Kamis, 11 April 2013

god bless puput (cerpen)

cerita ini mungkin cukup simple, tapi saya nggak tahu kenapa, hati saya begitu tergerak untuk menulis cerita dengan tema seperti ini ~ selamat membaca :)




GOD BLESS PUPUT

Suatu malam di akhir bulan Januari…
Seorang gadis tampak tengah terbaring lemah di ranjang sebuah ruangan VIP di rumah sakit. Tangan lentiknya, terikat dengan selang infus disana-sini. Matanya terpejam rapat. Desahan nafasnya terdengar begitu lemah. Hanya samar namun menggambarkan rasa pedih yang luar biasa.
Disamping ranjang itu, tampak sosok wanita paruh baya yang tengah duduk bersandar pada kursi sambil memejamkan mata. Lingkaran hitam di bawah matanya, menunjukkan bahwa wanita itu kurang beristirahat. Tubuhnya teramat sangat letih dan lemah. Sesekali matanya terbuka, dan tiap kali ia melihat pemandangan yang tersingkap di balik kedua kelopak matanya, wanita itu menitikkan air mata. Air mata kesedihan yang selama ini selalu menghiasi hari-harinya, tiap kali wanita itu membayangkan dan meratapi sosok tubuh yang terbaring di ranjang itu: Puput, anaknya.
Tangan wanita itu terjulur, mengusap lembut wajah Puput yang masih tak kunjung siuman setelah menjalani proses cuci darah tadi pagi. Diciumnya dengan pelan, kening sang anak sambil berkata, “Put, cepet sembuh ya sayang. Ibu selalu mendoakan kamu.” Dan…, tik! Air mata itu menetes lagi. Hati ibu mana yang tak pedih rasanya jika melihat sang anak tak kunjung sembuh dari penyakitnya.
Puput, sejak 3 tahun yang lalu memang mengidap kelainan pada ginjalnya. Ginjal puput rusak dan tak dapat menyaring darah, itulah sebabnya, semenjak masih duduk dibangku kelas 3 SMP, tubuh Puput sudah harus diakrabkan dengan jarum dan selang infus demi bisa menyambung nafasnya. Seminggu sekali, Puput harus menjalani terapi cuci darah.
Dan setiap kali terapi cuci darah itu dilakukan, air mata selalu saja bertumpahan, ibu Puput selalu saja menangis, melihat putri semata wayang tercintanya meraung kesakitan ketika infus disematkan di setiap urat nadinya.
Entah… entah sudah berapa ratus kali puput menjalani cuci darah semasa hidupnya. Semenjak ia baru mencecapi nikmatnya usia 14 tahun, hingga saat ini, detik ini, ketika usianya hampir genap 17 tahun.
“I…, ibu…,” Puput membuka matanya perlahan, ia tersadar! Dan kalimat pertama yang ia ucapkan adalah “ibu”. Sebuah kalimat yang mewakili sesosok wanita tegar, yang telah merawat Puput dari kecil hingga saat ini seorang diri.
Ya, Ayah Puput telah lama berpulang ke pangkuan Tuhan, tepat ketika kandungan Ibu Puput memasuki usia 4 bulan. Ayah meninggal setelah mengalami gagal jantung akibat penyakit komplikasi yang telah lama bersemayam di tubuhnya.
“Ya, Nak.” Jawab Ibu lembut sambil tersenyum dan menitikkan air matanya.
“Ibu, Puput nggak mau lagi cuci darah. Rasanya sakit, Ibu… sakit…” Puput tak kuasa lagi membendung air matanya. Perih ditubuhnya tak kuat lagi ia tahan. “Ibu, Puput pengen sembuh Ibu… Puput nggak mau kayak gini lagi.”
Ibu menangis, dipeluknya Puput, mencoba menenangkan. “Ya, sayang. Ibu juga nggak mau lagi melihat kamu seperti ini. Kamu sabar ya, pasti Tuhan akan memberikan jalan keluar atas semua ini.”
Puput mengangguk. Dilepaskannya pelukan Ibu. Saat ditatapnya kedua bola mata Ibu yang begitu jernih, pikiran Puput justru melayang. Otak Puput kembali memutar kejadian tadi pagi, ketika Dokter Azwar, dokter yang selama ini menangani Puput mengatakan, bahwa Puput bisa sembuh asalkan melakukan cangkok ginjal.
Detik itu pula, tanpa berpikir panjang lagi, Ibu langsung menawarkan diri untuk menjadi donor ginjal, namun Puput menolak. Ia bersikeras tak ingin mengorbankan Ibunya. Ia takut, jika operasi cangkok ginjal itu justru akan membahayakan ibu. Puput tentu saja tak mau hal itu terjadi. Baginya, sudah cukup besar pengorbanan Ibu selama ini, Puput tak bisa membiarkan Ibu berkorban lebih banyak lagi.
Ibu pun pasrah mendengar penolakan Puput atas kesediannya menjadi donor itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, meski di lubuk hatinya yang terdalam, ia selalu ingin mengorbankan segala sesuatu hal yang terbaik untuk Puput.
“Ibu, Puput pengen pulang.” Ucap Puput kemudian, setelah lama terdiam.
“Iya sayang. Kita pulang besok pagi. Sekarang sudah malam. Tidurlah. Beristirahat. Agar besok tubuhmu kembali pulih total.”

* * * *

Suatu pagi di awal bulan Februari…
“Put! Puput!”  panggil seseorang ketika Puput tengah berjalan menyelusuri koridor sekolah menuju kantin. Puput kontan menghentikan langkahnya dan memutar tubuh, menghadap orang itu. “Eh, kamu, Ndra.” Puput tersenyum manis begitu mengetahui ternyata orang yang memanggilnya itu adalah Hendra, sahabatnya.
Bagi Puput, Hendra adalah salah satu orang yang paling berharga dalam hidup Puput selain Ibu. Karena dulu, ketika Puput dinyatakan positif terkena gangguan pada ginjalnya, semua teman Puput langsung menjauhi gadis itu, takut ketularan katanya. Padahal, Puput sudah bersikeras memberi penjelasan pada mereka bahwa penyakit yang dideritanya itu tak menular. Dan pada saat itu lah, ketika semua orang justru menjauhi dan mengucilkan Puput, Hendra adalah satu-satunya orang yang tersisa yang masih setia berdiri disamping Puput menjadi tameng sekaligus menjadi dinding tempat Puput bersandar. Ia tak peduli dengan omongan orang yang mengatakan bahwa Puput akan membawa virus berbahaya baginya. Hendra sudah cukup cerdas untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk untuk dirinya.
“Mau kemana, Put? Kok nggak ngajak aku?” Tanya Hendra sedikit manyun.
“Ke kantin, Ndra.” Puput kembali melanjutkan langkahnya, Hendra menjajari. “Abisnya kelas kamu jauh sih, makanya aku males ngejemput kamu kesana.”
“Oh ya, Put. Bisa nggak nanti pulang sekolah temenin aku ke gedung olahraga sekolah?” Tanya Hendra kemudian.
“Ngapain, Ndra?”
Hendra tersenyum misterius. “Aku punya kejutan buat kamu.”
Puput yang hampir tiba di pintu kantin, kontan menghentikan langkahnya begitu mendengar kalimat yang dilontarkan Hendra barusan. Mata Puput kini menatap Hendra nyalang. “Kejutan? Kejutan apa?”
“Ada deeeh, makanya kamu ikut aku ya?”

