakep, tinggi, putih, wajahnya itu charming banget!
Hus! Kok Eri jadi mikir gitu sih?! Inget Eri! Cintamu hanya untuk Ryzky seorang. Pertahankanlah itu. Merdeka! Merdeka! Merdeka! (apa’an sih?)
“Ri, ini I’am. Temen gue.” Ryzky menarik lengan I’am maju kedepan, sehingga tubuh I’am sekarang berada tepat didepan Eri.
“Hai, gue I’am.” I’am tersenyum muaniiiiiissss sekali lalu mengulurkan tangannya kehadapan wajah Eri. Eri sampai bengong takjub melihat perlakuan I’am terhadapnya. Cowok yang amaze.
“Gue Eri.” Eri membalas uluran tangan itu dan tersenyum tak kalah muaniiiisssnya dari I’am tadi (padahal aslinya, senyum Eri tuh bikin mual. Hehe)
Detik berikutnya jabatan tangan itu terlepas. Kini Eri kembali mengalihkan perhatiannya pada Ryzky. Menunggu cowok itu menjelaskan apa maksudnya membawa Eri kerumah I’am sekaligus mengenalkan Eri padanya.
“I’am yang bakal nemenin lo hari ini. Gue nggak ada waktu.”
Eri terperanjat. Kalau aja Eri nggak tahu malu, mungkin udah dari tadi dia meloncat dari kursinya saking kaget. “Maksud lo?”
“Lo tuh anak TK atau apa sih?! Gue udah ngomong segitu jelasnya masih aja nggak ngerti!”
Eri berdiri dari duduknya, kekesalannya sudah sampai ubun-ubun. “Lo bisa ‘kan nggak usah bentak-bentak gue?! Gue nggak budeg sampe elo harus ngomong teriak-teriak!” Eri mengusap air matanya yang sudah mulai menetes satu-persatu. “Apa sih salah gue sama lo? Sampe segitu bencinya elo sama gue dan nggak ada waktu buat gue? Gue kesini mau ketemu dan menghabiskan waktu sama elo Ki. Bukan sama I’am!” Eri meluapkan semua kekesalannya pada Ryzky. Air matanya mengalir semakin deras, tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit yang semakin dahsyat.
“Maafin gue Ri.” Ujar Ryzky terakhir kalinya sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Eri dan I’am.
Eri menghempas tubuhnya. Kembali duduk keatas kursi tempatnya bersandar tadi. Wajahnya terbenam dibalik kedua telapak tangannya.
Sementara itu I’am masih berdiri terpaku ditempatnya tadi. Sorot matanya mengarah pada Eri dengan kasihan. Kasihan karena Eri harus menelan kekecawaan bulat-bulat, kasihan karena Eri dipaksa untuk menghabiskan waktu dengan orang yang asing baginya seperti I’am, dan kasihan karena orang sebaik Eri harus disia-siakan oleh Ryzky. Betapa bodohnya Ryzky, pikir I’am.
5 menit berlalu..
Perlahan I’am mendekati tubuh Eri yang masih mematung dengan air mata. I’am menyentuh pundak Eri pelan. Membuat Eri mendongak dengan sedikit terkesiap. “I’am?”
I’am melempar senyum yang teduh pada Eri. “Jangan nangis ya Ri. Gue jadi ikut sedih kalau elo sedih. Kalau elo udah nggak mau di Jakarta lagi, gue bisa kok nganterin lo ke stasiun Gambir.”
Eri menggeleng kuat. “Gue masih mau disini, gue mau nungguin Ryzky sampe dia ada waktu buat gue.”
“Dia sibuk Ri.”
“Sesibuk apa sih dia sampe dia nggak ada waktu buat gue?!”
Sekali lagi I’am hanya melempar senyum. “Dia lagi sibuk latihan bola, mau ada pertandingan.” Jelas I’am dengan sangat sabar. Membuat Eri jadi nggak enak hati sendiri. Dia ‘kan tadi udah bentak-bentak I’am, tapi cowok ini masih aja menunjukkan sikap yang adem ayem sama Eri.
Eri mulai mencoba meredam amarahnya, agar tak kelepasan membentak I’am lagi. “Gue bingung sekarang mesti ngapain.”
“Mau pulang?” tawar I’am sekali lagi.
“Nggak. Gue mau jalan-jalan.”
I’am tersenyum penuh arti. “Gue harus nepatin janji gue sama Ryzky. Jadi, gue yang bakal nemenin lo jalan-jalan. Deal?

