KADO TERINDAH UNTUKMU
Teriknya matahari, tengah membungkus
kota Bandarlampung siang itu. Memilin waktu dengan butiran-butiran keringat
kegerahan. Para pedagang es yang berjejer di sepanjang trotoar di depan Mal
Kartini bersorak girang, karena dagangan mereka akan laku keras bila cuaca
sedang seperti ini. Bahkan nampak, beberapa dari pedagang itu tengah sibuk
beres-beres, siap pulang kerumah dengan kantong tebal dan dagangan habis.
Di dalam Mal, suasana tak kalah riuh
ramainya oleh para pengunjung, yang entah benar-benar datang ke Mal termegah di
Lampung itu untuk berbelanja, atau hanya sekedar mencari tampat berteduh dari
amukan panasnya matahari sambil melihat-lihat.
Sementara itu, disalah satu sudut Mal,
tepat di depan konter baju-baju khusus remaja pria, tampak sepasang muda mudi
tengah berdiri mematung, memandang jajaran baju dalam tubuh manekin yang
terpampang rapi di etalase.
“Gue pengen banget beli baju yang itu, Er.”
Trias, cowok bertampang manis dengan rambut jigrak itu memandang penuh binar
pada sehelai baju dengan harga enam digit pada salah satu manekin.
Eria, sahabatnya, yang kini masih setia
berdiri disamping Trias, hanya mampu menghela nafas. “Mahal, Ias.”
Trias masih tak kunjung melepaskan
pandangannya pada baju dengan model dan motif unik itu. Nyaris saja air liurnya
menetes, kalau saja ia tak keburu sadar, bahwa sedari tadi ada seorang
pramuniaga toko yang sedang menatapnya curiga dari balik etalase.
“Er, ayo pergi,” Trias menarik tangan Eria
dengan cepat menjauh dari depan toko itu. “Pramuniaga tokonya ngeliatin kita
tadi.”
Eria hanya geleng-geleng kepala. “Muka
lo emang patut dicurigain!” sungut Eria sambil tertawa kecil.
Setelah berada dalam jarak aman, Trias
mengendurkan irama berjalannya lalu melepas tangan Eria yang ia cengkeram. “Gue
janji, Er, siapapun yang mau beliin gue baju tadi, gue pasti bakal nyayangin
dia dengan sepenuh hati.”
Tring!
Sebuah boklam terang muncul diatas kepala Eria begitu mendengar kalimat yang
terlontar dari bibir Trias barusan, dan melintaslah sebuah ide cemerlang
diotaknya. Sama seperti ide di hari-hari kemarin.
*
* * *
Sama seperti hari kemarin, kemarin, dan
kemarin-kemarinnya lagi, sepulang sekolah, Trias mengajak Eria mengunjungi Mal
Kartini. Eria bukannya tak pernah menolak, ia sangat sering malah menolak
ajakan itu, tapi ujung-ujungnya ia tetap akan menuruti pemintaan Trias, setelah
melihat cowok itu memasang tampang memelas sambil mengiba pada Eria. Eria tak
tega.
Eria tak tahu, entah sejak kapan Trias
memiliki agenda rutin untuk mengunjungi Mal Kartini setiap pulang sekolah. Yang
jelas, sejak tujuh bulan lalu Eria bersahabat dengan Trias, Trias sudah
memiliki kebiasaan seperti itu.
Ini lah anehnya, Trias pergi ke Mal
Kartini bukan untuk berbelanja, ia hanya sekedar melihat-lihat. Dan bila cowok
kelahiran 18 Juli itu melihat barang yang ia sukai, ia pasti akan berkata
dengan mata penuh binar pada Eria, “Gue janji, Er, siapapun yang mau beliin gue
barang bla bla bla tadi, gue pasti
bakal nyayangin dia dengan sepenuh hati.” Eria sampai hapal diluar kepala
kalimat itu. Dan anehnya lagi, Trias tak pernah benar-benar membeli semua
barang yang ia inginkan itu. Setelah berkata demikian pada Eria, dan
membicarakannya seharian dengan Eria di telepon, semuanya seolah menguap. Esok
harinya, Trias tak akan ingat lagi barang apa yang ia ingini kemarin, dan tak
akan pernah membahasnya lagi bersama Eria. Ia seolah lupa. Hingga kemudian di
hari berikutnya, ketika berjalan di Mal Kartini, ia akan bertemu barang lain
yang ia ingini dan akan mengatakan hal yang sama pada Eria, lalu kembali
membahasnya di telepon, dan esoknya ia akan lupa akan hal itu lagi seperti
kemarin-kemarin. Dan begitu lah seterusnya… Eria sangat hapal ritme hidup Trias
yang cukup aneh.
