Jumat, 04 Oktober 2013

kado terindah untukmu (cerpen)



KADO TERINDAH UNTUKMU

Teriknya matahari, tengah membungkus kota Bandarlampung siang itu. Memilin waktu dengan butiran-butiran keringat kegerahan. Para pedagang es yang berjejer di sepanjang trotoar di depan Mal Kartini bersorak girang, karena dagangan mereka akan laku keras bila cuaca sedang seperti ini. Bahkan nampak, beberapa dari pedagang itu tengah sibuk beres-beres, siap pulang kerumah dengan kantong tebal dan dagangan habis.
Di dalam Mal, suasana tak kalah riuh ramainya oleh para pengunjung, yang entah benar-benar datang ke Mal termegah di Lampung itu untuk berbelanja, atau hanya sekedar mencari tampat berteduh dari amukan panasnya matahari sambil melihat-lihat.
Sementara itu, disalah satu sudut Mal, tepat di depan konter baju-baju khusus remaja pria, tampak sepasang muda mudi tengah berdiri mematung, memandang jajaran baju dalam tubuh manekin yang terpampang rapi di etalase.
“Gue pengen banget beli baju yang itu, Er.” Trias, cowok bertampang manis dengan rambut jigrak itu memandang penuh binar pada sehelai baju dengan harga enam digit pada salah satu manekin.
Eria, sahabatnya, yang kini masih setia berdiri disamping Trias, hanya mampu menghela nafas. “Mahal, Ias.”
Trias masih tak kunjung melepaskan pandangannya pada baju dengan model dan motif unik itu. Nyaris saja air liurnya menetes, kalau saja ia tak keburu sadar, bahwa sedari tadi ada seorang pramuniaga toko yang sedang menatapnya curiga dari balik etalase.
“Er, ayo pergi,” Trias menarik tangan Eria dengan cepat menjauh dari depan toko itu. “Pramuniaga tokonya ngeliatin kita tadi.”
Eria hanya geleng-geleng kepala. “Muka lo emang patut dicurigain!” sungut Eria sambil tertawa kecil.
Setelah berada dalam jarak aman, Trias mengendurkan irama berjalannya lalu melepas tangan Eria yang ia cengkeram. “Gue janji, Er, siapapun yang mau beliin gue baju tadi, gue pasti bakal nyayangin dia dengan sepenuh hati.”
Tring! Sebuah boklam terang muncul diatas kepala Eria begitu mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Trias barusan, dan melintaslah sebuah ide cemerlang diotaknya. Sama seperti ide di hari-hari kemarin.
* * * *
Sama seperti hari kemarin, kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi, sepulang sekolah, Trias mengajak Eria mengunjungi Mal Kartini. Eria bukannya tak pernah menolak, ia sangat sering malah menolak ajakan itu, tapi ujung-ujungnya ia tetap akan menuruti pemintaan Trias, setelah melihat cowok itu memasang tampang memelas sambil mengiba pada Eria. Eria tak tega.
Eria tak tahu, entah sejak kapan Trias memiliki agenda rutin untuk mengunjungi Mal Kartini setiap pulang sekolah. Yang jelas, sejak tujuh bulan lalu Eria bersahabat dengan Trias, Trias sudah memiliki kebiasaan seperti itu.
Ini lah anehnya, Trias pergi ke Mal Kartini bukan untuk berbelanja, ia hanya sekedar melihat-lihat. Dan bila cowok kelahiran 18 Juli itu melihat barang yang ia sukai, ia pasti akan berkata dengan mata penuh binar pada Eria, “Gue janji, Er, siapapun yang mau beliin gue barang bla bla bla tadi, gue pasti bakal nyayangin dia dengan sepenuh hati.” Eria sampai hapal diluar kepala kalimat itu. Dan anehnya lagi, Trias tak pernah benar-benar membeli semua barang yang ia inginkan itu. Setelah berkata demikian pada Eria, dan membicarakannya seharian dengan Eria di telepon, semuanya seolah menguap. Esok harinya, Trias tak akan ingat lagi barang apa yang ia ingini kemarin, dan tak akan pernah membahasnya lagi bersama Eria. Ia seolah lupa. Hingga kemudian di hari berikutnya, ketika berjalan di Mal Kartini, ia akan bertemu barang lain yang ia ingini dan akan mengatakan hal yang sama pada Eria, lalu kembali membahasnya di telepon, dan esoknya ia akan lupa akan hal itu lagi seperti kemarin-kemarin. Dan begitu lah seterusnya… Eria sangat hapal ritme hidup Trias yang cukup aneh.