Rabu, 07 November 2012

janji part 3

“Eri mana Bun?”
“Pergi tadi sama Ryzky.”
“Belum pulang?”
Bunda menggeleng jengkel. “Ya belumlah Yah. Ayah liat aja, gak ada Eri ‘kan dimeja makan ini?”
Ayah menyendok sesuap nasi kedalam mulutnya. “Emang pergi kemana sih Bun?”
“Katanya mau beli sandal tadi, tapi sekalian tahun baruan mungkin makanya pulangnya agak malem.”
Ayah mengerutkan dahinya. “Emang Eri hapal Bandarlampung ya Bun?”
Deg! Seketika itu Bunda berhenti menyuapkan sendok demi sendok nasi kedalam mulutnya. Benar kata Ayah, Eri belum hapal Bandarlampung. Tapi Bunda tetap bersikap tenang, toh ada Ryzky, pikirnya.
“Sudahlah Yah, Eri ‘kan sudah besar. Toh ada Ryzky yang menjaga Eri,” Bunda meneguk segelas air putih yang ada dihadapannya. “Oh ya, gimana kalo nanti malem kita ajak aja Tante sama Om nya Ryzky buat gabung di acara bakar jagung kita Yah?”

* * * * * * * *

Eri mengetuk-ngetuk piringnya dengan menggunakan sendok. Rasa gondok masih belum hilang dihatinya.
“Kita udah capek-capek kerja masak cuma dibayar dua piring nasi sih, Ki?” Eri menatap Ryzky tajam. “Gak dibayar uang juga apa?”
Ryzky menggidikkan bahu. “Sudahlah Ri, terima aja. Dari pada gak makan sama sekali.”
Eri menghela nafas berat, memandangi sepiring nasi lengkap dengan rendang dan ayam goreng dihadapannya. “Huh! Kalo makan doang, gimana kita bisa pulang coba?”
Ryzky meneguk teh hangat yang memang disajikan sebagai pendamping dari sepiring nasi gratisannya ini. “Udah ah jangan ngomel mulu. Bawel amat!” Ryzky lama-lama kesal juga mendengar Eri yang terus menggerutu sedari-tadi.
”Emang tadi Si Andi-Andi itu ngomong apa aja sama lo Ki diruangannya?”
Ryzky diam dan berhenti mengunyah, lalu mulai bersuara lagi setelah beberapa detik berikutnya. “Yaaa dia ngomong kalo dia cuma bisa bayar kita pake dua piring nasi ini, gak lebih,” Ryzky mulai mengunyah lagi. “Bisa ‘kan acara protesnya berhenti dulu. Mending lo makan.”
Eri menekuk wajahnya. Sialan! Tampang dan kelakuan sih boleh baik. Tapi pelitnya minta ampun! Rutuk Eri dalam hatinya, yang tertuju untuk Andi.

