TANGGAMAR
Tanggamar
namanya, satu-satunya gunung yang berada di kota dengan lanskap laut dan
jejeran sawah itu. Gunung itu berdiri gagah tepat di barat daya kota dengan
jarak tempuh hanya setengah jam. Puncak Tanggamar selalu di selimuti awan, kaki
gunungnya selalu berhasil menyebarkan hawa dingin, Tanggamar adalah segunduk
misterius karunia Tuhan yang menyimpan sejuta keindahan.
Berbondong-bondong
orang kerap kali menyambangi Tanggamar, jalur pendakiannya memang sudah cukup
terkelola, bahkan ada guide khusus yang disediakan warga sekitar dengan bayaran
yang cukup murah. Ketinggian Tanggamar yang hanya 2153 mdpl, membuat Tanggamar
cocok untuk pendaki pemula atau bagi mereka pendaki ulung yang sedang ingin
melepas penat.
“Kamu sering
naik gunung?” tanya Abad pada Kala sesudah mereka berhasil memarkirkan motor di
tempat parkir terkelola bagi pendaki di kaki gunung Tanggamar. Abad
mengencangkan jaketnya, hawa dingin mulai terasa. Jejak kakinya dan Kala mulai
melangkah menuju pintu masuk jalur pendakian.
Kala mengangguk,
“udah dua kali kalau naik Tanggamar. Ga mungkin aku berani ngajak kamu naik
Tanggamar berdua tanpa guide kalau aku sendiri belum pernah naik Tanggamar.”
“Kamu juga suka
naik gunung? Kenapa ga pernah cerita?”
Kala tertawa
kecil, jalur yang dilalui mereka berdua masih berupa jalan datar tanah, belum
terlalu menguras tenaga, “makanya aku ngajakin kamu kesini, biar sekalian aku
cerita,” Kala mendelik pada Abad, “kamu udah pernah naik gunung?”
Abad tersenyum
simpul, “Kalau naik Tanggamar belum pernah,” Abad memotong kalimatnya sesaat,
“kalau naik Semeru, Rinjani, Kerinci, Prau sama Sindoro udah pernah,” lanjutnya
kemudian.
Kala tercengang
mendengar kalimat barusan keluar dari bibir Abad tanpa beban, seolah yang baru
ia sebutkan tadi adalah nama-nama tempat makan instragamable di kota mereka
yang mudah dijangkau, bukan nama-nama beberapa gunung terbaik di Indonesia
dengan jalur pendakian yang tak mudah. “Kamu kok ga pernah cerita?” tanya Kala
setelah terdiam beberapa saat.
“Makanya aku mau
kamu ajak kesini, biar sekalian cerita.” Abad menjawab persis menirukan jawaban
Kala tadi kepadanya.
Kala tergelak,
meninju lengan Abad pelan.
“Kamu udah
pernah naik gunung mana aja? Aku pikir kamu cuma suka pantai.” Tanya Abad
kemudian.
“Cuma pernah
naik Tanggamar, Marapi sama Dempo aja kok,” Kala bergidik mengakui kekalahannya.
Abad jauh telah menang pengalaman tentang hal mendaki gunung rupanya. “Aku suka
lihat pantai dari dekat, tapi lihat pantai dari ketinggian kaki-kaki gunung itu
lebih menyenangkan.” Kala tersenyum.
“Pantesan kuat
juga bawa carrier 60 liter isi tenda,” Abad menepuk-nepuk carrier yang
digendong Kala dengan kokoh, kemudian tertawa.
Langkah kaki
mereka pun semakin menjauh masuk ke dalam areal hutan di kaki gunung, semakin
dalam, menghilang ditelan tanjakan demi tanjakan Tanggamar.
¤¤¤
Memasuki pintu
rimba Tanggamar yang ditandai dengan banyaknya pohon-pohon besar berlumut
lebat, Kala dan Abad memutuskan untuk istirahat sejenak. Mereka kompak duduk
tepat ditengah jalan jalur pendakian sembari meluruskan kaki.
Kala melirik jam
tangannya, “jam 12 siang, kita bakal sampai di puncak mungkin jam 3 sore kalau
ga istirahat lagi.”
Abad mengangguk,
menenggak dengan rakus sebotol air mineral berukuran sedang. Dibukanya carrier
yang ia gendong lalu mengeluarkan dua potong roti dan memberikan salah satunya
pada Kala.
“Kal…” panggil
Abad pada Kala yang tengah khidmat mengunyak roti isi cokelatnya.
Kala menjawab
dengan gumaman.
“Kamu kenapa
jauh-jauh banget mau jawab penyataan aku aja sampai harus ajak aku naik
gunung?” tanya Abad tanpa basa-basi.
Kala diam
beberapa detik, tengah menyusun kalimat demi kalimat di kepalanya. “Kamu tahu
gak? Sifat asli seseorang itu keluar ketika ada di keadaan kaya gini.”
“Keadaan ‘kaya
gini’ maksudnya?”