* * * *

Setibanya waktu pulang sekolah, Hendra bergegas menuju kelas Puput demi menjemput gadis itu, takut kalau-kalau Puput kabur, hihihi…
Dan begitu “mendapatkan” Puput ditangannya, Hendra langsung tancap gas menyeret Puput  menuju gedung olahraga sekolah yang terletak di belakang sekolah. Gedung olahraga sekolah memang sering kosong karena jarang digunakan. Kalaupun digunakan, paling tidak hanya satu bulan sekali. Itu pun kalau cuaca sedang buruk yang membuat para siswa terpaksa berolahraga di dalam gedung. Sedangkan, jika cuaca sedang baik, guru-guru olahraga lebih memilih tempat outdoor, ketimbang gedung olahraga sebagai sarana.
“Put, mata kamu ditutup ya?” ucap Hendra sebelum dirinya dan Puput memasuki pintu utama gedung olahraga.
Puput mendelik jijik. “Ih, apaan sih? Ngapain matanya pake ditutup segala?”
“Kan ini kejutan. Nggak seru dong kalo nggak tutup mata. Biar kayak di film-film gitu, Put, hihihi…” Hendra tertawa geli.
Puput menghela nafas panjang, pasrah. “Oke.” Jawab ia akhirnya.
Begitu mendengar persetujuan dari Puput, Hendra bergegas mendekat, menjulurkan kedua tangannya, demi bisa menutup mata Puput.
Setelah menutup mata Puput, Hendra perlahan menuntun gadis itu berjalan memasuki gedung.
Gedung olahraga merupakan salah satu gedung terbesar di sekolah. Di dalam gedung terdapat sebuah lapangan basket dan sebuah lapangan badminton. Kedua lapangan itu saling bersisian satu sama lain dengan hanya dibatasi dinding semen setinggi 15 sentimeter yang membentang panjang dari ujung hingga ujung satunya lagi. Di sekeliling kedua lapangan itu terdapat empat tribun yang diberi nama dengan mengikuti arah mata angin tempat empat tribun tersebut menghadap: barat, timur, utara, selatan. Seluruh tribun di dalam gedung itu mampu menampung hingga 1500 penonton. Tak heran, jika sedang ada event olahraga di sekolah, gedung ini akan penuh sesak dengan penonton yang memadati kursi-kursi yang tersedia di tribun yang berjumlah sekitar 1000-an lebih itu.
Hendra menghentikan langkahnya dan Puput tepat di tengah lapangan basket. “Aku buka ya mata kamu.”
Hendra melepaskan tangannya dari sepasang mata indah Puput. Begitu membuka matanya, Puput hanya geleng-geleng kepala dengan raut bingung mendapati keadaan di sekitarnya. “Mana kejutannya? Kamu bohong ah. Nggak ada apa-apa tuh disini.” Sungut Puput kesal. Gedung olahraga ini emang nggak ada yang berubah sedikit pun. Tribunnya masih bercat hijau, kursinya masih tersusun rapi, ring basketnya masih ada dua, bahkan dinding pendek pembatas antara lapangan badminton dan lapangan basket pun nggak turun walau hanya satu senti. Lalu mana kejutannya? Apa ini yang namanya kejutan? Ah! Menyebalkan!
“Kamu itu terlalu cepat menilai sesuatu, Put.” Hendra geleng-geleng kepala. “Coba deh kamu liat di bawah kaki kamu.”
Puput yang sudah keburu dongkol, dengan setengah hati menunduk, melirikkan kedua bola matanya menatap kebawah, dan ternyata…,
“Hen…, Hendra…, kamu…,” Puput nggak sanggup lagi berkata begitu melihat ada sebuah kalimat tertulis indah tepat dibawah kakinya. “I wanna you be mine”, kalimat yang ditulis menggunakan airbrush dilantai itu, mampu membuat Puput tak mampu berkata lagi. Semua kosakatanya lenyap seketika.
“Put…,” tiba-tiba Hendra berlutut, membuat Puput makin speechless. “Aku udah lama sayang sama kamu. Aku nggak peduli, Put, apapun kata orang tentang kamu, yang aku tahu aku sayang kamu, Put.”
Hati Puput pun terenyuh, tak kuasa lagi dibendungnya air mata.
“Put, kamu mau kan jadi pacarku?”
“Ndra…,” ucap Puput pelan, masih sambil menitikkan air mata. “Aku…, aku nggak bisa. Kamu tahu, Ndra, gimana keadaanku sekarang. Aku sakit, Ndra. Aku sakit. Aku takut, kalau aku menerima semua ini, aku nggak keburu bisa membahagiakan kamu karena Tuhan sudah ‘memanggilku’. Aku takut umurku nggak panjang lagi.”
Pelan, tangan Hendra terjulur, menggenggam kedua tangan Puput erat. Ditatapnya kedua bola mata Puput dengan penuh cinta dan harap. “Put, justru karena itu aku meminta kamu jadi pacarku. Aku ingin selalu jadi orang terdekat untuk kamu. Yang menemani kamu dalam keadaan apapun. Aku ingin, Put, berusaha sekuat tenagaku membuat kamu sembuh. Aku janji aku akan berusaha melakukan hal itu. Aku ingin memberimu perhatian lebih dari sekedar sahabat, Put.”
Puput makin tak kuasa menahan air matanya untuk tak jatuh. Jujur, di dalam hatinya, Puput juga menyayangi Hendra, sangat sayang. Tapi…, Puput takut jika ia tak bisa membahagiakan Hendra.
“Put…, please.” Mohon Hendra sekali lagi dengan sinar mata memelas, memohon, mengiba, penuh harap.
Hati Puput kini sudah benar-benar tersentuh hingga dasar yang paling dalam. Tak kuasa ditolaknya lagi permintaan spesial Hendra itu. “Ya, Ndra. Aku mau…, aku mau…,” ucap Puput setengah terbata sambil mengangguk kecil.
Mendengar kalimat itu, kontan Hendra bangkit berdiri dan memeluk Puput dengan hangat. “Aku akan selalu ada disamping kamu, Put. Terima kasih atas kesempatan ini. Aku janji nggak akan menyia-nyiakannya.”
Puput mengangguk dalam pelukan Hendra. Ia tengah mencoba untuk meresapi setia tetes cinta yang Hendra berikan untuknya dengan begitu tulus.

* * * *

Hari-hari pun Puput dan Hendra lalui bersama semenjak kejadian di gedung olahraga sekolah itu. Mereka berdua saling mengisi dan berbagi satu sama lain. Saling memberi perhatian, dan belajar untuk saling memahami.
Tahu keadaan sang kekasih yang memang sangat rentan untuk sakit, Hendra tak pernah sekalipun melepaskan Puput dari pengawasannya jika tengah berada di sekolah. Kelas yang berbeda, dan jarak antar kelas yang lumayan jauh, tak membuat Hendra mengendurkan perlindungannya terhadap Puput. “Takut Puput kenapa-napa,” begitu jawab Hendra setiap ada temannya yang bertanya.
Hendra pun tak segan lagi mengenalkan dirinya sebagai pacar Puput kepada ibu Puput. Dan syukurlah, ibu menyetujui hubungan yang terjalin antara dua anak manusia itu. Bahkan, minggu lalu, ketika Puput harus kembali menjalani cuci darah, Hendra tak sungkan untuk setia mendampingi Puput, memberi suntikan semangat pada Puput dan juga memberikan setetes ketenangan pada ibu Puput yang kerap dilanda gelisah setiap kali agenda cuci darah itu dilakukan.
Yang jelas, Hendra itu sudah bagai perisai kokoh yang selalu setia melindungi dan menemani Puput.
Seperti pagi ini, begitu bel istirahat berdentang nyaring, Hendra buru-buru ngibrit menuju kelas Puput dan langsung mengajak gadis itu menuju ruang komputer sekolah.
“Kita mau ngapain kesana?” Tanya Puput bingung ketika mereka berdua tengah menuju perjalanan ke ruang komputer. “Kamu lagi nggak mau ngasih kejutan lagi buat aku kan?” Puput tertawa menye-menye, ingatannya kembali memutar kejadian beberapa hari yang lalu di gedung olahraga.
Hendra menoleh sambil nyengir kuda. “Geer banget kamu,” katanya dengan nada canda.
“Terus kita mau ngapain dong?”
“Tiga hari lalu, aku baru aja posting iklan tentang pencarian donor ginjal buat kamu di blogku. Dan sekarang aku mau lihat, apa ada yang merespons iklan itu.”
“APA??!” teriak Puput sok sinetron sambil menghentikan langkahnya. “Ndra…, kamu…,”
“Put, kan aku udah pernah bilang sama kamu. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk membuat kamu sembuh.” Hendra menarik tangan Puput sambil berjalan lagi, tanpa memberikan kesempatan bagi gadis itu untuk angkat suara. “Pokoknya kamu nurut aja deh, Put. Ini juga kan semuanya buat kamu.”
“Tapi, Ndra…, apa kamu yakin bakal berhasil?”
“Asal kita mau berusaha, Tuhan pasti bakal membukakan jalan-Nya, Put.”
Puput terdiam mendengar perkataan itu, tak sanggup lagi ia membantah Hendra.
Setibanya di ruang komputer, Hendra dan Puput mendapati bahwa ruang itu tengah lengang, tak ada seorang pun disana. Dengan keadaan lengang seperti ini, tentu saja membuat Hendra dan Puput bisa lebih leluasa menggunakan fasilitas internet tanpa ada yang mengganggu.
Hendra mengambil komputer yang berada di dekat jendela ruangan lalu segera membuka situs blog pribadinya.
“Sepertinya sudah banyak yang melihat, Put.” Hendra tersenyum puas mendapati beberapa komentar yang diberikan dari pengunjung blognya. Di iklan donor ginjal itu, Hendra juga menyantumkan alamat e-mail resminya, dan meminta agar siapapun yang mempunyai akses untuk mendapatkan donor ginjal, segera menghubunginya di e-mail tersebut.
Puput hanya mampu duduk terdiam sambil menopang dagu diatas kursi yang ada disebelah Hendra. Tak ada minat sedikitpun dalam diri Puput untuk melihat apa yang sedang Hendra kerjakan dengan komputer di hadapannya itu. Puput justru asyik memandangi foto-foto hasil editing dari anak-anak klub komputer sekolah yang terpajang di dinding ruang komputer.
“Alhamdulillah… Put! Put! Lihat ini, Put! Kita sudah mendapatkan donor ginjalnya!” teriak Hendra heboh. Puput Kontan menoleh dengan air muka serius campur penasaran.
“Yang bener?”
“Iya, lihat ini,” Hendra mengarahkan pointer mouse pada sederet kalimat yang ada pada salah satu e-mail yang kini tengah dibukanya. Kalimat itu mengatakan bahwa operasi bisa segera dilakukan dalam waktu kurang lebih dua minggu dari sekarang. “Bahkan ia akan memberikan ginjalnya secara cuma-cuma tanpa bayaran!” lanjut Hendra lagi.
Alis Puput bertaut rapat. “Siapa yang mau mendonorkan ginjalnya padaku itu, Ndra?”
“Entahlah. Ia tak mau menyebutkan namanya. Tapi yang jelas, orang ini sudah memberikan nomor teleponnya padaku agar aku menghubunginya.” Hendra buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu mencatat nomor ponsel yang tertera pada e-mail itu.
Sementara itu, Puput hanya mampu bergeming di tempatnya. Ia antara percaya dan tidak percaya. Secepat itukah ia mendapatkan donor ginjal? Adakah orang yang dengan begitu mudahnya hendak mendonorkan ginjalnya pada orang lain tanpa bayaran? Apa ini mimpi? Apa…. Apa…. Ah! Terlalu banyak pertanyaan yang menyemai di benak Puput.

