Selasa, 11 Desember 2012

janji part 6



Seminggu kemudian..
“Mana ya bukunya?” tanya Eri dengan tampang kusut setelah dua jam lamanya mengitari toko buku Gramedia untuk mencari buku kumpulan rumus matematika. Eri menoleh kesebelahnya, namun tak mendapati Andra berada disampingnya lagi. “Loh? Andra kemana?” Eri celingukan. “Ndra!” pekik Eri sedikit keras sambil menyelusuri lorong-lorong buku dengan air muka bingung. Awas aja kalo ketemu, gue jitak lo, Ndra, batin Eri berang. “Ndra!” panggil Eri sekali lagi. Kini ia tengah berada di lorong buku yang berada paling pojok, tak ada orang disana kecuali Eri dan…, “Andra!” pekik Eri tertahan ketika mendapati Andra tengah pingsan dengan posisi tubuh bersandar pada rak buku.
Eri mendekat lalu berjongkok didepan tubuh Andra. “Ndra! Ndra! Bangun!” Eri mengguncang tubuh dan menepuki pipi Andra. “Aduh! Ndra, bangun dong!” Eri makin panik.
Gimana kalau Andra mati? Siapa yang mau bawa jenazahnya? Ih, Andra nyusahin banget deh!
Eri baru saja hendak berdiri untuk pergi meminta pertolongan ketika seseorang menggaet tangannya. “Ri?” panggil orang itu lembut.
Kontan Eri menoleh dan mendapati Andra sudah sadar dengan wajah segar bugar. Segar bugar? Nggak salah? Bukannya tadi Andra pingsan. “Ndra, elo?” Eri kembali berjongkok tepat dihadapan Andra.
Andra terlihat merogoh bagian dalam bajunya dan mengeluarkan setangkai bunga mawar dari sana. “I love you, Ri.” Ucapnya dengan wajah sumringah.
Eri tercengang. Andra menyukainya? Ya tuhan, mimpikah ini?
“Ndra…,”
“Sshh!” Andra meletakkan telunjuk didepan bibirnya. “Lo nggak perlu jawab sekarang kalau emang lagi bingung. Yang jelas gue akan selalu menunggu jawaban lo.”
“Siapa juga yang mau ngomong gitu!” sungut Eri kesal.
Andra mengernyit. “Terus?”
“Ndra, gue sebel sama lo. Lo ngerjain gue ‘kan? Lo tadi pura-pura pingsan ‘kan?” Eri menjitaki kepala Andra sebal, sesuai dengan janjinya tadi.

* * * * * * * *

Eri merutuki ponselnya yang tak kunjung berbunyi menandakan ada sms masuk dari I’am. Sudah seminggu lebih I’am hilang nggak ada kabar. Kemana sih dia? Bikin Eri cemas. Padahal ‘kan perjalanan hubungan mereka lagi seru-serunya. Tinggal “tembak” lagi tau gak! Tapi kalau begini, apanya yang mau di “tembak”?
Eri memutuskan untuk membuka phonebook di ponselnya dan memilih nama Igo disana.

To : Igo
Go, lo tau gk I’am kmn? Dia udh smnggu gk ngsh kbr k gue.

5 menit..
Datang balasan.


From : Igo
Gue jg gk tau. Dia jg udh lma gk kliatan dskolah.

Eri menghela nafas panjang. Kalau sudah begini, apa  boleh buat. Mungkin inilah jalan terbaik. Eri nggak mau menunggu seseorang yang tak pasti, sama seperti halnya dulu ia menunggu Ryzky. Dan ujungnya, penantian itu akan tertelan pahit dan sia-sia. Mungkin akan lebih baik jika semuanya diakhiri.
Eri menekan tombol dial-up di ponselnya dan tertera tulisan “calling Andra” pada LCD.
“Ri, kenapa? Tumben malem gini nelpon gue.” Sahut Andra dari seberang.
Eri menelan ludahnya pahit. “Ndra…, I wanna be yours.”

* * * * * * * *

1tahun kemudian..
Eri tersenyum penuh arti menatap sepasang cincin yang ada dihadapannya. “Ini cincin buat tunangan kita?” tanya Eri pada Andra yang disambut anggukan mantap dari Andra.
“Iya, kamu suka ‘kan?”
“Tentu aja dong, Ndra. Ini bagus banget.” Eri menatap cincin polos yang berukirkan tulisan nama mereka masing-masing itu dengan takjub.
Satu tahun telah berlalu, untuk Eri memang nggak mudah melupakan I’am, nggak semudah melupakan Ryzky dulu. Karena I’am adalah orang yang sangat berarti untuk Eri. I’am adalah orang yang membantunya untuk tetap bertahan disaat sulit dulu.
Namun saat semuanya berjalan sempurna bersama Andra, cinta untuk I’am itu pun perlahan terkubur dalam dan terkunci rapat bersama hati Eri yang telah mati rasa. Dan perlahan tapi pasti, dihati Eri mulai bersemai cinta untuk Andra. Walaupun Eri akui, terkadang, bayang I’am suka datang menghampirinya. Namun itu semua tak akan membuat cintanya untuk Andra berubah, ia begitu menyayangi Andra.
“Entar kita hunting baju ya, Ri?” tawar Andra.
“Iya. Pokoknya aku mau baju yang cantik untuk bersanding sama kamu di pertunangan kita nanti.”

* * * * * * * *

Seorang lelaki turun dari pesawat dengan label “American Airlines”. Lelaki yang berusia sekitar 17 tahun itu terlihat celingukan seperti sedang mencari seseorang.
Tak lama, datang seorang lelaki yang seusianya menghampiri. Setelah berbincang sesaat, mereka berdua berjalan keluar dari terminal kedatangan Bandar Udara Soekarno-Hatta.
Saat dipelataran parkir, lelaki yang turun dari pesawat itu langsung masuk kedalam mobil diikuti lelaki yang menghampirinya. Terlihat, mobil yang mereka naiki mulai berjalan menuju arah pintu keluar.

* * * * * * * *

Eri tak henti-hentinya berdecak kagum memandangi gaun indah yang ada dihadapannya. Gaun berwarna perak dengan taburan batu safir diatasnya. Eri sempat berpikir dua kali untuk mengenakannya di acara pertunangan nanti, soalnya gaun itu pasti berat banget, liat aja batunya yang segede-gede penghapus ujian itu. Tapi berkat bujukan maut Andra, akhirnya Eri mau juga.
“Aku coba dulu ya.” Pamit Eri lalu bergegas masuk ke fitting room yang ada dipojok ruangan butik milik perancang terkenal, Johanes Brandal ini.
5 menit..
Eri sudah selesai mengenakan gaun cantik dan MAHAL itu. Ia tak bisa berhenti untuk mengagumi bayangan dirinya yang terlihat sangat berbeda dibalik cermin yang tergantung di fitting room.
“Ri?! Udah?!” jerit Andra dari luar fitting room.
“Iya. Tunggu!” buru-buru, Eri membereskan bajunya yang berserakan dilantai dan memasukannya kedalam tas kecil yang ia bawa.
Cklik! Pintu terbuka, Eri menyembulkan kepalanya keluar. “Ndra, bagus…,” deg! Eri menggigit bibirnya kuat bertepatan dengan kalimatnya yang terputus. Bukan! Bukan Andra yang duduk diluar ruangan menunggu Eri. Kalau saja Eri adalah es, mungkin ia sudah meleleh sekarang. Rasa kaget sekaligus tak percaya, bercampur aduk didalam hati Eri saat ini. Mimpikah apa yang dilihatnya saat ini? “I’am? Kok lo bisa disini?”
“Eri? Elo?” I’am memandangi Eri dari atas sampai bawah. “Elo mau nikah?”
Eri menggeleng. “Nggak! Gue cuma..,” duh! Bilang gak ya? Hati Eri bimbang.
“’am bagus nggak baju.., Eri?” tiba-tiba entah dari mana rimbanya, Igo muncul dengan membawa dua pasang baju dan langsung terkejut mendapati Eri tengah berada ditempat yang sama dengan dirinya. “Kok..,”
“Gue lagi fitting baju.” Jelas Eri singkat.
“Buat?” tanya Igo.
Eri menghembus nafas berat. Kenapa disaat seperti ini harus ketemu I’am dan Igo sih? “Buat urusan penting.”
“Ri, udah?” tanya Andra yang telah berdiri diujung ruangan dengan tangan terlipat didepan dada.
“Udah. Yuk pulang! Aku capek.” Eri tersenyum kecil lantas pergi meninggalkan I’am dan Igo yang masih terbengong-bengong tak percaya dengan kenyataan yang baru mereka hadapi.
“Mereka siapa, Ri?” tanya Andra saat sudah berada dalam jarak yang cukup jauh dari I’am dan Igo.
“Aku nggak tahu. Nggak kenal,” jawab Eri getir. “Aku ganti baju dulu di toilet, kamu tunggu disini!”
“Loh, kenapa nggak di fitting room?” tanya Andra heran.
“Disana panas, aku gerah.” Dusta Eri.