* * * * * * * *

“Halo?”
“Selamat malam Jeng Lina. Ini saya Jeng Vani.”
Wajah Tante Lina langsung sumringah, mengetahui yang menelepon adalah Bundanya Eri. “Ada apa Jeng?”
“Ini loh, dirumah nanti malam sekitar jam 9, mau ada acara bakar jagung kecil-kecilan, buat ngerayain pergantian tahun. Saya mau mengundang Jeng ikut.”
Tante Lina tertawa kecil. “Oh iya-iya pasti saya ikut. Saya ajak suami saya juga.”
“Oh tentu dong Jeng, makin rame yang ikut makin seru. Kalo gitu sampai ketemu jam 9 nanti lagi ya Jeng.”
Begitu Bunda memutuskan sambungan telepon, Tante Lina juga menutup teleponnya.
“Siapa Ma?” Tanya Om Bagus, suami Tante Lina. Tante Lina memang hanya tinggal berdua bersama suaminya di Bandarlampung. Mereka sebenarnya mempunyai dua anak, tetapi kedua anak mereka yang bernama Dimas dan Wahyu sedang melanjutkan pendidikan di Singapura. Mereka disana tinggal bersama Om Brian, adik dari Om bagus. Disana Dimas menempuh pendidikan S1 sedangkan Wahyu masih melanjutkan sekolah dibangku SMA.
“Itu Bu Vani,”
Om bagus mengernyitkan dahinya. “Bu Vani yang rumahnya didepan masjid?”
“Iya. Dia mau ngajak kita ke acara bakar jagung dirumahnya nanti jam 9 malam.”
Om Bagus langsung menyunggingkan senyum termanisnya. “Waaah, enak dong! Kita bisa sekalian ajak Ryzky. Kasian dia, selama di Bandarlampung belum pernah jalan-jalan karena kakinya sakit.”
“Kata siapa gak pernah jalan-jalan?” Tante Lina menunjukkan ekspresi meremehkan kepada suaminya. “Buktinya dia sekarang belum pulang kok. Lagi pergi sama Eri.”
“Pergi kemana?”
“Katanya sih tadi mau beli sandal sama Eri ke bambu kuning tapi belum pulang juga. Mungkin sekalian tahun baruan kali makanya pulangnya malam.”
Dweng! Bak pinang dibelah dua. Perkataan Tante Lina barusan sangat mirip dengan perkataan Bunda Eri saat ditanya suaminya tadi.
Sepertinya malam akan berjalan panjang bagi Eri dan Ryzky diluar sana. Karena tak ada satupun keluarga mereka yang khawatir dan berminat untuk mencari. Semua orang berpikir Ryzky dan Eri sedang tahun baruan makanya pulang malam. Seandainya mereka tahu, apa yang terjadi sebenarnya…

* * * * * * * *

“Ki! Gue ngantuk!”
Eri berhenti berjalan dan duduk disalah satu pos satpam yang kosong dipinggir jalan.
“Hmm. Mau tidur?”
Eri memeluk lututnya. “Percuma juga ‘kan Ki kalo kita terus jalan tapi gak tahu mau kemana??? Kita tetap gak akan bisa pulang!!!” Eri berkoar penuh emosi menumpahkan semua kekesalannya.
“Tapi Ri siapa tahu..,”
“Udahlah! Lo pasti mau bilang ‘siapa tahu kita ketemu jalan pulang yang benar dan bisa sampai rumah’, iya ‘kan?” mata Eri basah dengan air mata. Kekesalan didirinya sudah tak bsa ditahan lagi. Sedari tadi Ryzky hanya terus mengatakan bahwa mereka pasti bisa menemukan jalan pulang jika Eri mengeluh. Tapi apa buktinya sekarang??? Jangankan pulang, Eri pun tak tahu ia ada dimana sekarang. Semua perkataan Ryzky adalah nihil diotaknya.
“Maafin gue Ri.” Ryzky  memeluk Eri.
Eri menyanggah dengan cepat pelukan Ryzky. “Gue bakal maafin lo kalo lo bisa bawa gue pulang!” Eri menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Ryzky mendelik pada jam tangannya. Jam 9 malam. “Benar Ri. Ini udah malam, seharusnya kita pulang sekarang.”
Eri tak menjawab, hanya bisa meringkuk diatas kursi kayu tua yang ada di pos satpam itu sambil menelungkupkan kepalanya diatas meja kayu yang sudah tua pula.
Sementara Ryzky hanya diam  bergeming sambil berdiri melipat tangannya didepan dada. Ia juga ikut bingung harus seperti apa sekarang. Setelah hampir satu-setengah jam berjalan tanpa arah, ia dan Eri belum menemukan jalan pulang juga.
Ryzky menghentak kakinya kesal, harus bagaimana sekarang?

