Sabtu, 22 September 2018

Mengabadikan Kala Part VI



BRAJA PRAMUDYA

Namanya Braja Pramudya, seorang staff ahli disebuah perusahaan properti ternama. Karirnya ia rintis dengan tak mudah, berawal dari status karyawan kontrak selama nyaris sepuluh tahun, Braja akhirnya berhasil mendapatkan status karyawan tetap ketika sang istri tengah mengandung anak pertama mereka. Berawal dari sebuah rumah kontrakan sempit dengan dua kamar, Braja sedikit demi sedikit mulai menabung, membangun rumah untuk keluarga kecilnya dan membeli kendaraan yang lebih baik. Tepat ketika sang anak sulung yang ia beri nama Sangkala Indah Lestari itu berulang tahun kedua, Braja memboyong keluarga kecilnya pindah kerumah baru berkamar lima dengan halaman luas yang baru selesai ia bangun dengan jerih payah yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan dan begitu banyak getir pahit yang ia alami, Braja telah bertransformasi menjadi pribadi yang begitu pandai mensyukuri sekecil apapun nikmat hidup. Dimata istri dan kedua anaknya, Braja adalah sosok bijaksana, tempat segala aduan keluh kesah dan permasalahan dapat selesai dengan lapang dada.
Siang itu Braja tampak duduk tenang di teras rumahnya sembari menyesap segelas teh hangat dan menghabiskan setoples kue kering. Setelah semalam Kala mengatakan akan membawa lelaki teman dekatnya siang ini kerumah, Braja memutuskan untuk menunggu kehadiran lelaki itu langsung, sebagai sambutan hangat sekaligus pertanda betapa senangnya ia mendengar putri kecilnya telah mendapatkan sosok tambatan hati yang kelak akan menjaga Kala sebagai perpanjangan tangan Braja dikala Braja telah memasuki usia senja.
Lelaki itu sebenarnya bukan sekali dua kali memamiti Kala ketika hendak membawa Kala pergi, Braja sudah seringkali melihatnya. Namun ya hanya sebatas itu saja, pamit pergi, tanpa pernah berbicara sepatah kata apapun lebih jauh. Namun siang ini berbeda, Kala bilang lelaki itu ingin mengenal keluarga kecil mereka lebih dalam dan berbincang dengan dirinya serta istrinya, Lilia.
Tepat pukul satu siang, sebuah mobil sedan berwarna perak berhenti di pelataran parkir rumah Braja. Braja kontan melipat dengan rapi Koran yang ia baca, mengatur emosinya agar tetap tampak wibawa walau di dalam hati ia kegirangan bukan main layaknya seorang anak kecil. Braja memanggil Kala yang berada di dalam rumah. Tak lama, Kala keluar, dengan setelan dress berwarna abu-abu dengan sentuhan motif bunga kecil di bagian bawah.
Sesosok laki-laki bertubuh tegap atletis dengan kulit sawo matang turun dari mobil. Wajahnya tampak canggung. Braja melirik sekilas pada Kala yang berdiri disampingnya, wajah anak sulungnya itu tampak bercahaya dengan bahagia.
Abad menghentikan langkahnya tepat di depan Braja dan Kala yang berdiri bak palang pintu di depan teras. Abad menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, sebagai tanda hormat pada Braja. Diulurkannya tangan kemudian, “perkenalkan Om, saya Abad. Temannya Kala.”
Kala menahan tawa, melihat wajah Abad yang begitu canggung.
Braja menyambut uluran tangan itu dengan senyum sumringah, seolah ingin melunturkan kecanggungan Abad dan memberikan sinyal bahwa ia tak sama seperti ayah-ayah di tv yang sering digambarkan dengan watak galak dan pemarah. “Terimakasih Abad sudah mau main kerumah Kala. Ayo masuk.”  Braja melepas jabatan tangan itu dan menggiring Abad serta Kala masuk kedalam rumah. Semerbak wangi masakan yang baru saja diangkat dari wajan tercium seketika.
“Ma… Mama…” panggil Braja sembari berjalan melangkah menuju ruang makan. Dan tepat, disana, ia menemukan Lilia, istrinya, baru saja selesai memasak, bahkan ia belum melepas celemeknya.
Lilia kontan terkejut mendapati tamu yang ia tunggu-tunggu telah tiba, bahkan memergokinya di dapur dengan keadaan dirinya yang masih berantakan. Lilia dengan gerakan cepat menyopot celemeknya lalu mencuci tangan. “Silahkan duduk. Duduk dulu. Aduh, jadi malu baru selesai masak.”
Braja, Kala dan Abad duduk di kursi makan masing-masing. Menyusul kemudian Lilia dan tak lama Maryam datang dari arah ruang tengah.
Makan siang itu dimulai dengan hangat, canda tawa bertebaran disana kemari, obrolan ringan namun dibalut dengan suasana santai, sungguh membuat Abad langsung jatuh hati pertama kali pada keluarga kecil sederhana ini. Segala kecanggungannya luntur tak berbekas, hanyut bersama waktu yang berjalan dengan sukacita. Abad jelas dapat merasakan, keluarga ini menyambutnya dengan tangan begitu terbuka.