* * * * * * * *

Eri mengobrak-abrik isi tas kecil miliknya untuk mengeluarkan semua baju yang ia masukkan kedalam sana tadi. Namun tangannya terasa meraba sesuatu, suatu getaran yang berasal dari ponselnya, tanda ada pesan masuk.

From : +6285399214XXX
Gue mau ktmu lo. Entar gw jmpt di rmh lo jam 7 malam.
I’am

Eri membulatkan matanya kaget. Tuhan! Apa lagi sekarang?! Kenapa I’am mesti datang lagi saat Eri benar-benar telah bahagia bersama Andra. Kenapa dia datang disaat yang salah? Kenapa?

* * * * * * * *

Eri duduk diteras rumahnya. Sebentar lagi jam 7 malam. Kalau memang I’am menepati janjinya, maka sebentar agi I’am pasti akan menjemput Eri.
“Non, dingin gini udaranya. Nggak nunggu didalam aja?” tawar Bi Mar yang datang mendadak dengan raut wajah khawatir.
Eri tersenyum. “Nggak usah, Bi. Bibi masuk gih!” perintah Eri halus, lalu kembali mengalihkan pandangannya kejalan raya yang ada didepan rumahnya.
Tin! tiba-tiba terdengar suara deruan mesin motor disertai dengan bunyi klakson berkepanjangan. Eri tahu persis siapa pemilik motor itu. Dia adalah lelaki yang membuat Eri merindu setengah mati seperti orang bodoh. Dia juga yang membuat Eri mencintainya tetapi dengan begitu aja menghilang. Seharusnya, Eri benci sama dia. Tapi entah kenapa, Eri nggak bisa!

* * * * * * * *

“Jadi apa maksud lo ngajak gue ketemu?” tanya Eri to the point saat dirinya dan I’am baru saja mencicipi empuknya sofa yang ada disudut ruangan kafe.
“Gue mau ngejelasin semuanya sama elo, Ri.”
“Ngejelasin apa?!”
“Kenapa gue menghilang selama setahun. Lo harus tahu!”
“Kenapa gue harus tahu?!” ucap Eri dengan suara melengking. “Emang lo siapa?!”
“Ri, please jangan marah dulu.”
Eri mengehempas punggungnya kesal pada sandaran sofa sambil melipat tangannya didepan dada.
“Ri, sebenarnya, gue menghilang selama setahun karena gue ngambil beasiswa ke Amerika,” Ujar I’am lirih. “Gue nggak ngehubungin lo karena gue harus konsen sama program pembelajaran gue disana. Bahkan bukan cuma lo yang nggak gue kasih tau, tapi semua teman-teman gue juga.”
“Jadi status gue sama teman-teman lo itu sama? Jadi teman-teman lo juga menempati tempat yang penting dihati lo? Gitu!” hujam Eri sengit dengan nada tajam.
“Ri, bukannya gitu. Tapi gue..,”
“’am. Udah deh. Lo nggak usah ganggu gue lagi! Gue udah punya pacar.”
I’am terlonjak kaget, dan hampir jatuh dari kursinya.  “Apa?”
“Iya, pacar gue itu yang nemenin gue ke butik kemarin. Dan lo tahu? Gue sayang banget sama dia, karena dia nggak pernah ninggalin gue begitu aja tanpa kabar. Nggak seperti seseorang yang dulu pernah gue kenal.” Tandas Eri akhirnya lalu bangkit dari kursi meninggalkan I’am. Ia dapat merasakan, matanya mulai berkabut. Air mata itu siap terjun bebas sebagai reaksi dari hati Eri yang begitu sakit. Sakit karena harus menjadi orang munafik yang membohongi dirinya sendiri.

* * * * * * * *

Eri memandangi contoh berbagai undangan yang ada didepan matanya. Emang kesannya terlalu berlebihan sedikit sih kalau cuma buat pertunangan doang pake undangan segala. Tapi mau gimana lagi, ini request Mama-nya Andra, nggak mungkin dong Eri dan Andra nolak.
“Yang ini bagus.” Tunjuk Eri pada undangan dengan pita cantik menyampulinya.
“Iya sih. Tapi bagusan ini deh, Ri.” Tunjuk Andra pada undangan yang didominasi warna krim dan hitam.
Eri mengetuk-ngetuk dagunya. “Hm, ya udah deh yang itu aja.”
“Oh ya, mau mesen undangannya berapa, Mas?” tanya pegawai dari toko advertising yang didatangi Andra dan Eri itu.
“300 aja,” jawab Andra. “Kapan jadinya?”
“Mungkin 2 atau 3 hari, Mas.”
“Baguslah. Kalau bisa secepatnya ya. Soalnya hari pertunangan kami..,” Andra merangkul Eri mesra. “5 hari lagi.”

* * * * * * * *

3 hari kemudian..
Eri menimbang-nimbang undangan pertunangannya, rasa bingung tengah menyelimutinya sekarang. Pilih mana? Mengundang Igo dengan resiko I’am ikut datang, atau tidak mengundang Igo dengan resiko Igo akan menganggap Eri memusuhinya.
Eri meremas-remas rambutnya kesal, ditatapnya alamat rumah Igo yang terpampang manis pada secarik kertas diatas meja belajarnya.
“Mungkin, menyakiti orang yang pernah menyakiti gue, akan lebih baik. Dari pada gue kehilangan sahabat.” Desis Eri pada dirinya sendiri.

* * * * * * * *

“Den, ada surat.”
Igo mengernyit heran mendapati tiba-tiba Mbok Iyem datang padanya dengan membawa sebuah surat dengan amplop berwarna krim.  “Buat saya?”
“Iya, Den,” Mbok Iyem menyerahkan surat itu pada Igo. “Nih!”
“Makasih. Mbok kerja lagi sana!” perintah Igo halus, yang langsung dipatuhi oleh Mbok Iyem.
Igo memandangi surat itu sesaat, menebak-nebak apa isinya. Kalau bom, jelas nggak mungkin. Atau surat cinta? Halah! Apa lagi surat cinta! Apa kabar sama teknologi Short Message Service (SMS) atau telepon gitu loh. Ngapain pake surat-suratan segala.
Penasaran, buru-buru Igo membukanya..

KAMI SEGENAP KELUARGA BESAR YANG BERBAHAGIA. TURUT MENGUNDANG ANDA. SEHUBUNGAN DENGAN AKAN DIADAKANNYA ACARA PERTUNANGAN ANTARA:

ANDRA MIRALDI (ANDRA)

&

NARESA LIBERY (ERI)

YANG AKAN DILAKSANAKAN PADA : MINGGU, 2 JULI
TEMPAT : GEDUNG GRAHA WANGSA, BANDUNG
PUKUL : 20:00 WIB S/D SELESAI

YANG BERBAHAGIA

KELUARGA BESAR                                                                                                    KELUARGA BESAR
TJOKRO WINAWAN & VANI ALFIAN                                                           FANDI ATMAJA & WINDA GUSTAV

“Uhuk! Uhuk.. uhuk.. uhuk..!” Igo terbatuk-batuk, tersedak coklat panas yang sedang mengalir ditenggorokannya. Buru-buru ia mengambil ponsel yang ada disaku celana jins yang ia kenakan.

To : Radiam Wiratmaja
Kita hrs ktemu, urgent!
Gue tnggu di starbucks Thamrin.