“Hidup ditengah
hutan dengan cuaca dingin, jalanan naik turun, tanjakan licin, stok makanan ga
banyak, jauh dari penduduk, dikelilingi binatang liar yang kita gatau gimana
rupa dan bisa ada dimana saja, cuma bisa mengandalkan bantuan orang yang lagi
sama kita, itu maksud aku,” Kala meneguk air mineralnya, “itulah kenapa gunung
itu tempat yang pas untuk kamu tahu apakah orang yang kamu ajak naik gunung itu
apa pantas juga untuk kamu ajak hidup bersama. Karena sifat asli seseorang itu
akan benar-benar nampak di situasi, keadaan dan tempat penuh keterbatasan kaya
gini.”
Abad terdiam,
sebanyak apapun gunung yang ia daki, ia belum pernah mendengar filosofi ini.
“Terus, selama kita mendaki beberapa jam ini kamu sudah berhasil menilai aku?”
Kala mengangguk
kecil, “masih sedikit, soalnya belum sampai puncak,” jawab Kala sembari
teringat kejadian-kejadian selama beberapa jam belakangan ini. Kala mengakui,
Abad adalah sosok yang sabar, dengan telaten ia memegangi tangan Kala ketika
melewati jalur licin, dengan tabah ia menunggui Kala untuk duduk istirahat selama
beberapa menit, dengan perhatian ia selalu memberikan Kala handuk kecil untuk
membasuh keringat di dahinya. Namun bagi Kala, itu belumlah membuktikan banyak
hal. Tunggu saja nanti. “Ayo, lanjut jalan.” Kala mengulurkan tangannya pada
Abad, hendak membantu lelaki itu bangun.
Abad menyambut
uluran tangan itu dan perjalanan pun kembali dilanjutkan. Undakan-undakan
semakin curam, pohon-pohon besar semakin rapat terlihat, udara dingin semakin
mencekam. Kala dan Abad semakin mendekati puncak Tanggamar.
¤¤¤
Langkah Kala dan
Abad terhenti tepat di sebuah tanjakan berbentuk tebing dengan tinggi sekitar
25 meter bersudut kemiringan hampir 90 derajat. Ada dua buah tali menjuntai
yang sepertinya memang disediakan khusus untuk para pendaki menaiki tanjakan
ini. Kala dan Abad saling pandang sesaat kemudian serempak menarik nafas
panjang.
“Aku pikir
Tanggamar ga ada ginian,” Abad menggeleng sambil tersenyum.
Sedetik kemudian
tiba-tiba Kala jatuh terduduk sembari memegangi kepalanya, matanya tampak
terpejam.
“Kal… kamu
kenapa?” Abad kontan menghampiri Kala lalu mengguncang kecil tubuh gadis itu.
Kala menggeleng
kecil, “kepalaku tiba-tiba pusing banget, badanku lemes,” suara Kala terdengar
begitu lemah.
Abad kontan
membongkar ranselnya lalu menyerahkan pada Kala sebungkus roti sobek berukuran
besar serta sebotol air mineral berukuran 1.5 liter, “ini kamu makan dulu,
terus nanti aku gelarin matras ya, kamu tiduran aja sambil kepalanya aku
pijat.” Kala menurut, mengikuti perintah Abad tanpa perlawanan. Roti itu
dihabiskannya pelan-pelan demi kemudian berbaring diatas matras yang telah Abad
gelar.
Abad dengan
sigap mengeluarkan obat-obatan yang dibawanya dan menemukan minyak kayu putih
disana. Dipijatnya kepala Kala dengan lembut sembari sesekali bergantian
mengoleskan minyak kayu putih itu ke telapak tangan Kala agar Kala tidak
kedinginan.
“Kal, apa kita
turun aja?” tanya Abad kemudian.
Kala menggeleng
dengan cepat, “engga, aku mau sampe puncak.”
“Tapi, Kal, kamu
sakit.”
“Engga, Bad. Aku
mau sampe puncak. Kita harus ke puncak. Sedikit lagi. Setelah tebing ini,
jalannya sudah lumayan datar dan cuma ada beberapa tanjakan kecil sampe ke
puncak.” Kala tetap keras kepala.
Abad menghela
nafas panjang, mengalah, memutuskan untuk kembali memijati kepala Kala agar
gadis itu lekas membaik.
Setengah jam
kemudian, Kala mulai menggerakkan tubuhnya, ia bangkit duduk, “ayo, Bad, kita
jalan lagi, biar bisa liat sunset di puncak.” Kala menatap Abad dengan senyum
simpul terukir di bibirnya, “aku udah gapapa kok, udah baik-baik aja.”
Abad tersenyum,
mengangguk, lalu membereskan matras. “Carrier kamu biar aku aja yang bawa,”
seru Abad kemudian.
Kala menoleh,
mengernyit, “hah?”
“Iya, carrier
kamu biar aku aja yang bawa. Tebing ini curam, Kal. Sulit dilalui dengan
keadaan badan ga sehat. Kamu tunggu sebentar disini ya. Aku naik keatas bawa
carrier kita, nanti aku turun lagi, terus nanti aku gendong kamu naik keatas,
oke?”