¤¤¤

Dalam hidupnya, tak pernah sekalipun terbayang dalam pikiran Braja akan terbujur kaku disebuah ranjang beralaskan sprei putih di dalam ruangan berbau khas lengkap dengan tangan yang ditusuk oleh jarum yang entah apalah namanya ia juga tak tahu. Dalam hidupnya, Braja selalu merasa tubuhnya dalam  keadaan baik-baik saja, tak pernah ada keluhan apapun yang ia rasa. Olahraga teratur serta makan makanan sehat selalu ia terapkan dalam hidupnya. Hingga akhirnya, hari ini tiba, Braja sadar, olahraga dan makan sehat saja tak cukup bagi kesehatan tubuhnya yang mulai menua, namun istirahat cukup juga haruslah menjadi urutan pertama.
Braja mengedarkan pandang, memandang Lilia sedang duduk di depan meja kecil di seberang tempat tidurnya sembari mengupas beberapa apel. Sementara itu di kiri tempat tidurnya, tepat diatas sebuah sofa empuk, tampak Maryam sedang tertidur kelelahan. Braja melirik jam dinding tepat diatas tv, pukul dua siang rupanya.
“Ma…” panggilnya pelan pada Lilia. Lilia menengok sekilas kemudian tersenyum.
“Sudah bangun? Tadi tidurnya pulas banget.”
“Apa kata dokter?” tembak Braja langsung pada inti, ia tak dapat lagi menyembunyikan rasa penasarannya.
Lilia tersenyum kecil, tangannya masih sibuk mengupasi apel. “Kelalahan. Anemia. Dokter bilang istirahat dua malam lagi mungkin baru sembuh.”
Braja memijat kepalanya pelan. Baru semalam saja rasanya ia sudah bosan dan muak berada di ruangan berukuran 4x4 meter ini, apalagi jika ditambah dua malam. Braja menghela nafas panjang. Pasrah.
Sepersedetik kemudian terdengar gagang pintu ditarik, dan menyembullah tubuh Kala diikuti Abad dibelakangnya dari balik pintu. Kala mendekati ranjang Braja lalu menyalimi lelaki paruh baya itu, Abad mengikuti.
“Papa gimana? Udah mendingan?” Kala mengambil kursi lalu duduk disamping Braja sembari memijati kaki Papanya itu.
Braja mengangguk lemah, “lumayan.” Ia masih belum mampu banyak bicara. Tubuhnya seperti memaksa untuk terus menghemat energi dan beristirahat. Kepalanya mulai memberat lagi, matanya seperti memaksa untuk memejam. “Kala…” panggilnya kemudian.
Kala menoleh, menatap mata Braja lurus, “ya, Pa?”
Braja kemudian menoleh pada Abad yang duduk disamping Lilia, “Abad….” panggilnya lagi. Abad kontan bangkit lalu berjalan mendekat. Kini sepasang kekasih itu berjejer di sebelah kiri tubuh Braja dengan serasi.
Braja tersenyum memandangi wajah keduanya bergantian, “kalian berdua ini ya. Cocok sekali.”
Kala terpana, itu adalah senyum pertama yang ia lihat sejak kemarin sore Ayahnya dilarikan ke rumah sakit karena terjatuh pingsan di kantornya.
“Abad, kalau misalnya umur Om ini ga lama lagi, Om titip Kala ya, dia ini tangguh tapi manja, isi kepalanya aneh-aneh, masih butuh diarahkan. Kamu harus sabar. Kalian harus menguatkan satu sama lain.” Entah dorongan darimana, kata demi kata itu meluncur begitu saja dari mulut Braja tanpa terencana, seperti digerakkan sendirinya.
Kala kontan melotot, lalu memasang muka cemberut, “Papa ini ngomong apa sih. Kok aneh-aneh.  Cuma anemia aja kok mikirnya jauh banget.”
Braja kontan tertawa, tawa yang begitu meledak seperti ada adegan lucu yang sedang ia tonton. Kala terdiam menatap kejanggalan itu, Braja seperti mendapatkan suntikan energi tiba-tiba. “Ya kan mikir itu harus visioner, Kal. Kedepan.” Celoteh Braja kemudian, lalu memejamkan matanya. “Udah ah, Papa ngantuk, mau tidur lagi.”
Abad beradu pandang dengan Kala, keheranan, sementara itu Lilia memasang ekspresi yang juga tak jauh berbeda, namun akhirnya ketiga makhluk itu tersenyum geli bersamaan. Braja, sesakit apapun ia, selemah apapun tubuhnya, tetaplah sosok menyenangkan yang tangguh dan pantang mengeluh.


