Jumat, 17 Agustus 2018

Mengabadikan Kala part IV



TANGGAMAR

Tanggamar namanya, satu-satunya gunung yang berada di kota dengan lanskap laut dan jejeran sawah itu. Gunung itu berdiri gagah tepat di barat daya kota dengan jarak tempuh hanya setengah jam. Puncak Tanggamar selalu di selimuti awan, kaki gunungnya selalu berhasil menyebarkan hawa dingin, Tanggamar adalah segunduk misterius karunia Tuhan yang menyimpan sejuta keindahan.
Berbondong-bondong orang kerap kali menyambangi Tanggamar, jalur pendakiannya memang sudah cukup terkelola, bahkan ada guide khusus yang disediakan warga sekitar dengan bayaran yang cukup murah. Ketinggian Tanggamar yang hanya 2153 mdpl, membuat Tanggamar cocok untuk pendaki pemula atau bagi mereka pendaki ulung yang sedang ingin melepas penat.
“Kamu sering naik gunung?” tanya Abad pada Kala sesudah mereka berhasil memarkirkan motor di tempat parkir terkelola bagi pendaki di kaki gunung Tanggamar. Abad mengencangkan jaketnya, hawa dingin mulai terasa. Jejak kakinya dan Kala mulai melangkah menuju pintu masuk jalur pendakian.
Kala mengangguk, “udah dua kali kalau naik Tanggamar. Ga mungkin aku berani ngajak kamu naik Tanggamar berdua tanpa guide kalau aku sendiri belum pernah naik Tanggamar.”
“Kamu juga suka naik gunung? Kenapa ga pernah cerita?”
Kala tertawa kecil, jalur yang dilalui mereka berdua masih berupa jalan datar tanah, belum terlalu menguras tenaga, “makanya aku ngajakin kamu kesini, biar sekalian aku cerita,” Kala mendelik pada Abad, “kamu udah pernah naik gunung?”
Abad tersenyum simpul, “Kalau naik Tanggamar belum pernah,” Abad memotong kalimatnya sesaat, “kalau naik Semeru, Rinjani, Kerinci, Prau sama Sindoro udah pernah,” lanjutnya kemudian.
Kala tercengang mendengar kalimat barusan keluar dari bibir Abad tanpa beban, seolah yang baru ia sebutkan tadi adalah nama-nama tempat makan instragamable di kota mereka yang mudah dijangkau, bukan nama-nama beberapa gunung terbaik di Indonesia dengan jalur pendakian yang tak mudah. “Kamu kok ga pernah cerita?” tanya Kala setelah terdiam beberapa saat.
“Makanya aku mau kamu ajak kesini, biar sekalian cerita.” Abad menjawab persis menirukan jawaban Kala tadi kepadanya.
Kala tergelak, meninju lengan Abad pelan.
“Kamu udah pernah naik gunung mana aja? Aku pikir kamu cuma suka pantai.” Tanya Abad kemudian.
“Cuma pernah naik Tanggamar, Marapi sama Dempo aja kok,” Kala bergidik mengakui kekalahannya. Abad jauh telah menang pengalaman tentang hal mendaki gunung rupanya. “Aku suka lihat pantai dari dekat, tapi lihat pantai dari ketinggian kaki-kaki gunung itu lebih menyenangkan.” Kala tersenyum.
“Pantesan kuat juga bawa carrier 60 liter isi tenda,” Abad menepuk-nepuk carrier yang digendong Kala dengan kokoh, kemudian tertawa.
Langkah kaki mereka pun semakin menjauh masuk ke dalam areal hutan di kaki gunung, semakin dalam, menghilang ditelan tanjakan demi tanjakan Tanggamar.

