Selasa, 11 Februari 2014

love tell me about... (2) (cerpen)



Love tell me about…, (Part 2)

Inilah kehidupan baruku. Tanpa Kak Asta, dan… tanpa Kak Dandi tentunya.
Setahun sudah kulalui semua kehidupanku yang terasa begitu miris ini. Hmm, kenapa aku mesti kehilangan semua orang yang kusayang. Apa lagi semenjak Raya pindah sekolah ke salah satu kota tetangga. Aku tambah kesepian dan sendirian, huhuhuhuhu….
Walaupun kuakui, terkadang Kak Asta masih selalu setia menjadi sahabat sekaligus kakakku yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Tapi kan tetap saja aku kesepian. Prioritas utama Kak Asta, ya tentu saja Kak Mayang. Aku sih, sampingan saja….
Aku mendesah lemah, mataku terpekur menatap pemandangan yang ada diluar kamarku. Membayangkan bertubi-tubi kenyataan pahit yang harus kuterima, rasanya aku ingin mati saja menyusul Kak Dandi.
“Ra…” panggil seseorang dari luar kamar. Aku tahu persis itu suara siapa. Itu pasti suara Mama.
“Ya, Ma…,” sahutku lalu beranjak mendekati pintu demi membukakan pintu kamarku itu untuk Mama.
“Ra, turun gih kebawah! Ada yang mau Mama dan Papa kenalin sama kamu.”
“Hha!? Siapa?”
Mama mengedipkan sebelah matanya padaku. “Udah. turun kebawah aja dulu.”

* * * * *

“Ra, ini Reno. Pembantu baru kita.”
Mataku terbelalak hebat menatap sosok lelaki didepanku. Lelaki ini…, dia seumuran denganku. Tapi…, kenapa dia malah bekerja sebagai pembantu? Apa dia nggak sekolah?
“Pem…, pembantu?” tanyaku tak percaya.
“Iya, Non. Perkenalkan, saya Reno.” Timpal Reno pada pertanyaanku.
Aku menatap Reno dari ujung kaki hingga ujung kepala. mmm, cakep juga, dari wajahnya mencerminkan orang berintelek. Terus…,  namanya itu loh, “RENO”! kayak bukan nama-nama pembantu pada umumnya, namanya keren sih. Tapi…, kok…
“Pa,” ucap Mama. “Sana, antarkan Reno ke kamarnya.” Pinta Mama halus.
Papa mengangguk lalu mengajak Reno menuju kamarnya yang ada didekat dapur.
Ketika Reno dan Papa sudah pergi, Mama mengajakku duduk disofa ruang tamu. Sepertinya ia ingin membicarakan sesuatu.
“Ra, Mama tahu kamu pasti heran ngeliat Reno.”
“Iya, Ma. Cowok cakep, tampang intelek, terus nama keren gitu kok malah jadi pembantu. Dia nggak sekolah, Ma?”
Mama menggeleng lalu mendekatkan bibirnya ketelingaku, hendak berbisik. “Dia anak koruptor.”
Aku hampir saja berteriak kaget kalau saja Mama tak keburu menyumbal mulutku dengan dekapan tangannya. “Ssshh… pelan-pelan.”
Aku melepaskan tangan Mama dan bibirku. “Serius, Ma!?” tanyaku berbisik.
“Iya. papanya Reno bangkrut karena tertangkap korupsi, semua asetnya disita. Ibunya Reno tertabrak mobil seminggu yang lalu saat ingin mencari kerja. Sekarang Reno sebatang kara, Ra.”
“Kok, Papa sama Mama bisa ketemu Reno?”
“Papanya Reno itu temennya Papa. Papa kasian sama Reno, makanya ngangkat Reno jadi pembantu disini dengan imbalan semua biaya hidup Reno akan ditanggung oleh keluarga kita. Dan Mama ada kabar bagus buat kamu…,” Mama tiba-tiba tersenyum jahil.
“Apa, Ma?”
“Reno bakal satu sekolah sama kamu.”
“Apa!?”

* * * * *

Minggu pagi yang cerah… ketika baru saja bangun dari tidur, pikiranku langsung dikacaukan dengan wajah Kak Asta yang sibuk mondar-mandir diotakku. Ada apa sih ini!?
Buru-buru aku berlari melesat keluar dari kamarku, tujuanku adalah kamar Mama dan Papa. Ketika tiba disana, aku langsung mengetuk pintu kamar Mama dan Papa dari luar. “Ma, ini Ara!”
“Oh, kamu, Ra. Masuk aja! nggak dikunci.”
Aku menekan kenop pintu, lalu tersibaklah pintu kamar Mama. Saat sudah berada didalam aku langsung beringsut mendekat ke ranjang Mama. “Ma, aku hari ini mau pergi boleh nggak?”
“Pergi?” alis Mama naik sebelah. “Kemana?”
“Biasa… ke panti rehab.”
“Oooh, jenguk Asta?” tanya Mama tepat. Sepertinya ia sudah ingat apa kebiasaan putri tunggalnya selama satu tahun belakangan ini.
Aku mengangguk. “Iya, Ma. Nggak tahu nih, tiba-tiba jadi inget Kak Asta. boleh kan?”
“Boleh. Tapi kamu ajak Reno ya. Kasian dia, udah 3 hari disini tapi  nggak pernah keluar rumah.”

* * * * *

“Reno!!!!!” teriakku dari balkon lantai dua, mataku menjelajah setiap sudut lantai satu rumahku. “Reno!!!!” pekikku sekali lagi. Lama-lama aku kesal juga sama ‘pembantu baruku’ ini, masih muda sudah budeg.
“Eh…. Iya, Non.” Tak lama Reno datang dari arah dapur dengan sebuah kemoceng yang masih tergenggam ditangannya.
“Gue mau pergi. Lo temenin gue ya.”
“Te… temenin, Non Ara?”
“Iya.”
“Emang Non Ara mau kemana?”
“Udah ikut aja!” aku berbalik, berjalan menuju kamarku lalu bergegas mengganti baju yang biasa kupakai berpergian.

* * * * *

“Turun!” perintahku pada Reno.
Sekejap, Reno mengedarkan pandangannya, menelisik detail demi detail bangunan yang ada dihadapanku dan dirinya ini.
“Ini tempat apa, Non?”
“Panti rehab.”
“Panti rehab?”
Aku mendengus kesal. “Nggak usah sok bego deh. Gue tau lo orang intelek, nggak mungkin lo nggak ngerti ‘panti rehab’ itu tempat apa!”
“Bukan gitu, Non, maksud saya.”
“Terus?”
Reno menggaruk-garuk kepalanya. “Mmmm, siapa yang mau kita jenguk disini, Non?”
“Liat aja entar.” Aku membuka pintu mobil, lalu keluar dari dalamnya, Reno mengikuti.
Sebelum berjalan mendekat ke pos penjaga, aku sempat berbisik pada Reno. “Gue nggak mau denger lagi, elo manggil gue ‘Non’, paham!?”
Reno hanya mengangguk kecil dengan wajah linglung.

* * * * *

Aku dan Reno duduk dibangku yang ada dibalkon lantai tiga. Sebenarnya sih, ini bukan tempat yang legal buat menjenguk orang yang direhab. Tapi berhubung aku udah akrab banget sama petugas-petugas yang ada dipanti ini, jadi aku diizinkan untuk menemui Kak Asta disini.
“Itu orangnya?” tanya Reno padaku ketika matanya menangkap sosok seorang remaja yang berjalan mendekat kearahku dan Reno.
“Iya…” jawabku. Duh Kak Asta… makin cakep aja! hihihihihi…. Lihat Kak Asta, kok aku jadi inget sama Kak Dandi ya!? Jadi kangen…
“Hai, Ra…” sapa Kak Asta lalu matanya tertuju pada sosok Reno yang ada disebelahku. Sorot mata Kak Asta itu… begitu curiga. Dalam hitungan detik, Kak Asta sudah menarik tanganku dan membawaku kepojok balkon, jauh dari tempat dudukku dan Reno tadi.
“Itu siapa, Ra?” tanyanya curiga.
Aku terkekeh. “Itu pembantu baruku, Kak. Jangan curiga dulu.”
Kak Asta mengerut dada lega. “Hhh… syukurlah! Kak Asta kira kamu ngehianatin…,”
“Cinta Kak Dandi?”
“Ngg… bu.. buk..,”
“Tenang aja, Kak. Untuk sekarang perasaanku MASIH, HANYA, dan CUMA untuk alamarhum Kak Dandi kok,” potongku pada kalimat Kak Asta lalu aku menyenderkan tubuhku pada dinding yang ada dibelakangku. Aku menarik nafas panjang. “Aku jadi nyesel. Kenapa ya aku baru mencintai Kak Dandi ketika dia sudah nggak ada.”
“Ck.. sudahlah, Ra!” potong Kak Asta. “Ayo kita duduk disana lagi.”