“Er, jam tangannya bagus. Gue pengen
deh.” Ucapan Trias membuyarkan lamunan Eria. Ia dan Trias kini tengah berada di
salah satu konter jam tangan di Mal Kartini.
Eria melongoh, menatap jam tangan itu,
dan terkagum selama beberapa detik memandangi setiap detail dari jam yang
memang sangat memiliki nilai seni tinggi itu. “Iya, Ias. Bagus.” Jawab Eria
seadanya.
“Gue janji, Er, siapapun yang mau beliin
gue jam ini, gue pasti bakal nyayangin dia dengan sepenuh hati.” Ucap Trias,
seperti biasanya.
Dan… tring!
Sebuah boklam terang kembali muncul di kepala Eria, boklam terang yang sama,
yang memang selalu muncul setiap kali Trias melontarkan “kalimat” itu di depan Eria.
Dan ide cemerlang itu pun kembali melintas diotak Eria. Ide yang sama, seperti
hari kemarin, kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi…
*
* * *
Suatu pagi yang cerah. Matahari
melambaikan sinar keemasan yang teduh. Langit bersahabat, dengan sesekali
membuat cuaca menjadi temaram sejuk. Angin bertiup dengan nakal, membelai
dedaunan pohon kelapa yang mulai menguning.
Eria datang pagi itu ke sekolah dengan
senyum merekah. Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru! Senang rasanya.
Sekarang ia telah resmi duduk di kelas
XI IPA 5. Dan yang menakjubkan adalah: ia sekelas dengan Trias! Wow!
Eria menghentikan langkah kakinya
beberapa meter dari pintu kelas. Ia terkejut, kedatangannya pagi itu disambut
dengan pemandangan aneh: banyak siswa yang berkerumun di sekitar pintu
kelasnya.
Penasaran, Eria mendekat, dan mencoba
menerobos kerumunan yang semakin lama semakin menumpuk itu. Dan alangkah
terkejutnya ia, begitu tiba di barisan depan kerumunan yang ada di pintu, Eria
mendapati Trias tengah duduk di meja guru, sambil memetik gitar. Jadi…, ini
yang jadi tontonan? Trias bermain gitar? Bukankah itu hal yang sudah sangat
biasa?
“Ias, Eria dateng tuh!” celetuk entah
siapa dari dalam kelas.
Eria mengerutkan dahinya. Tak mengerti.
“Iya, Ias, ayo cepet tembak aja
langsung!” entah suara siapa, kembali terdengar.
Eria makin tak mengerti. Nembak? Nembak
apa?
Trias mendongak, berhenti memetik
gitarnya, lalu menatap Eria yang masih berdiam di barisan depan kerumunan
dengan begitu dalam.
Tiba-tiba, Eria merasakan ada seseorang
yang mendorong tubuhnya hingga maju beberapa meter kedepan, mendekat ke tempat Trias
duduk. Eria bersumpah, jika Eria tahu siapa orang yang mendorongnya tadi, ia
akan mengutuk orang itu menjadi batu!
Pelan, terdengar sayup gitar Trias
kembali terdengar, mengiringi setiap kata yang terangkai keluar dari bibir Trias.
“Aku… aku mencintaimu, andai kau tahu itu…” Eria terkejut. Trias membaca puisi!
Sejak kapan cowok tengil ini punya keahlian membaca puisi?
“Aku… aku menyayangimu, ingin
memilikimu, namun sepertinya kau tak pernah mengerti.” Lanjut Trias tetap
dengan diiringi petikan syahdu gitarnya. Matanya bertumbukan dengan mata Eria.
‘Ciyeeee….” Siswa yang menonton kompak
berkoor, membuat pipi Eria mendadak menyemu dengan begitu merah. Malu rasanya.