“Tapi, Bad…”
“Udah, ikut
aja,” kali ini Abad yang menunjukkan kekerasan kepalanya. Dengan gerakan cepat
ia membopong carriernya dibelakang sedangkan carrier Kala di depan. Kakinya perlahan
mulai menapak pada kaki tebing sembari memegang tali. Ditengoknya Kala yang
berdiri dibelakangnya sesaat, “tunggu sebentar ya, Kal, ga bakal lama kok.”
Abad memantapkan
ancang-ancangnya, lalu perlahan mulai menaiki tebing itu dengan posisi berdiri.
Baru beberapa langkah, kakinya tersandung, dan nyaris jatuh. Tubuhnya
terpelanting diantara bebatuan tebing namun tangannya tetap kokoh memegang tali
agar tubuhnya tak merosot. Kala menjerit menyaksikan adegan itu. Namun beberapa
detik kemudian Abad mulai menyetabilkan keseimbangannya. Digenggamnya kembali
tali itu kuat-kuat, kali ini ia memilih menanjaki tebing itu dengan berjongkok.
Dititinya tali itu perlahan-lahan hingga punggungnya semakin mengecil dan
menjauh dari jarak pandang Kala.
¤¤¤
Abad bergerak
dengan sangat cepat, pengalamannya mendaki gunung-gunung dengan jalur terjal
membuat tubuhnya begitu tangguh menghadapi medan Tanggamar. Kurang dari satu
jam, ia sudah kembali berada di tempat Kala berdiri menunggunya.
“Ayo, sekarang
giliran kamu yang aku gendong, ayo sini,” Abad berjongkok sembari menepuk-nepuk
pundaknya, memerintahkan Kala naik ke gendongannya. Kala pasrah, memeluk pundak
Abad dari belakang, melingkari tangannya di leher Abad, “siap? Satu… dua…
tiga…” dengan gagah Abad membopong Kala di punggungnya, tak gentar sedikitpun
kakinya melangkah membawa Kala yang berbobot 50kg itu. Abad mendekati kaki
tebing, menggenggam tali, menarik nafas panjang mengambil ancang-ancang.
Perlahan kakinya mulai menapak, berjalan sangat hati-hati, sementara itu Kala
terdiam di belakang punggungnya dengan tangan yang mencengkeram tubuh Abad
kuat-kuat. Abad mulai menurunkan posisi tubuh, tidak seperti tadi, Abad kali
ini memilih posisi setengah duduk untuk meniti tebing dengan hati-hati.
Sesekali ia membenarkan posisi tubuh Kala yang agak merosot digendongannya.
Kala terdiam di
balik punggung Abad, merasakan kehangatan tubuh lelaki itu yang tepat bersentuhan
dengannya. Telinganya dapat mendengar degub jantung Abad dari balik punggung
dengan jelas. Kala meraba dadanya, seolah berusaha menyamakan irama debar itu
agar sama. Jemarinya satu-persatu mulai mengetuk-ngetuk
dadanya sendiri, menghitung denyut demi denyut yang mulai semakin cepat ia
rasa. Kepalanya lepas landas, semakin tenggelam dengan kenyamanan dibalik
punggung kokoh itu. Kala tahu, kesempatan ini takkan pernah datang dua kali.
“Kal…” Abad
memanggil dengan nafas tersengah-sengah, “kamu baik-baik aja?” kakinya masih
terus meniti tebing itu perlahan, tak berhenti barang sedetikpun.
“Iya, aku
baik-baik aja,” selama ada kamu, sambung Kala dalam hati kemudian tersenyum.
Dipeluknya tubuh Abad semakin erat.
Sepuluh menit
kemudian, mereka tiba diujung tebing, sebuah dataran dengan hamparan tanah
berlumut, berhias pohon-pohon dengan diameter yang lebih besar dan lebih
rimbun. Kala turun dari punggung Abad, Abad terduduk kemudian sembari mengatur
nafasnya yang nyaris terputus.
Kala
berinisiatif mengeluarkan air mineral dari tasnya dan menyodorkannya kepada
Abad. Dihapusnya peluh yang bercucuran dari dahi Abad menggunakan lengan
jaketnya secara bergantian.
Detik berlalu
tanpa sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Kala hanya terus memandangi
Abad yang masih sibuk mengatur nafas, sementara Abad sedang berusaha
menyetabilkan nafasnya yang justru semakin menderu akibat tatapan Kala yang begitu
tampak lembut itu disebelahnya.
“Mau jalan
lagi?” tanya Abad kemudian, membunuh keheningan.
Kala menggeleng,
“nanti dulu, tunggu kamu ga capek lagi.”
Abad melirik jam
tangannya, “jam empat sore, Kal. Nanti kita gabisa liat sunset di puncak,” ucap
Abad kemudian, mengingat tadi Kala berkata bahwa ia begitu menginginkan melihat
matahari terbenam di puncak Tanggamar. “Ayo. Sedikit lagi kan?”
Kala tersenyum,
mengangguk, semangatnya kembali membara, “iya, tinggal jalan sedikit, terus
naik tiga tanjakan kecil-kecil lagi.”
“Carrier kamu
biar aku yang bawain,” seru Abad kemudian.