* * * * *

Dua jam berlalu dengan obrolan yang sangat seru antara diriku dan Kak Asta. Sesekali Reno juga ikut nimbrung, itu juga untuk bahan pembicaraan yang nggak ada penting-pentingnya. Itu pun harus aku atau Kak Asta yang menanyainya dulu, baru Reno mau jawab. Dan kata-kata yang dikeluarkan Reno dari mulutnya selama dua jam terakhir ini hanya… “Ya!” atau… “Nggak!”… kalau dia ragu paling dia cuma jawab... “Mungkin!” atau kalimat-kalimat hemat lainnya yang hanya membutuhkan seperempat nafas untuk mengucapkannya.
Aku juga bingung ada apa sama Reno. Mukanya tuh terlihat datar dan dingin gitu dari tadi. Padahal aku kan mengajaknya kesini bukan cuma buat jadi stupa Borobudur. Tapi buat senang-senang juga.
“Kak, aku pulang dulu, ya! Udah siang…” pamitku.
“Iya. hati-hati ya, Ra…” Kak Asta mengalihkan pandangannya pada Reno yang berdiri dibelakangku. “Ren, hati-hati juga ya…” sapanya. Namun Reno hanya bergeming dengan wajah yang ditekuk.
Aku menyiku Reno buru-buru. “Heh! Punya adab nggak sih? Jawab sana!” bisikku.
“Ya!” jawab Reno malas-malasan pada Kak Asta.
“Ya udah kalau gitu… dah Kak Asta!” aku menggamit lengan Reno dan membawanya menjauh. Jadi nggak enak hati aku sama Kak Asta. Kesannya, pembantuku ini benci gitu sama dia.
“Lo kenapa sih sama Kak Asta?” tanyaku saat aku dan Reno sudah ada didalam mobil.
“Nggak apa-apa!”
“Nggak apa-apa gimana? Lo tuh jutek banget tau nggak sama Kak Asta.”
“Siapa yang bilang saya jutek, Non!”
aku memelototi Reno dengan tajam. “Berapa kali sih gue mesti bilang. Jangan panggil gue ‘Non’. Panggil aja nama gue!”
Reno diam, ekspresinya berubah kembali menjadi datar.
“Awas ya! Kalau lo kayak gitu lagi sama temen-temen gue.”
“Oh, jadi tadi itu temen kamu, Ra? Aku kira pacar kamu… abisnya kamu sama dia mesra banget.” Ujar Reno dengan nada menyindir.
Aku diam… menanggapi omongan Reno, mana akan ada ujung penyelesaiannya, pikirku. Aku termenung menatap hujan rintik yang membasahi kaca mobilku. Dan tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Pak!” panggilku sambil menyentuh pundak Pak Sugi, supirku yang sedang asyik dengan kemudinya. “Belok kearah Jalan Kebun Asam, ya.”

* * * * *

Mobilku berhenti disebuah pemakaman umum yang ada disebelah tenggara kotaku. Semerbak bau kamboja basah yang tertimpa hujan rintik langsung tercium oleh hidungku yang peka.
Aku membuka pintu mobilku perlahan setelah sebelumnya sempat mengatakan pada Pak Sugi untuk menungguku sebentar.
Oh ya… ada yang ketinggalan, ingatku kemudian!
Aku kembali memutarkan tubuhku menghadap mobil lalu kembali membuka pintu mobil bagian belakang, tempat Reno kini duduk.
“Ren? Mau ikut?” tawarku
“Nggak!” jawab Reno ketus. Entah mengapa aku dapat menangkap ekspresi aneh diwajahnya. Seperti…. Sedih dan takut!
“Yakin?” tanyaku lagi.
“Iya.”
“Ayolah, Ren! Turun yuk! Temenin gue. Gue ngerasa nggak aman aja, lagi hujan gini sendirian ziarah ke makam.”
“Nggak mau!”
Rahangku mengeras menahan amarah. Keras kepala juga rupanya pembantu baru ini. Berani-beraninya dia menentang perintah Nona Mudanya. “Pokoknya ikut!” perintahku. Kali ini agak sedikit memaksa.
“Nggak mau!”
“IKUT!”
“NGGAK!”
“IKUT!
“GUE BILANG NGGAK MAU YA NGGAK MAU!” pekik Reno akhirnya, membuatku sedikit tersentak kaget. Aku juga agak sedikit heran. Baru kali ini aku mendengar Reno menggunakan kata “gue”. Apa dia memang khusus menggunakan kata itu kalau dia lagi marah besar!?
Aku membanting pintu mobil tanpa berkata apa-apa. Lalu kembali berlari menerobos hujan, menuju makam Kak Dandi…

* * * * *

AKU SAKIT!
Aahh! Menyebalkan rasanya… jarang sekali aku sakit hanya karena terkena hujan. Tapi kali ini… kenapa tubuhku seakan tak kuasa menahan hujan yang membasahi tubuhku selama hampir sejam tadi!?
Aku hanya bisa tiduran ditempat tidur sambil membaca majalah remaja langgananku yang baru saja terbit edisi terbarunya.
Ketika tanganku baru saja membuka halaman yang berisi rubrik tentang ekskul sekolah, telingaku mendengar kenop pintuku berbunyi.
Aku menurunkan majalah yang menghalangi pemandanganku kearah pintu, demi melihat siapa yang baru saja masuk kewilayah pribadiku ini.
“Reno?” desisku pelan.
“Hai, Ra…” sapa Reno canggung. “Masih sakit?” tanyanya nggak penting. Jelaslah aku masih sakit! Lihat saja, aku masih terbaring ditempat tidur dengan mengenakan swater dan selimut tebal untuk menghangatkan tubuhku. Disamping tempat tidurku juga masih ada obat-obatan yang diletakkan didekat meja lampu. Apa Reno buta sehingga dia tak bisa melihat semuanya!?
Aku menatap Reno sekilas dengan tatapan malas. Lalu, tanpa menjawab pertanyaan Reno, aku kembali berkutat dengan majalahku.
Sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki Reno mendekat. Sekali lagi aku kembali menurunkan majalahku dari depan mata. Dan ternyata, Reno sudah duduk diujung tempat tidurku.
“Maafkan saya ya, Ra. Karena tadi sore saya membentak kamu.”
Aku kembali melengos. Rasanya rubrik ekskul SMA Tirtayasa di majalah ini, lebih baik untuk disimak dari pada pembicaraan Reno.
“Ra…, kenapa kamu masih marah? Saya kan sudah minta maaf.”
“Gue lihat tadi cucian piring di dapur numpuk.” Ucapku mengalihkan pembicaraan dengan mata yang masih menelisik isi majalah, bukannya menatap Reno.
“Ra…,”
“Halaman depan juga banyak sampah!”
“Tapi, Ra…,”
“Ditaman juga banyak rumput yang udah panjang… tadi juga gue liat guci Mama yang diruang tamu udah berdebu.”
“Ra!” pekik Reno tiba-tiba. Membuatku kaget… kenapa… Reno jadi marah lagi padaku!? “Saya kesini mau minta maaf. Bukan mau mendengarkan perintah-perintah kamu. Tanpa kamu suruh pun saya pasti mengerjakannya karena itu tugas saya!” ucap Reno penuh emosi lantas berbalik, hendak pergi meninggalkan kamarku.
Hatiku jadi sedikit goyah saat itu pula. Perkataan Reno itu, seperti menyambar telingaku sekaligus mengoyak batinku.
Ketika Reno sudah diambang pintu aku pun berteriak kepadanya… “Besok disekolah gue nyontek tugas matematika lo ya. Kelas lo dikasih tugas sama Pak Arwan juga kan?” kataku seceria mungkin.
Reno berbalik menatapku dengan mata berbinar. “Ra…, kamu…!?” Reno tak melanjutkan kalimatnya.
Aku hanya terkikik menatap wajah polos Reno yang seakan baru saja mendapat pengampunan dari sang paduka ratu.

* * * * *

“Reno…!” aku merentangkan tanganku kesamping, mencoba menghalangi tubuh Reno yang baru saja hendak masuk kedalam mobil.
“Kenapa, Ara-chan?”
“Apa lo bilang?”
“Ara-chan.”
Alisku bertaut. “Sejak kapan nama gue berubah?”
Reno tergelak. “Ya ampun, Ara….” Reno mengelus rambutku jahil. “Itu panggilan orang-orang Jepang. Biasanya yang akhirannya ‘chan’ itu panggilan khusus untuk orang-orang kesayangan si pemanggil.”
Aku menelan ludahku yang terasa…, manis. “Panggilan kesayangan? Jadi…”
“Sudahlah…, lupakan!” Reno kembali tertawa kecil. “Kamu ada perlu apa Ara-chan?” tanyanya ulang ketika aku dan dirinya sudah duduk rapi dikursi belakang mobil, bersiap menuju sekolah.
“Ngg… gue cuma… mau pinjem tugas matematika kok. Semalem kan…”
“Iya… iya… saya kan udah janji sama kamu sebagai tanda kalau kamu mau maafin saya kan?”
“Ngg.. i… iya…” jawabku grogi. Duh… kok jadi begini sih!?