“Jika Tuhan, hanya mengizinkan aku untuk
mengucapkan satu kalimat setiap harinya, maka kalimat yang pasti akan kuucapkan
itu adalah ‘aku cinta padamu’…”
Trias berhenti memetik gitarnya, lalu
mendekati tubuh Eria, berlutut, lalu menggenggam tangan Eria erat. “Er, would you be mine?”
Mata Eria berkabut, ia tak kuat lagi
menahan gemuruh perasaan dihatinya. Gadis itu pun menangis dengan air mata yang
terasa begitu manis, manis karena bahagia… jauh didalam lubuk hatinya, ia juga
mencintai dan menyayangi Trias.
Perasaan itu, telah lama tumbuh dihatinya
sejak pertama kali ia mengenal Trias delapan bulan yang lalu. Namun semuanya
hanya mampu ia simpan dengan rapi. Takut, kalau-kalau perasaan itu hanya akan
menghancurkan persahabatannya dengan Trias. Tanpa Eria menyadari, bahwa
sebenarnya, Trias juga mencintai dirinya.
“Gue mau, Ias. Gue mau.” Eria tersadar
dari lamunannya lalu mengangguk cepat.
Trias bangkit berdiri, lalu memeluk Eria
erat. “Terimakasih, Er. Dan tolong, izinkan aku untuk benar-benar mengucapkan kalimat
‘aku cinta padamu’ setiap harinya….”
*
* * *
“Aku cinta kamu!” Eria terkejut, langkah
kakinya terpaksa terhenti karena kini Trias berdiri dihadapannya, menghadang,
sambil mengacungkan setangkai bunga melati tepat didepan wajah Eria.
Eria tersenyum, lalu menerima bunga itu
dengan senang hati. “Terimakasih, sayang…” ucapnya sambil mengelus pelan pipi Trias.
Senyum Trias tambah merekah mendengar
kalimat itu. Mereka berdua pun kembali berjalan beriringan menuju kelas.
Tak terasa, seminggu berlalu semenjak
acara “penembakan” didepan umum itu. Setiap harinya, hubungan Trias dan Eria
semakin lengket seperti amplop dan perangkonya. Hari-hari yang dilalui dengan
penuh cinta oleh mereka, membuat dunia serasa milik berdua. Berlebihan mungkin
kedengarannya, tapi itulah nyatanya.
Dan tentu saja disetiap hari-hari itu, Trias
tak pernah mengingkari janjinya, untuk selalu mengatakan pada Eria, bahwa ia
mencintai Eria. Seperti tadi misalnya.
Eria jadi teringat kejadian kemarin,
ketia Trias tiba-tiba menghampirinya di kantin sambil membawa sekotak coklat
lalu berkata dengan mesra, “aku cinta padamu,” Eria jadi senyum-senyum sendiri
bila mengingat hal itu.
“Er?” Trias menyentuh pundak Eria pelan.
Eria meletakkan tasnya lalu menoleh pada
Trias. “Ya? Kenapa, Ias?”
Trias garuk-garuk kepala. Ia terlihat
gugup. “Mmm… aku nanti nggak bisa nganterin kamu pulang, gapapa kan? Aku ada
acara sama keluarga. Kita jadi nggak bisa jalan-jalan ke Mall Kartini juga. Kamu
jangan marah ya, Er?” ucap Trias setengah memohon dan memelas. Eria hanya
tersenyum simpul, lalu mengacak-ngacak puncak kepala kekasihnya itu.
“Nggak apa-apa kok, Ias. Aku bisa pulang
naik bis.”
Trias terlihat sedikit khawatir. “Tapi
kamu hati-hati ya…, di bis kan banyak yang…,”
“Iya, sayang,” Eria tersenyum sumringah,
mencoba membuat hati Trias tenang. “Aku pasti bisa jaga diri.”
*
* * *
Siang yang sangat terik. Eria berjalan
sendirian menuju halte bis dekat sekolahnya. Sesekali ia mengelap peluh yang
mengucur dari dahinya menggunakan sapu tangan yang ia simpan di saku rok.
Panas! Gerah! Eria sudah tak tahan lagi! Ia ingin cepat-cepat sampai dirumah,
menyalakan AC dikamarnya sambil berbaring dengan santai.