¤¤¤

Memasuki pintu rimba Tanggamar yang ditandai dengan banyaknya pohon-pohon besar berlumut lebat, Kala dan Abad memutuskan untuk istirahat sejenak. Mereka kompak duduk tepat ditengah jalan jalur pendakian sembari meluruskan kaki.
Kala melirik jam tangannya, “jam 12 siang, kita bakal sampai di puncak mungkin jam 3 sore kalau ga istirahat lagi.”
Abad mengangguk, menenggak dengan rakus sebotol air mineral berukuran sedang. Dibukanya carrier yang ia gendong lalu mengeluarkan dua potong roti dan memberikan salah satunya pada Kala.
“Kal…” panggil Abad pada Kala yang tengah khidmat mengunyak roti isi cokelatnya.
Kala menjawab dengan gumaman.
“Kamu kenapa jauh-jauh banget mau jawab penyataan aku aja sampai harus ajak aku naik gunung?” tanya Abad tanpa basa-basi.
Kala diam beberapa detik, tengah menyusun kalimat demi kalimat di kepalanya. “Kamu tahu gak? Sifat asli seseorang itu keluar ketika ada di keadaan kaya gini.”
“Keadaan ‘kaya gini’ maksudnya?”
“Hidup ditengah hutan dengan cuaca dingin, jalanan naik turun, tanjakan licin, stok makanan ga banyak, jauh dari penduduk, dikelilingi binatang liar yang kita gatau gimana rupa dan bisa ada dimana saja, cuma bisa mengandalkan bantuan orang yang lagi sama kita, itu maksud aku,” Kala meneguk air mineralnya, “itulah kenapa gunung itu tempat yang pas untuk kamu tahu apakah orang yang kamu ajak naik gunung itu apa pantas juga untuk kamu ajak hidup bersama. Karena sifat asli seseorang itu akan benar-benar nampak di situasi, keadaan dan tempat penuh keterbatasan kaya gini.”
Abad terdiam, sebanyak apapun gunung yang ia daki, ia belum pernah mendengar filosofi ini. “Terus, selama kita mendaki beberapa jam ini kamu sudah berhasil menilai aku?”
Kala mengangguk kecil, “masih sedikit, soalnya belum sampai puncak,” jawab Kala sembari teringat kejadian-kejadian selama beberapa jam belakangan ini. Kala mengakui, Abad adalah sosok yang sabar, dengan telaten ia memegangi tangan Kala ketika melewati jalur licin, dengan tabah ia menunggui Kala untuk duduk istirahat selama beberapa menit, dengan perhatian ia selalu memberikan Kala handuk kecil untuk membasuh keringat di dahinya. Namun bagi Kala, itu belumlah membuktikan banyak hal. Tunggu saja nanti. “Ayo, lanjut jalan.” Kala mengulurkan tangannya pada Abad, hendak membantu lelaki itu bangun.
Abad menyambut uluran tangan itu dan perjalanan pun kembali dilanjutkan. Undakan-undakan semakin curam, pohon-pohon besar semakin rapat terlihat, udara dingin semakin mencekam. Kala dan Abad semakin mendekati puncak Tanggamar.

¤¤¤

Langkah Kala dan Abad terhenti tepat di sebuah tanjakan berbentuk tebing dengan tinggi sekitar 25 meter bersudut kemiringan hampir 90 derajat. Ada dua buah tali menjuntai yang sepertinya memang disediakan khusus untuk para pendaki menaiki tanjakan ini. Kala dan Abad saling pandang sesaat kemudian serempak menarik nafas panjang.
“Aku pikir Tanggamar ga ada ginian,” Abad menggeleng sambil tersenyum.
Sedetik kemudian tiba-tiba Kala jatuh terduduk sembari memegangi kepalanya, matanya tampak terpejam.
“Kal… kamu kenapa?” Abad kontan menghampiri Kala lalu mengguncang kecil tubuh gadis itu.
Kala menggeleng kecil, “kepalaku tiba-tiba pusing banget, badanku lemes,” suara Kala terdengar begitu lemah.
Abad kontan membongkar ranselnya lalu menyerahkan pada Kala sebungkus roti sobek berukuran besar serta sebotol air mineral berukuran 1.5 liter, “ini kamu makan dulu, terus nanti aku gelarin matras ya, kamu tiduran aja sambil kepalanya aku pijat.” Kala menurut, mengikuti perintah Abad tanpa perlawanan. Roti itu dihabiskannya pelan-pelan demi kemudian berbaring diatas matras yang telah Abad gelar.
Abad dengan sigap mengeluarkan obat-obatan yang dibawanya dan menemukan minyak kayu putih disana. Dipijatnya kepala Kala dengan lembut sembari sesekali bergantian mengoleskan minyak kayu putih itu ke telapak tangan Kala agar Kala tidak kedinginan.
“Kal, apa kita turun aja?” tanya Abad kemudian.
Kala menggeleng dengan cepat, “engga, aku mau sampe puncak.”
“Tapi, Kal, kamu sakit.”
“Engga, Bad. Aku mau sampe puncak. Kita harus ke puncak. Sedikit lagi. Setelah tebing ini, jalannya sudah lumayan datar dan cuma ada beberapa tanjakan kecil sampe ke puncak.” Kala tetap keras kepala.
Abad menghela nafas panjang, mengalah, memutuskan untuk kembali memijati kepala Kala agar gadis itu lekas membaik.
Setengah jam kemudian, Kala mulai menggerakkan tubuhnya, ia bangkit duduk, “ayo, Bad, kita jalan lagi, biar bisa liat sunset di puncak.” Kala menatap Abad dengan senyum simpul terukir di bibirnya, “aku udah gapapa kok, udah baik-baik aja.”
Abad tersenyum, mengangguk, lalu membereskan matras. “Carrier kamu biar aku aja yang bawa,” seru Abad kemudian.
Kala menoleh, mengernyit, “hah?”
“Iya, carrier kamu biar aku aja yang bawa. Tebing ini curam, Kal. Sulit dilalui dengan keadaan badan ga sehat. Kamu tunggu sebentar disini ya. Aku naik keatas bawa carrier kita, nanti aku turun lagi, terus nanti aku gendong kamu naik keatas, oke?”
“Tapi, Bad…”
“Udah, ikut aja,” kali ini Abad yang menunjukkan kekerasan kepalanya. Dengan gerakan cepat ia membopong carriernya dibelakang sedangkan carrier Kala di depan. Kakinya perlahan mulai menapak pada kaki tebing sembari memegang tali. Ditengoknya Kala yang berdiri dibelakangnya sesaat, “tunggu sebentar ya, Kal, ga bakal lama kok.”
Abad memantapkan ancang-ancangnya, lalu perlahan mulai menaiki tebing itu dengan posisi berdiri. Baru beberapa langkah, kakinya tersandung, dan nyaris jatuh. Tubuhnya terpelanting diantara bebatuan tebing namun tangannya tetap kokoh memegang tali agar tubuhnya tak merosot. Kala menjerit menyaksikan adegan itu. Namun beberapa detik kemudian Abad mulai menyetabilkan keseimbangannya. Digenggamnya kembali tali itu kuat-kuat, kali ini ia memilih menanjaki tebing itu dengan berjongkok. Dititinya tali itu perlahan-lahan hingga punggungnya semakin mengecil dan menjauh dari jarak pandang Kala.