* * * * *

Sepulang sekolah, aku duduk di balkon kamarku, menatap lalu lintas didepan rumahku yang sedang sepi-sepi saja. Segelas milk shake segar menemaniku. Damai rasanya…. Apalagi sekarang aku ditemani foto Kak Dandi dan Kak Asta sedang berangkulan pundak yang kusimpan rapi disebuah pigura. Menatap senyum Kak Asta difoto ini, aku merasakan tak ada yang istimewa. Tetapi… begitu ku tatap senyum Kak Dandi, dadaku bergetar hebat. Aku rindu padanya… apa “disana” Kak Dandi juga merindukanku?
“Disini rupanya kamu, Ra…”
Prang! Terkejut karena kedatangan seseorang, aku tak sengaja menjatuhkan pigura foto Kak Dandi dan Kak Asta ke lantai hingga pecah berkeping-keping.
Aku menoleh kebelakang, dan mendapati Reno berdiri disana masih lengkap dengan clemek yang banyak terdapat noda kecap disana-sini.
“Ren…!!! Lo ngagetin gue…”sungutku lalu bergegas berjongkok, demi memunguti serpihan kaca yang berserakan dilantai.
Tiba-tiba Reno ikut berjongkok juga. “Emang kamu ngeliatin foto apa sih, Ra?” tangan Reno mencoba menggapai foto Kak Asta dan Kak Dandi yang terlepas dari pigura. Foto itu dalam posisi terbalik, sehingga Reno tak dapat mengetahui foto apa yang sedang kulihat itu.
Dengan sigap aku merebut foto itu, namun terlambat…. Tangan Reno juga telah terlebih dahulu ikut memegangnya. Jadilah tanganku dan tangan Reno sama-sama berada diatas foto itu sekarang.
“Ren, lepasin!” pintaku sambil menarik foto itu.
“Saya cuma mau lihat, Ra.” Reno menarik balik foto itu.
“Jangan!” sergahku lalu kembali menarik foto itu.
“Ra…,” pinta Reno. Kini tanganku dan tangannya saling tarik-menarik foto itu. Dan… kraak! Fotonya robek jadi dua bagian sama besar.
“Reno!!! Fotonya robek.” Ringkikku kencang.
Namun dasar Reno keras kepala, dia tetap kekeuh pada pendiriannya. Perlahan ia membalik separuh bagian foto yang ada ditangannya.
“Kamu ngeliatin foto…., Asta?” tanyanya kemudian. Kepalaku melongoh ke foto yang ada ditangan Reno. Ternyata dia mendapat bagian foto yang menyorot Kak Asta. berarti yang ditanganku… foto yang menyorot Kak Dandi. Hhh… syukurlah. Aku nggak mau pembantu sok tahu ini sampai memborbardirku dengan pertanyaan siapa sosok yang ada difoto yang ada ditanganku.
Cukuplah saja dia ikut campur dengan hubunganku dan Kak Asta. Tapi tidak dengan hubunganku dan Kak Dandi…
Aku kembali merebut separuh foto itu dari tangan Reno. “Nggak usah ikut campur.”
“Kamu suka sama dia? Katanya… Cuma teman.”
“Ren, gue mohon ya sama lo. Jangan ikut campur.”
Tiba-tiba Reno berdiri. Aku mendongak demi menatap wajah Reno yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius itu. “Saya berhak dong, Ra, ikut campur! Karena saya nggak suka kamu dekat apalagi mikirin Asta!” Reno berbalik kemudian meninggalkanku yang terdiam menatap punggungnya.  Namun tak lama Reno kembali berbalik menatapku. “Makanan sudah siap! Cepatlah turun ke meja makan.” Ucapnya dingin lalu kembali pergi.

* * * * *

Reno melempar senyum kecil padaku ketika makan siang bersama baru saja mau dimulai.
Aku hanya melengos. Huh! Setelah tadi membentakku, sekarang dengan seenaknya dia malah senyam senyum. Dia pikir aku apa!? Menyebalkan!
Lagi pula… dia tadi bilang apa!? Dia nggak suka aku dekat dengan Asta? apa maksudnya!? Dasar pembantu aneh.
Kriiing! Kriiing! Telepon rumahku menjerit-jerit minta diangkat. Tak lama, Bi Nyunyai datang tergopoh-gopoh dan segera menjawab panggilan telepon.
Beberapa detik Bi Nyunyai hanya diam mendengarkan penjelasan orang yang berada diujung telepon sebelah sana. Namun kemudian, ia mengarahkan pandangannya ke meja makan, tepatnya kerarahku.
“Non Ara. Ini telepon buat Non.” Katanya lalu bergegas pergi.
Aku beranjak dari kursi makan lalu segera menjawab telepon itu. “Halo?”
“Nak Ara? Ini saya Pak Abie, petugas panti rehab.”
Aku sejenak diam untuk mengingat sosok Pak Abie. Hmmm, ya! Aku ingat! Ini kan petugas paruh baya yang suka mendampingi Kak Asta dahulu ketika hendak bertemu denganku. Ya, aku memang cukup akrab dengan Pak Abie semenjak aku sering mengunjungi panti demi menjenguk Kak Asta setahun belakangan ini. Bahkan bukan hanya dengan Pak Abie, aku malah akrab sekali dengan hampir semua petugas panti rehab. Malah seingatku, aku dulu pernah memberikan nomor telepon rumahku pada panti rehab. Mungkin dari sana Pak Abie bisa menelepon kerumahku seperti sekarang.
“Ada apa, Pak?”
“Saya cuma mau memberitahu jika… ngg… Nak Asta kabur dari panti.”

* * * * *

Ketika aku tiba di panti, keadaan kamar Kak Asta sudah penuh dengan kerumunan orang.
Pak Abie mendekat padaku lalu berbicara sesuatu… “Sepertinya Nak Asta kabur semalam dengan menjebol ventilasi kamar lalu melewati pagar belakang yang sedang diperbaiki.” Ucapnya memulai pembicaraan.
“Kalau Kak Asta kabur semalam. Kenapa kalian baru tahu siang ini?”
“Kami awalnya tak curiga sedikitpun karena tak melihat Nak Asta berkeliaran di panti pagi hari. Namun kecurigaan kami bermula karena pintu kamar Nak Asta tak kunjung terbuka hingga siang ini. akhirnya setelah didobrak, kami menemukan kamar ini telah kosong. Namun ada yang aneh, Nak Asta tak membawa apapun. Semua barang dikamar ini masih lengkap seperti sedia kala.”
Aku geleng-geleng kepala. “Ada apa dengan Kak Asta? kenapa dia jadi senekat ini?”

* * * * *

Aku kaget bukan main. Ketika baru saja tiba dirumah sepulangnya dari panti, aku mendapati ada sepucuk surat beramplop biru diatas meja belajarku.
Secepat kilat, aku turun ke lantai bawah dan aku menemui Bi Nyunyai yang tengah mencuci pakaian. “Bi! Ini surat dari siapa?” tanyaku sambil menunjukkan surat itu pada Bi Nyunyai.
“Nggak tahu, Non. Tapi tadi Bibi ketemu surat itu didalam kotak surat yang ada didepan rumah. Dan bacaannya buat Non Ara.”
Aku tertegun menatap surat itu. Dan aku menyadari suatu hal. Surat ini nggak ada perangkonya! Berarti orang yang mengirimkan surat ini langsung memasukkan suratnya ke kotak surat rumahku tanpa melalui perantara pos.
Apa berarti yang mengiriminya itu orang dekatku?!...
Bergegas aku kembali menuju kamarku dan membuka surat itu setibanya disana…

Apa kabar bidadari cantikku!?
Aku rindu sudah lama tak bertemu denganmu.
Jika kau juga merasakan hal yang sama denganku, temui aku di atap gedung Vernon tepat pukul sepuluh malam hari ini.
Ingat! Jangan bawa siapa-siapa. Cukup aku dan kau saja. Karena kita akan berbagi kerinduan hanya berdua, sayang. Dan aku akan menjemputmu untuk ikut bersamaku disana.
LOVE, Pardandi Nasuha.

Surat itu terhempas begitu saja jatuh keatas lantai kamarku. Apa!? Kak Dandi yang mengirimiku surat!?
Nggak… nggak mungkin! Lelucon macam apa ini!