* * * *

Hari operasi tiba, Puput terkejut mendapati ternyata sang pendonor ginjal untuknya adalah seorang anak kecil berusia 8 tahun.
Anak yang diantar oleh kedua orang tuanya datang kerumah sakit itu terlihat begitu tenang. Wajah polosnya seolah menunjukkan bahwa ia sedang tak terbebani batin saat ini. Padahal nyatanya, dalam waktu beberapa jam ke depan salah satu organ terpenting dalam tubuhnya akan berpindah tempat.
Begitu ditanyai oleh Puput apa alasan anak kecil itu ingin mendonorkan ginjalnya pada Puput, anak kecil bernama Nina itu pun menuturkan dengan begitu polosnya sebuah kisah yang mampu mengiris batin siapa saja yang mendengarnya.
Nina semenjak 5 tahun yang lalu, telah divonis mengidap kanker otak, dan kini kanker otak itu tiba pada stadium akhir. Harapan hidup Nina yang sangatlah sedikit, membuat gadis kecil itu bertekad ingin melakukan sebuah tindakan mulia sebelum ia kembali ke pangkuan Tuhan. Hal itu pun ternyata disetujui oleh kedua orang tua Nina yang memang telah menyadari bahwa hidup sang anak tak akan lama lagi.
Gayung pun seolah bersambut ketika Ayah Nina membaca iklan yang diedarkan oleh Hendra melalui blog. Begitu diberitahu oleh sang Ayah, Nina pun langsung menyetujui untuk mendonorkan ginjalnya pada Puput tanpa tedeng aling-aling lagi.
“Nina nggak mau lagi ada orang lain yang nasibnya sama seperti Nina. Semoga setelah ini, Kak Puput cepet sembuh ya.” Tutur Nina polos sambil memainkan boneka teddy bear miliknya di kamar pasien. Puput tak kuasa menahan air mata harunya. Dipeluknya Nina dengan erat.
“Terimakasih banyak ya, Nina.”
Saatnya operasi pun datang, Nina dan Puput sama-sama akan memasuki ruangan operasi dengan tubuh yang terbaring di ranjang. Sebelum benar-benar memasuki ruangan operasi, Puput mendelik sesaat pada Hendra, Ibu, dan kedua orang tua Nina yang berdiri di ambang pintu ruang operasi. Puput tersenyum pada mereka semua, seolah meminta restu dan doa.
Ibu tak dapat menahan kesedihannya dan langsung menangis. “Ibu selalu mendoakanmu, Put.” Ucap Ibu sebelum pintu ruang operasi benar-benar di tutup.

* * * *

Puput menari, ia berputar-putar sambil melenggak-lenggokkan tubuhnya di sebuah taman bunga yang indah. Taman itu begitu hijau. Cuacanya pun teduh, tak ada mentari yang menyengat, tak ada pula udara dingin yang menusuk kulit. Semua terasa sempurna.
Lelah menari, Puput membaringkan tubuhnya diatas rerumputan taman yang terasa sehalus karpet dari bulu domba. Dipejamkannya mata, mencoba untuk tertidur, namun sebuah suara merasuk ke telinganya seketika itu juga…
“Put! Bangunlah, Put! Ada seseorang yang menunggumu disana!” teriak sebuah suara halus tepat di telinga Puput. Puput terlonjak kaget dan langsung terbangun ketika itu juga. Ia tambah terkejut begitu mendapati seeokor kupu-kupu tengah terbang tepat di hadapannya. Kupu-kupu itu kemudian berputar mengelilingi Puput sambil berkata…, “ayo, Put! Cepat pergilah! Di rumah itu ada yang sedang menunggumu.”
Puput terkesiap! Kupu-kupu itu…, bisa bicara? Astaga!
“Ayo cepat! Pergi! Pergi!” desak kupu-kupu itu sambil terus terbang memutari tubuh Puput. Puput pun tanpa pikir panjang lagi langsung berlari, demi menghindari bombardir dari kupu-kupu mengerikan itu lagi. Ia bergegas menuju sebuah rumah yang berada di sudut taman. Entah rumah siapa.
Puput dengan terburu-buru membuka paksa pintu rumah itu dan langsung masuk kedalamnya. Puput sungguh terkejut, begitu telah berada didalam, ia mendapati sebuah cahaya yang terpancar dari dalam perapian yang berada di pojok rumah.
“Puput…, kemarilah…, kemarilah sayang…, ayo kembali. Telah banyak orang yang menantimu diluar sana. Kemari sayang… kembali lah… kembali…” sebuah suara tiba-tiba muncul dari cahaya itu. Suara yang halus dan menenangkan. Membuat Puput terasa seperti terhipnotis dan langsung mendekat pada perapian itu.
Ketika perapian itu benar-benar telah berada di depan matanya, Puput memberanikan diri untuk menyentuh cahaya itu perlahan. Dan tanpa bisa ia tolak lagi, tiba-tiba cahaya itu menariknya, menyeretnya melalui sebuah lorong putih yang terang benderang. Tubuh Puput melayang dan terus melaju dengan cepat diantara dinding-dinding lorong itu. Lorong putih ini seperti sebuah penghubung menuju suatu tempat.
Beberapa puluh detik dalam lorong putih itu, Puput justru tak sadarkan diri, setelah menghirup udara yang membuat kepalanya terasa begitu berat. Namun berhasil membuat dadanya terasa begitu lapang dan ingin memejamkan mata. Puput pun pasrah, ia terus membiarkan tubuhnya melayang dan melaju dengan cepat dalam lorong itu.
Tiba-tiba…, dalam hitungan detik Puput merasakan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, dan matanya pun terbuka.
“Puput, Nak, kamu sudah sadar? Alhamdulillah…” Puput kaget begitu mendapati dihadapannya Ibu dan Hendra tengah berdiri. Ibu sedang menangis sambil menatap Puput dengan mata basahnya.
Loh? Ada apa ini? Bukankah tadi Puput sedang berada di sebuah taman yang indah? Kenapa sekarang justru ada Ibu dan Hendra di hadapannya? Lalu…, tangannya! Tangan Puput penuh dengan infus, dan tubuhnya mengenakan pakaian seragam khas pasien rumah sakit. Ada apa ini? Puput kebingungan sendiri.
Setelah berpikir beberapa detik, baru lah Puput teringat bahwa dirinya memang sedang berada di rumah sakit sekarang untuk melakukan operasi cangkok ginjal. Jadi, operasinya sudah selesai?
“Kamu baik-baik aja kan, Put? Tadi selama belum siuman kamu mengigau terus. Apa kamu mimpi buruk, Nak?” Tanya Ibu khawatir sambil membelai rambut Puput penuh sayang.
“Ibu…, Puput…,”
“Sudahlah, Bu. Biarkan Puput istirahat.” Sergah Hendra pelan sebelum Puput sempat banyak bicara.
Ibu mengangguk, membenarkan perkataan Hendra. “Ya sudah, kamu istirahat dulu saja, Put.”
Tiba-tiba Puput teringat akan suatu hal dan langsung menyergah Ibu dan Hendra yang hendak pergi keluar kamar. “Ibu…, Hendra…, tunggu…” panggil Puput dengan nafas tertatih, tubuhnya masih lemas.
Ibu dan Hendra kontan berhenti melangkah dan berbalik mengahadap Puput. “Ya Put, ada apa?” Tanya Ibu.
“Bagaimana keadaan Nina, Bu? Apa dia baik-baik saja?”
Ibu dan Hendra saling tukar pandang sesaat lalu menghela nafas berat. Tak lama, Ibu berjalan mendekati Puput dengan air muka sendu. “Nina sekarang sudah berada di tempat terbaik, Put. Tempat terbaik dimana dia akan hidup dalam keabadian.”

