CINTA DIAM-DIAM
Gista duduk
diberanda rumahnya. Mulutnya sibuk berkomat-kamit sedari tadi. Tangannya
mengenggam sebuah ponsel, dan ponsel itu didekatkannya pada telinga. Ia sedang
menelepon seseorang rupanya.
“Maafin aku
Gi. Tapi apa boleh buat, inilah yang terbaik untuk kita.” Mata bening Gista
mulai berkabut.
“Tapi, Ta. Apa
nggak ada cara lain?”
Gista
menggeleng, walau ia tahu Egi pasti tak bisa melihat gelengannya itu. “Aku
mohon. Kamu mau ya? Ini yang terbaik untuk hubungan kita Gi.”
Terdengar
suara Egi mengehela nafas berat. “Iya, Gis. Aku mau.”
“Makasih ya,
Gi.” Gista mengembangkan senyumnya, walau yang tersungging dibibirnya malah
senyuman yang terasa kecut.
Klik! Gista mematikan sambungan telepon, ia
menenggelamkan wajahnya dibalik kedua telapak tangan mungilnya. Ingatannya
kembali menerawang pada kejadian beberapa hari belakangan ini…
* * * *
Seminggu yang lalu..
Bu Atin membuka lembaran buku absen ditangannya.
Seluruh murid memasang air muka yang tegang, takut kalau-kalau Bu Atin
memasukkan mereka kedalam kelompok anak-anak yang malas dan nakal.
“Kelompok pertama,” Bu Atin kembali membaca deretan
nama murid-murid yang ada didepan matanya. Lalu matanya berhenti di satu titik.
“Kurnia amarta,” sebutnya demikian yang langsung disambut gemuruh sorak-sorai
dari penghuni kelas X-7.
Gista hanya bisa geleng-geleng kepala sambil
mengulum senyum melihat tingkah laku teman-temannya yang super heboh itu.
Malang banget ya, yang bakal satu kelompok sama Kurnia, pikir Gista. Mengingat
Kurnia memang menjadi salah satu murid dengan status most wanted guru-guru di
SMA 58 ini karena kenakalannya yang nggak ketulungan. Bayangkan saja, dalam
satu bulan Kurnia mampu mengoleksi sepuluh sampai lima belas kasus kenakalan disekolah
yang menghasilkan poin dengan jumlah hampir seratus. Ckck!
Kalau saja orang tua Kurnia bukan pejabat didaerah
ini, mungkin dia sudah dikeluarkan dari sekolah.
“Selanjutnya,” sambung Bu Atin lagi. Matanya kembali
meneliti deretan nama murid X-7. Kini ekspresi tegang itu kembali bermunculan
dipermukaan. Seluruh siswa berdoa bersama agar tak menjadi teman sekelompok
Kurnia. “Nedy Fahludy.”
Kontan seluruh kepala siswa terputar kebelakang,
menatap geli Nedy yang duduk dibangku pojok paling belakang, seolah berkata
“Kasian deh lo!”
Sementara itu, Nedy Si gadis Sunda yang berwajah
manis itu hanya mampu terduduk lemas dibangkunya. Wajahnya menunjukkan ekspresi
“hidup segan, mati tak mau”
“Selanjutnya,” Bu Atin angkat suara lagi. Namun tak
seperti tadi, kali ini Bu Atin langsung menyebutkan nama siswa tanpa sempat
diteliti terlebih dahulu. “Gista Alygi.”
Deg! Gista terpaku dibangkunya dengan wajah pucat,
kalau saja nggak ditahan oleh Nianti, teman sebangku Gista. Mungkin tubuh Gista
sudak melorot kelantai kelas yang dingin.
“Udahlah, Ta. Terima takdir aja.” Bujuk Nianti.
“Satu kelompok dengan orang seperti Kurnia adalah
takdir terburuk dari takdir manapun didunia ini.” Kilah Gista sok hiperbolis.
Nianti diam, malas menanggapi.
“Dan yang terakhir adalah..,” suara Bu Atin kembali
terdengar. Membuat Gista dan Nianti yang sempat sibuk sendiri, kembali
mengalihkan perhatiannya pada Bu Atin. “Regi Novio.”
Tring! Seperti ada seorang peri jahat yang
menyihirnya, tubuh Gista kini kembali terpaku membatu. Namun kali ini bukan
hanya wajahnya yang pucat, jantungnya pun ikut berdebar tak karuan, dan aliran
darahnya terasa mengalir begitu lambat. Sebongkah rasa takut menghampiri hati
dan pikirannya.