* * * * *

Jam sepuluh malam. Gedung Vernon, Jl. Western, no. 234….
Aku sudah tiba diatap gedung Vernon sekarang. Aku bisa menyusup kesini dengan membius seluruh petugas keamanan. Setelah itu, aku pergi keruang kontrol yang ada dilantai satu untuk menyalakan seluruh system listrik gedung ini.
Bisa mati aku kalau listrik gedung ini tak aktif. Nggak mungkin dong aku menuju keatap gedung berlantai 88 ini dengan menggunakan tangga. Bisa mati patah tulang aku. Itu lah salah satu alasanku menyalakan listrik, selain untuk menerangi seluruh ruangan gedung, ini juga berguna agar aku bisa menuju atap gedung dengan menaiki lift.
Aku berdiri dipagar pembatas atap. Pandanganku berkeliling. Namun tak ada tanda-tanda bahwa ada manusia selain aku disini.
Sial! Apa aku sudah dibohongi? Padahal aku sudah bela-belain kabur dari rumah.
Aku memutar tubuhku menghadap kearah gedung yang ada disebelah gedung Vernon, melempar sorot mata lemah pada benda mati itu. Namun tiba-tiba…
Braak! Pintu atap terdengar dibuka dengan bantingan. Kontan aku berbalik, menatap kearah pintu atap, dan disana sudah ada…,
“Reno?”
Reno menatapku sinis dengan senyuman mautnya. “Apa kabar bidadari cantik?”
“Reno… jadi kamu…,”
“Ya!” potongnya. “Hahahahahaha… ternyata kamu dan orang tuamu itu sama-sama bodoh, Ra. Mau-maunya mereka mengangkatku sebagai pembantu dirumahmu. Tanpa mereka sadari itu justru memuluskan jalanku untuk balas dendam terhadapmu.”
Aku mendekatkan tubuhku pada Reno dan… plak! Satu tamparanku mendarat dipipinya. “Balas dendam apa maksud kamu!?”
“Aku terkadang bersyukur karena tak ditempatkan sekelas denganmu di Ritch Blues. Karena dengan begitu kamu nggak akan pernah tahu nama asliku.”
“Bisa tolong diperjelas apa maksudmu melakukan ini PEMBANTUKU!” plak! Aku menampar Reno sekali lagi.
Reno tertawa. “Sabar sedikit NONA MUDAKU. Yang paling awal ingin kuberitahu padamu adalah nama asliku.”
“Aku nggak butuh…,”
“Syareno NASUHA!” potong Reno pada kalimatku. Mendengar apa yang diucapkan Reno, mataku membola.
“Apa!? Nama kamu…,”
“Ya! Aku adik PARDANDI NASUHA!”
Aku mundur beberapa langkah. “Nggak! Nggak mungkin…”
“Kenapa nggak mungkin?”
“Setahuku, Kak Dandi nggak punya adik. Waktu pemakaman Kak Dandi juga aku nggak melihatmu.”
“Itu karena aku masih ada di Rusia untuk meneruskan sekolahku!” perlahan Reno kembali mendekatkan tubuhnya kepadaku. “Kau tahu! Semenjak kematian Kakakku, keluargaku hancur! Papaku jadi stress dan sering berjudi menghamburkan uang. Semenjak saat itu, keluargaku jadi terlilit hutang! Dan Papaku terpaksa melakukan korupsi di kantornya untuk menutupi semua hutang keluarga kami. Hingga akhirnya Papaku dipenjara…!!! Dan Mamaku meninggal setelahnya!”
“Ren… stop! Aku…”
“Diam kamu!” bentak Reno membuat rahangku kembali terkatup rapat. “Dan kamu tahu semua itu berawal dari mana?!” tanyanya sengit. “Itu semua berawal dari kamu!!!” teriaknya tepat didepan wajahku. “Kalau saja kamu nggak jadian sama Asta baji**an itu, Kakakku nggak mungkin bunuh diri.”
“Ren! Aku kan sudah bilang sama kamu. Aku nggak ada hubungan…,”
“Lalu kenapa kamu terus-terusan menengok Asta di panti? Dan kamu terus-terusan menatapi fotonya!? Seharusnya kamu lebih sering menjenguk makam Kakakku dan lebih sering menatapi foto Kakakku!”
Aku mendorong tubuh Reno. “Apa kamu lupa!? Aku juga sering mengunjungi makam Kak Dandi. Waktu itu saja, aku mengajakmu bukan!? Tapi kamu nggak mau ikut bersamaku.”
“Jangan banyak berkilah!” Reno merogoh saku jaketnya mengeluarkan…, sebuah buku diary?! “Lihat ini!” Reno melempar buku diary itu kearahku. “Itu buku diary Kakakku. Buku itu PENUH DENGAN SEMUA CERITA TENTANGMU, NONA SYARA AZURA! Dari situ aku tahu, bahwa ia menyukaimu. Dan dari situ juga aku tahu, bahwa ia bunuh diri karena melihatmu berpacaran dengan Asta!”
Aku terduduk lemas. Air mataku mulai menetes deras. “Ren!! Stop! Aku mohon…,”
“Kamu tahu kan sekarang. Kenapa aku nggak suka kamu dekat dengan Asta!?”
Aku menggeleng, air mataku mulai jatuh membasahi celana jins yang kupakai.
“Bodoh!” pekik Reno persis disamping telingaku. “Aku nggak suka kamu dekat dengan Asta karena seharusnya kamu jadi milik Kakakku, bukan milik dia!”
“Ren! Berapa kali aku bilang. Aku nggak ada hubungan apa-apa dengan Kak Asta.”
“Bohong aja terus! Apa aku harus menghadirkan Asta disini dahulu baru kamu mau mengaku?” tiba-tiba Reno berjalan mendekati pintu atap dan ia menarik sesuatu keluar dari sana.
“Kak Asta…!!!!” pekikku melihat ternyata yang ditarik paksa oleh Reno adalah Kak Asta. Tangan dan kaki Kak Asta terikat, mulutnya tersumbal sapu tangan. Kak Asta diperlakukan Reno persis seperti binatang. “Reno!” panggilku kasar. “Jadi kamu yang membawa Kak Asta kabur!!??”
Reno tersenyum sinis. “Mungkin akan lebih tepat jika disebut, aku menculik baji**an satu ini!”
“Apa!?”
“Ya. Aku menculiknya. Tengah malam aku kabur dari rumahmu dan membawanya pergi setelah membiusnya. Lalu aku menyekapnya di gudang yang ada digedung ini. Ide bagus bukan?!”
aku berdiri dan berjalan mendekati Reno. “Lepasin Kak Asta!” bentakku.
“Lepasin dia!?” Reno menoleh kearah Kak Asta yang hanya mampu diam tak berkutik. “Jangan mimpi kamu, Ra.” Duk! Reno menendang tubuh Kak Asta hingga berguling sejauh beberapa meter.
Aku berlari kecil mendekati Kak Asta lalu mencoba melepas ikatannya.
“Ra, kau ingat kalimat terakhir disuratku?” ucap Reno tiba-tiba dengan tangan yang sedang sibuk merogoh saku jaket.
Aku diam dan masih sibuk berkutat dengan tali yang melilit tangan Kak Asta.
“Kakakku akan menjemputmu DISINI! Tapi sayang… berhubung Kakakku sudah tak ada lagi didunia ini, maka aku lah yang akan mewakilinya untuk menjemputmu.” Tiba-tiba Reno mengacungkan sebuah pistol kearahku dan Kak Asta tepat ketika ikatan tali ditubuh Kak Asta sudah terlepas semua.
“Siap!?” ucap Reno  dengan senyum kemenangan. “Satu… dua… tiga!”
“Ra, Awas!” tiba-tiba Kak Asta memeluk tubuhku dan membiarkan tubuhnya menjadi tameng bagi tubuhku. Dalam hitungan detik, pelukan Kak Asta lepas dari tubuhku, dan ia roboh dengan punggung bersimbah darah.
“Reno! Apa yang kamu…” duaar! Satu tembakan lagi melayang kearahku sebelum aku sempat bicara. Dan kini… peluru tembakan itu tepat mengenai perutku. Aku tersungkur, jatuh persis disamping tubuh Kak Asta.
“Selamat tinggal Ara-chan! Katakan juga pada kedua orang tuamu, bahwa aku berhenti jadi pembantu mereka,” Reno tertawa menyindir. “Itupun kalau kau masih mempunyai waktu untuk mengatakannya, hahahahahaha.” Reno pun pergi meninggalkan aku dan Kak Asta diiringi tawa kepuasannya.
“Ra,” panggil Kak Asta dengan suara lemah. Tangannya menggenggam tanganku erat. “Satu hal yang mesti kamu tahu.”
Aku menitikkan air mata. Aah! Rasa pedih diperutku tak seimbang dengan rasa pedih hatiku.
“Kak Asta baru sadar, kalau selama ini Kak Asta sangat menyayangi kamu, Ra. Lebih dari sekedar adik. Maafkan Kak Asta, Ra, yang harus jadi orang munafik dan baru mengatakannya padamu sekarang. Kak Asta nggak mau kehilangan kamu.” Kak Asta tersenyum. Lalu matanya perlahan-lahan terpejam. Dan desahan nafasnya menghilang.
“Kak Asta!” rintihku lalu semakin erat menggenggam tangan Kak Asta yang sudah tak bergerak. Aku menatap langit diatas kepalaku. Tiba-tiba seperti ada seberkas cahaya yang mendekat. Dan pada detik itu pula, aku merasakan perlahan nafasku mulai berat, jantungku mulai lemah dan akhirnya mataku pun ikut terpejam. Kak Dandi…. Kak Asta…. aku akan bertemu kalian disurga sekarang.

* * * * *

Wahai kasihku…
Andai engkau tahu.
Bahwa sekali hidupku, hanya untuk mencintaimu…
Selamanya dihidupku.