Sepuluh menit berjalan, Eria tiba
dihalte bis yang ternyata sedang dalam keadaan ramai. Banyak anak-anak berseragam
sekolah dan juga orang-orang berseragam kantoran menunggu disana. Karena tak
mendapatkan tempat duduk, Eria terpaksa menunggu bis dalam keadaan berdiri.
Didengakkannya kepala, menatap mentari
siang itu yang begitu menyiksanya. Hanya sedetik, lalu Eria kembali terdiam
menunduk. Matanya terasa mulai mengabur.
Diambilnya lagi sapu tangan yang ia
simpan di saku rok demi membasuh peluh diwajahnya yang mulai menganak sungai. Eria
terkejut, begitu mendapati ada darah disapu tangan itu. Sapu tangan itu pun jatuh,
melayang bebas ke tanah mengikuti gravitasi bumi. Eria perlahan memegangi bagian
atas bibirnya yang ternyata sudah dialiri darah segar dari kedua lubang
hidungnya. Darah itu banyak! Teramat sangat banyak!
Perlahan Eria merasakan kepalanya
semakin memberat. Matahari diatas kepalanya seolah menghujam Eria dengan
sengatan panas yang begitu luar biasa. Tubuhnya melemah. Lututnya gemetar.
Wajah Eria pucat!
Eria dapat merasakan, darah dari kedua
lubang hidungnya kini sudah mengalir hingga leher. Dan seketika itu pula, Eria
ambruk. Semuanya gelap! Gelap!
*
* * *
Tiga hari kemudian…
Nomor
yang Anda tuju, sedang tidak aktif, mohon… tut tut tut!
Trias membanting ponselnya dengan kesal. Lagi-lagi mailbox! Gumam batinnya geram. Entah sudah keberapa kalinya sejak tiga
hari yang lalu ia berusaha menghubungi ponsel Eria, namun tak pernah berhasil.
Ya, Eria menghilang. Entah kemana. Sudah
tiga hari lamanya. Ia tak pernah mengabari Trias sedikit pun. Setiap Trias
hubungi ponselnya, selalu saja tak aktif. Tiga hari lalu pun, Trias datang
kerumahnya, namun kosong. Tak ada siapa-siapa disana. Satu-satunya petunjuk
adalah presensi Eria di sekolah. Di presensi itu tertulis bahwa Eria izin,
entah kemana. Trias sudah pernah menanyakan hal ini pada guru piket, namun
jawaban yang Trias dapatkan hanyalah gelengan kepala tak tahu. Ia sudah benar-benar
kehilangan jejak Eria.
Trias meremas rambutnya dengan kesal! Tak
dihiraukannya lagi obrolan teman-teman di sekelilingnya. Ia hanya butuh kabar Eria
saat ini! Hanya itu! Apa lagi sebentar lagi ia akan merayakan ulang tahunnya.
Mimpinya sejak dulu yang selalu ingin
merayakan ulang tahun bersama orang yang dicintainya kini hampir terwujud
didepan mata berkat Eria. Tetapi sekarang? Eria saja menghilang! Seolah kembali
membuat mimpi-mimpi Trias kembali pudar tersamarkan…
*
* * *
17 Juli, satu hari sebelum ulang
tahun Trias…
Trias menatap layar ponselnya dengan
jemu. Enam hari sudah semuanya berlalu. Tak ada kabar. Tak ada cerita apapun
dari Eria. Entah sudah berapa ratus kali Trias mencoba menghubunginya. Entah
sudah berapa belas kali Trias mendatangi rumah Eria, namun nihil!
Trias memejamkan matanya sesaat.
Dihelanya nafas panjang. Besok adalah
hari ulang tahunku, hari yang selalu kunantikan, agar dapat kurayakan bersama Eria.
Tapi… kalau begini, lebih baik aku…
Trias mengepalkan tangannya kuat-kuat,
meninju penuh amarah kasur yang ada dibawah tubuhnya. Kini ia sudah memantapkan
hatinya. Ia telah mengambil sebuah keputusan.
Trias pun beranjak dari ranjang yang ia
tiduri, menghampiri komputer pentium empat kesayangannya, membuka akun e-mail miliknya, lalu mengetikan sesuatu
disana.