* * * * * * * *

Eri terbangun tiba-tiba saat mendengar suara dentuman yang sangat keras. Ia menatap Ryzky yang tertidur dengan posisi duduk menyender pada dinding pos satpam dengan iba. Kasihan Ryzky karena Eri memarahinya tadi.
Dummmm! Suara dentuman keras itu kembali terdengar, Eri berjalan kepinggir pos satpam, matanya menengadah kelangit. “Kembang api!” desis Eri kagum saat mengetahui dentuman itu berasal dari kembang api yang tengah berkilauan diatas langit itu.
Eri hampir lupa, ini ‘kan malam tahun baru, pantas saja banyak kembang api berkeliaran dilangit malam ini. Eri melihat jam tangannya. Jam setengah sebelas rupanya.
“Suka sama kembang api?” Eri menoleh kebelakangnya dan Ryzky sudah berdiri tegak disana dengan tangan yang masuk kedalam saku celana.
Eri mengangguk. “Kok bangun?”
“Gimana mau tidur kalo  banyak bunyi kembang api disini?” Ryzky berdiri disamping Eri, matanya ikut menengadah kelangit, memandangi kembang api yang indah itu.
“Kita jalan lagi yuk!”
Ryzky tersentak. “Serius?! Bukannya tadi lo..,”
“Udah ah! Jangan dibahas. Gue lagi mood mau jalan lagi nih.” Eri menghela nafasnya dalam. “Gue pengen coba menikmati malam pergantian tahun ditengah ketersesatan yang gak jelas  kapan ujungnya  ini.”
“…”
“Dan gue janji  ini adalah malam pergantian tahun yang gak akan pernah gue lupain seumur hidup gue.” Eri menatap Ryzky. “Ayo jalan!”
Ryzky yang sempat  membatu akhirnya mengikuti Eri berjalan juga. “Akhirnya lo bisa terima semua keadaan kita Ri.”
Eri tertawa kecil. “Gue harus bisa berpikir dewasa. Dan soal tadi, gue minta maaf ya, karena gue udah marah-marah sama lo, gue cuma lagi kesel aja tadi.”
Ryzky mengacak-acak rambut Eri. “Iya gapapa.”
Eri dan Ryzky menikmati perjalanan tak berarah yang mereka alami, dengan ditemani bunyi berdentum dari kembang api yang saling susul-menyusul. Kilatan cahanya dari kembang api pun menambah semarak “jalan-jalan malam” mereka. Eri sesekali melirik iri pada orang-orang yang berlalu-lalang dijalan raya. Mereka tampak bahagia menikmati hiruk-pikuk perayaan  pergantian tahun di Bandarlampung. Sedangkan Eri? Memang dia bahagia bisa menikmati perayaan pergantian tahun dengan cara yang unik dan mungkin bisa dibilang satu-satunya ini. Tapi kalau cara “unik dan satu-satunya” itu harus seperti ini, rasanya Eri lebih baik merayakan pergantian tahun dengan tidur sepanjang malam dirumah.
Duk! “Aww!” Eri terduduk kesakitan memegangi mata kakinya.
Ryzky yang berjalan didepan Eri kontan menoleh kebelakang. “Ri? Elo kenapa?” Ryzky mendekati Eri.
“Sandal jepit butut gue putus.” Jawab Eri pendek namun tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
“Masih mau jalan?”
Eri mengangguk. “Kenapa mesti berhenti?! Gue masih bisa jalan kok walaupun tanpa sandal.” Eri berdiri  mantap dan siap berjalan.
“Jangan Ri, entar telapak kaki lo malah sakit kalo nggak pake alas kaki. Sini gue gendong.”
Eri berhasil melongo dengan sukses mendengar penawaran Ryzky barusan. Dia bilang apa?! Dia mau gendong Eri!
“Tapi ‘kan kaki lo masih sakit Ki.”
Ryzky menggeleng. “Nggak sakit lagi kok. Buktinya gue kuat jalan kaki dari tadi ‘kan?!” Ryzky berjongkok, bersiap menggendong Eri. “Ayo cepetan naik!”