“Er, jam tangannya bagus. Gue pengen deh.” Ucapan Trias membuyarkan lamunan Eria. Ia dan Trias kini tengah berada di salah satu konter jam tangan di Mal Kartini.
Eria melongoh, menatap jam tangan itu, dan terkagum selama beberapa detik memandangi setiap detail dari jam yang memang sangat memiliki nilai seni tinggi itu. “Iya, Ias. Bagus.” Jawab Eria seadanya.
“Gue janji, Er, siapapun yang mau beliin gue jam ini, gue pasti bakal nyayangin dia dengan sepenuh hati.” Ucap Trias, seperti biasanya.
Dan… tring! Sebuah boklam terang kembali muncul di kepala Eria, boklam terang yang sama, yang memang selalu muncul setiap kali Trias melontarkan “kalimat” itu di depan Eria. Dan ide cemerlang itu pun kembali melintas diotak Eria. Ide yang sama, seperti hari kemarin, kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi…
* * * *
Suatu pagi yang cerah. Matahari melambaikan sinar keemasan yang teduh. Langit bersahabat, dengan sesekali membuat cuaca menjadi temaram sejuk. Angin bertiup dengan nakal, membelai dedaunan pohon kelapa yang mulai menguning.
Eria datang pagi itu ke sekolah dengan senyum merekah. Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru! Senang rasanya.
Sekarang ia telah resmi duduk di kelas XI IPA 5. Dan yang menakjubkan adalah: ia sekelas dengan Trias! Wow!
Eria menghentikan langkah kakinya beberapa meter dari pintu kelas. Ia terkejut, kedatangannya pagi itu disambut dengan pemandangan aneh: banyak siswa yang berkerumun di sekitar pintu kelasnya.
Penasaran, Eria mendekat, dan mencoba menerobos kerumunan yang semakin lama semakin menumpuk itu. Dan alangkah terkejutnya ia, begitu tiba di barisan depan kerumunan yang ada di pintu, Eria mendapati Trias tengah duduk di meja guru, sambil memetik gitar. Jadi…, ini yang jadi tontonan? Trias bermain gitar? Bukankah itu hal yang sudah sangat biasa?
“Ias, Eria dateng tuh!” celetuk entah siapa dari dalam kelas.
Eria mengerutkan dahinya. Tak mengerti.
“Iya, Ias, ayo cepet tembak aja langsung!” entah suara siapa, kembali terdengar.
Eria makin tak mengerti. Nembak? Nembak apa?
Trias mendongak, berhenti memetik gitarnya, lalu menatap Eria yang masih berdiam di barisan depan kerumunan dengan begitu dalam.
Tiba-tiba, Eria merasakan ada seseorang yang mendorong tubuhnya hingga maju beberapa meter kedepan, mendekat ke tempat Trias duduk. Eria bersumpah, jika Eria tahu siapa orang yang mendorongnya tadi, ia akan mengutuk orang itu menjadi batu!
Pelan, terdengar sayup gitar Trias kembali terdengar, mengiringi setiap kata yang terangkai keluar dari bibir Trias. “Aku… aku mencintaimu, andai kau tahu itu…” Eria terkejut. Trias membaca puisi! Sejak kapan cowok tengil ini punya keahlian membaca puisi?
“Aku… aku menyayangimu, ingin memilikimu, namun sepertinya kau tak pernah mengerti.” Lanjut Trias tetap dengan diiringi petikan syahdu gitarnya. Matanya bertumbukan dengan mata Eria.
‘Ciyeeee….” Siswa yang menonton kompak berkoor, membuat pipi Eria mendadak menyemu dengan begitu merah. Malu rasanya.