*
* * *
Wanita paruh baya itu masih tak
henti-hentinya merintihkan doa kepada Sang Maha Kuasa, sudah enam hari lamanya,
bibir mungil wanita itu, selalu mengucapkan kalimat itu berulang-ulang, “Tuhan,
sembuhkan anakku…” rintihnya begitu samar dan perih.
Tangannya, mengusap dengan penuh kasih
sayang wajah sang anak yang tak kunjung sadar. Koma lebih tepatnya. Anak gadis
kesayangannya itu telah divonis oleh dokter menderita kanker otak stadium
akhir. Tentu hal ini mengejutkan sang wanita paruh baya, mengingat, selama ini
memang tak ada tanda-tanda bahwa sang anak mengidap penyakit mematikan itu.
Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga enam hari lalu, wanita paruh baya itu
mendapat telepon dari rumah sakit, bahwa sang anak tengah dirawat disana karena
ditemukan pingsan di sebuah halte bis dekat sekolahnya.
Air mata wanita itu kembali meleleh,
turun dengan cepat, lalu bergelayut enggan di dagu indahnya. “Bangunlah, Nak…
bangun…” setelah berkata demikian, wanita itu menelungkupkan kepalanya pada
sisi ranjang tempat sang anak terbaring, menangis dalam keheningan yang
menusuk.
“Ma… Mama… Mama…” wanita itu terkejut,
diangkatnya kepala cepat-cepat begitu mendengar suara yang sangat familiar
ditelinganya itu: suara anaknya!
“Er,” wanita itu tak mampu menahan air
mata harunya untuk tak kembali menetes, ia menangis, memeluk sang anak yang
masih ringkih.
“Ma, Eria kenapa?” Tanya Eria, matanya
mengerjap berkali-kali, berusaha membuat pandangannya yang kabur, menjadi
normal.
Mama menggeleng. “Kamu hanya pingsan,
sayang.” Jawab Mama seadanya, bohong lebih tepatnya, menyembunyikan kenyataan
yang sebenarnya dari Eria. Ia hanya tak ingin Eria yang baru siuman dari koma
selama enam hari-nya menanggung beban pikiran bila mengetahui penyakit apa yang
tengah menyemai ditubuhnya.
“Pingsan? Beneran, Ma? Tapi kalau cuma
pingsan, kenapa badan S isil mesti
dipasangin alat pendeteksi detak jantung ini, Ma? Kenapa Eria malah seperti orang
sekarat?” Tanya Eria dengan suara lemahnya. Tangannya menjamah bagian dalam
bajunya yang tersematkan beberapa benda asing untuk mendeteksi detak jantung.
Mama hanya tersenyum. “Itu perintah
dokter, sayang. Supaya kamu cepet sembuh, terus masuk sekolah lagi.”
Mendengar kata “sekolah” tiba-tiba Eria
jadi teringat sesuatu: Trias! Astaga, cowok itu pasti belum tahu keadaan Eria
sekarang. Dan Eria berani taruhan, pasti Trias tengah mengkhawatirkannya saat
ini.
“Ma, ponselku mana?” Tanya Eria
kemudian.
“Ponselmu hilang, Nak. Mungkin terjatuh
saat kamu pingsan di halte bis.”
Eria tertegun. Bagaimana ia akan
menghubungi Trias kalau sudah begini. Mau pakai ponsel Mama? Bisa, memang.
Tapi… sayangnya Eria tak hapal nomor ponsel Trias. Namun, pada detik berikutnya
sebuah ide melintas di pikiran Eria.
“Ma,
Mama bawa laptop kerja Mama?”
Mama
mengangguk. Tentu saja Mama bawa. Sebagai wanita karir super sibuk yang menjadi
tulang punggung keluarga (setelah Papa Eria meninggal), laptop adalah anak kedua Mama setelah Eria.
“Bawa
modem juga nggak, Ma?”
“Bawa,
sayang. Memangnya buat apa?” Mama mengelus rambut Eria perlahan.
“Aku…
mau menghubungi… mmm… temanku, Ma, lewat e-mail.”
Eria perlahan menegakkan tubuhnya yang baru 20% pulih itu dengan dibantu oleh
Mama. Mama menyenderkan tubuh Eria pada sisi kepala ranjang, ia tahu benar, Eria
pasti tak akan sanggup untuk duduk jika tak ada sandaran bagi punggungnya. Eria
masih sangatlah lemah.