Eri menurut, lalu naik ke punggung Ryzky, melingkarkan tangannya dileher Ryzky, sedangkan kakinya melingkar dipinggang Ryzky, walaupun sebenarnya Eri masih ragu. Entar badan Ryzky bisa remuk lagi kalau menggendong Eri. Berat Eri ‘kan 50 kilogram. Emang Ryzky kuat?!
“Siap ya?! Satu-dua-tiga.” Ryzky berdiri dengan Eri yang menggelayut dipunggungya.
“Lo beneran gapapa Ki?”
“Nggak tenang aja.” Ryzky mulai berjalan dengan PeDe. Padahal Eri sudah malu setengah mati, karena banyak orang yang melirik kearah mereka seolah mereka adalah pasangan kumpul kebo yang sudah lama jadi incaran polisi.
“Ngg, Ki?”
“Udah jangan malu. Toh kita bukan berniat macam-macam ‘kan?” ucap Ryzky seperti bisa membaca pikiran Eri.
Eri diam dan lebih memilih untuk menuruti omongan Ryzky. Ia menenggelamkan wajahnya dipunggung Ryzky, jujur saja hangat rasanya jika seperti ini.
“Ri?”
“Mmm.”
“Lihat gih kedepan!”
Eri mengangkat wajahnya dan mengarahkan pandangannya kedepan. “Kiii… Itu Saburai ‘kan?” Tanya Eri antara tak mengerti dan kagum luar biasa.
“Iya. Mau kesana? Kayaknya disana lagi ada acara perayaan tahun baru.”
“Mau Ki.. Untuk sekali ini, gue bakal bilang gue gak nyesel kesasar sama lo.” Seru Eri semangat seperti anak kecil yang baru menemukan gudang yang berisi ribuan permen.
Ryzky berlari kecil, membuat tubuh Eri ikut terguncang. “Pelan-pelan!”
“Sebodo! Biar cepet nyampenya.” Ryzky justru makin mempercepat langkahnya. Membuat Eri memukul-mukul punggung Ryzky gemas.
“Turun!” perintah Ryzky saat mereka telah berada dikerumunan khalayak ramai yang ada di lapangan Saburai. “Duduk disitu aja, Ri.” Ryzky menunjuk sebuah bangku kayu kosong yang ada dipinggir lapangan.
Eri menurut dan bergegas turun dari punggung Ryzky dan duduk disana.”Capek!” keluh Eri.
Ryzky melirik Eri keki setengah mati. “Seharusnya gue yang bilang kayak gitu.”
“Katanya tadi nggak bakalan capek.”
Ryzky terkekeh. “Iya deh. Bercanda Ri. Gue emang gak capek kok.”
Duummm! Suara dentuman kembang api terdengar lagi disusul dengan kilatan cahaya warna-warni dilangit. Eri berdecak kagum. “Seumur-umur gue di Bandarlampung, gue belum pernah kayak gini. Kalo tahun baru paling Ayah Bunda ngajak gue makan di restoran atau ngadain acara bakar jagung dirumah.” Cerita Eri singkat.
“Elo sih mending,” Ryzky menatap langit yang masih dipenuhi cahaya kembang api. “Selama gue di Jakarta gue nggak pernah keluar setiap malam pergantian tahun.”
Eri menoleh dengan kening yang berkerut. “Kenapa? Bukannya seru banget perayaan di Jakarta.”
“Emang seru, tapi macet.” Ryzky senyum-senyum gak penting.
“…”
“Jadi kalo perayaan tahun baru gue bikin acara dirumah aja.”
“…”
“Acaranya tuh kayak ngumpul sama keluarga, bikin pesta kecil-kecilan.”
“…”
Ryzky menoleh kesal, karena sedari tadi perkataannya tak ditanggapi Eri. “Ri? Ehh..” Ryzky urung menyemprot Eri, begitu melihat mata Eri sedang tak berkedip memandangi puluhan kembang api yang berkilauan dilangit. Rupanya Eri tak memperhatikan Ryzky berbicara karena sedang memeperhatikan kembang api diatas sana.