* * * *

1 minggu kemudian… tepat pada tanggal 28 Februari…
“Happy birthday, Puput!” teriak Hendra gembira sambil membawakan Puput sebuah kue tart mini di tangannya. Hari ini Puput sudah bisa pulang dari rumah sakit, setelah seminggu lamanya terbaring disana demi memulihkan kondisi kesehatannya. Karena hari kepulangan Puput itu bertepatan pula dengan hari ulang tahunnya, maka Hendra pun menyiapkan sebuah kejutan kecil di rumah Puput sebagai sambutan.
“Selamat ya, Put.” Hendra memeluk sang kekasih dengan hangat. Ibu hanya tersenyum melihatnya.
“Aku senang, ini adalah hari ulang tahun pertamaku yang aku lalui dalam keadaan sehat setelah 3 tahun lamanya aku terus sakit-sakitan.” Puput menangis bahagia. “Aku sudah sembuh, Ibu, Hendra…” Puput menatap Ibu dan Hendra bergantian.
Tak ingin larut dalam keharuan, Ibu angkat bicara. “Ibu masuk ke dalam dulu ya, Ndra, Put. Ibu mau membuatkan kalian makanan.” Ucap Ibu sambil tersenyum lalu berlenggang pergi masuk kedalam rumah.
Sepeninggalnya ibu, Puput mendelik, menatap Hendra penuh arti. “Ndra, aku boleh minta kado nggak sama kamu?”
“Boleh, sayang. Tentu.” Hendra mengusap puncak kepala Puput dengan penuh kasih sayang.
“Aku…, ingin mengunjungi makam Nina. Aku ingin menjenguk malaikat kecil itu. Kamu mau kan mengantarkanku?”
Hendra tertawa kecil mendengar permintaan polos Puput itu. “Hanya itu? Tentu sayang, aku akan mengantarkanmu kesana. Jangankan permintaan seperti itu, kamu minta aku mengambilkan bulan untukmu pun akan aku ambilkan.”
Puput mendesis jijik. “Huu! Gombal!” Puput tertawa sambil menjitaki kepala Hendra
 dengan gemas.
SELESAI

Senin, 25 Maret 2013

dilema cinta 22 tahun silam (cerpen)



Lam DILEMA CINTA 22 TAHUN SILAM

Jakarta, tahun 2033. Sore hari…
Seorang wanita yang berusia hampir empat puluh tahunan terlihat sedang duduk melamun di pinggir jendela kamarnya. Matanya yang teduh, menatap sendu pada rintik hujan yang turun di luar sana. Ditangannya tergenggam secangkir teh hangat yang sedari tadi tak disentuhnya sedikit pun. Sesekali, tangannya malah menjamah liontin pada kalung yang tergantung di lehernya, liontin yang berukirkan namanya yaitu, “VIRA”. Mengingat akan sejarah tentang liontin itu, pikiran Vira kembali terbang melayang, mengenang masa-masa SMA-nya dahulu, masa-masa yang terlalu indah untuk dibiarkan menjadi kenangan, namun juga terlalu pahit untuk dikenang…,
“Mama…” terdengar suara seseorang memanggil Vira dari arah belakang. Kontan Vira berbalik dan mendapati sang putri tunggal tercintanya, Kanza, sedang berdiri mematung di ambang pintu kamarnya sambil menggenggam ponsel.
Vira pun tersenyum lalu meletakkan segelas teh hangat miliknya ke atas meja.Tangannya kemudian terjulur, memanggil anak tersayangnya itu. “Kanza? Sini. Duduk sama mama.” Vira menepuk-nepuk bagian sofa yang rumpang di samping tubuhnya.
Kanza berlari kecil, lalu menjatuhkan tubuh tepat di samping sang Mama dengan masih sangat sibuknya mengutak-ngatik ponsel kesayangan miliknya. “Ma, mama kenapa? Kok ngelamun?” tanya Kanza, matanya masih tertuju pada layar ponsel miliknya.
“Lah seharusnya Mama yang nanya. Kamu ngapain nyamperin Mama kesini?”
Kanza pun mengalihkan pandangannya dari layar ponsel lalu menatap Mamanya sambil tersenyum nakal. “Aku mau cerita sama Mama.”
“Cerita apa sih, sayang?”Vira membelai lembut rambut anaknya yang terurai panjang.
“Aku…,” Kanza tersenyum nakal sekali lagi. Terlihat jelas kini, rona pipinya yang memerah entah karena apa. Kemudian ia malah menyembunyikan wajahnya di balik bantal kursi.
“Kamu kenapa sih? Hayoooo, nakal ya main rahasia-rahasiaan sama Mama. Mama cubit lho.” Vira menjulurkan tangannya hendak menggamit bagian perut Kanza, namun Kanza sudah keburu mengelak dengan meliuk-liukkan badannya kekanan dan kekiri.
“Ampun, Ma! Ampun!” Kanza tertawa geli selama beberapa saat, kemudian kembali duduk dengan tenang. Kini ia telah siap dengan ceritanya. “Ma, sebenernya…, aku lagi naksir cowok.” Tutur Kanza dengan nada malu-malu kucing.
Air muka Vira kontan langsung berubah mendengar kalimat Kanza barusan. Kanza bilang, ia sedang menyukai cowok? Ya Tuhan, anakku sudah mulai dewasa, batin Vira sambil tersenyum kecil.
“Ma, mama kenapa? Kok senyum-senyum?” tanya Kanza kebingungan.
“Ah…, nggak kok.Nggak apa-apa.ngomong-ngomong siapa laki-laki yang kamu suka itu?”
“Namanya Rio, Ma. Anaknya baik banget. Dia juara umum di SMP ku.”
Vira tertawa sumringah. “Waaahh, tinggi juga ya selera anak Mama.”
“Tapi, Ma…,” tiba-tiba air muka Kanza berubah menjadi keruh.
“Tapi? Tapi kenapa?”
Kanza tiba-tiba memeluk sang Mama, terlihat sekali siswa kelas 2 SMP itu sedang berusaha membendung gejolak perasaan yang bergemuruh dalam dadanya. “Sahabatku juga suka sama Rio, Ma.” Ucap Kanza dengan nada sumbang. Sepertinya ia sudah mulai menangis.
Vira terenyak. Dadanya terasa sesak. Semua memori masa lalu pahitnya seakan kembali terkuak ke permukaan. Kisah pahit kelam, yang telah ia coba untuk dikuburnya selama 22 tahun lamanya.
Kisah ini…, kejadian ini…, dialami juga oleh anakku. Oh tidak, Tuhan! Cukup aku! Jangan anakku! Jerit batin Vira. Tak terasa air matanya menetes.
“Ma, mama kok nangis juga?” Kanza mendongak, menatap mata sang Mama yang sudah mulai basah sama halnya seperti matanya.
Vira pun terbangun dari lamunannya, diusapnya air mata yang sudah terlanjur meluncur ke dua sisi pipinya itu. “Kanza sayang…, Mama cuma jadi keinget sama cerita Mama waktu SMA dulu.”
Kanza melepas pelukannya, lalu kembali duduk tegak seperti semula. “Cerita apa, Ma? Boleh Kanza tahu?”
Vira mengangguk. Ia berpikir, tak ada salahnya jika Kanza tahu kisah ini. Agar anaknya itu dapat mengambil pelajaran berharga dari kisah kelam masa lalunya. Jangan sampai, semua kejadian itu terulang kembali dalam kehidupan Kanza. Kejadian yang begitu memilukan, hingga untuk mengingatnya lagi pun terasa begitu berat bagi Vira.
“Dulu, Mama juga seperti kamu.” Ucap Vira memulai ceritanya.
Alis Kanza bertaut. “Maksudnya?”
“Sahabat Mama juga pernah mencintai orang yang mama sayang…,”