¤¤¤

Abad bergerak dengan sangat cepat, pengalamannya mendaki gunung-gunung dengan jalur terjal membuat tubuhnya begitu tangguh menghadapi medan Tanggamar. Kurang dari satu jam, ia sudah kembali berada di tempat Kala berdiri menunggunya.
“Ayo, sekarang giliran kamu yang aku gendong, ayo sini,” Abad berjongkok sembari menepuk-nepuk pundaknya, memerintahkan Kala naik ke gendongannya. Kala pasrah, memeluk pundak Abad dari belakang, melingkari tangannya di leher Abad, “siap? Satu… dua… tiga…” dengan gagah Abad membopong Kala di punggungnya, tak gentar sedikitpun kakinya melangkah membawa Kala yang berbobot 50kg itu. Abad mendekati kaki tebing, menggenggam tali, menarik nafas panjang mengambil ancang-ancang. Perlahan kakinya mulai menapak, berjalan sangat hati-hati, sementara itu Kala terdiam di belakang punggungnya dengan tangan yang mencengkeram tubuh Abad kuat-kuat. Abad mulai menurunkan posisi tubuh, tidak seperti tadi, Abad kali ini memilih posisi setengah duduk untuk meniti tebing dengan hati-hati. Sesekali ia membenarkan posisi tubuh Kala yang agak merosot digendongannya.
Kala terdiam di balik punggung Abad, merasakan kehangatan tubuh lelaki itu yang tepat bersentuhan dengannya. Telinganya dapat mendengar degub jantung Abad dari balik punggung dengan jelas. Kala meraba dadanya, seolah berusaha menyamakan irama debar itu agar sama.  Jemarinya satu-persatu mulai mengetuk-ngetuk dadanya sendiri, menghitung denyut demi denyut yang mulai semakin cepat ia rasa. Kepalanya lepas landas, semakin tenggelam dengan kenyamanan dibalik punggung kokoh itu. Kala tahu, kesempatan ini takkan pernah datang dua kali.
“Kal…” Abad memanggil dengan nafas tersengah-sengah, “kamu baik-baik aja?” kakinya masih terus meniti tebing itu perlahan, tak berhenti barang sedetikpun.
“Iya, aku baik-baik aja,” selama ada kamu, sambung Kala dalam hati kemudian tersenyum. Dipeluknya tubuh Abad semakin erat.
Sepuluh menit kemudian, mereka tiba diujung tebing, sebuah dataran dengan hamparan tanah berlumut, berhias pohon-pohon dengan diameter yang lebih besar dan lebih rimbun. Kala turun dari punggung Abad, Abad terduduk kemudian sembari mengatur nafasnya yang nyaris terputus.
Kala berinisiatif mengeluarkan air mineral dari tasnya dan menyodorkannya kepada Abad. Dihapusnya peluh yang bercucuran dari dahi Abad menggunakan lengan jaketnya secara bergantian.
Detik berlalu tanpa sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Kala hanya terus memandangi Abad yang masih sibuk mengatur nafas, sementara Abad sedang berusaha menyetabilkan nafasnya yang justru semakin menderu akibat tatapan Kala yang begitu tampak lembut itu disebelahnya.
“Mau jalan lagi?” tanya Abad kemudian, membunuh keheningan.
Kala menggeleng, “nanti dulu, tunggu kamu ga capek lagi.”
Abad melirik jam tangannya, “jam empat sore, Kal. Nanti kita gabisa liat sunset di puncak,” ucap Abad kemudian, mengingat tadi Kala berkata bahwa ia begitu menginginkan melihat matahari terbenam di puncak Tanggamar. “Ayo. Sedikit lagi kan?”
Kala tersenyum, mengangguk, semangatnya kembali membara, “iya, tinggal jalan sedikit, terus naik tiga tanjakan kecil-kecil lagi.”
“Carrier kamu biar aku yang bawain,” seru Abad kemudian.
“Jangan, Bad… jang…” belum sempat Kala menyergah, lelaki berisi kepala abstrak itu sudah lebih dahulu membopong carrier Kala dibagian depan, sementara carrier miliknya di belakang, persis seperti saat hendak menaiki tebing.
“Udah, Ayo!” Abad menarik tangan Kala dengan tegas, lalu genggaman tangan itu berubah menjadi begitu lembut. Kala dapat merasakan ada perasaan berbeda yang membuat genggaman tangan Abad itu terasa lain dari seluruh genggaman tangan yang pernah ia dapat. Genggaman tangan itu seperti mendobrak hatinya seketika, mengalirkan perasaan yang begitu kuat, membuat hatinya lapang dan menjadi sebegitu yakinnya detik itu juga. Kala merasakan begitu banyak perasaan meluap-luap dikepalanya. Seperti baru saja dididihkan, perasaan itu begitu membara, menyala, siap meledak bagai kembang api menuju angkasa. Sepasang manusia itu pun terus melaju dengan tangan saling berkait seolah tak ingin kehilangan satu sama lain.