* * * * * * * *

“Nih!”
I’am menatap heran amplop pink dihadapannya. “Apa’an nih?”
“Liat aja!” Igo menyeruput coffee late miliknya.
I’am membuka amplop itu terburu-buru, ingin cepat melihat apa yang tersembunyi dibaliknya. Mulut I’am komat-kamit, lalu pada kalimat terakhir yang dibacanya ia terlihat membelalakkan mata. “Eri tunangan?”
“Iya.” Jawab Igo singkat, takut salah ngomong.
“Sekarang tanggal berapa?”
Igo merogoh sakunya demi melihat kalender yang ada di ponselnya. “Tanggal…,” Igo menghela nafas tak percaya. “2 Juli.”
Plak! I’am mengehentak meja dengan keras. “Kita ke Bandung SEKARANG!”

* * * * * * * *

Malam hari, sebelum pertunangan...
Eri duduk sendirian diruang make-up. Menatap pantulan dirinya dicermin. Eri yang cantik, Eri yang anggun, Eri yang akan menjadi tunangan Andra. Kenapa mesti Andra? Hati Eri sakit menyadari hal itu. Akhir-akhir ini, semenjak I’am kembali, Eri tak bisa menepis bayangnya untuk tak masuk kedalam benak Eri. Hampir setiap hari I’am datang dalam mimpi semu Eri, mempermainkan dunia bawah sadar Eri, seolah menyuruhnya meninggalkan Andra.
Aah! I’am, lagi dimana dirinya sekarang? Terus terang, Eri merindukannya. Merindukan saat-saat indah bersamanya. Saat indah itu, akankah terulang lagi?
Bagaimana pula dengan Igo? Apa dia akan datang ke pesta ini…, bersama I’am. Eri menitikkan air matanya, membuat polesan bedak branded dipipinya sedikit terkikis. Sama seperti perasaannya pada Andra yang mulai terkikis semenjak I’am muncul lagi beberapa hari yang lalu.
Eri memukul kepalanya sendiri, merasa bodoh. Nggak! Nggak! Eri nggak boleh jadi penghianat! Ingat! Sebentar lagi, tinggal menunggu hitungan jam lagi,  Andra akan menjadi tunangannya. Calon pendamping hidupnya.
“Mba Eri?”
Eri menoleh kearah pintu, ada Mba Lily rupanya. Gadis manis dengan rambut panjang ini adalah penata rias Eri. “Kenapa?”
“Anu, Mba. Udah ditunggu diluar. Tamu udah pada datang.”
Eri mengangguk. “Iya. Bilang sama yang lain saya akan segera keluar.”

* * * * * * * *

Ciit!
Mobil sedan biru metalik milik Igo, berhenti tepat didepan Graha Wangsa. I’am menatap situasi sesaat. “Masuk?” tanyanya pada Igo.
“Terserah elo ‘am. Kalau elo siap sakit hati ngeliat Eri bersanding dengan orang lain, ya masuk aja.”
“Gue kesini bukan untuk melihat Eri bersanding dengan cowok bernama Andra itu,” kilah I’am. “Tapi gue bakal mencegah supaya pertunangan ini nggak terjadi!”

* * * * * * * *

Eri termangu menatap gemerlap pesta pertunangannya. Pesta mewah dengan para tamu undangan yaitu para pengusaha-pengusaha sukses, teman dari Papa Andra dan dokter-dokter ahli ternama di Indonesia, teman dari Ayah dan Bunda Eri. Tak lupa juga, ada teman-teman dari Eri dan Andra di SMA 17 Agustus.
“Kamu seneng?” tanya Andra yang tiba-tiba muncul disamping Eri.
Eri menoleh sesaat dengan senyum dipaksakan. “Iya.”
“I love you.” Bisik Andra tiba-tiba, ih basi banget!
Eri hanya membalasnya dengan senyuman ala kadar.

* * * * * * * *

“Mana undangannya, Mas?” cegat seorang satpam pada pintu masuk gedung.
I’am dan Igo saling tukar pandang. “Undangan?”
“Iya, Mas. Kalau mau masuk harus bawa undangan. Bukannya tertera di undangannya kalau undangan itu harus dibawa? Apa Mas nggak baca?”
“Pak, sumpah deh. Saya diundang. Undangannya aja yang lupa dibawa.” Ucap Igo dengan tangan membentuk hurruf “V” diudara.
“Tapi maaf, Mas. Kami hanya menjalankan perintah. Mas sekalian nggak bisa masuk kalau nggak ada undangannya.”

* * * * * * * *

“Harus gimana dong, ‘am? Kita nggak bisa masuk.” Tanya Igo saat mereka berdua sudah ada didalam mobil lagi.
I’am bergeming, ia sedang memijat-mijat kepalanya. Berharap akan terlintas ide cemerlang disana.

“Lo tau nggak ‘am? Tadi Eri bilang sama gue kalau suatu hari nanti dia mau dilamar pake sekarung mawar.”
“Oh ya? Khayalan tingkat tinggi banget cewek lo.”
“Haha. Lucu kali! Gue janji, kalau gue bisa gue pasti bakal ngabulin permintaan Eri itu.”

Tiba-tiba sepotong percakapan antara dirinya dan Ryzky di masa lalu terlintas. Membuat I’am menyadari suatu hal. “Go, di Bandung, ada nggak tempat yang banyak bunga mawarnya?”

* * * * * * * *

I’am berlari menembus langit malam yang mengguyurkan air hujan pada kota Bandung. Ditangannya ada sebuah karung besar yang dibelinya pada pedagang asongan yang ditemuinya dijalan tadi. Kini ia berada disebuh kompleks perumahan elit, ia sendiri, meninggalkan Igo yang lebih memilih untuk berdiam diri didalam mobil. I’am nggak tahu lagi mesti mencari mawar dimana. Igo, juga nggak tahu dimana tempat di Bandung yang banyak mawarnya. Jadi terserahlah, dimanapun itu, sekalipun harus mencuri, I’am harus mendapatkan mawar.
I’am celingukan, meneliti satu-persatu halaman rumah gedongan dihadapannya. Ah! Itu dia! Batin I’am sumringah melihat hamparan bunga mawar tersusun rapi disalah satu rumah berwarna ungu. “Ri, those are for you!”

* * * * * * * *

“Silahkan kepada Eri dan Andra untuk menaiki panggung.” Pinta MC dengan senyum mengembang.
Andra dan Eri saling tukar pandang, bingung mesti apa.
“Ssh! Ayo sana naik!” bisik Bunda yang berdiri dibelakang Eri. “Ndra, ayo dong gandeng Eri!” ucap Bunda sekali lagi, namun kali ini terdengar seakan memaksa.
Andra menatap Eri lembut. Baru kali ini Eri merasakan tatapan itu seolah membuatnya muak. Padahal biasanya, tatapan mata Andra yang teduh itulah yang membuat Eri tenang. “Ayo!” ajak Andra pelan sambil menggamit lengan Eri.

* * * * * * * *

I’am terus mencabuti mawar merah yang bermekaran segar dihadapannya, tak peduli sudah berapa banyak darah yang mengucur deras menembus kulitnya yang robek akibat tersayat duri mawar. Sesekali ia meringis menahan sakit, namun rasa cintanya pada Eri, seakan bisa mengalahkan itu semua.
“Hei! Maliiiing! Maliiing!” teriak seseorang dari arah rumah, I’am menoleh cepat dan mendapati seorang wanita yang mengenakan piama berdiri diatas balkon lantai dua rumah tersebut.
“Bu..,”
“Maliiiing! Maliiing!” potong wanita itu pada kalimat I’am. Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh tegap dan berkumis tebal meneyeruak dari dalam rumah dan langsung menatap tajam pada I’am.
“Maling! Berani-beraninya ya kamu mencuri dirumah saya!” ucapnya dengan suara serak. Membuat I’am ngeri. “Tunggu kamu!” Dengan gerakan cepat lelaki itu berbalik masuk kerumah.
Secepat kilat I’am ikut berbalik juga, menuju arah gerbang depan rumah untuk kabur. Firasat  buruk menghantuinya, jangan-jangan lelaki tadi ingin menghampirinya lalu memukulinya karena ia ketangkap basah sedang mencuri.

* * * * * * * *

Eri hampir menjatuhkan air matanya saat Andra memasangkan cincin pada jari manisnya. Bukan rasa haru atau bahagia yang menghampirinya, tetapi rasa penyesalan yang begitu dalam. Kenapa bukan I’am yang memasang cincin itu pada jarinya? Kenapa harus Andra?
“Baiklah, sekarang giliran Eri yang memasangkan cincin ke jari I’am.” Suara MC mulai berkoar lagi, membuat Eri tersadar dari lamunannya.