* * * * *

Jakarta, tahun 2011, pagi hari…
Pagi itu SMA Volderbrough terdengar begitu ramai. Hiruk pikuk tersua dari segala penjuru sekolah. Anak-anak dengan seragam putih abu-abu terlihat berkerumun di lapangan upacara yang telah di sulap menjadi sebuah TPS (Tempat Pemungutan Suara) dadakan.
Hari ini memang hari bersejarah bagi SMA Volderbrough, karena mereka akan mengadakan pemilihan ketua osis yang baru.
Ada dua calon pada pemilihan kali ini. Yang pertama adalah Rifky, yang merupakan juara umum olimpiade Sains tingkat nasional sekaligus merangkap sebagai ketua dari ekskul SSO (Smart Student Organization) yang merupakan ekskul paling bergengsi di SMA Volderbrough karena anggotanya adalah anak-anak dengan kecerdasan yang di atas rata-rata.
Dan calon yang kedua adalah Fidzy, anak salah satu pengusaha sukses di Indonesia yang memiliki jabatan sebagai ketua ekskul basket di Volderbrough.
Hal-hal yang menonjol dari para calon ketua osis ini tentu menimbulkan kesenggangan yang amat jauh dan membuat para pemilih bingung. Mau pilih mana?  “raja” pada bidang akademik atau “raja” pada bidang non-akademik?
“Vir, pilih siapa?”
Vira yang sedang duduk di salah satu sisi lapangan upacara sambil melamun, terkejut dengan suara yang tiba-tiba didengarnya. Ia pun mendongak, dan mendapati sahabatnya, Zahra, sedang berdiri didepannya sambil tersenyum manis.
“Yeee, ditanya malah ngelamun. Milih siapa Vir?” tanya Zahra ulang setelah mengambil posisi duduk di samping Vira.
Vira sih nggak usah ditanya, dia pasti milih Rifky lah. Secara Vira tuh udah naksir berat sama Rifky semenjak dia dan Rifky sama-sama terlibat dalam ekskul SSO. Tapi…, masak mau bilang begitu ke Zahra? Vira kan nggak mau Zahra tahu kalau dia naksir Rifky. Bukannya kenapa-kenapa. Tapi, Vira memang orangnya cenderung tertutup soal beginian sama orang lain. Termasuk sama Zahra, meski Zahra itu sahabatnya sendiri.
“Gue nggak tahu milih siapa,” jawab Vira akhirnya.“Elo?”
Belum sempat Zahra menjawab, suara dari speaker sekolah terdengar, “bagi seluruh murid kelas XI IPA 7 diharap bergegas menuju bilik suara. Terimakasih.”
“Vir, kelas kita dipanggil tuh, yuk!” Zahra bangkit dari duduknya sambil menggandeng tangan Vira dan bergegas menuju bilik suara.

* * * * *

Hasil pemilihan ketua osis sudah keluar dan menempatkan Rifky sebagai pemenang dengan selisih suara hanya 2% dari Fidzy. Tentu bukan hal yang aneh, melihat selama ini pendukung Rifky atau Fidzy cenderung berimbang satu sama lain.
Untuk merayakan kemenangannya, hari ini, Rifky mengajak seluruh anggota SSO untuk makan malam di rumahnya.Sekalian mengadakan pesta kecil-kecilan.
Vira yang merupakan salah satu anggota SSO jelas juga turut di undang dalam acara makan malam itu. Vira merasa begitu sangat gelisah menunggu waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Yang di undang rame, tapi kok kayaknya gue sendiri yang gelisah ya? Rutuk batin Vira pada dirinya sendiri sambil mematut dirinya di depan cermin.
Vira sekarang sudah siap dengan gaun biru selutut dan berkerah “V”-nya. Rambut panjang Vira, digelung ke atas hingga membentuk sanggul mini. Wajahnya di sapu make-up tipis yang membuatnya terlihat tambah manis. Semuanya hampir sempurna. Hampir…, karena Vira belum melengkapi dirinya dengan keberanian. Vira terlalu gugup malam ini. Dekat-dekat dengan Rifky saja bisa membuatnya hampir meleleh, apa lagi harus berjam-jam berada di rumah cowok itu. Vira gak bisa membayangkan jika ia mati berdiri setibanya disana.
“Vir! Jemputannya dateng tuh!” terdengar teriakan suara Mama Vira dari lantai bawah. Vira menghela nafas panjang sambil menatap dirinya di depan cermin.
“Vira! Lo bisa, Vir! Lo bisa! Lo bisa ngelewatin malam ini!”