“Jika Tuhan, hanya mengizinkan aku untuk mengucapkan satu kalimat setiap harinya, maka kalimat yang pasti akan kuucapkan itu adalah ‘aku cinta padamu’…”
Trias berhenti memetik gitarnya, lalu mendekati tubuh Eria, berlutut, lalu menggenggam tangan Eria erat. “Er, would you be mine?”
Mata Eria berkabut, ia tak kuat lagi menahan gemuruh perasaan dihatinya. Gadis itu pun menangis dengan air mata yang terasa begitu manis, manis karena bahagia… jauh didalam lubuk hatinya, ia juga mencintai dan menyayangi Trias.
Perasaan itu, telah lama tumbuh dihatinya sejak pertama kali ia mengenal Trias delapan bulan yang lalu. Namun semuanya hanya mampu ia simpan dengan rapi. Takut, kalau-kalau perasaan itu hanya akan menghancurkan persahabatannya dengan Trias. Tanpa Eria menyadari, bahwa sebenarnya, Trias juga mencintai dirinya.
“Gue mau, Ias. Gue mau.” Eria tersadar dari lamunannya lalu mengangguk cepat.
Trias bangkit berdiri, lalu memeluk Eria erat. “Terimakasih, Er. Dan tolong, izinkan aku untuk benar-benar mengucapkan kalimat ‘aku cinta padamu’ setiap harinya….”
* * * *
“Aku cinta kamu!” Eria terkejut, langkah kakinya terpaksa terhenti karena kini Trias berdiri dihadapannya, menghadang, sambil mengacungkan setangkai bunga melati tepat didepan wajah Eria.
Eria tersenyum, lalu menerima bunga itu dengan senang hati. “Terimakasih, sayang…” ucapnya sambil mengelus pelan pipi Trias.
Senyum Trias tambah merekah mendengar kalimat itu. Mereka berdua pun kembali berjalan beriringan menuju kelas.
Tak terasa, seminggu berlalu semenjak acara “penembakan” didepan umum itu. Setiap harinya, hubungan Trias dan Eria semakin lengket seperti amplop dan perangkonya. Hari-hari yang dilalui dengan penuh cinta oleh mereka, membuat dunia serasa milik berdua. Berlebihan mungkin kedengarannya, tapi itulah nyatanya.
Dan tentu saja disetiap hari-hari itu, Trias tak pernah mengingkari janjinya, untuk selalu mengatakan pada Eria, bahwa ia mencintai Eria. Seperti tadi misalnya.
Eria jadi teringat kejadian kemarin, ketia Trias tiba-tiba menghampirinya di kantin sambil membawa sekotak coklat lalu berkata dengan mesra, “aku cinta padamu,” Eria jadi senyum-senyum sendiri bila mengingat hal itu.
“Er?” Trias menyentuh pundak Eria pelan.
Eria meletakkan tasnya lalu menoleh pada Trias. “Ya? Kenapa, Ias?”
Trias garuk-garuk kepala. Ia terlihat gugup. “Mmm… aku nanti nggak bisa nganterin kamu pulang, gapapa kan? Aku ada acara sama keluarga. Kita jadi nggak bisa jalan-jalan ke Mall Kartini juga. Kamu jangan marah ya, Er?” ucap Trias setengah memohon dan memelas. Eria hanya tersenyum simpul, lalu mengacak-ngacak puncak kepala kekasihnya itu.
“Nggak apa-apa kok, Ias. Aku bisa pulang naik bis.”
Trias terlihat sedikit khawatir. “Tapi kamu hati-hati ya…, di bis kan banyak yang…,”
“Iya, sayang,” Eria tersenyum sumringah, mencoba membuat hati Trias tenang. “Aku pasti bisa jaga diri.”
* * * *
Siang yang sangat terik. Eria berjalan sendirian menuju halte bis dekat sekolahnya. Sesekali ia mengelap peluh yang mengucur dari dahinya menggunakan sapu tangan yang ia simpan di saku rok. Panas! Gerah! Eria sudah tak tahan lagi! Ia ingin cepat-cepat sampai dirumah, menyalakan AC dikamarnya sambil berbaring dengan santai.