Bila nanti aku mati, sesungguhnya kuingin mati bersamamu…
Bersamamu…

Jujur karena ku tak mau…
Meninggalkan engaku sendiri kekasihku…
Kekasihku…

* * * * *

Sabtu, 30 November 2013

love tell me about... (cerpen)



Love tell me about…,


Namaku Syara Azura. Panggil saja Ara. Aku anak dari seorang kepala marketing di sebuah perusahaan terkemuka di kotaku. Perusahaan yang bergerak di bidang bursa efek dan saham. Umurku 15 tahun. Aku lahir ditanggal 9 April.
Kalau soal sekolah. Aku bersekolah di SMA Ritch Blues, sekolah swasta favorit dan unggulan. Kini aku duduk dikelas sepuluh (X). Aku bersekolah disini karena letaknya yang tak jauh dari rumah, hanya sekitar 700 meter.
Hmmm, apa lagi yang ingin kalian ketahui tentangku? Aktivitasku? Baiklah akanku ceritakan…
Ini lah aktivitasku, selalu pulang-pergi sekolah dengan berjalan kaki. Ya, berjalan kaki. Mama dan Papa tak pernah mau memanjakanku mesti hidupku dan keluargaku serba berkecukupan. Lagi pula aku tak keberatan dengan peraturan Papa dan Mama ini. Toh, rumahku dan sekolah dekat!
Persis seperti siang ini. Aku berjalan kaki sendirian. Dan sialnya, siang ini sangat panas. Terik matahari serasa memanggang tubuhku hingga gosong. Berkali-kali aku mengelap peluh yang jatuh bercucuran membasahi pipiku… aah! Ingin rasanya cepat-cepat sampai rumah.
“Hai, Ra!” tiba-tiba suara seseorang menyapa telingaku, diiringi dengan bunyi decitan rem. Aku menoleh, dan mendapati seorang lelaki tengah berada dibelakangku lengkap dengan tunggangan besinya.
“Kamu?... Kak Asta kan?” tanyaku kemudian.
Lelaki itu mengangguk.
Ya, ini memang Kak Asta, batinku membenarkan. Dia adalah kakak kelasku di SMP Rosterm Villa dan juga di SMA Ritch Blues. Kak Asta kini duduk di kelas sebelas (XI), satu tahun diatasku. Walaupun  tak pernah dekat secara langsung dengannya, tapi aku mengenalnya sebagai sosok yang pendiam dan ramah… yaah, setidaknya sifat itulah yang menonjol dari dirinya…
“Ada apa, Kak?”
“Mau… pulang bareng?”
“Hhha!?” mulutku menganga dengan sukses mendengar perkataan Kak Asta barusan. Apa… telingaku tak salah dengar?
“Loh, kenapa?”
Aku bangun dari kebengonganku… “Mm, nggak apa-apa, Kak. Memangnya…,”
“Memangnya apa?”
“Ngg.. nggak… nggak apa-apa.”
“Intinya. Kamu mau nggak pulang bareng nih?”
Aku diam untuk berpikir sejenak. Pulang bareng nggak ya…?! Tapi kalau aku pulang bareng sama Kak Asta, entar Bima tau, lagi… duh, bisa mati aku!
“Nggg…”
“Ayolah, Ra! Nggak apa-apa kok. Kak Asta nggak akan macem-macem sama kamu. Kak Asta cuma kasian aja ngeliat kamu jalan kaki panas-panas gini.”
Aku kembali berpikir. Sesosok setan tiba-tiba seakan berbisik ditelingaku dan berkata “Ara! Ikut saja bersama Asta! Ingat ya, dunia ini lebar, nggak mungkin di dunia selebar ini Bima bisa dengan mudah melihatmu bergoncengan dengan Asta. Jadi kamu tenang saja.”
Aku mengangguk-nganggukkan kepalaku, membenarkan kata si setan barusan.
“Oke deh.” Ucapku menyetujui. Aku bergeser sedikit dari posisi tubuhku untuk mendekat ke jok berlakang motor Kak Asta. “Thanks ya, Kak.” Ucapku lembut sebelum akhirnya motor Kak Asta kembali melaju di jalan raya dengan memboncengku dibelakangnya.

* * * * *

Aku masih membatu di depan gerbang rumahku demi memandangi motor Kak Asta yang semakin menjauh lalu tak terlihat lagi.
Aku memegang dadaku erat, mencoba menghentikan desiran demi desiran yang datang tak menentu. Kenapa aku ini? kenapa aku merasa begitu bahagia setelah diantar Kak Asta tadi? Ya Tuhan, jangan sampai… aku kan sudah punya Bima.
Tepat satu detik setelah aku memikirkan Bima, ponselku berbunyi dan Bima-lah yang meneleponku…
“Halo?”
“Ra, kamu dimana? Aku udah nungguin kamu didepan Ritch Blues.”
“Maaf, Bim. Aku sudah pulang.”
“Naik apa?”
Aku menghela nafas panjang sebelum kedustaanku dimulai. “Biasa. Jalan kaki.”
“Kan aku sudah bilang supaya kamu menungguku.”
“Sudahlah, Bim. Aku nggak apa-apa kok. Udah dulu ya, aku mau makan. Bye!” dustaku kembali.
Tepat ketika aku mematikan telpon, aku tiba dikamarku yang ada dilantai dua. Ku letakkan tasku diatas meja belajar, pada saat itulah mataku tertuju pada sebuah pigura yang memamerkan fotoku berangkulan mesra bersama seorang lelaki. Lelaki itu adalah Bima, pacarku selama 7 bulan belakangan ini. Bima dan aku saling mengenal semenjak SD karena kami berdua selalu sekelas. Begitu pula saat SMP. Namun sayang, saat SMA, Bima tak satu sekolah denganku. Ia memutuskan untuk masuk ke SMA Negeri 888 yang merupakan SMA Negeri unggulan di kota ini.
Jujur, aku memang menyayangi Bima. Sangat sayang malah… tapi… kenapa kali ini hatiku berbicara lain. Seperti ada sesuatu yang mengganjal.
Tiba-tiba wajah Kak Asta melintas dengan gerakan slow motion di otakku. Ya Tuhan! Kejadian bodoh apa lagi ini? kak Asta hanya mengantarku pulang karena KASIHAN, bukan bermaksud lain. Tapi kenapa aku merasa… aaaarrrhhh!
Aku memandang fotoku dan Bima itu dengan perasaan hampa. “Bima… maafkan aku. Tapi aku rasa, aku jatuh cinta pada orang lain.”