Ryzky menyentuh pundak Eri perlahan. “Ri?”
Eri menoleh. “Kenapa?”
“Sebenernya dari tadi, gue pengen ngomong sesuatu.”
“Ngomong aja!” kini mata Eri kembali tertuju pada kembang api yang barusan diluncurkan, kembang api itu berwarna merah keemasan, membuat Eri takjub bukan main.
“Gue..,” Ryzky meremas-remas tangannya sendiri. Tangannya terasa begitu dingin, karena rasa nervous yang mengrogotinya. “Gue nggak mau kita berteman lagi.”
Eri menoleh cepat mendengar perkataan Ryzky barusan. Hatinya mencelos, apa dia gak salah denger??
“Lo bilang apa Ki?”
Ryzky menghela nafasnya pelan mencoba tenang. “Gue nggak mau kita berteman lagi Ri!” kini suara Ryzky sudah naik satu oktaf.
Eri menatap Ryzky tak percaya. Ryzky ingin mereka berdua bermusuhan? Itukah mau Ryzky?
“Apa maksud lo Ki?” pelupuk mata Eri telah tergenang air mata. Ia tak percaya Ryzky sanggup melakukan hal sekeji ini padanya.
Ryzky mengulum senyumnya sambil mengacak rambut Eri. “Gue belum selesai ngomong Ri, masih ada lanjutannya.”
“Lanjutan?” Eri menyeka air matanya yang hampir jatuh.
Ryzky menghela nafas panjang. “Gue emang nggak mau kita berteman lagi Ri. Tapi gue mau status kita pacaran. Bukan sebagai teman,” Ryzky terkekeh. “Capek juga kali sepuluh tahun cuma temenan doang sama lo.”
Mata Eri membulat kaget. Ryzky suka padanya?! Temannya sedari kecil ini menyimpan rasa padanya?! Ya tuhan!
Eri menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal, salah tingkah. “Ngg.. Ngg..”
Ryzky menggengam tangan Eri kuat, mencoba membuat Eri dapat merasakan kasih sayang yang dimilikinya. Dan mata Ryzky yang menatap Eri itu, mata yang penuh dengan harapan.
I’ll be beside you when you need me. Whatever if rain or storm came, I’ll promise, where are you go, my love will be there. In here.” Ryzky menggenggam tangan Eri dan meletakkannya didada Eri, tempat dimana hati Eri berada. “My love saved here forever, ‘cause I love you, Ri.”
Kalau aja Eri adalah patung lilin, mungkin Eri sudah meleleh sekarang. “Ki, elo..,”
“Gue udah nunggu saat seperti ini dari 10 tahun yang lalu. Gue selalu nunggu elo Ri untuk bisa ngelakuin ini semua. Nggak pernah ada cewek yang bisa menyusup ke hati gue selain elo..,”
“Dari sepuluh tahun yang lalu?” tebak Eri yang sepertinya memang tepat, karena Ryzky langsung menjawabnya dengan anggukan. “Lo mau nggak Ki, dengar pengakuan gue?”
“Pengakuan apa?”
“Kalau sebenarnya, gue sama seperti lo. 10 tahun yang lalu saat kita pertama kali kenal, gue udah mulai ngerasa, ada yang spesial dalam diri lo. Yang buat gue nyaman ada didekat lo. Dan 8 tahun yang lalu saat lo pergi, hidup gue benar-benar hampa, Ki. Cuma ada kalung bunga mawar dari lo yang selalu nemenin gue kalo gue lagi kangen sama lo,” Eri menghela nafasnya lalu menatap Ryzky lurus-lurus. “Dan harus gue akui juga, nggak ada satupun cowok yang berhasil ngegantiin posisi lo dihati gue. Banyak cowok yang nyatain cinta sama gue, tapi demi lo, mereka semua gue tolak, karena gue mau nunggu lo Ki. Walaupun rasanya seperti orang bodoh, karena hanya menunggu seseorang yang nggak pasti dan entah dimana.”