* * * * *

Setibanya di rumah Rifky, Vira dibuat terkagum-kagum dengan hidangan yang bergelimpang di seantero meja makan besar milik keluarga Rifky. Makanan sebanyak itu lebih dari cukup hanya untuk para anggota SSO yang berjumlah sekitar 30 orang. Vira nggak menyangka, dibalik kesederhanaannya ternyata Rifky adalah anak orang kaya! Hanya saja Rifky nggak menampakkan hal itu pada saat di sekolah.
Di sekolah, Rifky bersikap layaknya orang biasa. Dikala sedang bertaburan ponsel blackberry disana sini, Rifky hanya menggunakan ponsel biasa yang nggak memiliki fitur kamera. Dan disaat anak-anak konglomerat yang bersekolah di Volderbrough bersekolah dengan mengendarai BMW, Sedan, Fortuner, dan mobil-mobil dengan merk terkenal lainnya, Rifky hanya  pulang-pergi sekolah dengan menggunakan sepeda motor.
Padahal kalau dipikir-pikir, dengan rumah mewah berlantai dua dan hidangan mahal yang tersaji malam ini saja sudah cukup mencerminkan seperti apa kondisi ekonomi keluarga Rifky yang sebenarnya. Dan tentu saja dengan harta yang bergelimang seperti ini, akan sangat mudah bagi Rifky jika hanya sekedar membeli blackberry atau mobil mewah, bukan?
“Vir,” Gisel, salah satu teman Vira di SSO yang sedari tadi berdiri di samping Vira, menyenggol rusuk gadis itu pelan. “Duduk sana! Bengong aja.” Ucap Gisel sebelum akhirnya ia berlenggang menempati salah satu kursi kosong yang berhadapan langsung dengan sepiring kepiting saus tiram. Dasar Gisel! Pantesan badannya gak kurus-kurus! Pikir Vira.
Vira pun menempati kursi kosong yang terletak paling ujung. Disampingnya ada Satria, salah satu anggota SSO yang selain karena kepintarannya, juga terkenal karena predikatnya sebagai playboy.
“Vir, lo cantik deh malem ini.” Goda Satria, namun Vira hanya melengos. Digoda Satria? Alah, itu mah hal biasa. Sekarang aja si Satria ngomongin Vira cantik. Vira berani taruhan, dua menit lagi, predikat “cantik” itu akan bepindah ke cewek laen!
“Malem, guys…” Vira tiba-tiba saja dikagetkan dengan kemunculan Rifky yang datang tiba-tiba lalu mengambil posisi duduk tepat didepannya. Kontan hal ini membuat Vira berkeringat dingin saking gugupnya. Aduh! Memandang wajah Rifky sedekat ini? Mimpi apa Vira?
Makan malam pun dimulai, semua terlihat menikmati hidangan kelas atas yang disajikan Rifky, kecuali Vira tentunya. Saking gugup, menggerakkan tangan untuk mengambil makanan saja Vira nggak mampu. Duh! Padahal makanan didepannya enak-enak lho.
“Vir…. Vira…” hanyut dalam lamunannya, Vira sampe nggak menyadari jika sedari tadi Rifky memanggil-manggilnya dengan suara halus. Vira baru tersadar, ketika tangan Rifky menggenggam tangannya lembut.
“Vir? Kenapa?Kok nggak dimakan makanannya?Nggak suka ya?”
Dug! Vira dapat merasakan jantungnya hampir copot. Matanya tak berhenti memandang ke arah tangannya yang kini berada di dalam genggaman Rifky. Ini lagi nggak mimpi kan? Rifky megang tangan gue? Ya ampun!
“Vir?” Rifky kembali menggoyang-goyang tangan Vira.
“Eh… iya, Ky? Ya ampun. Gue ngelamun ya tadi? Ya ampun! Kok bisa ngelamun ya? Hehe… Mmmm, makanannya enak kok, nih gue makan,” Vira menyendokkan sesendok salad ke dalam mulutnya dengan terburu-buru dan wajah bersemu merah.
Rifky tertawa kecil mendengar omongan Vira yang mulai ngelantur dan sikapnya yang serba salah itu. Diteguknya jus jeruk yang ada dihadapannya, lalu bangkit, menuju kursi Vira. “Lo lagi nggak nafsu makan ya? Sebenernya gue juga lagi nggak nafsu makan,” bisik Rifky pelan di telinga Vira. “Kalo gitu, kita keluar yuk! Duduk dibalkon rumah gue.”Rifky menggamit lengan Vira, meninggalkan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol di meja makan. Saking asyiknya, mereka tak sadar jika Rifky dan Vira telah pergi meninggalkan mereka.
Di balkon, Vira dan Rifky, berdiri di tepian pagar pembatas sambil memandang langit.
“Vir? Boleh tanya sesuatu?” tanya Rifky membuka percakapan.
“Boleh. Apa?”
“Kok, kalo gue perhatiin elo tiap deket gue jadi salah tingkah ya?”
Jger! Petir serasa menyambar kepala Vira mendengar pertanyaan Rifky barusan. Namun, Vira mencoba tetap bersikap tenang ditengah gempuran hebat yang sedang bergejolak dihatinya, mencoba menyembunyikan kegugupannya. Kalu saja Vira punya sihir, mungkin ia akan langsung membuat bumi terbelah menjadi dua saat ini sehingga ia bisa hilang ditelan tanah dan pergi dari hadapan Rifky. Tak terasa semburat merah keluar dari kedua pipi Vira. Malunya ia saat ini. Jangan-jangan Rifky juga udah mulai curiga kalo sebenarnya Vira tuh…,
“Hehehehe, gue bercanda kok.” Rifky tertawa renyah sambil mengacak-ngacak puncak kepala Vira. “Geer banget ya gue kalo sampe gue nanya kayak gitu ke elo.” Rifky geleng-geleng kepala sendiri.
Jadi semuanya cuma bercanda? Fiuh…, syukurlah! Vira mengerut dada lega.
“Sebenernya gue mau nanya. Lo udah punya pacar apa belom?”
Vira tercengang, nyaris saja ia memuntahkan salad yang baru saja ia makan tadi kalau saja tak ia tahan. Petir yang menyambar kepala Vira terasa tiga kali lipat lebih dahsyat! Rifky…, ngapain nanya pertanyaan kayak gitu ke Vira? Apa jangan jangan…, ah! Nggak! Nggak! Vira nggak boleh geer dulu!
“E…, emangnya ke…, kenapa?” tanya Vira terbata.
“Nggak apa-apa sih. Gue heran aja.satu setengah tahun gue kenal elo, tapi gue nggak pernah liat elo gandeng cowok. Padahal cewek cantik dan pinter kayak elo kan pasti banyak yang mau. Ya kan, Vir? Vir? Vira…?!”
Vira nggak mampu berkata lagi, ia tercengang hebat saat ini! Rifky bilang, Vira cantik dan pinter?! What amazing night!

* * * * *

Vira menatap heran pada sosok Zahra yang duduk di sebelahnya. Zahra hari ini terlihat sangat berbeda. Tak seperti biasa, hari ini Zahra terlihat sangat berkonsentrasi penuh memerhatikan pelajaran. Tak hanya itu, Zahra yang biasanya malas mencatat, dan mengerjakan soal, sekarang berubah 180 derajat! Ada apa nih?
“Ra? Lo nggak lagi ketempelan arwah kuntilanak yang ada dibelakang sekolah kan?” tanya Vira linglung.
Zahra yang sedang asyik mengerjakan soal fisika mengenai impuls, momentum, dan tumbukan pun menoleh pada Vira dengan tatapan heran. “Loh emang kenapa?”
“Gue heran aja.kok lo hari ini jadi…, rajin?”
Zahra kembali beralih pada soal fisikanya sambil tersenyum. “Gue udah bertekad, gue harus bisa dapet nilai bagus semester ini! Gue mau masuk SSO!”
“HHA!? SERIUS LO?!”
“Iya lah gue serius. Salah satu syarat masuk SSO, nilai rata-rata raportnya harus diatas 85 kan?”
Vira geleng-geleng kepala, pasti ada apa-apanya nih! Pikir Vira. “Elo kenapa, Ra? Kok tiba-tiba pengen masuk SSO?”
Zahra geleng-geleng sambil tersenyum penuh makna. “Ada aja!”
“Ih! Kok rahasia-rahasiaan sih, Ra?”
“Nggak ah! Entar lo ember!”
“Ya ampun!” Vira geleng-geleng lagi. “Kapan sih, gue pernah bocorin rahasia lo? Nggak pernah kan? Ayo dong! Cerita ya! Cerita! Zahra Raisa yang cantik.” Vira mengguncang-guncang tubuh Zahra sambil memelas-melas dan tak hentinya menggoda.
“Iya… iya...” jawab Zahra pasrah agar Vira berhenti mengguncang tubuhnya. “Gue mau masuk SSO karena gue udah jatuh cinta sama ketuanya!”
“Ketua?” alis Vira bertaut rapat.
“Iya. Rifky!” Zahra tersenyum penuh makna. “Gue jatuh cinta sama RIFKY!” ulang Zahra sekali lagi membuat Vira nyaris pingsan dibuatnya!

* * * * *

Vira benar-benar tak bisa tidur malam itu, benaknya masih dipenuhi dengan semua cerita-cerita Zahra tentang Rifky tadi Pagi. Satu setengah tahun ia dan Zahra bersahabat, namun Vira baru tahu, jika Zahra telah jatuh cinta pada Rifky sejak setengah tahun yang lalu, ketika Zahra dan Rifky sama-sama mengikuti ekskul Chemistry Community.
Bahkan kini, menurut penuturan Zahra, dirinya dan Rifky sudah semain dekat. Zahra dan Rifky sudah semakin intens berkomunikasi, bahkan Rifky selalu memberi perhatian lebih pada Zahra.
Namun hingga detik ini, Vira belum berani menceritakan bahwa ia juga menyukai Rifky kepada Zahra. Vira hanya takut, Zahra marah padanya. Vira nggak mau itu terjadi.
Vira bangun dari tidurnya lalu mengecek ponsel miliknya yang ia letakkan di meja belajar. Tak ada sms atau pun telpon masuk disana. Lalu Vira membuka inbox ponselnya. Disana tersimpan begitu banyak sms-sms Rifky yang juga menunjukkan perhatian lebih kepadanya. Perhatian yang Rifky tunjukkan semenjak kejadian makan malam dirumahnya beberapa minggu yang lalu.
Kini hati Vira bertanya, apa…, Rifky termasuk pria yang begitu mudah memberikan perhatian lebih pada setiap wanita?