“Jangan, Bad…
jang…” belum sempat Kala menyergah, lelaki berisi kepala abstrak itu sudah
lebih dahulu membopong carrier Kala dibagian depan, sementara carrier miliknya
di belakang, persis seperti saat hendak menaiki tebing.
“Udah, Ayo!”
Abad menarik tangan Kala dengan tegas, lalu genggaman tangan itu berubah
menjadi begitu lembut. Kala dapat merasakan ada perasaan berbeda yang membuat
genggaman tangan Abad itu terasa lain dari seluruh genggaman tangan yang pernah
ia dapat. Genggaman tangan itu seperti mendobrak hatinya seketika, mengalirkan
perasaan yang begitu kuat, membuat hatinya lapang dan menjadi sebegitu yakinnya
detik itu juga. Kala merasakan begitu banyak perasaan meluap-luap dikepalanya.
Seperti baru saja dididihkan, perasaan itu begitu membara, menyala, siap
meledak bagai kembang api menuju angkasa. Sepasang manusia itu pun terus melaju
dengan tangan saling berkait seolah tak ingin kehilangan satu sama lain.
Langkah kaki
Abad dan Kala terus berpacu tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut
mereka masing-masing. Keduanya seolah sedang merapikan perasaan bersama, seolah
sedang kompak menikmati berbagai perasaan dalam keheningan yang ada.
Puncak mulai
terlihat dengan adanya penunjuk arah bertuliskan “Puncak Tanggamar 100 m”,
melihat tulisan itu, seolah ada suntikan semangat yang masuk ke tubuhnya,
spontan Abad melepas genggaman tangannya pada Kala dan berlari
sekencang-kencangnya menaiki tanjakan terakhir. Kala dengan dorongan kuat dari
dalam dirinya, ikut terpancing melihat adegan itu, kemudian menyusul Abad,
berlari juga, beberapa meter dibelakang lelaki bertubuh atletis itu.
Tanah datar mulai
terlihat, Abad semakin memacu langkah dan akhirnya tiba di puncak Tanggamar
dengan hati lega luar biasa. Larinya terhenti demi memberondong habis pemandangan
kumpulan awan dan mentari yang menyemburat jingga di depannya. Dijatuhkannya
kedua carrier yang ia bawa agar tangannya leluasa merentang, menangkap setiap
udara yang hinggap di sekitarnya. Matanya kemudian terpejam menikmati sinar
mentari yang menerpa wajah. Kala menyusul di belakangnya beberapa detik
kemudian, dan spontan langsung menjatuhkan pelukannya pada tubuh Abad dari
belakang. “Abadi Kusuma Negara, Sangkala Indah Lestari menerima cintamu.”
Ceracaunya sedetik kemudian.
Abad kontan
membuka matanya, memutar tubuh, menatap Kala dengan terkejut, “apa? Kamu bilang
apa, Kal?”
Kala terdiam,
bukannya menjawab, ia justru kembali memeluk Abad, begitu kencang, kemudian
menangis tersengguk-sengguk. “Abadi Kusuma Negara, Sangkala Indah Lestari ini
begitu mencintaimu sedari dahulu. Sedari pandangan pertama kita bertemu. Sejak
saat itu, bahkan setiap bertemu denganmu Sangkala Indah Lestari ini harus
mengontrol diri mati-matian agar tak ada perasaan bergejolak-gejolak yang
terlalu ditunjukkan. Maafkan Sangkala Indah Lestari ini atas segala kemunafikan
dan kebohongan yang selama ini dituturkan. Maafkan Sangkala Indah Lestari ini
telah mengusirmu pergi jauh. Maafkan Sangkala Indah Lestari ini atas segala perkataan
yang menyakiti hatimu,” Kala terdiam sejenak mengatur tangisnya, “maafkan
Sangkala Indah Lestari ini telah merepotkanmu, mengujimu hingga sejauh ini,
berpura-pura sakit demi melihat seberapa besar Abadi Kusuma Negara ini
mencintai diriku, hingga kita tiba di puncak ini, aku sudah tak tahan lagi,
sebegitu yakinnya keyakinan ini sedari tadi sudah membuncah di dadaku dan aku
harus mengatakannya saat ini juga. Terimakasih Abadi Kusuma Negara, terimakasih
telah hadir, mencintaiku, menyayangiku dengan segala kemampuanmu. Terimakasih
telah hadir di muka bumi sebagai perpanjangan tangan Tuhan dalam menjagaku,
terimakasih.”
Abad terdiam
mendengar serentetan kalimat yang Kala ucapkan itu. Bibirnya terkatup rapat tak
mampu lagi mengutarakan kebahagiaan yang ia rasakan. Tangannya hanya mampu
membalas pelukan Kala dengan dekap yang lebih erat. Jika bisa, andai saja sayap
dapat tumbuh di punggungnya, tentu saja Abad sudah terbang sebab terlalu
bahagia. Cinta yang selama ini ia tunggu, cinta yang selama ini ia kejar, cinta
yang selama ini selalu bersarang di kepalanya pagi siang sore malam, akhirnya
bersambut, akhirnya menemukan titik pulang, akhirnya menemukan sandaran sesuai
yang ia harapkan.