Langkah kaki Abad dan Kala terus berpacu tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Keduanya seolah sedang merapikan perasaan bersama, seolah sedang kompak menikmati berbagai perasaan dalam keheningan yang ada.
Puncak mulai terlihat dengan adanya penunjuk arah bertuliskan “Puncak Tanggamar 100 m”, melihat tulisan itu, seolah ada suntikan semangat yang masuk ke tubuhnya, spontan Abad melepas genggaman tangannya pada Kala dan berlari sekencang-kencangnya menaiki tanjakan terakhir. Kala dengan dorongan kuat dari dalam dirinya, ikut terpancing melihat adegan itu, kemudian menyusul Abad, berlari juga, beberapa meter dibelakang lelaki bertubuh atletis itu.
Tanah datar mulai terlihat, Abad semakin memacu langkah dan akhirnya tiba di puncak Tanggamar dengan hati lega luar biasa. Larinya terhenti demi memberondong habis pemandangan kumpulan awan dan mentari yang menyemburat jingga di depannya. Dijatuhkannya kedua carrier yang ia bawa agar tangannya leluasa merentang, menangkap setiap udara yang hinggap di sekitarnya. Matanya kemudian terpejam menikmati sinar mentari yang menerpa wajah. Kala menyusul di belakangnya beberapa detik kemudian, dan spontan langsung menjatuhkan pelukannya pada tubuh Abad dari belakang. “Abadi Kusuma Negara, Sangkala Indah Lestari menerima cintamu.” Ceracaunya sedetik kemudian.
Abad kontan membuka matanya, memutar tubuh, menatap Kala dengan terkejut, “apa? Kamu bilang apa, Kal?”
Kala terdiam, bukannya menjawab, ia justru kembali memeluk Abad, begitu kencang, kemudian menangis tersengguk-sengguk. “Abadi Kusuma Negara, Sangkala Indah Lestari ini begitu mencintaimu sedari dahulu. Sedari pandangan pertama kita bertemu. Sejak saat itu, bahkan setiap bertemu denganmu Sangkala Indah Lestari ini harus mengontrol diri mati-matian agar tak ada perasaan bergejolak-gejolak yang terlalu ditunjukkan. Maafkan Sangkala Indah Lestari ini atas segala kemunafikan dan kebohongan yang selama ini dituturkan. Maafkan Sangkala Indah Lestari ini telah mengusirmu pergi jauh. Maafkan Sangkala Indah Lestari ini atas segala perkataan yang menyakiti hatimu,” Kala terdiam sejenak mengatur tangisnya, “maafkan Sangkala Indah Lestari ini telah merepotkanmu, mengujimu hingga sejauh ini, berpura-pura sakit demi melihat seberapa besar Abadi Kusuma Negara ini mencintai diriku, hingga kita tiba di puncak ini, aku sudah tak tahan lagi, sebegitu yakinnya keyakinan ini sedari tadi sudah membuncah di dadaku dan aku harus mengatakannya saat ini juga. Terimakasih Abadi Kusuma Negara, terimakasih telah hadir, mencintaiku, menyayangiku dengan segala kemampuanmu. Terimakasih telah hadir di muka bumi sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam menjagaku, terimakasih.”
Abad terdiam mendengar serentetan kalimat yang Kala ucapkan itu. Bibirnya terkatup rapat tak mampu lagi mengutarakan kebahagiaan yang ia rasakan. Tangannya hanya mampu membalas pelukan Kala dengan dekap yang lebih erat. Jika bisa, andai saja sayap dapat tumbuh di punggungnya, tentu saja Abad sudah terbang sebab terlalu bahagia. Cinta yang selama ini ia tunggu, cinta yang selama ini ia kejar, cinta yang selama ini selalu bersarang di kepalanya pagi siang sore malam, akhirnya bersambut, akhirnya menemukan titik pulang, akhirnya menemukan sandaran sesuai yang ia harapkan.
Berlatar belakang mentari yang mulai turun ke peraduan, langit sore yang menyemburatkan jingga lengkap dengan awan yang berkumpul malu-malu, serta disaksikan oleh kawanan burung di puncak Tanggamar, Sangkala Indah Lestari resmi dimiliki oleh Abadi Kusuma Negara.