* * * * *

Hari ini ada lomba karena memperingati tujuh-belasan di Ritch Blues. Karena tak mengikuti lomba apapun, aku memutuskan untuk duduk-duduk dikantin bersama Raya, sahabatku. Dari pada jadi obat nyamuk yang cuma bisa memandang keki murid-murid yang lagi lomba sampe ngiler, mending disini deh. Ngadem sambil makan! Hehe…
“Ray, gue mau pulang nih!”
Raya menjitak kepalaku menggunakan sendok yang sedang digenggamnya. “Pulang… pulang… emang bisa? Ditelen sama satpam didepan, mampus lo!”
“Yeee… reseh nih anak! Lagian ngapain juga disekolah. Mending ke mall.”
“Ngapain ke mall?”
“Ya, windows shopping kek… nonton kek… terserah deh!”
“Kak Asta saranin mending kamu jangan pulang deh, Ra!” tiba-tiba Kak Asta muncul dihadapanku dan Raya lalu langsung mengambil posisi duduk persis disebelahku.
Tuh kan! Jantungku deg-degan…
“Kak Asta?...” seruku tak percaya. Sementara Raya cuma bisa bengong dengan segulung mi yang masih mandek dibibirnya.
“Didepan satpam lagi jaga-jaga. Takut ada yang kabur. Bener apa kata Raya.” Ucapnya lagi.
Aku mengerucutkan bibir. “Ih. Kak Asta nguping yaaaa??!!” aku mencubiti bagian atas lengan Kak Asta dengan kesal.
“Yeee…. Kok jadi nyalahin Kak Asta? kamu tuh yang ngomongnya gede-gede makanya Kak Asta bisa denger. Oya, Ra, Kak Asta ada perlu sama kamu.”
Aku menangkap suatu bunyi yang sangat tak enak didengar, bunyi seperti suara gelonggongan besi berukuran besar yang masuk kedalam lubang tikus. Aku menoleh kearah Raya dan mendapati dirinya yang ternyata sedang berjuang antara hidup dan mati (duh! Emang ngapain sih!? Berlebihan banget kayaknya!)
“Raya!!!... lo kenapa?” pekikku panik.
“Uhuk… uhuuuk...” Raya terbatuk-batuk. Ternyata penyebabnya adalah Raya yang menelan mi yang tergantung dimulutnya tadi secara bulat-bulat.
“Duh, Ray! Lo kenapa sih?”
“Gue nggak apa-apa… uhuk…”
“Ra?” Kak Asta menyentuh tanganku lembut membuat perhatianku teralih padanya sekaligus membuat bulu kudukku merinding. Aduuuuh! Sekali lagi Kak Asta melakukan hal-hal yang tak terduga dihadapanku, mungkin aku bisa mati berdiri dibuatnya.
“Mm, kenapa Kak?”
“Soal tadi.”
Alisku menaut. “Soal yang mana?”
“Yang Kak Asta ada urusan sama kamu tadi loh.”
“Oooo… memangnya Kak Asta ada perlu apa?” tanyaku sedikit grogi. Dug… dug… dug… jantungku terasa mau copot. Jangan bilang kalau Kak Asta mau menyatakan cintanya padaku disini?!! Kyaaaaaaa…. Bahagianya aku seandainya itu terjadi…
Duh Kak Asta, kok tiba-tiba gini sih!? Aku kan belum siap buat menjawabnya. Hihihihihi…. Lagi pula ini kan tempat ramai. Malu dong Kak…huwaaaaa!!!
“Ada teman kamu yang mau jual HP bekas nggak? Soalnya HP Kak Asta hilang, mau beli yang baru nggak ada uang. Jadi mau cari yang bekas aja.”
Duprak! Duprak! Plentang! Plentung! Praanngg! Hatiku terbanting dari langit dua puluh tujuh hingga ke dasar bumi yang paling dalam sampai hancur berkeping. Jadi, itu keperluan Kak Asta padaku? Aku kira….
“Hei, Ra. Kok ngelamun sih?” Kak Asta mengibaskan tangannya tepat didepan wajahku.
“Ngg…”
“Ada nggak?”
“Nggak tahu!” jawabku sedikit ketus. Sakit tahu hatiku, hiks…
Kak Asta jadi garuk-garuk kepala. “Ya sudah kalau begitu. Kak Asta pergi dulu ya. Daah Ara!” Kak Asta melambaikan tangannya padaku, namun aku hanya melengos cuek. Namun baru beberapa langkah berjalan, Kak Asta kembali memutar tubuhnya menghadap kearah mejaku dan Raya kembali.
Apa jangan-jangan dia berbalik karena mau menyatakan cinta padaku?! Kyaaaa…. Mungkin saja itu terjadi. Duh! Terangkat kelangit ke tiga puluh sekarang hatiku…
“Oya, Kak Asta lupa…” lupa apa Kak? Lupa menyatakan cinta padaku ya? Hihihihihi… “Kak Asta lupa bilang…” bilang apa Kak? Bilang cinta kan? Hayoooooo!!! “Daaah juga Raya!” ucapnya kemudian lantas berbalik dan kembali berjalan pergi.
Blam! Prak! Praaaanng! Huhuhuhuhuhuhuhu….. hujan air mata perasaanku. Kak Asta, aku cinta kamu tauuuuuuuu!!!! Kok Kak Asta berbalik cuma karena mau “say goodbye” sama Raya sih… hancur sudah!
“Dasar cowok aneh!” suara Raya membuyarkan lamunanku.
“Aneh kata lo?”
“Iya, aneh! Gue sampe nelen mi gue bulet-bulet saking gue kaget begitu dia ngomong kalau dia ada perlu sama lo, gue nyangka dia maun nembak lo. Eehhh ternyata cuma nanya ‘ada yang jual HP bekas gak?’ duh, Ra! Stres tuh cowok!”
“Biarin aja! gue tetep suka kok.”
“Ara… ara… gue kasian sama lo. Lo udah nunggu dia hampir satu bulan. Tapi kayaknya nggak ada gelagat kalau dia respect sama lo ya. Dia kayaknya cuma nganggep lo adek.”
pletak! Kini gantian, aku yang menjitak kepala bundar Raya dengan sendok. “Jangan bikin gue putus asa dong.”
“Hei, Ra! Lo seharusnya mikir. Lo itu udah punya Bima. Kalau elo beneran jadian sama Kak Asta, Bima-nya mau lo kemanain?”
“Buang!” Jawabku singkat seakan tak berdosa.
“Buang? Jangan macem-macem deh, Ra!”
“Gue beneran kali, Ray. Lagian akhir-akhir ini, hubungan gue sama Bima udah nggak seharmonis dulu lagi… dia udah jarang ketemu gue, jarang nganter-jemput gue, pokoknya beda deh… kayaknya sih dia punya selingkuhan!”
Mata Raya tiba-tiba membola. “Hah? Serius lo? Lo tahu Bima punya selingkuhan tapi lo diemin aja? lo kayaknya mesti konsultasi ke psikolog deh.”
Aku menyeruput es teh didepanku. “Halahhh… Biarin aja! Tunggu sampe dia puas nyelingkuhin gue! Entar gue yang putusin. Lagian gue udah nggak cinta lagi.”
“Hebat!” Raya bertepuk tangan nggak jelas. “Hanya karena sekali dianter pulang 3 minggu yang lalu oleh seorang Dastan Morgan, Syara Azura bisa langsung jatuh cinta dan klepek-klepek! Dan hebatnya lagi, cinta itu bisa membuat Syara Azura tak lagi mencintai sang pacar yang bernama Bima Saktiawan.” Seloroh Raya sok jadi penyair, aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatku itu.

* * * * *
Aku diam, menatap Bima dalam kebisuan.
Tak lama, Bima mulai menggerakkan tangannya, hendak menggenggam tanganku dengan hati-hati, lalu ditatapnya mataku yang terlihat datar.
“Ra, aku mau bicara penting sama kamu.”
Aku melepas tanganku dari genggaman Bima dengan kasar. “Mau ngomong apa?” tanyaku ketus.
“Aku rasa kita udah nggak cocok dan aku mau kita…,”
“Hania Ravita, kelas X2, SMA Negeri 888, alamatnya di Jalan. Mawar nomor 44, anak dari seorang pemilik kedai bernama Handri Susilo dan Tania Sudibroto, berkulit putih, tinggi 160 centimeter, rambut panjang sebahu, dan hidung mancung. Kalau masih ada yang kurang tentang biodata selingkuhan lo silahkan ngomong!?” potongku pada kalimat Bima dengan repetan, membuat Bima terbelalak.
“Ra, aku…”
“Oke, jadi semua yang gue sebutin udah lengkap? Baguslah kalau begitu.”
“Ra, dengerin…,”
“Kita putus, Bim!” potongku lagi dengan cepat lalu segera beranjak dari kursi yang kududuki, meninggalkan Bima yang masih terpekur didalam café.

* * * * *

“Yaiii… Rayaaaaaa!!! Gue putus sama Bima.” Aku langsung memeluk tubuh Raya yang baru saja membukakan pintu rumahnya untukku.
“Serius lo?”
“Suer!” aku membentuk jariku menyerupai huruf “V”. “Coba tadi lo liat ekspresi wajahnya… beuh… pucat pasi banget tau nggak.”
Raya tergelak mendengar ucapanku barusan. “Wahhh… lo nggak ngajak-ngajak gue sih tadi.” Ucap Raya sembari menggiringku menuju kekamarnya.
Saat pintu kamar Raya sudah tertutup rapat, aku langsung menghempaskan tubuhku keatas ranjang Raya. “Kalau begini, gue bisa bebas buat ngedeketin Kak Asta.”
“Iya. goodluck ya, Ra.”