* * * * * * * *

I’am terus berlari menerobos hujan yang semakin deras, kakinya sudah letih. Ber-blok-blok dari kompleks ini sudah ia lewati agar dapat kabur dari si empu taman mawar yang dicurinya tadi serta gerombolan hansip dan peronda. Ditangannya yang penuh luka, tergenggam sekarung penuh mawar. Kini I’am berlari kearah mobil Igo diparkir, Igo pasti menunggunya disana.
I’am berhenti sejenak, memandang kebelakang. Ah! Orang-orang itu masih belum nampak. Mungkin mereka tertinggal jauh dibelakang.
I’am terduduk sesaat diatas trotoar dipinggir jalan yang sepi.
“Itu dia! Tangkap!”
I’am menoleh, dari arah jalan dibelakangnya, segerombol orang yang dikepalai bapak berkumis tebal tadi terlihat semakin mendekat. Kontan I’am berdiri, kembali berlari menerobos guyuran hujan. I’am berlari lurus kedepannya. Sedikit lagi, ia akan sampai ditempat mobil Igo terparkir. Tinggal menikung ke kiri.
I’am terus berlari, ia berbelok ke tikungan itu. Tubuhnya yang basah dan letih berlari menyeberang jalan. Namun tiba-tiba… “Tiiiinnnn!!!!!” suara klakson mobil bergema ditelinga. Diiringi dengan suara sesuatu terpantal. Darah! Darah mengucur dimana-mana. Ikut bercampur dengan air hujan yang menggenang dijalan raya. Dan mawar itu, benghamburan menaburi jalan raya. Bercampur dengan warna darah yang semakin memerah.

* * * * * * * *

Tubuh Eri terkulai lemas. Ia tak sanggup menahan air matanya. Bukan! Seharusnya bukan Andra yang mengenakan cincin ini! Bukan! Jerit hari Eri perih. Eri merutuki tepuk tangan yang bergemuruh disekililingnya. Ia juga melaknati tatapan mata para tamu undangan yang menatap haru kearah Andra dan dirinya yang masih berdiri diatas panggung dengan punggung tangan terjorok kedepan, memamerkan cincin tunangan mereka.
Ya tuhan! Eri ingin mengakhiri semua ini!

* * * * * * * *

10 bulan kemudian…
“Gimana keadaan lo? Udah baikan?”
“Alhamdulillah. Minggu ini gue udah boleh pulang.”
“Sekolah lo?”
“Gue bakal daftar di Amsterdam International school. Gue pengen ngelanjutin beasiswa gue yang tertunda dulu.”

* * * * * * * *

“Ri? Gimana? Masakan Tante enak?”
Eri mendongak menatap mata Tante Winda (Mama Andra) dengan senyum mengembang. “Enak, Tante.”
“Kamu bisa masak?”
Eri cengengesan. “Dikit sih! Hehe.”
“Nah! Gimana kalau Tante ngajarin kamu masak? Kalau udah jadi istri Andra ‘kan kamu harus bisa masak,” Tante Winda melirik penuh arti pada Andra. “Iya ‘kan, Ndra?”
“Uhuk! Uhuk.. uhuk..”Eri terbatuk-batuk. Makanan yang numpang lewat di kerongongannya menyangkut dengan seenak jidat. Ih! Malu-maluin!
“Ri, kamu nggak apa-apa?” tanya Andra sambil menyodorkan segelas air putih hangat pada Eri.
“Iya. Uhuk!”
“Duh! Eri, pelan-pelan dong!” Tante Winda mengusap-usap punggung Eri lembut.
Eri meneguk habis air putih hangatnya. “Iya, Tante.”
“Kamu kenapa sih, kok Tante ngomongin tentang kalau kamu jadi istri Andra, kamu jadi batuk-batuk gitu?”
Eri menelan ludahnya susah payah. Mau jawab apa nih? Nggak mungkin dong Eri jujur sama Tante Winda kalau Eri udah nggak sayang lagi sama Andra. Cari mati itu namanya!
“Ngg.. aku belum siapa aja Tante. ‘kan masih lama.” Aha! Jawaban yang… mm, lumayan bagus!
“Yah, pokoknya siap-nggak-siap kamu harus siap!”
“Uhuk.. uhuk.. uhuk...” untuk kesekian kalinya, Eri kembali terbatuk-batuk.

* * * * * * * *

Entah sudah keberapa kali, Eri kembali menyeka air matanya yang jatuh diatas selembar foto yang ada digenggamannya. Foto itu, foto dengan objek seorang lelaki yang sedang tersenyum sambil merangkul seorang gadis yang sedang tertawa dengan latar tempat berupa danau yang indah. Itu adalah foto ketika Eri dan I’am berada di taman buah Mekarsari.
“’am, I miss you.” Lirih Eri. I’am, dimana dia sekarang? Semenjak pertemuannya dengan I’am di kafe 10 bulan yang lalu, Eri kembali kehilangan jejak I’am. Padahal kini Eri sudah mulai bisa mencintai I’am lagi. Tapi kenapa, kembali untuk kesekian kalinya I’am kembali hilang bak ditelan bumi? Dan yang lebih parah lagi, sekarang bukan hanya I’am yang menghilang. Tetapi Igo juga, satu-satunya orang yang menjadi harapan Eri untuk menjadi informan agar dirinya dapat mengetahui keberadaan I’am. Ah! Semuanya kacau! Kacau!

Selasa, 27 November 2012

janji part 5



Mata Eri sibuk menjelajahi satu-persatu pemandangan taman buah yang terhampar luas dihadapannya, sambil sesekali berdecak kagum atau melontarkan kalimat “Wow!” atau “Ih keren!” dari mulutnya. Dan I’am hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Eri yang seperti anak kecil itu. Ada yang tahu dimana Eri dan I’am sekarang? Ya, Eri dan I’am sekarang ada di taman buah Mekarsari.
Awalnya sih I’am pengen mengajak Eri ke Dufan, tapi Eri bilang dia bosan kalau ke Dufan. Setelah Eri dan I’am berembuk ala para petinggi DPR yang sedang rapat fraksi, dihasilkanlah Mekarsari sebagai tempat tujuan.
“’am! Gue mau naik waterbike itu!” rengek Eri manja sambil menarik-narik lengan baju I’am. Matanya tertuju pada beberapa waterbike yang nganggur ditepi sebuah danau buatan.
“Iya-iya.” I’am nurut lalu menggandeng lengan Eri menuju ketepi danau. Mereka berdua mendekat kesebuah waterbike yang berwarna biru muda. “Naik gih!”
Eri menggeleng. “Elo duluan! Gue takut jatuh!”
I’am murut, dan menaiki waterbike itu terlebih dahulu. Lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Eri ikut naik. “Ayo!”
Duk! “Aw!” Eri meringis, kakinya terhantuk badan dari waterbike.
“Makanya pelan-pelan.” I’am mendudukkan tubuh Eri didalam waterbike.
“Bawel! Udah kayuh sana pedalnya biar waterbike-nya bisa jalan!”
I’am tertawa renyah mendengar kebawelan Eri yang terlihat sudah melebihi batas itu. Tapi ujung-ujungnya menurut juga, dan mengayuh pedal pada waterbike hingga waterbike itu tiba ditengah danau.
“Hh.. kaki gue pegel. Pijitin!” I’am menyikut Eri.
Mata Eri membulat kesal, membuat I’am mengulum senyum menahan tawa melihat wajah Eri yang terlihat sangat lucu itu. “Nggak mau! Pijit aja sendiri,” Eri mencubiti lengan I’am, membuat I’am meliuk-liukan tubuhnya, bermaksud untuk mengelak. “Ih I’am jangan gerak-gerak, entar waterbike-nya terbalik!”
“Hahahaha. Bodok! Week!” I’am memeletkan lidahnya pada Eri. Membuat cubitan Eri semakin menjadi-jadi. I’am bukannya kesakitan, malah tertawa lepas mendapat siksaan yang bertubi-tubi dari Eri itu. Begitu pula Eri, ia ikut tertawa melihat I’am tertawa. Mereka semua sama-sama tertawa lepas melupakan kesedihan yang sempat merundung tadi. Ternyata, TANPA RYZKY disini, gue masih bisa senang-senang kok, batin Eri.