BERBAHAGIALAH

“Bad, aku baru pulang shift pagi, mantai yuk ntar sore, pusing banget nih butuh hiburan,” ucap Kala ditelepon sembari membenahi tangannya yang membawa bertumpuk-tumpuk laporan. Kakinya melangkah keluar dengan cepat dari ruang penyakit dalam.
“Iya, oke. Jam empat ya aku jemput dirumah. Aku selesain dulu kerjaan aku. Ini aku masih di lapangan.” Ucap Abad dari ujung telepon sana, terdengar bunyi ekskavator yang begitu ramai sebagai latar belakang.
“Okey, see ya. Semangat kerjanya!” Kala mematikan telepon sembari membayangkan wajah lelah Abad yang sedang berkeringat dibawah terik matahari. Membuatnya rindu.
Sebulan setelah berpacaran dengan Kala, Abad diterima bekerja sebagai Head Quality Control di sebuah perusahaan kontraktor ternama di kota mereka dan kini ia sedang di tempatkan disebuah proyek pembangunan hotel di timur kota. Memasuki bulan ketiga bekerja, perubahan fisik mulai terjadi pada Abad; kulitnya semakin melegam namun tubuhnya berubah semakin atletis akibat pekerjaan berat di lapangan yang kerap ia tangani sendiri. Melihat perubahan itu, Kala justru semakin tergila-gila dibuatnya.
Syukurnya, jam kerja Abad yang sangat padat tak membuat Abad lantas menelantarkan Kala. Kerap kali sepulang bekerja, diam-diam ia mendatangi Kala dirumah sakit hanya untuk mengantarkan makanan, beberapa kali bahkan mengantarkan makanan ditambah dengan sebuket bunga. Di waktu-waktu Kala mendapatkan libur, Abad selalu mengajaknya berpergian, entah menonton film berdua, entah membelanjakan Kala dengan barang-barang kesukaannya, atau menemani Kala ke pantai tempat favorit gadis itu. Kala bahagia memiliki Abad yang selalu mengerti apa maunya tanpa ia minta, Abad pun sama bahagia memiliki Kala si gadis unik dengan isi kepala yang membuatnya begitu dalam jatuh cinta.

¤¤¤

Warna langit sore itu mulai tampak bervariasi, ada jingga yang diselingi dengan sedikit merah muda, kemudian dijejeri dengan kebiruan langit yang nampak menyembul malu-malu dilengkapi pula dengan pendar mentari yang mulai memudar sebab ia hendak menggulirkan tugasnya pada rembulan. Disebuah sudut pantai di barat kota, sepasang manusia itu tampak bercengkrama dengan hangat. Duduk manis diatas sebuah hammock yang dipasang diantara dua pohon kelapa, ditemani dengan seplastik besar cemilan dan alunan musik klasik yang mengalun merdu dari speker portable yang mereka bawa, membuat suasana semakin hangat nan syahdu seolah dunia hanya miliki sepasang itu berdua.
“Bad, aku mau nanya suatu hal.” Kala menatap Abad tepat di kedua retinanya.
“Apa?” Abad merogoh-rogoh bungkus keripik kentang kemudian dengan santai melahapnya satu persatu.
Kala membuang pandangan, menatap langit berlumur senja dihadapannya, “kamu serius sama aku?”
Abad mendongak, dahinya berkerut, “serius maksudnya?”
“Ya serius menjalani hubungan kita ini. Gamau main-main. Mau sampai jenjang pernikahan, gitu.” Kala menghela nafas panjang, mengeluarkan pertanyaan ini seperti melepaskan satu beban berat di kepalanya. Matanya masih menatap lurus pada laut, tak berani menatap mata Abad yang kini sedang menatap padanya.
Abad meletakkan keripik kentang yang ia pegang demi kemudian meraih tangan Kala dan menggenggamnya erat. Kala tak kuasa menahan diri, seketika ia langsung menatap mata Abad dengan lurus, “Kala… Sangkala Indah Lestari-ku… aku rasa aku ga perlu berjanji dan berkoar-koar ke kamu kalau aku akan serius lah begini lah begitu lah, dengan semua perlakuanku selama ini ke kamu, apa belum cukup aku membuktikannya? Apa belum kamu rasakan sebesar apa aku menyayangi kamu?”
Kala terdiam, tangannya gemetar, entah karena tak mampu menjawab, entah karena merasakan begitu banyak cinta hinggap diantara genggaman tangan itu.
Melihat Kala terdiam, Abad tersenyum, kemudian mengelus pipi gadis itu dengan lembut, “Kal, kamu masih kurang yakin ya?” Abad tertawa kecil, “perempuan memang begitu ya, selalu butuh pembuktian.”
Kala masih diam.
“Kamu mau bukti apa lagi, Sayang?” tanya Abad kemudian.
Sebenarnya Kala juga tak tahu ia butuh bukti apa lagi, sebab benar seperti apa yang Abad ucapkan, semua pengorbanan bahkan perlakuan manis bertubi-tubi yang selalu Kala terima sudahlah cukup, bahkan lebih dari cukup. Pertanyaan itu, hanyalah  dorongan hatinya yang begitu penasaran dan ingin lebih diyakinkan sedikit saja dengan kata-kata. Tak lebih.
“Begini saja, gimana kalau kapan-kapan aku ajak kamu kenalan sama orangtuaku biar kamu yakin kalau aku ini serius sama kamu, oke?”
Kala tergelagap, matanya melotot detik itu juga. Abad tertawa.
“Engga, Kal. Engga sekarang juga. Nanti tunggu kamu siap. Kapanpun kamu siap kamu kasih tahu aku ya. Yang jelas aku sudah bilang ke kamu ya, aku memang berniat untuk ngenalin kamu ke orangtuaku. Tinggal eksekusinya aja, tunggu kamu siap,” Abad mengelus pipi gadis yang begitu dicintainya itu terus menerus, menenangkan.
Kala terdiam, namun senyum terbit dari bibirnya. Rentetan perkataan Abad itu telah berhasil menuntaskan segala pertanyaan yang bersarang kepalanya. Ia spontan memeluk Abad dengan kencang sembari bersyukur dalam hati pada Tuhan bahwa Tuhan telah mengiriminya lelaki yang begitu menyayanginya tanpa banyak bualan.