“Ciyeee.. Gista sama Egi satu kelompok nih!!”
Celetuk Ana dengan suara lantang, disusul dengan gemuruh sorakan siswa yang
lain. Duh! Ini nih yang paling Gista benci dan takutkan, yaitu diejek-ejek
didepan guru.
Gista melirik Egi yang duduk diarah jam 5 dari
tempatnya sesaat, dan menangkap ekspresi diwajah Egi yang tak jauh beda dengan
ekspresi diwajahnya saat ini.
“Memangnya ada apa antara Gista dan Egi?” tanya Bu
Atin bingung.
“Gista sama Egi ‘kan pacaran Bu.” Kali ini Indra,
sang wakil ketua kelas yang berkoar.
Wajah Gista semakin tertunduk kebawah.
Bu Atin menoleh ke arah Gista dengan tatapan penuh
selidik. “Benar itu Gista?”
Gista bergeming, tak menjawab.
Bu Atin malah terkekeh. “Waah, ada juga ya yang mau
sama Egi. Ibu pikir Egi bakal jadi bujang tua.” Canda Bu Atin. Candaan yang sungguh
menusuk hati Gista dan Egi sampai kedasar yang paling dalam.
“Bener banget tuh, Bu! Gista buta kali ya, kok
mau-maunya jadian sama Egi!”
“Iya. Lo pake pelet apa sih Gi?”
“Iya. Lo pake pelet apa sih Gi?”
“Ke dukun mana lo?”
“Lo operasi wajah dulu gih sana! Baru pantes jadi
pacarnya Gista.” Gista menutup kupingnya kuat-kuat mendengar serentetan kalimat
yang entah itu sejenis ejekan, saran, atau candaan dari teman-temannya.
Bu Atin tertawa terbahak-bahak. “Kapan-kapan kalau
mau ke dukun lagi ajak ibu ya, Gi. Ibu juga mau dong melet orang yang ibu
suka.” Gemuruh tawa seisi kelas semakin menjadi-jadi mendengar celotehan Bu
Atin barusan.
Tiba-tiba Gista menghentak meja kasar, lalu berdiri
dari kursinya. Tatapan matanya yang tajam saling beradu dengan tatapan seluruh
murid X-7 dan Bu Atin. Membuat mereka semua bergidik ngeri. “Kalian nggak tahu!
Wajah Egi memang nggak bisa dibilang cakep, tapi hatinya nggak seburuk
wajahnya!!” Gista mulai meluapkan amarahnya. “Mungkin selama ini kalian semua
adalah orang yang buta mata hati! Kalian selalu menilai seseorang dari fisiknya
saja, tapi nggak pernah melihat hatinya! Jadi kalian nggak pernah tau apa yang
gue rasain, dan kalian nggak pernah tau gimana rasanya jatuh cinta sama orang
yang berhati tulus dan sebaik Egi!”
Gista mengusap air matanya yang mulai jatuh. Tubuhnya kini kembali terduduk.
Ia membenamkan kepalanya pada lipatan tangannya yang ada diatas meja. Seluruh kelas, termasuk Egi kini menatap
Gista prihatin. Tak ada satu suara pun yang terucap dari bibir. Suasana kelas
benar-benar sunyi sekarang.
* * * *
“Gis, mau kemana?” Egi mencekal lengan Gista lembut
saat Gista sedang berjalan sendirian dikoridor sekolah.
“Kantin.” Jawab Gista singkat, sambil menghentak
tangan Egi yang menggaetnya lalu kembali berjalan dengan cuek.
“Gis, tunggu!” Egi berlari kecil mencoba menjajari
langkah Gista. “Soal tadi, makasih ya.”
“Soal yang mana?”
“Ya, tadi elo udah belain gue didepan anak-anak yang lain dan didepan Bu Atin.”
“Ya, tadi elo udah belain gue didepan anak-anak yang lain dan didepan Bu Atin.”
Gista menghentikan langkahnya dan menatap
sekililingnya dengan gugup. Saat menyadari dirinya dan Egi tengah menjadi pusat
perhatian orang-orang yang melintas, Gista hanya mampu melempar tatapan cemas
pada Egi. “Hhh, entahlah.”
“Loh kok entah?”
Gista angkat bahu dan lagi-lagi kembali berjalan menyusuri koridor sekolah, namun kali ini dengan langkah terburu-buru seolah sedang ada yang mengejarnya. Meninggalkan Egi, yang masuh tercenung ditempatnya.