* * * * *

Aku datang sekolah KEPAGIAN. Menyebalkan! Ini semua karena jam dirumahku yang dipercepat 25 menit oleh Papa agar Papa tak pernah terlambat lagi pergi ke kantor. Aku yang mengira jam dirumah tepat, langsung buru-buru mandi dan berangkat sekolah saat melihat jarum panjang jam sedang menuding angka 8, dan jarum pendeknya menuding ke angka 7.
Aku hanya bisa diam dikelas seorang diri, menatap kearah papan tulis yang kosong. Huh! Membosankan!
Tapi…, kalaupun mau jalan-jalan keluar kelas, aku mau kemana? Siapa yang akan kutemui? Jam segini biasanya yang sudah datang hanyalah anak-anak Ritch Blues yang rumahnya jauh. Dan aku sama sekali tak mengenal mereka.
Tapi apa salahnya mencoba? Toh, jika aku beruntung aku pasti menemukan seseorang yang kukenal. Ya, tekadku sudah bulat! Aku akan keluar dari kelas berbau apak ini.
Aku berjalan menelusuri koridor, menuju kearah ruang serba guna. Disamping ruangan itu ada sebuah taman kecil yang terdapat banyak bunga. Setidaknya aku ingin menenangkan sedikit pikiranku disana… Aku berbelok kearah kiri, tinggal beberapa langkah lagi aku akan tiba ditaman itu.
Baru saja aku menjejakkan kaki disana, aku sudah melihat pemandangan yang tak biasa. Ada seorang siswa lelaki dan siswi perempuan tengah berduaan disebuah kursi kayu yang ada ditengah taman. Posisi mereka kini membelakangiku.
Penasaran, aku mendekat lalu memutuskan untuk bersembunyi dibalik sebuah pohon yang ada didekat mereka berdua demi menguping pembicaraan mereka.
“May, aku sayang kamu…” ucap si lelaki.
Si perempuan tertawa sesaat. “Sayang? Sayang gimana maksud kamu?”
“Ya, aku sayang kamu. Aku mau kamu jadi pacarku, May…”
Aku diam mendengar percakapan mereka berdua. Kenapa sepertinya suara si lelaki begitu akrab ditelingaku!?
“Kamu mau kan, May?”
Aku memicingkan mata, dan aku dapat melihat dengan begitu jelas bahwa si perempuan mengangguk dengan gerakan yang tersipu malu sekaligus manja.
“Jadi, kamu mau, May, jadi pacarku?” tanya si lelaki memastikan.
Sekali lagi, si perempuan mengangguk.
“Terimakasih, May.” Ucap si lelaki lalu memeluk si perempuan. Lalu si lelaki melepaskan pelukannya, ia menatap wajah si perempuan dengan seksama. Perlahan, wajah mereka berdua saling mendekat, mendekat, lalu semakin mendekat hingga hanya tersisa jarak satu centi lagi. Dan… kyaaaa…. Refleks aku menutup mata melihat adegan tak senonoh itu. Namun karena penasaran juga (hihihi, dasar!) aku kembali membuka mata, menatap dua sejoli yang sedang saling berpagut itu.
Aku hampir saja jatuh lemas melihat apa yang baru saja terpampang didepan mataku. Lelaki itu… wajahnya terlihat begitu jelas karena sedang menghadap kesamping… dia…. Dia… dia kan…
“Kak Asta?” lirihku perih. Aku tak dapat lagi menahan perasaanku dan langsung menangis sejadi-jadinya. Mimpi apa aku semalam hingga bisa menyaksikan secara langsung adegan demi adegan ketika orang yang kucintai menyatakan cintanya pada orang lain!?
Aku rasa Tuhan sedang mengutukku!
Dan siswi perempuan itu… dia Kak Mayang, siswi tercatik di kelas XI Ritch Blues. Membayangkan rupa Kak Mayang yang elok, tubuhnya yang ramping, otaknya yang cerdas dan segudang kelebihannya yang sangat lebih dibandingkan aku, membuatku tambah stress. Bagaimana aku bisa memiliki Kak Asta, jika seleranya saja adalah wanita sempurna macam Kak Mayang yang jelas kualitasnya jauh berada diatasku.
Aku berlari, menjauh dari taman sekolah dan kembali masuk kedalam kelas bau apakku. Setidaknya bau apak itu lebih baik untukku saat ini ketimbang melihat orang yang kucinta berciuman dengan orang lain.

* * * * *

Aku menyumpal mulut Raya yang bawel itu dengan segumpal kertas bekas. Sedari tadi, selama aku bercerita tentang kejadian ditaman sekolah tadi pagi, dia terus-terus memekik-mekik dengan panik dan kaget.
“Sekali lagi lo teriak-teriak, bukan cuma kertas yang nyumbet mulut lo. Tapi sepatu gue juga!” ancamku kemudian.
Raya mengangguk sambil melepaskan sumbalan kertasku dari mulutnya. “Terus? Gimana lagi?”
“Yaaa gitu deh… gue bingung sekarang mesti apa. Kak Asta udah punya orang lain, Ray.” Lirihku, tak terasa air mataku mulai jatuh lagi.
Raya menepuk pundakku. “Sabar ya, Ra. Gue yakin pasti ada hikmahnya.”
Aku mengangguk sambil mengusap air mataku. Tepat ketika kepalaku mendongak, tatapanku tertumbuk pada sosok dua orang lelaki yang sedang melintas didepan koridor kelasku.
“Kak Asta…” desisku pelan.
Raya menyikutku cepat ketika kedua makhluk itu sudah berlalu. “Udah deh, Ra. Jangan dipikirin amat! By the way yang sama Kak asta tadi itu siapa?”
“Oh.. itu..” jawabku malas-malasan. “Dia Kak Dandi, teman dekatnya Kak Asta. kenapa? Lo naksir?”
Raya megibaskan tangannya diudara. “Nggak… enak aja lo ngomong. Hati gue cuma buat Valen tau!”
“Terus ngapain nanya?”
“Ya… nggak apa-apa… gue jarang liat anak itu aja.”
“Gue kira…,” aku menelan kembali semua kalimatku ketika kedua sosok itu kembali tertangkap mataku sedang melintas dikoridor kelas untuk kedua kalinya. Jantungku terasa berdetak lebih lambat.
Kak Asta sempat melempar senyum kecil kepadaku lalu kembali berlalu. Mataku mengekor arah mereka berjalan. Ketika mereka sudah beberapa meter lewat didepan kelasku, Kak Dandi memutar kepalanya kebelakang lalu menatapku penuh makna. Bahkan sempat aku melihatnya mengedipkan sebelah matanya kepadaku.  Kak Dandi? Kenapa dia? Tanya batinku.
“Jangan diliatin terus, Ra.” Tegur Raya lagi.
Tanpa menanggapi, aku cepat-cepat menarik tangan Raya masuk kedalam kelas. Ketika sudah duduk dibangku, aku kembali buka suara. “Lo liat nggak tadi. Kak Dandi ngedipin mata ke gue?”

* * * * *

Aku memandang langit malam yang gelap. Pikiranku melayang, membayangkan seandainya Kak Asta dan aku bisa terbang kesana dengan cinta kami berdua…
Namun sayang semua hanya mimpi untukku. Karena aku dan Kak Asta yang sekarang, bukanlah aku dan Kak asta yang dulu… itu semua berawal semenjak Kak Asta menjalin hubungan dengan Kak Mayang dua bulan yang lalu.
Perlahan, Kak Asta menjauhiku. Ia tak pernah lagi menghampiriku dan Raya ketika kami berdua tengah makan bersama dikantin. Ia juga tak pernah mengobrol panjang lebar denganku seperti dulu… semuanya berubah!
Hanya ada senyum kecil dan hampa yang sesekali Kak Asta tujukan untukku ketika kami berdua berpapasan… ya, hanya senyum itu yang menandakan setidaknya Kak Asta masih ingat jika aku ada dibumi ini.

* * * * *

Aku menendang sebuah kerikil yang lagi-lagi berada didepan jalanku melintas.
“Dua-puluh-dua!” hitungku.
Baru kali ini, dalam perjalanan pulang sekolah aku menendang batu kerikil hingga dua-puluh-dua kali. Biasanya hal ini aku lakukan hanya sesekali untuk keisengan semata. Tapi tidak kali ini. Aku merasa seperti sedang melampiaskan emosiku.
“Ra?” seseorang menyentuh pundakku dari belakang dengan lembut.
Sebelum menoleh, aku terlebih dahulu menepis tangan yang tersampir dipundakku itu dengan kasar. Orang lagi kesel gini malah maen pegang-pegang…
“Heh! Jadi orang jangan…., Kak Dandi?” aku terpekur menatap Kak Dandi yang berdiri didepanku.
“Hei, Ra… ngg… boleh nggak kalau Kak Dandi nemenin kamu… pulang?”
Aku seperti merasakan sebuah dejavu, otakku kembali memutar kejadian ketika 3 bulan yang lalu Kak Asta melakukan hal yang sama seperti yang Kak Dandi lakukan terhadapku. Tapi kali ini berbeda sedikit, jika Kak Asta menawarkan aku agar pulang bersamanya menggunakan motor, Kak Dandi malah menawarkan dirinya untuk menemaniku pulang dengan… jalan kaki.
Loh!? Setahuku Kak Dandi kan bawa motor ke sekolah… tapi kok…,
“Boleh nggak, Ra? Kalau nggak boleh...,”
“Boleh… boleh, Kak.” Potongku cepat sebelum Kak Dandi merasa tersinggung.
“Bener?”
“Iya.” Aku berbalik dan kembali berjalan menelusuri jalan menuju rumah, Kak Dandi mengekor.
“Mmm, Ra?” panggil Kak Dandi kemudian.
“Ya?”
Kak Dandi menggaruk-garuk kepalanya, ia terlihat begitu salah tingkah. “Kamu… udah punya pacar?”
“Hha!?”
“Kamu udah punya pacar?” ulang Kak Dandi lagi.
“Bukan! Bukan itu maksudku, Kak,” tegasku. “Maksudku, maksud omongan Kak Dandi barusan apa? Aku nggak ngerti.”
“Gimana ya?!... Kak Dandi ngomongnya di HP aja deh. Boleh minta nomor kamu?”
“Boleh,” aku merogoh saku kemeja putihku dan mengeluarkan ponselku dari dalamnya. “Nih, nomornya. Kosong-delapan-sembilan-belas bla bla bla…,”
“Oke. Makasih, Ya, Ra. Daah!” Kak Dandi berlari memutar arah, kembali kejalan menuju sekolah. Loh!? Jadi nemenin aku pulangnya cuma sampe sini doang? Padahal kan rumahku masih 300 meter lagi.