SEBUAH PENYESUAIAN

Kala terbangun di pagi hari dengan pemandangan sawah yang berjejer rapi membentangi seluruh penjuru matanya. Tak lama pemandangan itu menghilang, lenyap seiring dengan deritan roda-roda besi yang melaju dengan cepat, kini Kala kembali disuguhkan dengan pemandangan hutan remang berbalur sinar mentari yang masih nampak malu. Tubuhnya terasa lumayan pegal setelah semalaman tidur dengan posisi duduk dan kaki berselonjor di kuda-kuda meja. Kereta antar provinsi yang ditumpanginya itu akan membawa Kala bersama tiga orang perempuan teman co-ass nya ke ibukota provinsi tetangga yang khas sekali dengan jembatan besar dilingkupi sungai penghasil ikan-ikan terbaik. Disana, Kala dan teman-temannya akan mengikuti seminar pelatihan kegawatdaruratan sebagai perwakilan kampus.
Tepat pukul sembilan pagi, kereta itu berhenti di stasiun tujuan akhir. Kala menggeret kopernya dengan keadaan mengantuk berat, teman-temannya membuntuti di belakang dengan keadaan tak jauh berbeda. Keempatnya kompak memesan taksi online menuju hotel yang sudah disiapkan dari pihak kampus. Hotel itu tepat berada di jantung keramaian kota, megah berdiri dengan 20 lantai dan kaca-kaca besar yang tampak selalu memantulkan awan ketika siang sedang terik-teriknya.
Setibanya di kamar hotel dengan empat single bed itu, Kala merebah tubuhnya terlebih dahulu tanpa berniat sedikitpun membereskan pakaian-pakaiannya dari dalam koper. Seluruh anggota tubuhnya sudah menjerit kelelahan dengan duduk manis selama perjalanan dua belas jam. Dalam hitungan detik, tanpa suara, Kala sudah tertidur dalam sepulas-pulasnya.

¤¤¤

“Kal, Bangun!” Sayup Kala mendengar suara perempuan lantang tepat disebelah telinganya. Ia pun dapat merasakan tubuhnya diguncang dengan hebat. “Kal, bangun, udah maghrib!” suara perempuan itu lantang sekali lagi terdengar, Kala dengan terpaksa membuka matanya, dan mendapati Stevia, salah satu temannya berada diatas ranjang yang ia tiduri.
“Kal, ayo siap-siap. Lo mandi terus sholat, abis itu kita keliling-keliling kota malam ini. Keburu besok ga sempet jalan-jalan kan udah keburu sibuk seminar.” Dewi, temannya yang lain menyahut dari ujung kamar sembari menyetrika baju.
“Enaknya makan di dekat sungai nih! Ya gak sih? Malam-malam gini pasti jembatan keliatan keren, banyak lampu-lampu,” timpal Carla yang sedang menyatok rambutnya, tak mau ketinggalan.
Kala mengulat mendengar itu semua, matanya masih begitu ingin terpejam.
“Kala!!!” Stevia kembali mengguncang tubuh Kala melihat gadis itu kembali hendak memejamkan mata.
Mendengar lengkingan sepuluh desibel itu, Kala menyerah. Ia bangkit berdiri dan mengambil handuknya dari dalam koper lalu bergegas menuju kamar mandi.