* * * * * * * *

Ryzky memicingkan matanya kearah gawang yang hanya berjarak beberapa meter dari hadapannya, mencoba mencari sudut tendangan yang pas. Sedangkan “si kulit bundar” yang berada dititik putih itu seakan terus memanggil Ryzky, minta segera “disarangkan”
3, 2, 1…
Dukkk! Set! “Goool!” teriak teman-teman Ryzky yang ada dipinggir lapangan disusul dengan gemuruh tepuk tangan yang dipersembahkan untuk Ryzky.
“Baik. Latihan hari ini sampai disini dulu. Besok kita lanjutkan lagi.” Pak Bram, coach tim sepakbola dari sekolah Ryzky pamit lalu pergi dari tengah lapangan sepakbola yang masih dipenuhi dengan para pemain yang baru selesai latihan.
Ryzky melangkah lunglai keluar dari lapangan. Tenaganya hampir terkuras habis, karena terus menerus memainkan pola permainan yang menyerang dan cepat.
“Ki, sini gabung!” ajak David, salah satu teman Ryzky. Namun Ryzky hanya melempar senyum, dan berlalu menuju ruang ganti pemain.
Ryzky terduduk lemas sambil bersandar pada kursi yang ada diruang ganti. Tatapannya kosong, seperti orang yang mati segan, hidup tak mau. Ryzky melongoh kesampingnya, dan mendapati tas besar yang dibawanya dari rumah tadi. Ryzky celingukan, dan saat mendapati ruangan yang kosong, Ryzky bergegas mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu : sebuah buku catatan kecil, sebuah pena, dan sebungkus butir-butiran obat.
Ryzky membuka buku catatan kecil yang dibawanya dan menuliskan sesuatu disana.
5 menit berlalu.. Ryzky selesai menulis, lalu meletakkan buku catatan itu tepat diatas tasnya.
Sekali lagi Ryzky celingukan memandangi ruangan disekitarnya, dan kembali mendapati ruangan yang kosong. Dengan cepat Ryzky menuang semua butiran obat yang ada didalam plastik kecil tadi kedalam tangannya dan menelan semua obat itu dalam sekali teguk tanpa air.
Dan pada detik itu pula, perlahan Ryzky merasakan pusing yang luar biasa menyerangnya, pandangan matanya kabur tak jelas, hanya samar-samar. Dan  tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

 * * * * * * *

I’am melajukan motornya dengan kecepatan 60 Km/Jam. Membuat Eri hanya bisa bergidik ngeri.
“’am pelan-pelan!” pekik Eri. Namun sia-sia, suaranya malah tertelan oleh dengungan udara yang bising disekitar telinga mereka.
Eri menjawil pundak I’am keras. I’am akhirnya bereaksi juga dan melirik sekilas pada Eri yang ada dibelakangnya. “Kenapa?”
“Pelan-pelan!!” pekik Eri tak kalah kencang dari sebelumnya.
I’am hanya mengulas senyum jahil, dan malah menambah kecepatan membuat Eri berteriak semakin kencang. Teriakan yang dapat memecah suara deruan kendaraan yang sedang berlalu lalang ditengah jalan. “’am gue belum mau mati!” Eri meremas pundak I’am.
“Elo nggak akan mati sekarang Ri! Percaya sama gue.” Perlahan I’am mulai menurunkan kecepatannya. Membuat Eri bisa sedikit tenang. Setidaknya, kemungkinan nyawanya melayang karena kecelakaan lalu lintas menjadi semakin kecil.
Tiba-tiba Eri terlonjak kaget, ringtone dari ponselnya berbunyi nyaring. “’am minggir dulu!” Eri menepuk pundak I’am.
“Kenapa?”
“Ada yang nelepon gue nih!”
I’am menurut dan menepikan motornya dibawah sebuah pohon yang rindang dipinggir jalan. “Siapa yang telepon?”
Eri menggidikkan bahunya. “Nggak tahu! Nggak ada di phone-book gue.” Eri kini mengalihkan perhatiannya pada ponselnya. “Halo?”
“Eri? Ini Tante Ayu.” Suara Tante Ayu terdengar bergetar, apa jangan-jangan Tante Ayu menangis?!
“Tante nangis ya? Kenapa?” tanya Eri memastikan.
“Huhuhuhu… Ryzky, Ri. Ryzky!!”
Eri menelan ludahnya getir mendapati nama orang yang disayanginya itu disebut-sebut oleh Tante ayu dengan diiringi isakan tangis. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu ada Ryzky? Oh no! Kalau itu benar, siap-siap saja mendengar tangisan Eri yang meledak-ledak.
“Ry.. Ryzky kenapa Tante?”
“Huhuhuhu… Ryzky meninggal, Ri. Dia overdosis obat penenang.”

* * * * * * * *

Eri menelungkupkan kepalanya kedalam bantal, ia menangis sejadi-jadinya membayangkan Ryzky yang telah pergi untuk selamanya. Kenapa Ryzky harus ninggalin Eri secepat ini? Eri belum siap kalau harus kehilangan Ryzky. Eri sayang banget sama Ryzky. Tuhan! Kalau saja diizinkan, Eri mau nyusul Ryzky.
Tok tok tok! “Kak Eri? Ini aku Dinda.”
Eri mengangkat kepalanya begitu mendengar Dinda, adik semata wayang Ryzky mengetuk pintu. “Masuk Din!”
Cklik! Pintu terbuka dan Dinda langsung menghambur masuk kedalam kamar. “Kak, ini ada kiriman dari pembantu Kakak di Bandung.” Dinda menyodorkan seuntai kalung mawar yang telah mengering, pemberian Ryzky 8 tahun yang lalu. Kalung itu masih terbungkus rapi oleh plastik transparan.
Begitu mengetahui Ryzky meninggal, Eri memang langsung memberi tahu Bi Mar yang ada di Bandung untuk segera mengirimkan beberapa helai baju Eri dan kalung bunga mawar itu melalui paket kilat. Mengingat Eri harus menginap dirumah Ryzky sampai pemakaman besok dan Eri memang tak bisa tidur jika tak memandangi kalung bunga mawar itu terlebih dahulu.
Eri mengambil kalung itu dan langsung memeluknya erat, tangisannya semakin pecah mengingat semua kenangannya bersama Ryzky. Ryzky yang jahil, Ryzky yang selalu ada disamping Eri saat Eri membutuhkannya, Ryzky yang menyayangi Eri, dan Ryzky yang..,
“Ri?” Eri dan Dinda menoleh kearah pintu, dan mendapati I’am tengah berdiri disana dengan wajah yang tegang. I‘am berjalan mendekat dan duduk disamping Eri. “Ini!” I’am menyerahkan sebuah buku catatan kecil dengan sampul berwarna hijau tua kepada Eri.
Eri mengusap air matanya. “Ini apa ‘am?”
“Lihat aja!” I’am tersenyum penuh arti lalu menoleh pada Dinda dan memeberikan isyarat agar Dinda keluar dari kamar itu. “Gue sama Dinda keluar dulu ya.” I’am dan Dinda pun beranjak dari atas tempat tidur lalu keluar dari kamar dan menutup pintu dengan sangat rapat.
Kini hanya tertinggal Eri dan buku catatan yang bersampul hijau tua itu. Eri pun membuka halaman pertama..

Note:
Hari ini gue jadian sama Eri. Senangnya!
Penantian selama sepuluh tahun yang nggak sia-sia J
Naresa Libery, I LOVE YOU TILL THE END OF MY BREATH. Xoxo :*

Air mata Eri semakin tumpah. Ya tuhan! Ryzky benar-benar sayang padaku, pikirnya. Bahkan ia benar-benar menyayangiku seperti kata-katanya didalam buku ini “till the end of my breath”. Eri membuka halaman selanjutnya..,

Note:
Gue nggak pernah tahu apa yang terjadi saat ini? Kenapa gue bisa jenuh sama Eri? Bukannya kalau kita menyayangi seseorang, kita nggak akan pernah jenuh jika menjalani hubungan sama orang itu?
Gue yang bego. Kenapa gue harus menjadikan jarak yang terbentang begitu jauh menjadi halangan untuk hubungan gue dan Eri? Benar apa kata I’am, kalau gue mau jadi pacar Eri seharusnya gue harus siap dengan semua resikonya.
Eri, maafin gue ya. Karena kebodohan gue, gue jadi bersikap dingin dan nggak peduli sama lo. Tapi jauh didalam lubuk hati gue, gue bener-bener sayang sama lo. Trust it!