Sepuluh menit berjalan, Eria tiba dihalte bis yang ternyata sedang dalam keadaan ramai. Banyak anak-anak berseragam sekolah dan juga orang-orang berseragam kantoran menunggu disana. Karena tak mendapatkan tempat duduk, Eria terpaksa menunggu bis dalam keadaan berdiri.
Didengakkannya kepala, menatap mentari siang itu yang begitu menyiksanya. Hanya sedetik, lalu Eria kembali terdiam menunduk. Matanya terasa mulai mengabur.
Diambilnya lagi sapu tangan yang ia simpan di saku rok demi membasuh peluh diwajahnya yang mulai menganak sungai. Eria terkejut, begitu mendapati ada darah disapu tangan itu. Sapu tangan itu pun jatuh, melayang bebas ke tanah mengikuti gravitasi bumi. Eria perlahan memegangi bagian atas bibirnya yang ternyata sudah dialiri darah segar dari kedua lubang hidungnya. Darah itu banyak! Teramat sangat banyak!
Perlahan Eria merasakan kepalanya semakin memberat. Matahari diatas kepalanya seolah menghujam Eria dengan sengatan panas yang begitu luar biasa. Tubuhnya melemah. Lututnya gemetar. Wajah Eria pucat!
Eria dapat merasakan, darah dari kedua lubang hidungnya kini sudah mengalir hingga leher. Dan seketika itu pula, Eria ambruk. Semuanya gelap! Gelap!
* * * *
Tiga hari kemudian…
Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif, mohon… tut tut tut! Trias membanting ponselnya dengan kesal. Lagi-lagi mailbox! Gumam batinnya geram. Entah sudah keberapa kalinya sejak tiga hari yang lalu ia berusaha menghubungi ponsel Eria, namun tak pernah berhasil.
Ya, Eria menghilang. Entah kemana. Sudah tiga hari lamanya. Ia tak pernah mengabari Trias sedikit pun. Setiap Trias hubungi ponselnya, selalu saja tak aktif. Tiga hari lalu pun, Trias datang kerumahnya, namun kosong. Tak ada siapa-siapa disana. Satu-satunya petunjuk adalah presensi Eria di sekolah. Di presensi itu tertulis bahwa Eria izin, entah kemana. Trias sudah pernah menanyakan hal ini pada guru piket, namun jawaban yang Trias dapatkan hanyalah gelengan kepala tak tahu. Ia sudah benar-benar kehilangan jejak Eria.
Trias meremas rambutnya dengan kesal! Tak dihiraukannya lagi obrolan teman-teman di sekelilingnya. Ia hanya butuh kabar Eria saat ini! Hanya itu! Apa lagi sebentar lagi ia akan merayakan ulang tahunnya.
Mimpinya sejak dulu yang selalu ingin merayakan ulang tahun bersama orang yang dicintainya kini hampir terwujud didepan mata berkat Eria. Tetapi sekarang? Eria saja menghilang! Seolah kembali membuat mimpi-mimpi Trias kembali pudar tersamarkan…
* * * *
17 Juli, satu hari sebelum ulang tahun Trias…
Trias menatap layar ponselnya dengan jemu. Enam hari sudah semuanya berlalu. Tak ada kabar. Tak ada cerita apapun dari Eria. Entah sudah berapa ratus kali Trias mencoba menghubunginya. Entah sudah berapa belas kali Trias mendatangi rumah Eria, namun nihil!
Trias memejamkan matanya sesaat. Dihelanya nafas panjang. Besok adalah hari ulang tahunku, hari yang selalu kunantikan, agar dapat kurayakan bersama Eria. Tapi… kalau begini, lebih baik aku…
Trias mengepalkan tangannya kuat-kuat, meninju penuh amarah kasur yang ada dibawah tubuhnya. Kini ia sudah memantapkan hatinya. Ia telah mengambil sebuah keputusan.
Trias pun beranjak dari ranjang yang ia tiduri, menghampiri komputer pentium empat kesayangannya, membuka akun e-mail miliknya, lalu mengetikan sesuatu disana.