KESEDIHAN

Sejak hari dimana dirinya benar-benar kehilangan Abad untuk selama-lamanya, Tita memutuskan untuk bangkit. Tangisan di mobil Abad malam itu baginya adalah tangisan terakhir, tangisan yang takkan lagi ia ulang, takkan lagi ada alasan baginya untuk meratapi hal yang sama terus-menerus. Semua memang tak lagi sama bagi Tita, separuh jiwa yang telah menghidupinya selama lima tahun belakangan ini telah tiada, namun Tita tahu, takdir Tuhan takkan pernah salah untuknya, Tita paham ada banyak hal yang lebih baik yang telah Tuhan siapkan dibalik ini semua. Titania Ningtyas Larasati memutuskan untuk beranjak dan tak mau lagi menatap ke belakang.
Seminggu setelah perpisahan pahit itu, Tita memutuskan untuk diam-diam melamar pekerjaan di sebuah perusahaan lain yang bergerak di bidang pembenihan tanaman, dan berselang lima bulan kemudian setelah menjalani beberapa rangkaian tes, Tita diterima. Hatinya begitu mendesak agar ia segera keluar dari tempat bekerjanya saat ini, tidak lain tidak bukan demi satu alasan; ia tak ingin lagi melihat Denish. Tita sebenarnya sungguh telah memaafkan Denish dari lubuk hatinya yang terdalam, namun dengan melihat Denish secara terus-menerus hanya akan membuka luka yang telah ia simpan baik-baik di kotak yang tak ingin lagi ia buka. Oleh sebab itu, pindah dari pekerjaan lamanya, Tita rasa merupakan solusi terbaik.
Hari ini adalah hari terakhir Tita bekerja di perusahaan jamu tempatnya bernaung selama beberapa bulan belakangan ini. Tita datang lebih pagi demi membereskan kubikelnya sekaligus mengemas barang-barangnya untuk dibawa pergi. Selesai mengemas semuanya, Tita bergegas pergi ke auditorium kantor di lantai enam, disana teman-teman kantornya sudah menunggu. Rekam jejak pekerjaan Tita yang sangat baik meski baru beberapa bulan bekerja, lengkap dengan prestasinya yang mampu membawa penjualan jamu perusahaannya naik berpuluh-puluh persen melalui pemasaran dan strategi branding yang apik, membuat Tita diganjar dengan hadiah sebuah perayaan perpisahan yang langsung dikomandoi oleh manager perusahaan sebagai ucapan terimakasih.
Tita masuk ke ruang auditorium tepat pukul sebelas siang, ruang tampak sudah ramai, bermacam-macam hidangan kecil hingga makanan berat tersusun rapi hampir disusun ruangan. Di depan auditorium, terpajang rapi sebuah mimbar yang telah dihias dengan pita warna-warni cantik. Tampak beberapa petinggi perusahaan tampak berbincang disana.
Butuh beberapa menit hingga semua orang menyadari Tita telah hadir di ruangan yang tentu saja langsung disambut dengan sapaan dan pelukan hangat bertubi-tubi sebagai ucapan perpisahan. Tak terkecuali Denish, di sudut ruangan, sembari meneguk cocktail dingin ditangannya, matanya tak mampu berkedip memandangi Tita dari jauh. Silih berganti semua orang menyambangi Tita, memeluk kemudian mengucapkan sepatah dua patah kata yang disambut dengan senyum manis gadis itu. Denish sama halnya, ingin melakukan hal itu juga, namun ia tahu kehadirannya adalah sesuatu yang sangat Tita hindari, bahkan tanpa Tita jelaskan pun Denish tahu Tita pindah dari perusahaan ini sebab dirinya, sebab Tita ingin menjauhi Denish sejauh Neptunus memunggungi matahari.