Eri memeluk buku catatan itu kuat-kuat. Ryzky!!! Gue juga sayang sama lo!!! Tapi kenapa elo ninggalin gue?!! Jerit hati Eri menahan perih. Eri menyeka air matanya, dan kembali membuka halaman selanjutnya..,

Note:
Mungkin tuhan memang belum menghendaki gue dan Eri bersatu. Buktinya, hari ini gue dan Eri memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dan kembali menjadi teman biasa, seperti apa yang kami jalani selama sepuluh tahun belakangan ini.
Gue cuma nggak mau terus-menerus nyakitin perasaan Eri. Just that!
Tapi gue yakin, suatu hari nanti cewek sebaik Eri pasti akan mendapat pengganti yang jauh lebih pantas disisinya dibandingkan gue. Yang jelas, cowok itu adalah cowok yang lebih baik dan nggak akan pernah menyakiti perasaan Eri. Seperti apa yang gue lakuin ke dia. Maafin gue Ri. Ini yang terbaik buat lo. ‘cause i don’t wanna hurt you again L

“Gue nggak yakin, bakal dapet pengganti yang lebih baik dibanding elo Ki.” Desis Eri pelan pada dirinya sendiri. Lalu kembali membuka halaman berikutnya..

Note:
Gue nggak tahu dan nggak pernah tahu. Kenapa semua obat penenang yang gue minum selama ini, nggak pernah bikin pikiran dan perasaan gue tenang? Kenapa setiap muncul bayang-bayang Eri dibenak gue, jiwa gue terasa terguncang. Seperti ada beribu-ribu rasa bersalah yang menyerbu otak gue. Dan berapa banyakpun obat penenang yang gue minum, nggak  pernah bisa mengusir rasa bersalah itu dan ujung-ujungnya kembali membuat hidup gue nggak tenang.
Apalagi pagi ini, Eri sudah  datang kerumah gue dan menyiapkan surprise ulang tahun. Dan entah mengapa, saat gue  benar-benar ada didepan Eri, rasa bersalah yang menyerbu itu terasa semakin banyak. Gue nggak siap harus ada didekat Eri lagi.
Akhirnya pun gue mutusin buat nyuruh I’am nemenin Eri selama di Jakarta. Semoga Eri bisa sedikit  melupakan masalahnya dengan gue saat bersama I’am. Gue nggak mau liat Eri nangis dan sedih lagi karena gue! Gue nggak kuat!
Dan gue sekarang udah benar-benar nemuin gimana caranya supaya gue bisa tenang untuk selamanya. Gue harus mati! Itulah satu-satunya jalan.  Supaya Eri nggak akan pernah bisa melihat wajah penjahat gue yang selalu bikin dia nangis. Dan supaya Eri bisa secepatnya ngelupain gue juga nemuin pendamping yang baru. Dan yang terpenting adalah, supaya Eri bahagia.
Selamat tinggal Eri! God will always bless you to find your love. And “there” I will laughing with god when you have find your happiness. I love you, and see you in the heaven ;)

PS to I’am : gue titip Eri ya ‘am. Jaga dia baik-baik dan buat dia bahagia. Jangan sampai lupa juga semua cerita tentang kehidupan Eri yang pernah gue ceritain sama elo. Jadiin itu patokan buat elo supaya elo bisa membuat Eri bahagia. Gue percaya elo ‘am. Elo pasti bisa ngelakuinnya. Goodluck J

Eri terhenyak. Jadi Ryzky menitipkan Eri kepada I’am? Eri geleng-geleng tak percaya. Tapi mau bagaimana lagi? Inilah kenyataan, I’am lah yang akan menjaga Eri seperti Ryzky menjaga Eri dulu walaupun status I’am dan Eri hanya teman. Dan I’am lah yang akan menggantikan Ryzky, walaupun Eri tahu benar Ryzky tak akan pernah terganti dalam hidupnya. Akankah semua semudah itu untuk dijalani Eri dan I’am? Entahlah, hanya tuhan yang tahu.

* * * * * * * *

Eri menatap lekat kalung mawar yang kering itu. Entah sudah berapa lama, ia hanya termangu dan terhanyut dalam pikirannya didepan kalung mawar pemberian Ryzky. Seakan kalung mawar itu, adalah cermin fatamorgana yang dapat memantulkan semua gambaran cerita yang Eri dan Ryzky pernah alami.
“Ri? Masih mau disini?” tanya I’am pelan.
“Tunggu sebentar!” pinta Eri sambil menyeka air matanya. Eri menatap kalung itu sekali lagi, dan mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Hhh!” Eri mengehela nafas panjang, lalu meletakkan kalung mawar itu tepat diatas tanah makam Ryzky yang masih basah. “Selamat jalan Ki. Selamat tinggal untuk selamanya!” ucap Eri lirih sambil menahan air matanya yang selalu saja memaksa untuk keluar.

* * * * * * * *

“Igo.” Cowok berambut cepak, dengan wajah yang manis dan berperangai kocak itu menyodorkan tangannya tepat dihadapan wajah Eri.
“Eri.” Balas Eri sambil tersenyum.
“Dia temen gue dan Ryzky disekolah Ri.” Papar I’am pada Eri.
Eri hanya kembali tersenyum. “Makasih ya, udah bela-belain nyisihin waktu cuma buat ngehibur gue.” Eri menyeruput jus jeruknya.
Igo cengengesan. “Iya. Hehe. Lagian gue penasaran aja. Gimana sih cewek yang namanya Eri  itu. Sampe-sampe bisa bikin Ryzky yang dingin kayak beruang es itu takhluk dan cinta mati.”
I’am geleng-geleng kepala. “Huss! Awas loh dihantuin sama Ryzky entar malem.”
Igo masih saja cengengesan. “Gapapa. Biar aja hantunya Ryzky gue ajak maen sepakbola.”
Eri baru saja hendak angkat suara dalam pembicaraan seru ini, ketika tiba-tiba ponselnya bergetar.

Andra
Calling..

“Bentar ya!” pamit Eri pada I’am dan Igo lalu berjalan  menuju luar restoran.
“Halo? Kenapa Ndra?”
“Ri? Lo dimana sih? Kenapa nggak masuk sekolah? Mana nggak ada keterangan apa-apa lagi! Gue datengin kerumah lo, lo-nya nggak ada. Gue tanya pembantu lo, lo-nya kemana. Dia nggak mau jawab.” Seloroh Andra.
“Gue lagi nggak di Bandung, Ndra.” Ujar Eri terpatah-patah.
“Nggak di Bandung? Terus lo dimana?”
Eri mengetuk-ngetuk kepalanya. Harus nggak sih, Eri menceritakan semuanya pada Andra? “Gue, lagi ada masalah.”
“Masalah apa?” selidik Andra semakin jauh.
Huh! Terpaksa cerita nih. Siap-siap aja bakal ada pertumpahan air mata lagi. Eri berjalan kesudut parkir restoran, lalu ia berdiri dibawah sebuah pohon yang letaknya terkucilkan dari keramaian. Singkat kata, tempat Eri sekarang berada adalah tempat yang sepi.
Saat mentalnya telah benar-benar siap, barulah Eri mulai berbicara lagi. “Ryzky.., me… meninggal.” Eri mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.
“Innalillahiwainnaillaihiroji’un.” Ucap Andra dari seberang sana.
“Dia meninggal kemarin, Ndra. Hari ini pemakamannya.”
“Gue turut berduka cita ya Ri.” Ujar Andra tulus.
“Iya, Ndra. Makasih ya,” Eri kembali mengusap sisa-sisa air matanya. “Udah dulu ya Ndra, udah jam 5 sore. Gue mau mandi.” Dusta Eri. Padahal nyatanya ia sekarang tengah berada disebuah kafe bersama I’am dan Igo.
“Iya. See you Ri.” Klik! Andra mematikan telepon, Eri bergegas memasukkan ponselnya kembali kedalam saku dan berjalan masuk kedalam kafe.
“Sori lama.” Eri tersenyum pada I’am dan Igo, menyembunyikan raut sedih wajahnya yang sehabis menangis itu.
Ígo (masih) cengengesan. “Hehe. iya. Tenang aja.” Jawabnya enteng. Kapan ya anak ini berhenti untuk cengengesan? Ckck! Pikir Eri iseng.
Eri mengahabiskan jus jeruknya yang masih tersisa dalam sekali sedot. “Yuk pulang!”