* * * *
Wanita paruh baya itu masih tak henti-hentinya merintihkan doa kepada Sang Maha Kuasa, sudah enam hari lamanya, bibir mungil wanita itu, selalu mengucapkan kalimat itu berulang-ulang, “Tuhan, sembuhkan anakku…” rintihnya begitu samar dan perih.
Tangannya, mengusap dengan penuh kasih sayang wajah sang anak yang tak kunjung sadar. Koma lebih tepatnya. Anak gadis kesayangannya itu telah divonis oleh dokter menderita kanker otak stadium akhir. Tentu hal ini mengejutkan sang wanita paruh baya, mengingat, selama ini memang tak ada tanda-tanda bahwa sang anak mengidap penyakit mematikan itu. Semuanya berjalan baik-baik saja, hingga enam hari lalu, wanita paruh baya itu mendapat telepon dari rumah sakit, bahwa sang anak tengah dirawat disana karena ditemukan pingsan di sebuah halte bis dekat sekolahnya.
Air mata wanita itu kembali meleleh, turun dengan cepat, lalu bergelayut enggan di dagu indahnya. “Bangunlah, Nak… bangun…” setelah berkata demikian, wanita itu menelungkupkan kepalanya pada sisi ranjang tempat sang anak terbaring, menangis dalam keheningan yang menusuk.
“Ma… Mama… Mama…” wanita itu terkejut, diangkatnya kepala cepat-cepat begitu mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya itu: suara anaknya!
“Er,” wanita itu tak mampu menahan air mata harunya untuk tak kembali menetes, ia menangis, memeluk sang anak yang masih ringkih.
“Ma, Eria kenapa?” Tanya Eria, matanya mengerjap berkali-kali, berusaha membuat pandangannya yang kabur, menjadi normal.
Mama menggeleng. “Kamu hanya pingsan, sayang.” Jawab Mama seadanya, bohong lebih tepatnya, menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari Eria. Ia hanya tak ingin Eria yang baru siuman dari koma selama enam hari-nya menanggung beban pikiran bila mengetahui penyakit apa yang tengah menyemai ditubuhnya.
“Pingsan? Beneran, Ma? Tapi kalau cuma pingsan, kenapa badan S      isil mesti dipasangin alat pendeteksi detak jantung ini, Ma? Kenapa Eria malah seperti orang sekarat?” Tanya Eria dengan suara lemahnya. Tangannya menjamah bagian dalam bajunya yang tersematkan beberapa benda asing untuk mendeteksi detak jantung.
Mama hanya tersenyum. “Itu perintah dokter, sayang. Supaya kamu cepet sembuh, terus masuk sekolah lagi.”
Mendengar kata “sekolah” tiba-tiba Eria jadi teringat sesuatu: Trias! Astaga, cowok itu pasti belum tahu keadaan Eria sekarang. Dan Eria berani taruhan, pasti Trias tengah mengkhawatirkannya saat ini.
“Ma, ponselku mana?” Tanya Eria kemudian.
“Ponselmu hilang, Nak. Mungkin terjatuh saat kamu pingsan di halte bis.”
Eria tertegun. Bagaimana ia akan menghubungi Trias kalau sudah begini. Mau pakai ponsel Mama? Bisa, memang. Tapi… sayangnya Eria tak hapal nomor ponsel Trias. Namun, pada detik berikutnya sebuah ide melintas di pikiran Eria.
“Ma, Mama bawa laptop kerja Mama?”
Mama mengangguk. Tentu saja Mama bawa. Sebagai wanita karir super sibuk yang menjadi tulang punggung keluarga (setelah Papa Eria meninggal), laptop adalah anak kedua Mama setelah Eria.
“Bawa modem juga nggak, Ma?”
“Bawa, sayang. Memangnya buat apa?” Mama mengelus rambut Eria perlahan.
“Aku… mau menghubungi… mmm… temanku, Ma, lewat e-mail.” Eria perlahan menegakkan tubuhnya yang baru 20% pulih itu dengan dibantu oleh Mama. Mama menyenderkan tubuh Eria pada sisi kepala ranjang, ia tahu benar, Eria pasti tak akan sanggup untuk duduk jika tak ada sandaran bagi punggungnya. Eria masih sangatlah lemah.