Setelah
membantu Eria duduk, Mama segera menaruh laptop beserta modem miliknya ke
pangkuan Eria. Lalu beliau bergegas menuju sudut kamar rawat yang telah disulap
menjadi dapur dadakan, menyiapkan semangkuk bubur hangat untuk Eria.
Eria
langsung menyalakan laptop itu dan mengkoneksikannya dengan internet. Membuka
akun e-mailnya.
Dan
betapa terkejutnya ia, ada sebuah pesan masuk di inbox-nya, dari Trias! Dan pesan itu baru dikirimkan tiga jam yang
lalu.
From: Trias.Bie@yahoo.com
Subject: ….
Er, aku nggak tahu lagi
mesti gimana untuk mencari kamu. Aku udah beratus-ratus kali menghubungi ponsel
kamu. Tapi nggak pernah aktif! Aku udah dateng kerumah kamu, tapi nggak ada
orang disana!
Sebenarnya ada apa
dengan kamu? Kenapa kamu menghilang seperti ini?
Aku lelah, Er. Aku
lelah jika kamu terus bersikap seperti ini padaku tanpa aku tahu sebabnya.
Maafkan aku, Er. Aku
rasa, hubungan kita tak akan bisa diteruskan lagi. Aku harap, dimanapun kamu
sekarang berada, kamu akan selalu bahagia, melebihi rasa bahagiamu ketika
bersamaku dulu. Walaupun aku sebenarnya tak tahu, apakah kamu benar-benar
bahagia bersamaku.
Sekali lagi, maafkan
aku, Er, harus mengatakan ini padamu. Satu yang perlu kau tahu, aku sudah
berharap dari jauh-jauh hari, jika esok dihari ulang tahunku, kamu akan datang
kerumahku pagi-pagi dan memberiku kejutan. Tapi kurasa itu tak akan mungkin terjadi,
jika kamu saja menghilang seperti ini.
Selamat tinggal, Er…
doaku selalu menyertaimu…
TRIAS
Eria
tersentak, nyaris laptop itu jatuh dari pangkuannya. Ditatapnya kalender di
ponsel Mama yang tergeletak di meja yang ada di samping ranjangnya. Hari ini tanggal 17 Juli! Astaga! Berarti
aku sudah pingsan selama enam hari, dan itu tanpa memberi tahu Trias?!
Batin Eria perih. Tidak! Tidak! Aku pasti
bukan pingsan! Pasti ada sesuatu terjadi pada tubuhku sehingga aku tak sadarkan
diri selama enam hari! Pantas saja tubuhku dipasangi alat-alat aneh seperti
ini!
Eria
nyaris memanggil Mama untuk bertanya mengenai hal itu, tepat ketika ia kembali
teringat akan kalimat Trias di e-mail tadi:
besok hari ulang tahun Trias!
Kepala
Eria tiba-tiba dipenuhi dengan bayang-bayang rencana indah yang selama hampir
sembilan bulan terakhir telah disusunnya dengan rapi. Rencana untuk ulang tahun
Trias…
Eria
nyaris bangkit dari duduknya, untuk menghampiri Mama, namun seketika
pandangannya kembali gelap gulita…
*
* * *
Trias
dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita paruh baya, pagi-pagi buta
dirumahnya. Wanita itu membawa setumpuk kado, yang jumlahnya puluhan, dari
mulai yang sekecil genggaman tangan, hingga yang besarnya separuh tubuh Trias.
Namun Trias tak tahu apa isinya, karena seluruh kado itu sudah terbungkus rapi.
Trias
menghampiri wanita berpakaian serba hitam yang tengah sibuk mengangkut satu
persatu kado itu dari dalam mobilnya, “maaf, anda siapa?” Tanya Trias sesopan
mungkin.
Wanita
itu berhenti berjalan, menatap Trias dengan mata berkaca-kaca. “Kamu… kamu yang
namanya Trias?” Trias mengangguk, menjawab pertanyaan itu. Baru disadarinya,
bahu wanita itu ternyata bergetar, menahan tangis. Lalu pada detik berikutnya,
dengan gerakan cepat wanita itu memeluk Trias sambil menangis, membiarkan kado
yang sedang dibawanya jatuh ke tanah.