Ryzky memeluk Eri hangat, tak peduli banyak pasang mata yang menatap ganjil kearah mereka berdua. “Boleh gue nanya sekali lagi?”
Eri mengangguk dalam pelukan Ryzky.
Would you be mine?” Ryzky melepas pelukannya dan menatap Eri lekat.
“Lima!” teriakan orang-orang yang menghitung mundur detik-detik pergantian tahun dilapangan Saburai mulai terdengar.
“Gue..,” Eri menggigit bibir bawahnhya ragu.
“Empat!”
“Gue gak akan maksa lo, Ri.” Ryzky mengelus pundak Eri pelan.
“Tiga!”
“Ki gue..,” hitungan orang-orang itu terdengar seperti mendesak Eri untuk segera menjawab pernyataan Ryzky dalam tiga detik. Padahal nyatanya itu adalah hitungan detik pergantian tahun.
“Dua!”
“Apa Ri?”
“Satu!”
“Gue mau jadi pacar lo Ki.”
Duuummm! Kembang api kembali bermunculan dilangit malam yang indah, merayakan pergantian tahun yang begitu meriah. Mengiringi kebahagiaan setiap insan manusia yang turut merayakannya juga.
Kebahagiaan yang juga dirasakan Eri dan Ryzky.
“Selamat tahun baru Ki.” Eri tersenyum manis.
Ryzky menggenggam tangan Eri dan menciumnya. “Selamat hari jadian kita Ri.” Balas Ryzky, membuat Eri jadi salah tingkah sendiri.
Eri melepas  tangannya dari genggaman Ryzky dan menatap kelangit luas. “Benar-benar pergantian tahun yang nggak akan bisa dilupain.” Desisnya pelan.
“Lo ngomong apa Ri barusan?”
“Ngg.. Nggak kok.”
“Mau pulang Ri?”
Eri menoleh ke Ryzky dengan alis bertaut. “Pulang? Emang lo tau jalannya?”
“Jangankan jalan pulangnya, ongkos buat pulangnya gue juga ada kok.”
“Maksud lo?” Tanya Eri semakin tak mengerti.
“Sebenarnya Andi tadi nggak ngebayar kita dengan makanan aja, tapi dia bayar kita dengan uang juga, tapi sengaja gue sumputin dari lo.”
Mata Eri membelalak kesal, Ryzky tahu Eri pasti ingin memarahinya, oleh karena itu sebelum itu terjadi Ryzky buru-buru melanjutkan omongannya. “Andi tadi cerita sama gue diruangannya, kalo ada acara perayaan tahun baru di Saburai, makanya lo gue bawa kesini. Gue pengen nyatain semuanya disini Ri. Dari tadi gue sengaja ngebuat lo ngikutin gue jalan kaki sampe sini, gue awalnya sempet mikir lo bakal protes kalo arah jalannya gue mulu yang nentuin, tapi ternyata gue salah. Lo sama sekali gak sadar, kalo gue ngebawa lo kejalan menuju Saburai.”
“Jadi lo emang udah tahu arah jalan dan tujuan kita tadi?”
Ryzky mengangguk.
“Tunggu! Lo ‘kan gak hapal..,”
“Gue dikasih tahu Andi jalan menuju kesini. Dan gue juga dikasih tahu jalan pulang ke Way Halim.”
Eri meninju lengan Ryzky kesal. “Kok lo gak ngasih tahu gue tentang semua itu sih Ki?”
“Karena gue pikir, begitu lo tahu kita udah ada uang dan udah tahu jalan supaya bisa pulang ke Way Halim lo pasti minta balik kerumah. Dengan naik taksi kek, atau naik angkot kek, ya ‘kan? Kalo itu terjadi, semua rencana gue untuk nyatain perasaan sama lo disini bakal gagal. Dan kalo itu terjadi, kita sekarang nggak akan sebahagia ini ‘kan Ri?”
Eri meninju lengan Ryzky sekali lagi. “Siapa bilang gue bahagia? Gue sebel tahu sama lo.” Eri pasang aksi sok ngambek. Padahal hatinya berloncatan senang mengetahui semua fakta yang dibeberkan Ryzky tadi. Aaah, kalo ternyata bakal seindah ini terus. Eri pengen deh sering-sering kesasar bareng Ryzky.