Acara dimulai tepat pukul dua belas siang yang diawali dengan sambutan dari manager perusahaan dilanjutkan dengan sambutan sekaligus ucapan perpisahan dari Tita dan diakhiri dengan makan siang bersama. Namun Denish masih ditempat semula, tak bergerak barang sesenti juga, matanya masih bertumpu disatu titik yang sama, gadis dengan balutan dress batik berwarna pink pastel bernama Tita.
Denish tak mampu lagi menahan, debaran didadanya semakin tak beraturan, dari seluruh manusia yang berada di ruangan ini, Denish yakin ialah yang paling kehilangan dan terluka.
Tepat ketika satu persatu pegawai mulai meninggalkan auditorium, ruangan tampak sepi hingga hanya tersisa beberapa pegawai yang merupakan teman satu divisi Tita, Denish memutuskan mendekat, memberanikan diri menatap wajah Tita tepat didepan dikedua bola matanya, sebab Denish tahu sesudah ini mungkin Tita tak akan lagi ia bisa jangkau dari jarak pandang.
“Ta…” Denish menyentuh punggung Tita yang sedang asyik duduk bercengkrama diantara teman-temannya disebuah meja bundar di tengah ruangan. Sontak tawa yang sedang berdengung itu terhenti seketika, Tita menoleh dan nyaris jatuh dari duduknya begitu melihat siapa yang berdiri dihadapannya saat ini. “Boleh bicara?” tanya Denish kemudian.
Tita menarik nafas panjang, berusaha menyeimbangkan hati dan kepalanya yang terasa sakit luar biasa. Bibirnya kaku, tak tahu mau berucap apa.
Teman-teman satu divisi Tita yang menyadari bahwa sepertinya hal ini merupakan ranah pribadi satu persatu pamit undur diri meninggalkan Tita dan Denish berdua dengan kabut kecanggungan yang menyelimuti.
Denish mengambil kursi disebelah kiri Tita tanpa permisi, matanya menatap wajah gadis itu lekat. Sementara Tita masih sibuk membuang pandang. Kakinya sungguh ingin beranjak, namun hatinya menyuruhnya tinggal, entah dengan alasan apa.
“Ta, saya mau minta maaf.” Ucap Denish memecah keheningan.
Tita meneguk air mineral didepannya, menghilangkan kecanggungan. Pandangannya masih ia buang jauh-jauh dari wajah Denish, “sudahlah, Nish. Saya gamau bahas lagi.”
“Tapi apa kamu sudah maafin saya?”
“Sudah.”
“Yakin?”
“Ya.”
“Kalau benar kamu sudah maafin saya, seharusnya kamu gaperlu takut bicara sambil melihat wajah saya, Ta.”
Tita tersenyum sambil menggeleng, ada sebutir kepahitan yang tertelan dikerongkongannya detik itu juga, “Nish, saya gamau lagi dekat dan lihat kamu sampai waktu yang saya juga gatau pastinya. Karena dengan dekat dan lihat kamu, saya jadi teringat semua kejadian menyedihkan itu. Saya gamau membuka luka lama saya lagi, Nish. Tolong kamu mengerti ya.” Tita semakin jauh membuang pandang, ada setangkup perasaan acak yang mendadak menyelimuti hatinya. “Tapi suatu saat, ketika luka saya sudah sembuh, ketika hati saya sudah baik-baik saja, saya pasti juga udah biasa aja kok ketemu kamu, Nish. Entah waktu kita ga sengaja ketemu di jalan, entah saya ga sengaja ketemu kamu di suatu acara, yang jelas akan ada saatnya semua perasaan saya baik-baik aja lagi kaya dulu.”
Denish tercenung, matanya berkaca-kaca.
“Nish, sudah ya, saya pamit,” Tita beranjak dalam hitungan detik, berlari kecil, dan kemudian menghilang dibalik pintu auditorium meninggalkan Denish yang terpaku dengan jiwa separuh melayang, pikiran berantakan, dan air mata yang tak mampu tertahan. Denish menangis dalam sunyi. Sakit yang ia rasa, pedih kehilangan yang begitu hebatnya, tak mampu lagi ia tahan di dalam dada. Denish hancur-sehancur-hancurnya.