¤¤¤

Tepat pukul tujuh malam, keempat dokter muda itu melenggang keluar hotel dengan menggunakan taksi online. Sepakat, mereka akan makan malam di sebuah rumah makan khas di pinggir sungai utama kota yang menyajikan pemandangan sungai dan jembatan raksasa saat malam hari.
Kala tak mampu lagi menutupi rasa kagumnya melihat pemandangan kota malam itu. Lampu-lampu yang menghiasi jembatan raksasa saat gelap seolah menjadi magnet bagi mata semua orang. Riuh pula terdengar dari aliran sungai yang mendebur pelan dan terdengar samar.
Rumah makan yang Kala dan ketiga temannya datangi adalah salah satu rumah makan terkenal di kota itu dengan sajian makanan khas kota yang lezatnya bukan main. Perut lapar mereka membuat keempatnya berhasil menghabiskan enam porsi besar makanan khas bercuka dan satu termos besar es teh.
“Abis ini kemana?” Carla bertanya sembari memukul-mukul perutnya kekenyangan.
“Bentar-bentar googling dulu,” Stevia membuka ponselnya dengan cepat.
Kala menarik nafas panjang, “gabisa pulang ke hotel aja ya? Besok seminar. Takut kesiangan gue.”
Mendengar kalimat itu, kontan Dewi, Carla dan Stevia menatap tajam pada Kala yang secara tidak langsung menunjukkan ketidaksetujuan.
“Hey, Kal. This is big beautiful town and you still want to stay in your bed?” Stevia berseloroh.
Kala menggaruk kepala kebingungan. Ia pecinta lampu-lampu kota sungguh, sejak dulu, pemandangan kota adalah salah satu favoritnya selain pantai. Namun rasanya tubuh lelahnya lebih memilih untuk memandangi lampu kota dari balik jendela kamar hotel saja.
“Guys, save your energy please. We still have next three days here.” Kala tetap keras kepala.
Ketiga temannya tetap terdiam.
“Oke, oke. Kalo gitu gue pulang duluan. Kalian bertiga keliling kota. Gimana?” Kala memasang muka memelas. “Please, girls. Ya? Gue capek banget.”
Carla, Stevia dan Dewi saling pandang sesaat lalu sepakat mengangguk secara bersamaan. Kala menghela nafas lega, ia tersenyum, bangkit lalu pamit dan lekas memesan taksi online.

¤¤¤

Kala tiba di lobi hotel pukul sembilan malam. Dengan tubuh sempoyongan dan mata berat, ia berjalan menyusui lobi, masuk lift, demi kemudian naik ke kamarnya di lantai enam. Sudah lima kali ia menguap sejak turun dari taksi. Membayangkan kasur nyaman nan empuk membuatnya semakin terkantuk-kantuk.
Kala merogoh saku bajunya, namun tak menemukan kunci kamar disana. Ia membuka tasnya mengeluarkan isi-isi tasnya dengan sembarangan, namun tak kunjung juga menemukan apa-apa. Kala mengingat-ngingat kembali demi pada detik berikutnya ia menepuk dahinya sendiri.
“Astaga… kunci kamar kan dibawa Dewi,” Kala mengutuki dirinya sendiri. Ia menghempas tubuhnya ke lantai. Lemas. Kala lantas mencoba menghubungi ketiga temannya, namun tak ada satupun yang menjawab panggilan.
Kala terduduk sembari menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ketika kemudian sesosok perempuan berparas khas ayu Jawa muncul diujung lorong. Perempuan itu tampak menggeret sebuah koper berukuran mini sembari berjalan mendekat kearahnya namun pandangannya tampak celingukan membaca satu persatu nomor kamar. Kala memicingkan mata, meyakinkan bahwa penglihatannya tak salah menerjemahkan. Jantung Kala kontan berdegub tak beraturan ketika wanita itu berhenti tepat di hadapannya. Kala kini dapat memastikan dengan benar, kedua matanya sedang tak salah lihat.
“Ibu…” desis Kala kaku dengan sorot mata bingung. Seketika rasa kantuknya menguap begitu saja.