Gista angkat bahu dan lagi-lagi kembali berjalan menyusuri koridor sekolah, namun kali ini dengan langkah terburu-buru seolah sedang ada yang mengejarnya. Meninggalkan Egi, yang masuh tercenung ditempatnya.
* * * *
2 hari yang lalu..
“Dy, bahan yang ini kayaknya bagus deh.” Tunjuk
Gista pada salah satu artikel yang ada dilayar laptop milik Nedy.
“Iya. Ambil yang itu aja ya?”
Gista mengangguk. “Udah banyak nih bahannya. Mau
langsung di-print?”
“Ya iyalah Gis,” jawab Nedy, lalu perhatiannya kini
teralih pada Egi yang sedari tadi hanya membaca majalah disalah satu sofa yang
ada diruang tamu rumah Nedy. Egi, Gista dan Nedy sekarang memang tengah berada
dirumah Nedy untuk mengerjakan tugas biologi dari Bu Atin. Kenapa cuma mereka
bertiga yang mengerjakan? Ya karena Kurnia nggak ikut, hehe. Mereka memang
sengaja nggak memberi tahu Kurnia tentang kerja kelompok ini. Takutnya, kalau
Kurnia ikut dateng kerumah Nedy, entar malah bikin kacau aja. Nggak cuma acara
bikin tugasnya yang kacau, tapi rumah Nedy juga bakal ikutan kacau balau.
Secara Kurnia ‘kan perusuh nomor wahid didunia gitu loh! Hehe. “Eh Gi, daripada
lo nganggur mending elo ambil kertas HVS yang ada dikamar gue deh. Ada diatas
meja belajar.” Pinta Nedy halus.
Tanpa diperintah dua kali, dengan sekonyong-konyong
Egi bangkit dari sofa yang ia duduki lalu berjalan menuju kamar Nedy.
“Eh, Gis. Lo kenapa dari tadi diem-dieman mulu sih
sama Egi? Lagi berantem?” tanya Nedy, begitu Egi sudah tak berada disekitar
mereka.
“Nggak kok.”
“Terus?”
“Nggak apa-apa kok, Dy.” Gista memandang layar laptop dihadapannya dengan tatapan kosong. Pikirannya kembali memutar tentang semua kelakuan buruknya akhir-akhir ini terhadap Egi. Memang benar apa kata Nedy barusan. Semenjak kejadian dikelas 5 hari yang lalu, Gista kerap mengacuhkan Egi. Jika Egi menghampirinya dan mengajaknya ngobrol, Gista malah menjauh. Begitu pula jika Egi menelepon atau mengirim pesan singkat padanya. Tak ada satupun yang Gista tanggapi. Egi dan Gista sekarang lebih mirip dengan dua blok sekutu yang sedang telibat perang dan sedang gencar-gencarnya untuk saling adu kekuatan senjata, ketimbang sepasang kekasih yang baru saja menjalin kisah cinta.
“Nggak apa-apa kok, Dy.” Gista memandang layar laptop dihadapannya dengan tatapan kosong. Pikirannya kembali memutar tentang semua kelakuan buruknya akhir-akhir ini terhadap Egi. Memang benar apa kata Nedy barusan. Semenjak kejadian dikelas 5 hari yang lalu, Gista kerap mengacuhkan Egi. Jika Egi menghampirinya dan mengajaknya ngobrol, Gista malah menjauh. Begitu pula jika Egi menelepon atau mengirim pesan singkat padanya. Tak ada satupun yang Gista tanggapi. Egi dan Gista sekarang lebih mirip dengan dua blok sekutu yang sedang telibat perang dan sedang gencar-gencarnya untuk saling adu kekuatan senjata, ketimbang sepasang kekasih yang baru saja menjalin kisah cinta.
“Nih, HVS-nya.” Egi meletakkan setumpuk HVS tepat
didepan wajah Nedy.
“Makasih.” Nedy melempar senyum pada Egi.
Sekilas, mata Egi dan Gista saling beradu pandang.
Namun keduanya buru-buru mengalihkan pandangan mereka masing-masing agar tidak
saling bertumbuk.
“Eh, Ned. Agak cepetan dikit ya nge-print-nya gue
mau pulang.” Ujar Gista.