Berlatar
belakang mentari yang mulai turun ke peraduan, langit sore yang menyemburatkan
jingga lengkap dengan awan yang berkumpul malu-malu, serta disaksikan oleh
kawanan burung di puncak Tanggamar, Sangkala Indah Lestari resmi dimiliki oleh
Abadi Kusuma Negara.
BERBAHAGIALAH
“Bad, aku baru
pulang shift pagi, mantai yuk ntar sore, pusing banget nih butuh hiburan,” ucap
Kala ditelepon sembari membenahi tangannya yang membawa bertumpuk-tumpuk
laporan. Kakinya melangkah keluar dengan cepat dari ruang penyakit dalam.
“Iya, oke. Jam
empat ya aku jemput dirumah. Aku selesain dulu kerjaan aku. Ini aku masih di
lapangan.” Ucap Abad dari ujung telepon sana, terdengar bunyi ekskavator yang
begitu ramai sebagai latar belakang.
“Okey, see ya.
Semangat kerjanya!” Kala mematikan telepon sembari membayangkan wajah lelah
Abad yang sedang berkeringat dibawah terik matahari. Membuatnya rindu.
Sebulan setelah
berpacaran dengan Kala, Abad diterima bekerja sebagai Head Quality Control di
sebuah perusahaan kontraktor ternama di kota mereka dan kini ia sedang di
tempatkan disebuah proyek pembangunan hotel di timur kota. Memasuki bulan
ketiga bekerja, perubahan fisik mulai terjadi pada Abad; kulitnya semakin
melegam namun tubuhnya berubah semakin atletis akibat pekerjaan berat di
lapangan yang kerap ia tangani sendiri. Melihat perubahan itu, Kala justru semakin
tergila-gila dibuatnya.
Syukurnya, jam
kerja Abad yang sangat padat tak membuat Abad lantas menelantarkan Kala. Kerap
kali sepulang bekerja, diam-diam ia mendatangi Kala dirumah sakit hanya untuk
mengantarkan makanan, beberapa kali bahkan mengantarkan makanan ditambah dengan
sebuket bunga. Di waktu-waktu Kala mendapatkan libur, Abad selalu mengajaknya
berpergian, entah menonton film berdua, entah membelanjakan Kala dengan
barang-barang kesukaannya, atau menemani Kala ke pantai tempat favorit gadis itu.
Kala bahagia memiliki Abad yang selalu mengerti apa maunya tanpa ia minta, Abad
pun sama bahagia memiliki Kala si gadis unik dengan isi kepala yang membuatnya
begitu dalam jatuh cinta.
¤¤¤
Warna langit
sore itu mulai tampak bervariasi, ada jingga yang diselingi dengan sedikit
merah muda, kemudian dijejeri dengan kebiruan langit yang nampak menyembul
malu-malu dilengkapi pula dengan pendar mentari yang mulai memudar sebab ia
hendak menggulirkan tugasnya pada rembulan. Disebuah sudut pantai di barat
kota, sepasang manusia itu tampak bercengkrama dengan hangat. Duduk manis
diatas sebuah hammock yang dipasang diantara dua pohon kelapa, ditemani dengan
seplastik besar cemilan dan alunan musik klasik yang mengalun merdu dari speker
portable yang mereka bawa, membuat suasana semakin hangat nan syahdu seolah
dunia hanya miliki sepasang itu berdua.
“Bad, aku mau
nanya suatu hal.” Kala menatap Abad tepat di kedua retinanya.
“Apa?” Abad
merogoh-rogoh bungkus keripik kentang kemudian dengan santai melahapnya satu
persatu.
Kala membuang
pandangan, menatap langit berlumur senja dihadapannya, “kamu serius sama aku?”
Abad mendongak,
dahinya berkerut, “serius maksudnya?”
“Ya serius
menjalani hubungan kita ini. Gamau main-main. Mau sampai jenjang pernikahan,
gitu.” Kala menghela nafas panjang, mengeluarkan pertanyaan ini seperti
melepaskan satu beban berat di kepalanya. Matanya masih menatap lurus pada
laut, tak berani menatap mata Abad yang kini sedang menatap padanya.
Abad meletakkan
keripik kentang yang ia pegang demi kemudian meraih tangan Kala dan
menggenggamnya erat. Kala tak kuasa menahan diri, seketika ia langsung menatap
mata Abad dengan lurus, “Kala… Sangkala Indah Lestari-ku… aku rasa aku ga perlu
berjanji dan berkoar-koar ke kamu kalau aku akan serius lah begini lah begitu
lah, dengan semua perlakuanku selama ini ke kamu, apa belum cukup aku
membuktikannya? Apa belum kamu rasakan sebesar apa aku menyayangi kamu?”
Kala terdiam,
tangannya gemetar, entah karena tak mampu menjawab, entah karena merasakan
begitu banyak cinta hinggap diantara genggaman tangan itu.
Melihat Kala
terdiam, Abad tersenyum, kemudian mengelus pipi gadis itu dengan lembut, “Kal,
kamu masih kurang yakin ya?” Abad tertawa kecil, “perempuan memang begitu ya,
selalu butuh pembuktian.”
Kala masih diam.