* * * * * * * *

Ryzky merogoh sakunya dan menyerahkan beberapa lembar uang lima-puluh-ribuan kepada supir taksi.
“Kembalinya untuk Bapak aja.” Sahut Ryzky dari luar mobil. Supir taksi itu pun langsung melaju kencang membawa taksinya meninggalkan Eri dan Ryzky yang telah tiba di Way Halim, tepatnya didepan rumah Eri. Untung tengah malam seperti ini masih ada taksi, kalo nggak Ryzky sama Eri gak tahu deh mau pulang naik apa.
Ryzky dan Eri kaget bukan main, mendapati Tante Lina, Om Bagus, Bunda dan Ayah ada dihalaman rumah Eri. Mereka semua sedang baked corns party.
“Eri? Ryzky? Udah selesai ya tahun baruannya?” sambut Bunda dengan wajah ceria. Waah, Bunda belum tahu aja nih. Memang benar Eri sama Ryzky tahun baruan, tapi sebelumnya sempet kesasar dulu (Lebih tepatnya sih sengaja disasarin sama Ryzky. Hehe)
Ryzky dan Eri saling tukar pandang. “Cerita gak?” bisik Eri.
“Nggak usah dulu Ri.”
“Eri, Ryzky. Ayo sini!” panggil Tante Lina.
“Nih jagung bakar buat kalian. Enak lho. Om sendiri yang bikin.” Sahut Om Bagus bangga sambil menyarahkan dua tongkol jagung bakar yang sudah matang pada Eri dan Ryzky.
“Makasih Om,” Sambut Eri senang lalu dengan sigap melahap jagung bakar itu. “Mmm, enak Om,” Puji Eri. “Iya ‘kan Ki?” Eri menyikut Ryzky yang berdiri disampingnya dengan mulut yang penuh dengan jagung bakar.
Ryzky hanya menjawabnya dengan mengacungkan jempol kanannya ke udara.
“Sst Ki?”
Ryzky menoleh begitu mendengar namanya dipanggil. Tanpa babibu lagi, Eri langsung menggamit lengan Ryzky dan membawanya duduk dikursi yang ada diteras rumahnya. “Duduk disini aja.”
“Kenapa mesti duduk disini?”
“Nggak bagus makan sambil  berdiri.” Eri kembali menggrogoti jagung bakar yang tadi sempat diangggurkannya untuk beberapa detik.
“Hahahaha.  Bilang aja mau duduk berduaan sama gue, nggak usah pake alasan ‘makan berdiri itu nggak bagus’ segala deh!” Ryzky menjawil pipi Eri.
Puk! Eri menimpuk tongkol jagung bakarnya yang telah habis kearah Ryzky. “Apa’an sih Ki! Reseh deh!”

* * * * * * * *

Beberapa hari kemudian…
Ryzky tak bisa menahan tawanya melihat Eri sedari tadi diciumi oleh Bundanya. Pipi-kening-pipi-kening, Bunda bolak-balik menciumi kedua bagian tubuh Eri itu sedari tadi, membuat wajah Eri jadi merah karena malu.
“Bun udah dong!” Eri mencekal bibir Bunda yang nyaris nemplok entah sudah keberapa kali diatas keningnya.
“Ih Eri, Bunda ‘kan entar pasti kangen sama kamu.”
“Kangen sih kangen. Tapi nggak usah segitunya juga kali Bun nyiumnya.”
“Iya. Kata Eri ada benarnya juga. Lagi pula sudah hampir jam sembilan sekarang. Kalau nggak cepat-cepat berangkat, nanti Eri sampai di Bakauheni-nya bisa telat.” Ujar Ayah bijaksana seperti biasa.
Bunda mengalihkan pandangannya pada Ryzky. “Ki, Tante titip Eri ya. Awas entar Eri diculik dikapal.”
Ryzky cekikikan geli. “Mana ada yang mau nyulik Eri Tan, Eri ‘kan cerewet. Entar penculiknya bisa pusing.”
Buk! Eri mengayunkan kuat-kuat tasnya kearah tubuh Ryzky. Dan hasilnya tepat mengenai bahu Ryzky yang bidang.
“Adaw! Sakit!” Ryzky meringis menahan sakit yang menjalar keseluruh tubuhnya.
Eri hanya bisa membalasnya dengan pelototan kejam, yang membuat Ryzky terpaksa mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
“Ya udah. Eri pergi dulu ya Bun. Entar kalo udah sampe Bandung Eri telepon.”