* * * *
Gista masih
meringkuk diatas kursi kayu tua yang ada diberanda rumahnya. Semua kejadian
yang berkelebat diotaknya tadi, membuat ia tak mampu lagi menahan rasa bersalah
yang begitu besar menyelimuti sekujur tubuhnya. Udara malam yang dingin
merasuki pori-porinya, membuat tubuhnya merasa lemah. Tambah lemah lagi,
setelah semuanya kembali terkuak kepermukaan pikirannya. Salahkah keputusan
Gista ini?
“Gis?”
Gista
mendongak, menyadari seseorang menyentuh pundaknya.“Mama?”
“Loh kamu
kenapa? Kok nangis?” tanya Mama heran, begitu melihat kedua mata Gista yang
sudah berair dan merah.
Buru-buru
Gista menyeka air matanya. “Nggak apa-apa kok Ma. Cuma kelilipan tadi.”
“Ya udah,
masuk gih! Udah jam sembilan malam.”
* * * *
Gista membuka
laci meja belajarnya lalu mengambil sebuah buku diary kecil dan sebuah pena
dari dalamnya. Setelah mengamati buku diary itu sesaat, ia sadar, begitu banyak
cerita yang telah ia ukir didalamnya. Cerita tentang ia, Egi dan cintanya. Entah
mengapa, membayangkan hal itu, membuat Gista sedikit lebih tenang.
Gista
mendudukkan tubuhnya diujung ranjang lalu perlahan membuka halaman buku diary
itu dan menulis sesuatu disana.
Dear diary..
Hari ini aku sudah mengambil keputusan
untuk hubunganku dan Egi.
Aku tahu, mungkin akan terasa berat
menjalani semua ini, tapi apa boleh buat, mungkin ini yang terbaik untuk
kehidupan kami.
Aku hanya tak ingin mendengar cemoohan
orang-orang tentang Egi yang berpacaran denganku. Mereka selalu bilang, Egi tak
pantas untukku. Padahal aku sendiri tak merasakan hal seperti itu. Justru
untukku Egi lah yang terbaik dari semua lelaki yang pernah kutemui, dan hatiku
selalu terasa sakit bila cemoohan itu sampai ditelingaku.
Aku pun tahu, Egi juga pasti merasakan
hal yang sama denganku, yaitu rasa sakit yang mendalam.Maka dari itu, aku
benar-benar tak ingin membuat hati Egi tambah sakit lagi. Karena aku sangat
menyayangi Egi. Aku akan ikut terluka jika Egi terluka.Aku yakin keputusanku
adalah jalan keluar yang paling baik.
Sebelumnya, aku juga ingin minta maaf
pada Egi karena akhir-akhir ini aku menjauhinya. Aku melakukan itu karena aku
tak ingin berita hubungan kami semakin menyebar. Karena jika itu terjadi, akan
lebih banyak lagi orang-orang yang menghujat Egi. Aku tak ingin itu terjadi.
Oh ya, aku pernah dengar dari orang-orang,
kalau pacaran secara diam-diam itu akan menguji adrenalin, karena kita
ditantang untuk menyembunyikan rahasia serapat-rapatnya dan akan selalu
dihinggapi perasaan tegang jika rahasia kita hampir terbongkar.
Makanya aku dan Egi ingin mencobauntuk
merasakan semua hal itu sekarang. Bukankah seru dan mengasyikan bukan?! ;)
Gista menutup buku
diary-nya dengan senyum mengembang. Lega rasanya telah mengungkapkan seluruh
isi hati walau hanya didalam bentuk tulisan.
Gista
mendongak, memandang langit malam yang menyelimuti bumi dari balik jendela
kamarnya. Maafkan Gista, ya Allah. Mungkin mulai sekarang Gista bakal jadi
seorang pembohong bagi orang-orang disekitar Gista. Batin Gista lirih. Air
matanya mulai menitik lagi, namun ia buru-buru menyekanya. Gista merogoh
ponselnya yang ia letakan disaku celana, dan membuka menu “New Message” lalu menulis sesuatu disana.
Gue udah putus sama Egi.
Setelah
selesai menulis isi pesan, Gista menekan tombol “option” lalu memilih salah satu sub- menu yang tertera.
Send to distribution list X-7 :
Ana.
Nedy.
Kurnia.
Indra.
Jenny.
Afif.
Putri.
….
Gista menghela
nafas panjang penuh kelegaan setelah send
report datang ke ponselnya. “Aku bener-bener udah jadi pembohong sekarang.
Mungkinkah Allah mengampuni dosaku ini kelak?”