Setelah membantu Eria duduk, Mama segera menaruh laptop beserta modem miliknya ke pangkuan Eria. Lalu beliau bergegas menuju sudut kamar rawat yang telah disulap menjadi dapur dadakan, menyiapkan semangkuk bubur hangat untuk Eria.
Eria langsung menyalakan laptop itu dan mengkoneksikannya dengan internet. Membuka akun e-mailnya.
Dan betapa terkejutnya ia, ada sebuah pesan masuk di inbox-nya, dari Trias! Dan pesan itu baru dikirimkan tiga jam yang lalu.
Subject: ….
Er, aku nggak tahu lagi mesti gimana untuk mencari kamu. Aku udah beratus-ratus kali menghubungi ponsel kamu. Tapi nggak pernah aktif! Aku udah dateng kerumah kamu, tapi nggak ada orang disana!
Sebenarnya ada apa dengan kamu? Kenapa kamu menghilang seperti ini?
Aku lelah, Er. Aku lelah jika kamu terus bersikap seperti ini padaku tanpa aku tahu sebabnya.
Maafkan aku, Er. Aku rasa, hubungan kita tak akan bisa diteruskan lagi. Aku harap, dimanapun kamu sekarang berada, kamu akan selalu bahagia, melebihi rasa bahagiamu ketika bersamaku dulu. Walaupun aku sebenarnya tak tahu, apakah kamu benar-benar bahagia bersamaku.
Sekali lagi, maafkan aku, Er, harus mengatakan ini padamu. Satu yang perlu kau tahu, aku sudah berharap dari jauh-jauh hari, jika esok dihari ulang tahunku, kamu akan datang kerumahku pagi-pagi dan memberiku kejutan. Tapi kurasa itu tak akan mungkin terjadi, jika kamu saja menghilang seperti ini.
Selamat tinggal, Er… doaku selalu menyertaimu…
TRIAS
Eria tersentak, nyaris laptop itu jatuh dari pangkuannya. Ditatapnya kalender di ponsel Mama yang tergeletak di meja yang ada di samping ranjangnya. Hari ini tanggal 17 Juli! Astaga! Berarti aku sudah pingsan selama enam hari, dan itu tanpa memberi tahu Trias?! Batin Eria perih. Tidak! Tidak! Aku pasti bukan pingsan! Pasti ada sesuatu terjadi pada tubuhku sehingga aku tak sadarkan diri selama enam hari! Pantas saja tubuhku dipasangi alat-alat aneh seperti ini!
Eria nyaris memanggil Mama untuk bertanya mengenai hal itu, tepat ketika ia kembali teringat akan kalimat Trias di e-mail tadi: besok hari ulang tahun Trias!
Kepala Eria tiba-tiba dipenuhi dengan bayang-bayang rencana indah yang selama hampir sembilan bulan terakhir telah disusunnya dengan rapi. Rencana untuk ulang tahun Trias…
Eria nyaris bangkit dari duduknya, untuk menghampiri Mama, namun seketika pandangannya kembali gelap gulita…
* * * *
Trias dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita paruh baya, pagi-pagi buta dirumahnya. Wanita itu membawa setumpuk kado, yang jumlahnya puluhan, dari mulai yang sekecil genggaman tangan, hingga yang besarnya separuh tubuh Trias. Namun Trias tak tahu apa isinya, karena seluruh kado itu sudah terbungkus rapi.
Trias menghampiri wanita berpakaian serba hitam yang tengah sibuk mengangkut satu persatu kado itu dari dalam mobilnya, “maaf, anda siapa?” Tanya Trias sesopan mungkin.
Wanita itu berhenti berjalan, menatap Trias dengan mata berkaca-kaca. “Kamu… kamu yang namanya Trias?” Trias mengangguk, menjawab pertanyaan itu. Baru disadarinya, bahu wanita itu ternyata bergetar, menahan tangis. Lalu pada detik berikutnya, dengan gerakan cepat wanita itu memeluk Trias sambil menangis, membiarkan kado yang sedang dibawanya jatuh ke tanah.