“Kamu mau bukti
apa lagi, Sayang?” tanya Abad kemudian.
Sebenarnya Kala
juga tak tahu ia butuh bukti apa lagi, sebab benar seperti apa yang Abad
ucapkan, semua pengorbanan bahkan perlakuan manis bertubi-tubi yang selalu Kala
terima sudahlah cukup, bahkan lebih dari cukup. Pertanyaan itu, hanyalah dorongan hatinya yang begitu penasaran dan
ingin lebih diyakinkan sedikit saja dengan kata-kata. Tak lebih.
“Begini saja,
gimana kalau kapan-kapan aku ajak kamu kenalan sama orangtuaku biar kamu yakin
kalau aku ini serius sama kamu, oke?”
Kala tergelagap,
matanya melotot detik itu juga. Abad tertawa.
“Engga, Kal.
Engga sekarang juga. Nanti tunggu kamu siap. Kapanpun kamu siap kamu kasih tahu
aku ya. Yang jelas aku sudah bilang ke kamu ya, aku memang berniat untuk ngenalin
kamu ke orangtuaku. Tinggal eksekusinya aja, tunggu kamu siap,” Abad mengelus
pipi gadis yang begitu dicintainya itu terus menerus, menenangkan.
Kala terdiam,
namun senyum terbit dari bibirnya. Rentetan perkataan Abad itu telah berhasil
menuntaskan segala pertanyaan yang bersarang kepalanya. Ia spontan memeluk Abad
dengan kencang sembari bersyukur dalam hati pada Tuhan bahwa Tuhan telah
mengiriminya lelaki yang begitu menyayanginya tanpa banyak bualan.
KESEDIHAN
Sejak hari
dimana dirinya benar-benar kehilangan Abad untuk selama-lamanya, Tita
memutuskan untuk bangkit. Tangisan di mobil Abad malam itu baginya adalah
tangisan terakhir, tangisan yang takkan lagi ia ulang, takkan lagi ada alasan
baginya untuk meratapi hal yang sama terus-menerus. Semua memang tak lagi sama
bagi Tita, separuh jiwa yang telah menghidupinya selama lima tahun belakangan
ini telah tiada, namun Tita tahu, takdir Tuhan takkan pernah salah untuknya,
Tita paham ada banyak hal yang lebih baik yang telah Tuhan siapkan dibalik ini
semua. Titania Ningtyas Larasati memutuskan untuk beranjak dan tak mau lagi
menatap ke belakang.
Seminggu setelah
perpisahan pahit itu, Tita memutuskan untuk diam-diam melamar pekerjaan di
sebuah perusahaan lain yang bergerak di bidang pembenihan tanaman, dan
berselang lima bulan kemudian setelah menjalani beberapa rangkaian tes, Tita
diterima. Hatinya begitu mendesak agar ia segera keluar dari tempat bekerjanya
saat ini, tidak lain tidak bukan demi satu alasan; ia tak ingin lagi melihat
Denish. Tita sebenarnya sungguh telah memaafkan Denish dari lubuk hatinya yang
terdalam, namun dengan melihat Denish secara terus-menerus hanya akan membuka
luka yang telah ia simpan baik-baik di kotak yang tak ingin lagi ia buka. Oleh sebab
itu, pindah dari pekerjaan lamanya, Tita rasa merupakan solusi terbaik.
Hari ini adalah
hari terakhir Tita bekerja di perusahaan jamu tempatnya bernaung selama
beberapa bulan belakangan ini. Tita datang lebih pagi demi membereskan
kubikelnya sekaligus mengemas barang-barangnya untuk dibawa pergi. Selesai
mengemas semuanya, Tita bergegas pergi ke auditorium kantor di lantai enam,
disana teman-teman kantornya sudah menunggu. Rekam jejak pekerjaan Tita yang
sangat baik meski baru beberapa bulan bekerja, lengkap dengan prestasinya yang
mampu membawa penjualan jamu perusahaannya naik berpuluh-puluh persen melalui
pemasaran dan strategi branding yang apik, membuat Tita diganjar dengan hadiah
sebuah perayaan perpisahan yang langsung dikomandoi oleh manager perusahaan
sebagai ucapan terimakasih.
Tita masuk ke
ruang auditorium tepat pukul sebelas siang, ruang tampak sudah ramai,
bermacam-macam hidangan kecil hingga makanan berat tersusun rapi hampir disusun
ruangan. Di depan auditorium, terpajang rapi sebuah mimbar yang telah dihias
dengan pita warna-warni cantik. Tampak beberapa petinggi perusahaan tampak
berbincang disana.
Butuh beberapa
menit hingga semua orang menyadari Tita telah hadir di ruangan yang tentu saja
langsung disambut dengan sapaan dan pelukan hangat bertubi-tubi sebagai ucapan
perpisahan. Tak terkecuali Denish, di sudut ruangan, sembari meneguk cocktail
dingin ditangannya, matanya tak mampu berkedip memandangi Tita dari jauh. Silih
berganti semua orang menyambangi Tita, memeluk kemudian mengucapkan sepatah dua
patah kata yang disambut dengan senyum manis gadis itu. Denish sama halnya,
ingin melakukan hal itu juga, namun ia tahu kehadirannya adalah sesuatu yang
sangat Tita hindari, bahkan tanpa Tita jelaskan pun Denish tahu Tita pindah
dari perusahaan ini sebab dirinya, sebab Tita ingin menjauhi Denish sejauh
Neptunus memunggungi matahari.