* * * * *

From : +628789999XXXX
Night, Ra…

To : +628789999XXXX
Siapa ya?

From : +628789999XXXX
Kak Dandi… hmm, km lg apa?

Aku meremas rambutku dengan gemas. Ih! Basi banget sih yang ditanya…
Sebelum membalas SMS Kak Dandi, aku menyempatkan untuk menyimpan nomornya di ponselku.

To : Kak Dandi
Lg dngrin musik, Kak… knp? Ada prlu ya?

Setengah jam berlalu… aku tertidur dikursi malas yang ada dikamarku. Setelah sebelumnya sempat mengecek, apakah Kak Dandi membalas SMS-ku atau tidak.
Ternyata tidak! Mungkin dia hanya main-main dengan perkataannya tadi siang…

* * * * *

“Ra…” Raya tiba-tiba memelukku dengan nada cemas ketika kakiku baru saja mencicipi lantai kelas.
Aku melepas pelukan Raya sembari melempar tatapan penuh tanda tanya padanya. “Ray, kamu kenapa?”
“Ra… Kak Asta, Ra… Kak Asta…”
“Kak Asta? kenapa dia?”

* * * * *

Aku memberhentikan taksi yang kutumpangi didepan sebuah gedung besar berlantai tiga dengan pagar kawat berduri mengelilinginya.
Setelah membayar taksi, aku segera masuk ke gedung itu dan menemui petugas jaga yang ada didepan.
“Pak, saya mau membesuk. Bisa?”
Petugas jaga itu menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Adik ini mau menjenguk siapa?”
“Saya mau menjenguk dua pelajar yang tertangkap polisi semalam karena transaksi narkoba, Pak.”

* * * * *

Disinilah aku berada… disebuah ruang sempit dan pengap yang hanya memiliki sebuah ventilasi berukuran setengah meter, ruangan yang menjadi bagian dari sebuah panti rehabilitasi narkoba, ruangan yang juga menjadi tempat orang-orang yang hendak membesuk para orang yang direhab dipanti ini.
Tak lama, pintu besi yang berada didepanku tersibak dan muncullah sosok tubuh Kak Asta dari sana dengan didampingi seorang petugas.
“Kak Asta?” aku menghambur, memeluk Kak Asta setelah petugas tadi pergi, meninggalkan aku dan Kak Asta berdua diruangan ini. Air mataku pun mengalir deras. “Kak… kenapa Kak Asta ngelakuin ini?”
Kak Asta membelai rambutku. “Kak Asta khilaf, Ra… kakak nggak bermaksud buat make’ barang haram itu…”
“Aku nggak mau tahu… pokoknya Kak Asta harus cepet sembuh dan keluar dari sini… aku mau Kak Asta sekolah lagi… aku mau Kak Asta yang dulu… aku mau…”
“Sudah, Ra… maafin Kak Asta ya?”
“Untuk apa Kak Asta minta maaf?” aku melepaskan pelukanku dari Kak Asta.
“Kak Asta udah jauhin kamu, Ra…”
Aku tersenyum. “Kalau soal itu jangan dipikirin, Kak. Oya...” aku celingukan menyadari ada sesuatu yang kurang. “Kak Dandi mana?”
“Oh, Dandi… dia masih di dapur, lagi makan… nanti juga kesini.”
Aku manggut-manggut lalu kembali diam. Kak Asta… aku masih sangat menyayanginya… aku nggak bisa memendam ini semua terus menerus. Mungkin inilah saatnya, saat yang tepat untuk semuanya…
“Kak?” panggilku seraya menggenggam erat tangan Kak Asta. “Aku mau bilang kalau aku… sayang sama Kak Asta.”
“Kak Asta juga sayang sama kamu, Ra…”
“Serius?”
“Iya,” Kak Asta mengangguk. “Kak Asta kan sudah nganggep kamu sebagai adik.”
Jger! Petir serasa menyambar kepalaku. Air mataku mulai terbit lagi. “Tapi, Kak… aku maunya kita lebih dari teman.”
“Ra… kita jadi kakak-adik aja ya…” jawab Kak Asta. “Lagi pula Kak Asta sudah punya Kak Mayang. Dan asal kamu tahu, Ra, ada seseorang yang bener-bener tulus menyayangi kamu. Tapi kamu nggak pernah menyadarinya.”
Aku menatap Kak Asta dengan bingung. “Siapa, Kak?”
“Dandi.”
“Kak Dandi?”
“Iya… semalam, sebelum kami tertangkap, sebenarnya Dandi ingin menelepon kamu, Ra. Dia mau menyatakan cinta. Tapi… terlambat…”
Aku menahan nafasku sejenak. Ternyata ini penyebabnya, kenapa Kak Dandi tak membalas SMS-ku semalam.
“Kamu mau kan, Ra, mencoba dekat dengan Dandi?”
Aku diam. Aku tuh cintanya sama kamu tahu Dastan Morgan. Bukan sama Pardandi Nasuha…
“Ra, mau kan? Siapa tahu Dandi bisa cepet sembuh karena kamu membalas cintanya.”
Aku kembali diam dengan tangan terlipat didepan dada. Mataku saling tukar pandang dengan mata teduh Kak Asta. Dan entah mengapa, aku dapat melihat sebuah ketulusan dimatanya itu… “Oke. Demi Kak Asta, aku akan coba.” Jawabku akhirnya.
Tiba-tiba seorang petugas memasuki ruangan tempatku dan Kak Dandi berada. Wajahnya terlihat begitu panik. “Nak, Asta. Ada kabar buruk…”
Kak Asta menatap petugas itu penuh selidik. “Kabar buruk?”
“Iya… ngg… Nak Dandi… gantung diri dikamar…”
“Apa?!” seruku dan Kak Asta kompak lantas langsung berlari menelusuri koridor panti menuju kamar yang ditempati Kak Dandi. Tuhan…. Tidak! Jangan Kak Dandi… Aku mohon… jangan ambil Kak Dandi dari hidupku. Tuhan… aku… belum sempat mencoba mencintainya!
“Kyaaaa!!! Kak Dandi….” Jeritku histeris, melihat mayat Kak Dandi yang tergantung dilangit-langit kamar. Wajahnya sudah membiru, matanya terpejam rapat, Kak Dandi sudah tak bergerak lagi…. Aku memeluk Kak Asta sekali lagi, kali ini aku kembali menangis. Namun tangisanku kali ini untuk Kak Dandi. Tangisan yang terasa begitu pahit dan pedih.
“Nak, Asta… kami menemukan sebuah surat diatas ranjang.” Seorang petugas mendekat dan menyerahkan sepucuk surat beramplop abu-abu….
Kak Asta melepas pelukanku lalu menyerahkan surat itu kepadaku…
“Lebih baik kamu yang baca, Ra.” Ucapnya.
Aku mengangguk lalu dengan sigap mengambil surat itu dan membukanya…

Ara… asta… maafkan aku. Mungkin ketika kalian menemukan suratku, aku sudah tak ada lagi didunia ini.
Untuk Ara… Kak Dandi cuma mau bilang kalau Kak Dandi cinta sama Ara. Kak Dandi… sayaaaaaang banget sama Ara.
Tapi mungkin semua terlambat… tadi, Kak Dandi dengar dari luar ruang besuk kalau Ara menyatakan cinta pada Asta. Kak Dandi nggak sanggup, Ra, kalau melihat kamu menjadi milik Asta. Mungkin lebih baik begini… doakan saja Kak Dandi agar mendapat seorang bidadari penggantimu disurga kelak…
Dan untuk Asta, aku mohon sama kamu jaga Ara baik-baik ya… kamu beruntung mendapatkan Ara, gadis yang kucintai karena senyumnya yang indah itu. Ingat, Ta! Akan kukenang selalu persahabatan kita walaupun aku telah tiada…
Sampai jumpa disurga, Ra… Ta…
Pardandi Nasuha

Aku kembali memeluk Kak Asta… “Kak Dandi salah paham sama kita, Kak…” isakku. “Mungkin dia tadi langsung pergi tanpa mendengarkan kelanjutan pembicaraan kita…”
Kak Asta membalas pelukanku dengan rapat. “Dandi…” rintihnya.
Aku dan Kak Asta terus berpelukan… saling membagi kesedihan kami berdua yang harus kehilangan seorang sahabat… sekaligus kehilangan seseorang yang mulai kucintai….

* * * * *

Tak mungkin menyalahkan waktu…
Tak mungkin menyalahkan keadaan…
Kau datang disaat ku membutuhkanmu…
Dari masalah hidupku bersamanya.

Semakin kumenyayangimu.
Semakin ku harus… melepasmu dari hidupku…
Tak ingin lukai hatimu, lebih dari ini.
Kita tak mungkin terus bersama.

Suatu saat nanti kau kan dapatkan…
Seorang yang akan dampingi hidupmu.
Biarkan ini menjadi kenangan.
Dua hati yang tak pernah menyatu…

Maafkan aku… yang membiarkanmu masuk kedalam hiduku ini.
Maafkan aku… yang harus melepasmu, walau ku tak ingin…

* * * * *