* * * * *

Hari demi hari berlalu. Zahra makin terhanyut oleh perasaannya terhadap Rifky. Perasaan yang juga membuat Zahra berubah semakin drastis. Zahra yang dulu malas-malasan, kini berubah menjadi begitu giat belajar demi mengejar cita-citanya: masuk SSO! Bahkan tak hanya itu, Zahra pun berubah menjadi cewek yang jadi agak jaim. Berbeda dengan Zahra yang dulu agak sedikit selengean. Semuanya Zahra lakukan demi RIFKY!
Kedekatan Zahra dan Rifky pun semakin berlanjut. Bahkan kini Rifky sering memanggilnya dengan panggilan-panggilan sayang. Dan Rifky pun sering mengatakan pada Zahra bahwa ia menyayangi Zahra. Tapi sayangnya, Zahra dan Rifky belum menggenggam status berpacaran, karena Rifky tak pernah secara langsung meminta Zahra untuk menjadi kekasihnya. Jadi bisa dibilang, Zahra dan Rifky itu lagi HTS alias Hubungan Tanpa Status.
Kedekatan antara Zahra dan Rifky pun membuat Zahra dan Rifky tak sungkan lagi untuk menunjukkan kedekatan mereka di sekolah. Rifky sering menghampiri Zahra hanya untuk sekedar mengobrol, begitu pula sebaliknya.
Sedangkan Vira?Semenjak kedekatan Rifky dan Zahra semakin menjadi. Ia perlahan mundur teratur dan menjauh dari Rifky. Bukan hanya karena nggak enak hati sama Zahra, tapi semua ini juga terjadi karena Rifky yang juga mulai menjauhi Vira. Terbukti dengan semakin jarangnya Rifky menunjukkan perhatian lebih kepada Vira. Hanya sesekali Rifky mengirimkan sms singkat kepada Vira. Itu pun hanya sms-sms simpel seperti “selamat tidur, Vir” atau “udh nympe rmh, Vir?” hanya sebatas itu, tak seperti dulu, sebelum kehadiran Zahra datang diantara ia dan Rifky. Bahkan ketika bertemu Vira, Rifky hanya tersenyum, tak lagi mengobrol seperti dulu-dulu. Tak cukup sampai disitu. Penderitaan Vira pun harus bertambah ketika ia dengan sangat terpaksa harus mendengarkan curhatan-curhatan Zahra tentang kedekatannya dan Rifky yang tentu saja membuat sakit hati Vira dan kuping Vira panas.
Seperti siang ini, Vira bela-belain pulang telat kerumahnya, demi menemani Zahra pergi ke Playground kafe. Zahra bilang dia mau curhat (lagi)! Fiuh…,
“Curhat apa nih, Ra? Rifky lagi?” Vira mengaduk dengan malas es cappuccino yang ada dihadapannya.
“Iya.”
“Kenapa lagi tuh anak?”
Zahra menyeruput fruit late miliknya sebelum angkat suara, “Gue curiga. Jangan-jangan Rifky suka sama cewek laen.”
Batin Vira mulai tertarik juga rupanya dengan topik pembicaraan kali ini. Rifky suka sama cewek laen? Wah! Vira mesti tahu nih!
“Oh ya? Siapa?” tanya Vira mulai terpancing.
Zahra menggeleng. “Nggak tahu gue. Tapi yang jelas tiap gue pengen cek ponselnya. Dia selalu nolak. Katanya ada sms rahasia. Kalo emang cuma dari temen ngapain dirahasian coba? Pasti dari cewek laen deh!”
Vira geleng-geleng sambil tertawa kecil. “Halo Nona Zahra Raisa. Bukannya itu hak dia? Ponsel juga ponsel dia kan? Lagian…, elo kan belum pacaran sama dia.”
Kontan wajah Zahra tertunduk lemas mendengar kalimat Vira barusan. Memang benar! Rifky bukan miliknya. Tapi…, ia sudah sangat bergantung pada cowok itu. Rifky sudah terlanjur masuk ke dalam kehidupan Zahra hingga sisi yang paling dalam.
“Tapi…, gue kan udah terlanjur sayang banget sama dia, Vir.”

* * * * *

Zahra terkejut dengan sms yang diterimanya minggu siang ini. Sms itu masuk ke ponselnya tepat ketika ia baru selesai mengerjakan tugas fisika.

From: RifkyJ
Bsa ktmu? Ak tgu km di tman dkt skolah skrg.

Seusai membaca sms itu, Zahra buru-buru membereskan buku-buku fisika yang berserakan di lantai kamarnya lalu berganti baju.
“Mau kemana, Ra?” tanya Mama Zahra ketika melihat Zahra turun dari tangga lantai dua lengkap dengan dandanan yang begitu rapi.
“Mau nemuin temen, Ma. Daah…” Zahra berlari kencang meninggalkan sang Mama, lalu buru-buru menyetop angkot yang kebetulan lewat depan rumahnya.

* * * * *

“Hei, Ky. Mau ngapain sih? Ngajak ketemuan segala?” tanya Zahra begitu menghampiri Rifky, dan langsung mengambil posisi duduk di samping cowok itu. Mereka berdua kini duduk di kursi taman yang menghadap ke arah kolam air mancur.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Ngomong apa? Tumben. Biasanya juga lewat sms atau telepon bisa.”
“Ini hal penting, Ra. Ini tentang…, kita.”
“Kita?”
“Ya, kita,” Rifky menghela nafas panjang. Wajahnya terlihat begitu datar. Rasanya ia begitu tak siap menuturkan cerita ini pada Zahra, gadis yang teramat dicintainya, tapi nggak mungkin juga Rifky terus menyimpan rahasia ini. ia tak ingin membohongi Zahra lebih jauh lagi. “Ra, ada satu hal yang belum kamu tahu tentang aku.”
Alis Zahra bertaut bingung. “Oh ya? Apa?”
Rifky menggigit bibir bawahnya. Berat rasanya harus mengatakan rahasia yang selama ini ia sembunyikan dari Zahra demi menjaga perasaan cewek itu.
“Ra, sebenarnya, sebelum dekat dengan kamu, aku…, dekat dengan…, Vira.”
Plak! Plak! Plak! Bertubi-tubi tamparan keras seolah menampar hati Zahra hingga terasa begitu sakit mendengar penuturan Rifky barusan. Hening. Zahra terenyak di tempatnya. Bibirnya kaku seolah tak sanggup lagi bicara. Vira? Rifky dekat dengan Vira? Tapi kenapa…, Vira nggak pernah cerita? Tak terasa air mata mulai terbit dari sudut mata Zahra.
“Aku…, aku sayang sama Vira, jauh sebelum aku sayang sama kamu. Tapi…, begitu deket sama kamu, aku juga jadi sayang sama kamu, Ra. Aku sayang sama kalian berdua,” bibir Rifky mulai bergetar, sepertinya cowok itu sedang menahan tangis. “Ra, aku nggak mau nyakitin kalian berdua kalo aku terus seperti ini. Jujur aku nggak bisa memilih diantara kalian. Aku…, pengen pergi dari kehidupan kalian. Aku…, aku nggak mau nyakitin kalian.”
Brak! Zahra menggebrak bangku taman dengan penuh amarah. Tangis yang sudah sekuat tenaga ditahannya sedari tadi, akhirnya pecah juga. “BODOH!” teriak Zahra tepat di depan wajah Rifky.
“Kamu bodoh, Ky. Kamu bodoh! Kenapa kamu ngambil keputusan secepat ini?”
“Itu karena…,”
“Ky, kalo boleh jujur. Aku juga udah ngerasa dari dulu kalo Vira suka sama kamu. Tapi karena dia nggak pernah cerita apa-apa, jadi aku anggap acuh aja semuanya! Tapi ternyata, feeling aku bener. Dia memang suka sama kamu. Dan gitu juga sebaliknya!” tangis Zahra semakin kencang. Ia tak sanggup lagi menahan emosinya. Semuanya! Semuanya! Sudah terlanjur membuatnya sakit dan kecewa!
“Ky…,” tiba-tiba Zahra menggenggam tangan Rifky lembut. Matanya yang basah, menatap mata Rifky yang tampaknya sudah mulai berkaca-kaca. “Maafin aku yang udah jadi benalu diantara hubungan kamu dan Vira, Ky. Maafin aku. Kalo aja dulu aku nggak dateng dalam hidup kamu dan nggak deket-deket kamu, mungkin sekarang kamu dan Vira sudah bahagia berdua. Ky, aku mohon, jangan buat keputusan bodoh dengan menjauhi Vira. Kamu pantes Ky dapetin Vira. Dari dulu aku emang udah ngerasa kamu cocok sama dia. Tapi karena keegoisan aku. Aku berusaha menelusup ke dalam hidup kamu.”
“Ra…,” Rifky hendak memotong pembocaraan Zahra, namun Zahra kembali melanjutkan omongannya.
“Ky, jangan tinggalin Vira ya. Aku yakin dia sayang banget sama kamu. Aku rela Ky kamu sama Vira.”
“Tapi, Ra…, itu akan nyakitin kamu. Aku nggak mau ada yang sakit lagi.”
“Ky, aku akan baik-baik aja. Aku mohon. Kembalilah ke Vira. Dia lah cinta kamu yang sebenernya. Tempat kamu bisa nemuin kebahagiaan kamu. Bukan aku.”
“Ra, tapi…,”
“NGGAK ADA TAPI-TAPIAN! POKOKNYA AKU MAU KAMU BALIK LAGI KE VIRA, TITIK!” Zahra melepas genggaman tangannya dari Rifky, lalu berlari pergi sambil menangis, meninggalkan Rifky sendirian terpaku dalam kepahitan yang teramat mendalam.