Acara dimulai
tepat pukul dua belas siang yang diawali dengan sambutan dari manager
perusahaan dilanjutkan dengan sambutan sekaligus ucapan perpisahan dari Tita
dan diakhiri dengan makan siang bersama. Namun Denish masih ditempat semula,
tak bergerak barang sesenti juga, matanya masih bertumpu disatu titik yang
sama, gadis dengan balutan dress batik berwarna pink pastel bernama Tita.
Denish tak mampu
lagi menahan, debaran didadanya semakin tak beraturan, dari seluruh manusia
yang berada di ruangan ini, Denish yakin ialah yang paling kehilangan dan
terluka.
Tepat ketika
satu persatu pegawai mulai meninggalkan auditorium, ruangan tampak sepi hingga
hanya tersisa beberapa pegawai yang merupakan teman satu divisi Tita, Denish
memutuskan mendekat, memberanikan diri menatap wajah Tita tepat didepan dikedua
bola matanya, sebab Denish tahu sesudah ini mungkin Tita tak akan lagi ia bisa
jangkau dari jarak pandang.
“Ta…” Denish
menyentuh punggung Tita yang sedang asyik duduk bercengkrama diantara
teman-temannya disebuah meja bundar di tengah ruangan. Sontak tawa yang sedang
berdengung itu terhenti seketika, Tita menoleh dan nyaris jatuh dari duduknya
begitu melihat siapa yang berdiri dihadapannya saat ini. “Boleh bicara?” tanya
Denish kemudian.
Tita menarik
nafas panjang, berusaha menyeimbangkan hati dan kepalanya yang terasa sakit
luar biasa. Bibirnya kaku, tak tahu mau berucap apa.
Teman-teman satu
divisi Tita yang menyadari bahwa sepertinya hal ini merupakan ranah pribadi
satu persatu pamit undur diri meninggalkan Tita dan Denish berdua dengan kabut
kecanggungan yang menyelimuti.
Denish mengambil
kursi disebelah kiri Tita tanpa permisi, matanya menatap wajah gadis itu lekat.
Sementara Tita masih sibuk membuang pandang. Kakinya sungguh ingin beranjak,
namun hatinya menyuruhnya tinggal, entah dengan alasan apa.
“Ta, saya mau
minta maaf.” Ucap Denish memecah keheningan.
Tita meneguk air
mineral didepannya, menghilangkan kecanggungan. Pandangannya masih ia buang
jauh-jauh dari wajah Denish, “sudahlah, Nish. Saya gamau bahas lagi.”
“Tapi apa kamu
sudah maafin saya?”
“Sudah.”
“Yakin?”
“Yakin?”
“Ya.”
“Kalau benar
kamu sudah maafin saya, seharusnya kamu gaperlu takut bicara sambil melihat
wajah saya, Ta.”
Tita tersenyum
sambil menggeleng, ada sebutir kepahitan yang tertelan dikerongkongannya detik
itu juga, “Nish, saya gamau lagi dekat dan lihat kamu sampai waktu yang saya
juga gatau pastinya. Karena dengan dekat dan lihat kamu, saya jadi teringat
semua kejadian menyedihkan itu. Saya gamau membuka luka lama saya lagi, Nish.
Tolong kamu mengerti ya.” Tita semakin jauh membuang pandang, ada setangkup
perasaan acak yang mendadak menyelimuti hatinya. “Tapi suatu saat, ketika luka
saya sudah sembuh, ketika hati saya sudah baik-baik saja, saya pasti juga udah
biasa aja kok ketemu kamu, Nish. Entah waktu kita ga sengaja ketemu di jalan,
entah saya ga sengaja ketemu kamu di suatu acara, yang jelas akan ada saatnya
semua perasaan saya baik-baik aja lagi kaya dulu.”
Denish
tercenung, matanya berkaca-kaca.
“Nish, sudah ya,
saya pamit,” Tita beranjak dalam hitungan detik, berlari kecil, dan kemudian
menghilang dibalik pintu auditorium meninggalkan Denish yang terpaku dengan
jiwa separuh melayang, pikiran berantakan, dan air mata yang tak mampu
tertahan. Denish menangis dalam sunyi. Sakit yang ia rasa, pedih kehilangan
yang begitu hebatnya, tak mampu lagi ia tahan di dalam dada. Denish
hancur-sehancur-hancurnya.
¤¤¤
Demi semakin
menghilangkan jejak, Tita tak hanya pindah bekerja, ia juga memutuskan untuk
berpindah tempat tinggal. Tita meninggalkan indekosnya yang lama dan berpindah
di sebuah rumah yang ia sewa berdekatan dengan kantor barunya di timur kota. Tita
benar-benar ingin menghilang dari jangkauan Denish dan membunuh semua kenangan
menyakitkan yang ia rasakan.