“Saya… saya Mamanya Eria, Nak…”
Trias terenyak, diajaknya dengan segera wanita paruh baya pembawa kado itu berbicara di dalam rumahnya…
* * * *
Dear Trias…
Apa kabarmu disana, sayang? Aku merindukanmu. Aku ingin sekali mendengar kalimat yang selalu kau ucapkan padaku setiap harinya seperti dulu. Tapi kurasa, itu tak akan mungkin. Karena sekarang, aku akan pergi, sayang. Pergi ke tempat dimana aku akan hidup abadi. Tak jauh. Sungguh, tak akan jauh. Karena meski ragaku tak ada disini lagi, tapi hatiku akan selalu bersamamu… didekatmu…
Maafkan aku Trias, tak bisa membuatmu bahagia, tak bisa datang kerumahmu pagi-pagi buta untuk memberikan kejutan ulang tahun untukmu, seperti yang kau impikan. Maafkan aku. Tapi kurasa, saat kau membaca surat ini, kau telah bertemu dengan ibuku. Anggap saja, beliau sebagai penggantiku. Ia yang datang kerumahmu pagi-pagi buta untuk memberikanmu kado. Ya, kado! Tahukah kau Julianku sayang? Selama ini, setiap kali kau dan aku berjalan-jalan di Mal Kartini, lalu kau mengatakan padaku bahwa kau menyukai benda ini atau itu, diam-diam aku membelinya, untukmu. Ya… hanya untukmu…
Aku sudah lama merencanakan hal ini, sejak hari pertama kau mengajakku berjalan-jalan ke Mal itu. Rencana indah untuk ulang tahunmu.
Kau tahu sayang, mengapa aku ingin melakukannya? Karena aku selalu teringat kata-katamu. Bahwa kau akan sangat menyayangi orang yang memberikanmu barang-barang yang kau ingini itu. Aku ingin jadi wanita yang paling kau sayang didunia ini, Trias!
Ku harap, kau akan senang dengan semua ini, meski aku tak lagi berada disisimu.
Jujur, sayang. Aku pun terkejut begitu mengetahui ternyata aku terkena kanker otak stadium akhir. Dan syukurlah, aku baru mengetahui hal itu ketika sisa waktu kehidupanku didunia hanya tinggal menghitung detik. Jadi, aku tak perlu terlalu tersiksa dibuatnya.
Julianku sayang, jagalah dirimu baik-baik setelah aku pergi. Trias, aku menunggumu di surga,sayang. Walau mungkin kelak “disana” kau telah bersama bidadarimu yang lain. Selamat tinggal sayang… aku selalu mencintaimu…
Peluk hangat,
ERIA APRILIA

Trias menangis! Benar-benar menangis! Pedih rasanya begitu membaca surat terakhir yang ditulis Eria sebelum  “kepergiannya” tadi malam itu. Hati Trias sakit, sakit sekali…apa lagi jika mengingat kejadian kemarin, ketika dirinya mengirimkan e-mail untuk memutuskan hubungannya pada Eria. Bagaimana bisa Trias menyakiti hati cewek itu terlebih dalam lagi di detik-detik terakhir hidupnya? Trias benar-benar merasa bahwa dirinya sangat jahat!
Trias bangkit, menghampiri Mama Eria yang masih duduk terpekur dihadapannya sambil menangis. Dipeluknya wanita itu dengan erat, “maafkan, Trias, Tante. Trias jahat!”
Mama melepas pelukan itu lalu menghapus air mata yang menetes di pipi Trias. “Tidak Trias, ini bukan salahmu. Ini sudah takdir Tuhan. Eria memang harus pergi.”
Trias melepaskan pelukan itu, “Tante, bolehkah aku bertemu Eria terakhir kalinya sebelum ia dimakamkan?”
Mama mengangguk antusias. “Tentu! Tentu, Trias. Eria pasti akan senang bertemu denganmu. Ayo, kita pergi.” Mama mencoba tersenyum manis namun yang nampak malah senyum miris. Tangannya, menggandeng tangan Trias, masuk kedalam mobil.
THE END