¤¤¤

“Kala? Kamu disini?” Arita tak mampu menyembunyikan ekspresi kagetnya. Ia memandang heran pada Kala yang terduduk diam di depan pintu seperti sedang kebingungan.
Kala spontan berdiri, menyalimi Arita dengan segera. “Iya, Bu. Kala disini. Ada seminar sampai tiga hari kedepan.” Jawab Kala lugas, mencoba tampak baik-baik saja. Padahal ia malu setengah mati Arita memergokinya sedang terduduk di depan pintu persis seperti orang hilang.
“Ini kamar kamu? Kenapa ga masuk?” tanya Arita kemudian, menyelidik. Segala tentang Kala rasanya memang selalu ingin ia selidiki.
Kala menggaruk kepala dan memasang ekspresi mesem, “eh… anu, Bu… Kala tadi keluar sama teman-teman. Kala pulang duluan. Ternyata kunci kamarnya sama teman Kala, Kala lupa, jadi gabisa masuk hehe,” Kala tertawa garing. Arita selalu berhasil membuat tubuhnya terasa kaku.
Arita tertawa kecil, “yasudah, yuk kita ke kamar ibu dulu, minum kopi atau makan cemilan sambil nunggu teman-teman kamu pulang.” Arita menyentuh pundak Kala dan tanpa persetujuan menggiring Kala ke kamarnya yang ternyata bersebelahan dengan kamar Kala. Kala hanya mampu terdiam, tak kuasa menolak.

¤¤¤

Kamar Arita memiliki ukuran yang sama dengan kamar Kala dan teman-temannya. Hanya saja di kamar ini tempat tidurnya adalah sebuah single bed berukuran large dengan interior mewah terukir di sisi-sisi tempat tidur.
“Kala suka kopi atau teh?” tanya Arita dari balik bilik dapur mini di pojok kamar.
“Teh saja, Bu.” Jawab Kala singkat sembari berusaha menenangkan hatinya. Kejadian ini benar-benar diluar nalar. Bisa-bisanya ia bertemu Arita di provinsi lain. Dunia rasanya sempit sekali.
Arita datang dari dapur dengan membawa dua cangkir teh hangat. “Diminum dulu, Kal.” Tegur Arita. Ia memosisikan duduknya tepat di kursi seberang tempat Kala duduk.
Kala meneguk teh itu dengan pelan, sembari menatap Arita diam-diam. “Ibu lagi liburan ya disini?” tanya Kala, bermaksud menegaskan tujuan Arita sebenarnya.
“Engga, Ibu besok ada pertemuan sama pebisnis-pebisnis berlian di ballroom hotel ini,” Arita tertawa ringan, “kalau liburan, ga mungkin ibu sendirian.” Arita mengedipkan matanya, jenaka.
Kala tersenyum kaku untuk kesekian kali.
“Kala sudah makan?”
“Sudah, Bu.”
“Tapi Ibu belum.”
“Banyak restoran enak kok, Bu, disini. Itu di depan ada…”
“Engga… engga… ibu gabisa makan sembarangan begitu. Kita masak saja gimana? Nanti bahan-bahannya ibu beli dari dapur hotel. Kebetulan manager hotel ini teman Ibu.”
Kala melongo, “masak, Bu?”
Arita mengangguk santai kemudian mengambil ponselnya dan menelepon langsung ke manager hotel. Dengan lincah Arita menyebutkan bahan-bahan yang ia butuhkan. Kala terdiam mendengar pembicaraan itu sembari menebak-nebak beberapa bentuk bahan makanan yang ia tak tahu.
“Baik, bahan makanan sampai 10 menit lagi. Habiskan tehnya dulu.” Arita memerintah Kala halus. Arita selalu berhasil memerintahnya tanpa mampu ia bantah.
Kala menelan ludahnya bulat-bulat. Malam ini akan menjadi sebuah pertaruhan hidup matinya. Sebab Arita mungkin belum tahu kalau Kala tidak bisa memasak.