¤¤¤

Demi semakin menghilangkan jejak, Tita tak hanya pindah bekerja, ia juga memutuskan untuk berpindah tempat tinggal. Tita meninggalkan indekosnya yang lama dan berpindah di sebuah rumah yang ia sewa berdekatan dengan kantor barunya di timur kota. Tita benar-benar ingin menghilang dari jangkauan Denish dan membunuh semua kenangan menyakitkan yang ia rasakan.
Sore itu, Tita pindah dari indekos lamanya dengan menyewa sebuah mobil pengangkut barang. Kemudian langsung berbenah menyusun barang-barangnya dirumah sewanya yang baru. Tita menata satu persatu barang-barang dikamarnya sembari membayangkan disetiap barang yang ia susun, satu keping hatinya turut ia susun juga, semakin banyak barang yang ia rapihkan, maka semakin banyak pula puing-puing hatinya yang ia bereskan. Semakin tertata rumah itu ditangannya, Tita dapat merasakan gerbang baru kehidupannya pun sudah turut tertata di depan mata.
Tita merebah diri di kursi ruang tengah, melepas lelah, hampir selesai ia merapikan rumah itu, hanya tersisa bagian dapur saja. Membunuh waktu sembari mengumpulkan tenaga lagi, Tita membuka ponselnya, sebuah notifikasi tertera disana bahwa Abad baru saja mengunggah sebuah foto baru di media sosial. Tangan Tita tak mampu lagi menahan debar penasaran, segera dibukanya notifikasi itu, yang berujung dengan debuman keras yang menghantam hatinya hingga ke dasar jurang.
Foto itu, dengan dilatar belakangi lautan awan dan sebuah papan bertuliskan “Mt. Sumbing 3371 mdpl” lengkap dengan sembulan mentari yang malu-malu tertutup kabut, Abad merangkul sesosok gadis disebelah kirinya dengan begitu mesra. Gadis itu tampak cantik dengan balutan jaket tebal berwarna hijau toska dan topi kupluk rajut berwarna cokelat susu membingkai wajahnya. Senyum gadis itu tampak sumringah dengan deretan gigi yang nampak rapi. Cantik sekali.
Tita mengelus dadanya berulang kali, berusaha meredakan nyeri yang datang lagi. Air matanya nyaris menetes namun kemudian ia teringat kembali bahwa ia sudah berjanji takkan menangisi luka ini lagi. Namun semakin Tita mengelak semakin Tita tak bisa mengingkari, bak segala yang ia tata rasanya hancur seketika, hatinya yang sudah jauh lebih baik itu kini justru terjerembab semakin dalam tatkala melihat caption foto itu dengan seksama. Sebuah nama yang Tita yakini sebagai nama gadis yang dirangkul Abad itu, ditulis dengan lengkap dan begitu manis sebab diujung nama itu Abad menyelipkan sebuah tanda hati; Sangkala Indah Lestari♥

¤¤¤

Tepat pukul dua belas siang, satu persatu pegawai perusahaan pembenihan tanaman ternama itu mulai meninggalkan ruangan berhamburan menuju kantin perusahaan, beberapa bahkan nekat menembus macetnya kota demi menikmati santap siang diluar yang sesuai dengan selera. Namun disalah satu sudut kubikel di lantai lima belas, Tita masih termangu dengan segudang berkas pengajuan sampel benih yang masuk, kepalanya semakin berdenyut ketika Baskoro, salah seorang staf ahli rekan kerjanya, kembali datang menghampiri kubikel Tita dengan membawa setumpuk berkas baru, “take your time, Ta, yang semangat. Baru dua minggu kan disini? Belum dua tahun?” Baskoro berceloteh kemudian tertawa kecil lantas meninggalkan Tita yang tertunduk lesu.
Tita menghempas tubuhnya ke sandaran kursi, tangannya menjamah satu persatu berkas yang ada di hadapannya tanpa keengganan lebih jauh untuk membaca isi berkas-berkas tersebut. Perutnya terasa lapar, namun terlalu malas untuk beranjak membeli makanan karena lelah.
Tita memejamkan mata, berharap bisa tertidur pulas, lalu lupa akan segala hal yang harus ia kerjakan. Namun sedetik kemudian, ponselnya berbunyi nyaring, meraung-raung dari balik tas yang ia letakkan di sampiran kursi.
Tita melenguh, malas-malasan mengangkat telepon yang bahkan ia belum tahu dari siapa itu. Dirogohnya tas dengan setengah hati, matanya membuka dengan setengah sadar demi pada detik berikutnya ia terkejut setengah mati melihat sebuah nama yang tak pernah ia duga akan menghubunginya tiba-tiba. Sekelebat sosok perempuan cantik nan anggun dengan balutan jilbab membingkai wajahnya yang tirus, lengkap dengan tubuhnya yang gemulai, cara bicaranya yang santun, bertubi-tubi hadir di kepala Tita. Segala kenangan bersama perempuan paruh baya itu pun kontan menyeruak tanpa bisa Tita tolak. Pelukan hangatnya, canda tawanya, raut wajahnya, sorot matanya, segalanya. Tita masih ingat semua, bahkan mungkin tak pernah akan lupa.
Tita memandangi lamat-lamat sekali lagi nama yang masih menderingkan ponselnya itu, sebuah nama yang ia ketik dengan panjang lebar sebagai tanda hormat pada sang penyandang, “Ibu Arita Kusuma Negara”


BERSAMBUNG....