* * * * * * * *

“Pulang sekolah,makan siang sama gue yuk?” tawar andra.
Eri hanya mampu mengangguk tanpa mengucap sepatah katapun. Matanya masih menerawang entah kemana. Yaaah, mungkin pada bayang-bayang Ryzky.
“Lo mau kita makan siang dimana entar Ri?”
Eri hanya angkat bahu.
“Di Red-Table gimana?”
Eri mengangguk, masih tanpa sepatah suara pun dari bibirnya.

* * * * * * * *

Eri  memutuskan untuk berhenti diujung  jalan rumahnya saja. Ia sedang enggan untuk diantar oleh Andra  sampai kedepan rumah.
“Thanks, Ndra.” Eri mengembalikan helm yang tadi ia kenakan pada Andra.
“Seharusnya gue yang berterima kasih sama lo karena udah mau nemenin gue makan siang.”
“Iya-iya. Intinya kita berdua sama-sama berterima kasih,” Eri tersenyum simpul. “Gue balik dulu ya, Ndra.” Setelah melambaikan tangannya pada Andra, Eri segera berjalan menuju rumahnya  yang hanya berjarak sekitar seratus meter dari ujung jalan.
Eri baru saja mengerakkan tangannya untuk membuka pintu gerbang rumahnya ketika seseorang memanggilnya dari belakang. “Ri?”
Eri menoleh dan mendapati I’am tengah berdiri dibelakangnya dengan tangan yang masuk kedalam saku. “I’am? Lo?”
“Kenapa?”
Eri celingukan. “Lo naik apa kesini?”
“Naik kereta. Gue cuma pengen nengokin keadaan lo aja. Gue harus tetep jaga amanat Ryzky untuk selalu ngejaga lo.”
Eri tersenyum penuh arti lalu menggamit lengan I’am. “Ayo! Duduk didalam aja ‘am,” lalu menariknya masuk kedalam rumah. “Lo duduk aja dulu disini ya. Gue mau ganti baju.” Eri mendudukan tubuh I’am diatas sofa ruang tamunya lalu bergegas pergi menuju kamarnya yang ada didekat ruang keluarga. Rumah Eri memang rumah yang sangat sederhana. Bukan rumah yang bertingkat dengan pilar yang besar, tetapi  hanya rumah dengan satu lantai berukuran 30x20 meter. Dan hanya memiliki 4 kamar.
Tak lama Eri kembali datang keruang tamu dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua gelas sirup dan tiga stoples kue.
“Maaf ya ‘am. Seadanya. Hehe.” Eri meletakkan semua barang bawaanya diatas meja ruang tamu. I’am malah cekikian.
“Nyantai aja kali. Nggak dikasih lo minum atau kue juga nggak apa-apa.”
Eri duduk disofa yang ada dihadapan I’am. “Langsung ke intinya aja deh. Apa tujuan lo kesini?”
“Loh , tadi ‘kan gue udah bilang. Gue mau ngejenguk  elo Ri.”
“Just that?” tanya Eri curiga.
“Iya. Nggak percaya?”
Eri menghela nafas panjang. “Iya deh percaya.”
“Kita jalan yuk Ri.”
Eri mendelik kaget pada I’am. “Tuh ‘kan. Baru aja tadi bilangnya nggak ada maksud apa-apa kesini, cuma mau nengokin gue aja. Tapi sekarang malah ngajak jalan! Gimana sih? Lain dihati, lain dimulut.” Cerocos Eri sok pujangga.
I’am jadi salah tingkah sendiri. Sepertinya perkataan Eri barusan sangat kena dihatinya. “Ya.. gue..,”
“Apa?” desak Eri.
“Gue emang mau ngajak lo jalan bareng sih. Hehe. tapi kalau elo nggak mau juga nggak apa-apa kok.”
Eri tertawa melihat tingkah I’am. Seperti maling yang ketangkap mencuri. “Gue mau kok ‘am pergi sama lo.”
“Serius?”
Eri mengangguk. “Emang kita mau pergi kemana?”
“Nonton. Setuju?”

* * * * * * * *

Eri merasakan matanya begitu berat. Ancang-ancang untuk tidur. Namun detik-detik menuju alam mimpi itu selalu saja terhalang dengan kegaduhan penonton yang sibuk  tertawa terbahak-bahak.
“Ri? Kamu ngantuk? I’am menyikut Eri.
Eri menguap. “Hoaahhm! Iya nih ‘am. Nggak seru banget ih filmnya.”
“Kamu nggak suka?”
“NGGAK! Katanya tuh film, film komedi. Tapi kok nggak ada lucu-lucunya sama sekali. Gue heran sama semua penonton disini termasuk lo. Kok bisa ya ketawa nonton film garing begitu.”
Ya begitulah, film yang ditonton Eri dan I’am ini memang garing abis (itu sih menurut Eri loh). Awalnya Eri memilih untuk menonton film action, tapi I’am nggak setuju. Soalnya kata dia, dia udah pernah nonton film itu beberapa hari yang lalu dan jelek. Tapi kalau begini mah, kayaknya bagusan film action itu kemana-mana deh daripada film sok ngelucu ini.
“Cabut aja yuk!” ajak Eri dengan wajah memelas.
“Tanggung Ri.” Cegah I’am.
“Gue bisa mati bosen kalau dalam waktu 5 menit nggak buru-buru keluar dari sini.” Gerutu Eri.
“Bentar lagi deh.”
“Ih ogah. Nonton aja sana lo sendirian!” Eri bangkit dari duduknya dan berbalik hendak keluar dari ruangan bioskop, namun langkahnya terhenti saat mendapati sesuatu menghadang langkahnya menuju pintu keluar. Dup! Tiba-tiba layar bioskop juga mati seiring dengan langkah Eri yang ikut terhenti itu. Layar mati saat film sedang ada dibagian closing dan seluruh penonton berseru kesal. Mereka semua hendak berbalik pergi meninggalkan ruangan bioskop. Namun persis sama seperti Eri, langkah mereka semua ikut terhenti ditempatnya masing-masing begitu melihat apa yang juga dilihat Eri.
Mulut Eri menganga lebar, matanya membulat takjub, pipinya bersemu merah. Alunan nada dari orkestra biola perlahan mengalun dengan merdu. Alunan yang berasal dari gesekan biola para pria yang tengah berdiri dibelakang ruangan bioskop itu.
“Suka?”
Eri tersentak mengetahui tenyata I’am sudah berdiri dibelakangnya dan menanyainya. Jangan-jangan.. “Jangan bilang ini semua rencana lo!”
I’am terkekeh. “Kalau gue mau bilang ini semua rencana gue gimana? Lo pasti tambah seneng ‘kan?”
“Ih.. I’am.” Rengek Eri manja.
Suara alunan biola semakin berderu keras. Membuat para penonton yang sempat terbakar emosi kembali tenang dan justru menikmati kejutan tak terduga ini. Malahan sekarang mereka semua seolah menjadikan Eri dan I’am sebagai tontonan gratis mereka.
“Duh! Romantisnya.. mau dong Mas, saya jadi pacarnya.” Celetuk salah seorang penonton wanita yang disusul dengan sorakan penonton yang lainnya.
“’am, apa maksud lo?”
I’am mendekatkan tubuhnya pada Eri dan mengenggam tangan Eri kuat-kuat. “Gue cuma mau elo tahu, Ri. Elo udah nempatin posisi yang spesial dihati gue.”
“Elo?..,” Eri memutus kalimatnya ditengah jalan. Waah jangan GeEr dulu deh, I’am ‘kan bukan nembak. Tapi cuma membicarakan hal yang penting dan spesial aja. Nggak lebih!
Gemuruh tepuk tangan penonton mulai terangkat, melihat Eri dan I’am yang saling pandang dengan tatapan saling tak mengerti.
“Cuma mau membicarakan hal ini, elo sampai menyiapkan persiapan yang segini mewahnya, ‘am?”
“Emang nggak boleh? Sah-sah aja kali kalau gue mau mempersembahkan sesuatu yang spesial untuk orang yang spesial buat gue.”
Eri tersenyum dan melempar sorot mata penuh arti pada I’am. “You’ve take an important place in my heart, ‘am.”