¤¤¤

“Enaknya masak apa ya, Kal?” tanya Arita sembari mewadahi satu persatu bahan makanan mentah yang baru saja datang.
Kala tercenung, kepalanya kosong mendadak. Boro-boro mau memikirkan akan memasak hidangan apa, angka kejadian Kala memasuki dapur saja dapat dihitung dengan jari.
“Masak apa ya, Bu?” Kala tampak dengan santai menenangkan dirinya sembari ikut mewadahi beberapa jenis sayur. “Ibu sukanya apa?”
“Ibu sukanya apa aja, yang penting makanannya bersih. Ibu ikut Kala aja, mungkin Kala suka makanan tertentu?”
Kala terdiam, matanya berkeliling melihat berbagai jenis bahan makanan yang ada di hadapannya. Ia lekas berpikir cepat kira-kira menu apa yang bisa dibuat menggunakan bahan-bahan ini.
“Ikan goreng saja bu, sama tumis kangkung mungkin? Hehe.” Kala menyarankan menu yang kira-kira dapat ia masak saja. Sungguh ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri,
“Sederhana juga ya selera makanan Kala,” Arita tersenyum simpul, “yasudah ini ikannya dibersihkan dulu.” Arita menyodorkan mangkuk plastik besar berisi ikan-ikan segar yang masih bersisik. Kala menelan ludah. Sepertinya ia salah memilih menu.
Kala mengambil mangkuk itu dengan ragu sambil memikirkan bagaimana cara yang benar membersihkan ikan. Ia berdiri di depan wastafel cukup lama sembari menimang-nimang pisau ditangannya. Kala menyentuh tubuh ikan itu, mulai menempelkan pisaunya disisik dekat ekor, namun kemudian ia ragu. Ia balik tubuh ikan itu dan menempelkan pisaunya di sisik sekitar leher, namun sekali lagi, Kala kembali ragu.
“Bisa, Kal?” tanya Arita kemudian sembari berjalan mendekati Kala. Ditengokannya kepala kearah wastafel. Lalu tersenyum simpul mendapati Kala bahkan belum melakukan apa-apa. “Kala gabisa ya? Kenapa ga bilang ibu? Sini sini ibu ajarin.” Arita dengan cepat mengambil pisau ditangan Kala lalu mulai membersihkan sisik ikan dengan lincahnya. Pisau itu bergerak maju mundur tanpa jeda dari ekor hingga leher. Arita lalu meletakkan ikan itu diatas sebuah talenan, membeset perutnya, dan mengeluarkan kotoran dari dalam perut ikan. “Begini, Kal, membersihkan ikan. Bisa?” Arita melirik sekilas pada Kala sambil tersenyum. Kala membalas pertanyaan itu dengan senyum kaku malu bercampur wajah merah padam. “Yasudah, ikannya biar ibu yang bersihin, Kala kupasin bawang merah sama putih aja. Bisa kan?”
Kala mengangguk kaku, dulu sewaktu kecil ia sering diminta ibunya untuk membantu mengocek bawang sembari menonton kartun di tv. Kala rasa untuk urusan satu ini ia masih sanggup melakukannya.
Kala mengupas bawang dengan lumayan cepat, lalu mulai mengirisinya. Kemudian ia mencuci kangkung hingga bersih. Dan mulai mengirisi cabai. Di saat yang bersamaan, Arita juga sudah selesai dengan urusannya membersihkan ikan dan membumbuinya.
Wajan  berisi minyak mulai dipanaskan dengan api sedang. Saat mintak telah panas, dengan gerakan cepat Arita memasukan bumbu-bumbu tumis kangkung kedalamnya. Kala melihat adegan demi adegan itu dengan kagum. Arita tampak begitu pandai memasak. Dalam hitungan lima belas menit tumis kangkung itu selesai dan telah tersaji cantik di sebuah mangkuk porselen berwarna putih. Dari baunya saja Kala tau tumis kangkung itu rasanya sedap.
“Kala, tolong goreng ikannya ya, ibu mau ke kamar mandi sebentar.” Arita pun berlenggang meninggalkan Kala.
Kala dengan gerakan hati-hati menuang minyak ke dalam wajan, lalu menyalakan api. Ia kemudian memasukkan tiga ekor ikan sekaligus ketika minyak telah panas. Kala menarik nafas lega, setidaknya sampai langkah ini, ia tidak salah.
Kala sedang menunggu-nunggu kapan waktu yang tepat untuk membalikkan ikan-ikan itu ketika kemudian Arita datang dari kamar mandi. “Sudah?”
“Baru dimasukkin, Bu. Belum dibalik.”
Arita manggut-manggut dan kembali menyibukkan diri dengan mewadahi beberapa buah ke sebuah keranjang.
Kala tak kalah ingin tampak sibuk, ia mencoba membalikkan ketiga ikan tersebut namun ketiganya justru terasa begitu lengket di dasar wajan. Dengan sedikit tenaga ia mencungkil dasar wajan dengan paksa. Hingga kemudian minyak panas dari wajan justru menyiprat dan mengenai tangan Arita yang sedang mencuci buah di wastafel samping kompor. Kala terbelalak kaget melihat ekspresi Arita menahan pedih diiringi dengan bibirnya yang menceracau aduh.
“Ibu… ibu maafin Kala. Ya ampun ibu. Maaf ga sengaja,” Kala dengan cepat mengelap percikan minyak di tangan Arita sembari meniup-niup membantu agar tangan Arita tak kepanasan lagi. Ia panik bukan main. Sungguh kejadian ini benar-benar mempermalukan dirinya. Rasanya detik ini juga Kala ingin terbang keluar jendela.
Dengan elegan Arita tersenyum sembari mengusap-usap tangannya, “sudah-sudah gapapa. Kan Kala ga sengaja,” Arita tersenyum. “Kala sekarang duduk aja, biar ibu yang goreng ikannya ya, oke?”
Kala terdiam, mundur teratur beberapa langkah ke belakang. Malam ini adalah salah satu malam terburuk di hidupnya.