“Saya…
saya Mamanya Eria, Nak…”
Trias
terenyak, diajaknya dengan segera wanita paruh baya pembawa kado itu berbicara
di dalam rumahnya…
*
* * *
Dear Trias…
Apa kabarmu disana,
sayang? Aku merindukanmu. Aku ingin sekali mendengar kalimat yang selalu kau
ucapkan padaku setiap harinya seperti dulu. Tapi kurasa, itu tak akan mungkin.
Karena sekarang, aku akan pergi, sayang. Pergi ke tempat dimana aku akan hidup
abadi. Tak jauh. Sungguh, tak akan jauh. Karena meski ragaku tak ada disini
lagi, tapi hatiku akan selalu bersamamu… didekatmu…
Maafkan aku Trias, tak
bisa membuatmu bahagia, tak bisa datang kerumahmu pagi-pagi buta untuk
memberikan kejutan ulang tahun untukmu, seperti yang kau impikan. Maafkan aku.
Tapi kurasa, saat kau membaca surat ini, kau telah bertemu dengan ibuku. Anggap
saja, beliau sebagai penggantiku. Ia yang datang kerumahmu pagi-pagi buta untuk
memberikanmu kado. Ya, kado! Tahukah kau Julianku sayang? Selama ini, setiap kali
kau dan aku berjalan-jalan di Mal Kartini, lalu kau mengatakan padaku bahwa kau
menyukai benda ini atau itu, diam-diam aku membelinya, untukmu. Ya… hanya
untukmu…
Aku sudah lama
merencanakan hal ini, sejak hari pertama kau mengajakku berjalan-jalan ke Mal
itu. Rencana indah untuk ulang tahunmu.
Kau tahu sayang,
mengapa aku ingin melakukannya? Karena aku selalu teringat kata-katamu. Bahwa
kau akan sangat menyayangi orang yang memberikanmu barang-barang yang kau
ingini itu. Aku ingin jadi wanita yang paling kau sayang didunia ini, Trias!
Ku harap, kau akan
senang dengan semua ini, meski aku tak lagi berada disisimu.
Jujur, sayang. Aku pun
terkejut begitu mengetahui ternyata aku terkena kanker otak stadium akhir. Dan
syukurlah, aku baru mengetahui hal itu ketika sisa waktu kehidupanku didunia
hanya tinggal menghitung detik. Jadi, aku tak perlu terlalu tersiksa dibuatnya.
Julianku sayang,
jagalah dirimu baik-baik setelah aku pergi. Trias, aku menunggumu di
surga,sayang. Walau mungkin kelak “disana” kau telah bersama bidadarimu yang
lain. Selamat tinggal sayang… aku selalu mencintaimu…
Peluk
hangat,
ERIA
APRILIA
Trias
menangis! Benar-benar menangis! Pedih rasanya begitu membaca surat terakhir
yang ditulis Eria sebelum “kepergiannya”
tadi malam itu. Hati Trias sakit, sakit sekali…apa lagi jika mengingat kejadian
kemarin, ketika dirinya mengirimkan e-mail untuk memutuskan hubungannya pada Eria.
Bagaimana bisa Trias menyakiti hati cewek itu terlebih dalam lagi di
detik-detik terakhir hidupnya? Trias benar-benar merasa bahwa dirinya sangat
jahat!
Trias
bangkit, menghampiri Mama Eria yang masih duduk terpekur dihadapannya sambil
menangis. Dipeluknya wanita itu dengan erat, “maafkan, Trias, Tante. Trias
jahat!”
Mama
melepas pelukan itu lalu menghapus air mata yang menetes di pipi Trias. “Tidak Trias,
ini bukan salahmu. Ini sudah takdir Tuhan. Eria memang harus pergi.”
Trias
melepaskan pelukan itu, “Tante, bolehkah aku bertemu Eria terakhir kalinya
sebelum ia dimakamkan?”
Mama
mengangguk antusias. “Tentu! Tentu, Trias. Eria pasti akan senang bertemu
denganmu. Ayo, kita pergi.” Mama mencoba tersenyum manis namun yang nampak
malah senyum miris. Tangannya, menggandeng tangan Trias, masuk kedalam mobil.
THE
END