Sore itu, Tita
pindah dari indekos lamanya dengan menyewa sebuah mobil pengangkut barang.
Kemudian langsung berbenah menyusun barang-barangnya dirumah sewanya yang baru.
Tita menata satu persatu barang-barang dikamarnya sembari membayangkan disetiap
barang yang ia susun, satu keping hatinya turut ia susun juga, semakin banyak
barang yang ia rapihkan, maka semakin banyak pula puing-puing hatinya yang ia
bereskan. Semakin tertata rumah itu ditangannya, Tita dapat merasakan gerbang
baru kehidupannya pun sudah turut tertata di depan mata.
Tita merebah
diri di kursi ruang tengah, melepas lelah, hampir selesai ia merapikan rumah
itu, hanya tersisa bagian dapur saja. Membunuh waktu sembari mengumpulkan
tenaga lagi, Tita membuka ponselnya, sebuah notifikasi tertera disana bahwa
Abad baru saja mengunggah sebuah foto baru di media sosial. Tangan Tita tak
mampu lagi menahan debar penasaran, segera dibukanya notifikasi itu, yang
berujung dengan debuman keras yang menghantam hatinya hingga ke dasar jurang.
Foto itu, dengan
dilatar belakangi lautan awan dan sebuah papan bertuliskan “Mt. Sumbing 3371
mdpl” lengkap dengan sembulan mentari yang malu-malu tertutup kabut, Abad
merangkul sesosok gadis disebelah kirinya dengan begitu mesra. Gadis itu tampak
cantik dengan balutan jaket tebal berwarna hijau toska dan topi kupluk rajut
berwarna cokelat susu membingkai wajahnya. Senyum gadis itu tampak sumringah
dengan deretan gigi yang nampak rapi. Cantik sekali.
Tita mengelus
dadanya berulang kali, berusaha meredakan nyeri yang datang lagi. Air matanya
nyaris menetes namun kemudian ia teringat kembali bahwa ia sudah berjanji
takkan menangisi luka ini lagi. Namun semakin Tita mengelak semakin Tita tak
bisa mengingkari, bak segala yang ia tata rasanya hancur seketika, hatinya yang
sudah jauh lebih baik itu kini justru terjerembab semakin dalam tatkala melihat
caption foto itu dengan seksama. Sebuah
nama yang Tita yakini sebagai nama gadis yang dirangkul Abad itu, ditulis
dengan lengkap dan begitu manis sebab diujung nama itu Abad menyelipkan sebuah
tanda hati; Sangkala Indah Lestari♥
¤¤¤
Tepat pukul dua
belas siang, satu persatu pegawai perusahaan pembenihan tanaman ternama itu
mulai meninggalkan ruangan berhamburan menuju kantin perusahaan, beberapa
bahkan nekat menembus macetnya kota demi menikmati santap siang diluar yang
sesuai dengan selera. Namun disalah satu sudut kubikel di lantai lima belas,
Tita masih termangu dengan segudang berkas pengajuan sampel benih yang masuk,
kepalanya semakin berdenyut ketika Baskoro, salah seorang staf ahli rekan
kerjanya, kembali datang menghampiri kubikel Tita dengan membawa setumpuk
berkas baru, “take your time, Ta,
yang semangat. Baru dua minggu kan disini? Belum dua tahun?” Baskoro berceloteh
kemudian tertawa kecil lantas meninggalkan Tita yang tertunduk lesu.
Tita menghempas
tubuhnya ke sandaran kursi, tangannya menjamah satu persatu berkas yang ada di
hadapannya tanpa keengganan lebih jauh untuk membaca isi berkas-berkas
tersebut. Perutnya terasa lapar, namun terlalu malas untuk beranjak membeli
makanan karena lelah.
Tita memejamkan
mata, berharap bisa tertidur pulas, lalu lupa akan segala hal yang harus ia
kerjakan. Namun sedetik kemudian, ponselnya berbunyi nyaring, meraung-raung
dari balik tas yang ia letakkan di sampiran kursi.
Tita melenguh,
malas-malasan mengangkat telepon yang bahkan ia belum tahu dari siapa itu.
Dirogohnya tas dengan setengah hati, matanya membuka dengan setengah sadar demi
pada detik berikutnya ia terkejut setengah mati melihat sebuah nama yang tak
pernah ia duga akan menghubunginya tiba-tiba. Sekelebat sosok perempuan cantik
nan anggun dengan balutan jilbab membingkai wajahnya yang tirus, lengkap dengan
tubuhnya yang gemulai, cara bicaranya yang santun, bertubi-tubi hadir di kepala
Tita. Segala kenangan bersama perempuan paruh baya itu pun kontan menyeruak
tanpa bisa Tita tolak. Pelukan hangatnya, canda tawanya, raut wajahnya, sorot
matanya, segalanya. Tita masih ingat semua, bahkan mungkin tak pernah akan
lupa.
Tita memandangi
lamat-lamat sekali lagi nama yang masih menderingkan ponselnya itu, sebuah nama
yang ia ketik dengan panjang lebar sebagai tanda hormat pada sang penyandang,
“Ibu Arita Kusuma Negara”
BERSAMBUNG....