* * * * *

Vira terkejut, ketika mendapati Zahra sudah berdiri di depan pintu rumahnya dengan keadaan tubuh yang basah kuyup. Memang, baru beberapa menit yang lalu, Jakarta di guyur hujan deras. Ngapain Zahra ujan-ujanan?
“Ra? Lo kok…,”
“Vir,” Vira kaget, melihat Zahra tiba-tiba berlutut dihadapannya sambil mulai meneteskan air mata. “Gue mohon, lo kembali ya ke Rifky.”
Vira terkejut. Matanya membola lebar. “Ra, lo ngomong apa sih?”
“Vir, cukup! Jangan bohongin gue lagi! Gue udah tahu semuanya tentang elo sama Rifky!” mata nyalang Zahra menatap Vira dengan memelas. “Vir, gue rela kalo emang elo sama Rifky bahagia. Gue rela. Gue mohon ya Vir, jaga Rifky baik-baik. Gue tahu lo sayang sama dia. Dan gue lebih tahu lagi kalo bahagianya Rifky itu sama elo.”
Vira tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia pun ikut berlutut lemas. “Ra…,” diusapnya air mata Zahra dengan pelan. “Gue…,”
“Vir, maafin gue. Maafin gue udah jadi benalu bagi elo dan Rifky. Maafin gue, Vir.” Tiba-tiba Zahra memeluk Vira dengan erat.
“Ra, elo nggak salah, elo…,”
“Vir, pokoknya lo harus bikin Rifky bahagia!” Zahra melepas pelukannya dan sibuk merogoh saku tas kecil yang sedari tadi ia bawa.
“Ini…,” Zahra mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan disodorkannya pada Vira. “Gue nggak akan pernah lupa kalo hari ini hari ulang tahun lo, Vir. Maaf gue cuma bisa ngasih ini.” Zahra tersenyum pahit.
“Ra, makasih…,”
Zahra mengangguk lalu bergegas bangkit berdiri dan berlari kencang meninggalkan rumah Vira tanpa permisi lagi.
Vira menatap kepergian sahabatnya itu dengan senyum bahagia. Tanpa Vira sadari itu lah saat terakhir dirinya bisa melihat Zahra…

* * * * *

Zahra berlari tanpa ampun. Menerobos hujan yang begitu lebat.Menerobos kerumunan orang yang sedang sibuk mencari tempat berteduh. Dan menerobos angin yang seolah menghalanginya untuk pergi.
Zahra tak sanggup lagi menahan semuanya. Rasanya ia ingin saja menyudahi semua ini! semua terasa begitu menyesakkan! Sudah cukup pura-pura tegarnya, Zahra! Teriak batin Zahra pada dirinya sendiri. Ia tak mau lagi membohongi dirinya dengan pura-pura tersenyum ketika melihat Vira bahagia bersama Rifky. Sungguh, jauh di dalam lubuk hati Zahra, ia tak pernah ingin melihat hal itu!
Zahra berhenti pada sebuah pintu palang perlintasan kereta api. Di depannya terhampar berpuluh kendaraan yang sedang mengantri hingga portal kembali dibuka karena kini sebuah kereta api sedang hendak melaju melewati jalan ini.
Zahra memandang nanar pada kepala kereta api yang sudah muncul dari ujung sebelah kanan rel. Tanpa pikir panjang, Zahra melompat meloncati portal menuju tengah rel. Direntangkannya tangan lebar-lebar sambil memejamkan mata. Ditahannya nafas. Bersiap melepas segalanya. Tanpa peduli teriakan-teriakan begitu banyak orang yang berada di sekitar palang perlintasan yang menyuruhnya minggir. Zahra tak peduli! Ia hanya ingin…, mati!

* * * * *

Jakarta, tahun 2033, pukul 17:45, sore hari…
“Jadi, teman Mama yang namanya Zahra itu meninggal karena bunuh diri?” tanya Kanza masih penasaran.
Vira mengangguk lemah. Menceritakan hal itu kepada Kanza telah cukup menguras emosinya. Semenjak awal hingga akhir cerita Vira tak henti-hentinya menitikkan air mata. Semuanya seolah menguak luka lama yang selalu ingin dikuburnya.
“Kanza…,” panggil Vira sambil mengelus rambut sang anak.
“Ya, Ma?”
“Mama mohon, kamu jangan mengulangi kesalahan Mama. Kamu harus pintar memilih mana yang terbaik untuk hidup kamu.”
Kanza mengangguk. “Iya, Ma.”
“Kanza…,” panggil Vira sekali lagi, namun kali ini Vira memanggil sambil tersenyum.
“Iya, Ma. Kenapa?”
“Kamu mau tahu siapa sebenarnya lelaki antara Mama dan Zahra itu?”
Kanza mengangguk antusias. “Mau, ma. Mau banget. Siapa dia?Apa Kanza kenal dia?”
“Tentu kamu kenal dia. Bahkan sejak lahir, kamu sudah mengenalnya.”
Kanza terkejut. Pikirannya sudah dapat menarik kesimpulan sendiri saat ini. “Jangan-jangan, cowok itu…,”
“Hayooo, lagi pada cerita apa sih?”
Vira dan Kanza menoleh ke arah suara yang datangnya tiba-tiba itu. “Papa!” teriak Kanza senang sambil menghambur memeluk sang papa yang berdiri di ambang pintu kamar dengan masih lengkap mengenakan seragam kantornya. “Kamu lagi cerita apa sama Mama?”
Kanza tertawa kecil. “Tanya aja deh sama Mama.” Kanza melepas pelukannya lalu pergi keluar dari kamar, meninggalkan kedua orang tuanya sendiri.
“Kamu cerita apa sama Kanza?” tanya suami Vira itu dengan nada penuh selidik.
“Sepenggal dari kenangan masa lalu kita. Tentang…, Zahra.”
“Zahra?”
“Iya. Lagi pula nggak salah kan kalo Kanza tahu bahwa yang membuat kedua orang tuanya ini bersatu adalah sesosok manusia berhati malaikat yang bernama Zahra. Bukankah begitu, Tuan Rifkyan Hadinata?”
Suami Vira itu hanya tertawa kecil lalu mengecup pelan kening istrinya.
“Atau aku harus panggil kamu, Tuan Rifky sang ketua osis yang terhormat?” kali ini Zahra yang tertawa kecil.
“Yaaah, bagaimanapun, Zahra akan selalu menjadi kenangan dalam hidup kita.Tanpa dia kita tak akan seperti ini.”
Vira mengangguk sambil tersenyum, menatap Rifky, suami tercintanya. Tak lama, ia mengalihkan pandangannya pada liontin kalung miliknya yang bertengger manis di leher. Kalung pemberian terakhir Zahra pada hari ulang tahun Vira, sebelum kepergian gadis malaikat itu ke surga untuk selamanya…

THE END