* * * * * * * *

Eri memandang langit-langit kamarnya sambil senyam-senyum sendiri, persis seperti orang yang baru keluar dari Rumah Sakit Jiwa.
Semua saat-saat indah bersama I’am tadi kembali berkelebat hebat diotaknya. Eri juga sampai sekarang tak habis pikir, bagaimana bisa ia begitu cepat melupakan Ryzky dan sekarang malah menaruh hati pada I’am (walaupun mereka berdua belum jadian sih). Padahal awalnya, Eri sempat pesimis akan bisa melupakan Ryzky didalam hidupnya. Ternyata tidak, hanya butuh waktu kurang-lebih sebulan untuknya agar bisa menggantikan cintanya untuk Ryzky, menjadi cintanya untuk I’am.
Tok tok tok! “Ri? Buka pintunya.”
Eri terperanjat, dan terduduk kaget diatas ranjangnya. “Iya, ‘am. Tunggu!”
Cklik! Eri memandangi I’am yang masih mengenakan handuk dikepalanya sesaat. “Kenapa ‘am? Udah mandinya?”
“Udah kok. Eh, Ri. Gue pinjem HP lo dong.” Pinta I’am. I’am memang masih ada dirumah Eri sekarang, dia menumpang mandi (tapi nggak ganti baju, karena nggak bawa baju gantian) dan menunggu jemputan dari Igo yang sekarang masih on the way dari Jakarta menuju Bandung.
“Buat?”
“Handphone gue lowbatt, gue mau nelpon Igo. Gue mau nanya, dia udah sampe mana.”
“Oke,” Eri berjalan mendekati ranjangnya dan mengambil handphone-nya yang tergeletak disana lalu menyerahkannya pada I’am. “Nih!”
“Thanks gue pake dulu ya..” I’am mengedipkan sebelah matanya pada Eri lantas langsung memunggungi Eri, pergi.

* * * * * * * *

2 jam kemudian, tepat jam 8 malam..
Ting tong!
Bel rumah Eri berbunyi, Eri dan I’am yang sedang nonton DVD film Prince Of Persia hanya melengos cuek. Karena Eri tahu, pasti Bi Mar akan segera membukakan pintu itu. Dan bener aja, tak lama Bi Mar datang dengan tergopoh-gopoh menuju ruang  tengah bersama seseorang.
“Igo!!!” pekik Eri riang lantas menghambur memeluk Igo. “Kenapa tadi siang nggak kesini sih? Kalau ada elo ‘kan pasti tambah seru.”
Igo cengengesan dengan gaya tengil minta ampun. “Kenapa memangnya? Kangen ya sama Abang yang ganteng ini?” Igo mengusap rambutnya menggunakan celah jari dari depan kebelakang.
Eri menirukan gaya orang muntah. “Uuekk! Mau muntah gue.”
“Eh, Ri. Gue balik dulu ya?” pamit I’am iba-tiba yang langsung disambut tampang cembetut Eri.
Igo menepuk pundak I’am. “Nanti aja ngapa ‘am? Nyantai dulu disini. Istirahat bentar. Gue capek nyetir dari tadi.”
Wajah Eri yeng tertekuk langsung kembali sumringah mendengar ucapan Igo. “Iya, ‘am. Bener apa kata Igo. Istirahat disini dulu aja,” Eri mengerling manja pada I’am. “Ayo nonton lagi!” Eri menggamit lengan I’am dan langsung membawanya kembali keruang tengah, Igo membuntuti.
“Waah, Prince Of Persia ya? Gue udah nonton ini mah. Ganti-ganti!” Igo menggondol remot DVD yang diletakkan diatas meja. Jari Igo baru saja ingin menekan tombol power ketika Eri mencekal lengannya. “Apa’an sih, Ri?”
“Elo yang apa-apa’an? Lagi seru tau!”
“Bawel!”
Eri merampas paksa remot yang ada digenggaman Igo. “Sini! Jangan harep ya elo bakal bisa ngeganti filmnya.”
I’am melirik tajam pada Eri dan Igo. “Sshhh! Jangan berisik, nggak kedengeran!” lalu kembali mengalihkan pandangannya pada layar TV.
“Dasar, Eri bawel, cerewet!” bisik Igo pada Eri sambil cekikikan.
“Bodok!”
“Hehe, becanda, Ri. Peace!” Igo mengacungkan jari tengah dan telunjuknya di udara.

* * * * * * * *

I’am masuk kedalam mobil disusul Igo.
Tak lama, lampu depan mobil menyala dan bunyi suara mesin berderu kencang, tanda mesin telah dihidupkan.
I’am menurunkan jendela menggunakan power window, dan menatap Eri yang masih berdiri terpaku disamping mobil. “Jaga diri kamu baik-baik ya, Ri.”
“Iya, ‘am. Makasih ya udah mau dateng kesini.”
I’am tersenyum penuh arti. “Gue janji, gue bakal sering-sering kesini buat jenguk elo.”
Eri mengangguk. “Pintu rumah gue bakal selalu terbuka buat lo kok ‘am.”
“Oh ya, Ri. Kita tetep keep in touch lewat handphone ‘kan?”
Sekali lagi Eri mengangguk pasti. “Iya, ‘am. Pasti.”
“Woy, udah belum perpisahannya?” tegur Igo dari balik setir.
“Reseh.” Desis Eri pelan.
Tin! Klakson mobil berbunyi sebagai tanda pamit. “Gue pulang, ya.” Pamit Ryzky lalu menutup jendela dengan menggunakan power window.
Mobil mulai berjalan, Eri melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Suasana yang seharusnya mengharu biru langsung berubah begitu terdengar suara Igo yang berteriak dari dalam mobil. “Daaah, oneeeeeng!” ucapnya lantang.
Eri tercengang. Oneng? Sejak kapan dia punya nama oneng?

* * * * * * * *

3 bulan kemudian..
Eri termenung menatap papan tulis yang ada dihadapannya. Deretan rumus kimia berjejer rapi disana. Eri mengehembus nafas pelan, pikirannya menerawang pada sosok I’am. Akhir-akhir ini, Eri memang suka dibuat gelisah dan gregetan oleh sikap I’am yang nggak kunjung menyatakan cintanya padanya. Padahal udah hampir 4 bulan mereka dekat dan saling mengenal satu sama lain. Memang nggak cukup ya waktu pedekate 4 bulan buat memantapkan semuanya? Lagi pula waktu itu ‘kan I’am juga udah bilang sama Eri, kalau Eri telah mengambil tempat yang penting dihatinya. Kalau udah gitu, I’am pasti suka dong sama Eri! Tapi kenapa I’am belum nyatain cinta secara resmi sih? Sampe kapan Eri dan I’am Cuma HTS-an doang?
Huh! Masak iya, Eri yang mau nembak duluan. Gengsi ah!
“Naresa!” pekik Pak Irman dari depan kelas dengan suara melengking, membuat Eri terperanjat. “Mana catatan kamu?!” tanya Pak Irman sambil berjalan mendekat menuju meja Eri yang ada dipaling belakang.
Aduh! Mampus gue. Ini nih gara-gara ngelamun dikelas, rutuk batin Eri.
Pak Irman membolak-balik buku catatan Eri yang masih kosong blong, nggak ada satu-pun rumus yang tertulis disana. “Dari  tadi apa aja yang kamu kerjain?! Kenapa buku catatannya masih kosong?!” tanya Pak Irman garang, membuat Eri merinding disko dan akhirnya hanya mampu tertunduk dengan mulut terkatup rapat. “Cepat kamu kerjakan soal latihan dihalaman 44 dari nomor 1 sampai 10 di papan tulis!!”
Glek!

* * * * * * * *

Malam harinya..
Eri menatap layar ponselnya bingung. Kenapa I’am belum menghubungi dia ya sampai sekarang? Biasanya ‘kan I’am selalu ngasih kabar mulai dari hal sepele seperti, dia lagi apa, dimana, apa aja kegiatan dia hari ini. Tapi kok, dari tadi pagi sampai malem, I’am malah nggak terdengar rimbanya sedikitpun ya?
Apa dia udah bosen ya berhubungan sama gue? Apa dia udah eneg sama tingkah gue yang kayak enak kecil? Arrgh! Eri mengacak rambutnya kesal, berusaha menghilangkan pikiran negatifnya itu.
Akhirnya (daripada pusing dan bingung) Eri memutuskan untuk menarik selimut yang sedari tadi hanya dianggurinya, menutup sekujur tubuhnya menggunakan selimut itu, dan tertidur pulas hingga pagi menjelang nanti. Semoga mimpi ketemu I’am, harapnya dalam hati.