¤¤¤

Seusai makan malam penuh kecanggungan itu, Kala buru-buru membereskan piring-piring bekas makanan dan mencucinya. Segala tentang malam ini tak hanya membuat tubuhnya lelah, namun hatinya juga. Kala sudah begit ingin pulang ke kamarnya, merebah, tertidur, dan berharap esok semua kejadian malam ini lekas menguap dari kepalanya.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, namun ketiga temannya belum juga menjawab panggilan telepon Kala. Pertanda, mereka bertiga belum pulang ke hotel.
“Teman Kala belum pulang?” Arita tampak sedang membereskan tempat tidurnya. “Kalau mereka belum pulang, Kala tidur disini saja. Sama Ibu.”
Kala ternganga, dahinya berkerut maksimal.
Arita tertawa kecil melihat ekspresi Kala, “kenapa? Kok kaget?”
Kala menggaruk kepalanya, tersenyum canggung. “Gausah, Bu. Nanti Kala merepotkan Ibu.”
“Loh merepotkan kenapa? Kan Ibu yang nawarin bukan Kala yang meminta, ya kan?”
Kala terdiam tak mampu membantah.
Arita berjalan menuju lemari pakaiannya, mengeluarkan sebuah baju tidur berbentuk dress berbahan satin lembut berwarna cokelat tua. “Sekarang Kala ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi, pakai pakaian tidur ini. Sudah malam, sudah waktunya istirahat.”
Kala menurut tanpa mampu membantah. Segala perkataan Arita memang mengandung nilai magis tersendiri bagi siapapun yang mendengarnya.

¤¤¤

Setengah tersadar Kala mengerjapkan matanya. Ponselnya yang tepat berada di samping telinganya berdering hebat membuat gadis itu terkejut dan mau tak mau terbangun. “Halo?”
“Kala! Lo kok gak pulang semaleman? Mana di telepon ga nyambung-nyambung,” Kala spontan membelalakkan mata lalu terduduk di atas ranjang. Suara Stevia membuat kesadarannya kembali penuh.
“Astaga!” Kala menepuk dahinya, “Sorry… gue lupa bilang ya, gue tidur di kamar sebelah.”
“Hah? Kamar sebelah?”
“Nanti gue ceritain deh. Jangan sekarang.”
“Oke sekarang lo bangun, balik ke kamar. Dua jam lagi seminar mulai.” Sambungan telepon itu pun langsung terputus. Kala menghela nafas sembari memandangi layar ponselnya.
Tiba-tiba Kala tersadar akan suatu hal, sisi tempat tidur di sebelahnya kosong, tak hanya itu, bahkan kamar itu memang kosong melompong menyisakan Kala seorang diri disana. Arita tak ada dimana-mana. Kala melongok ke arah dapur dan masih tak ada siapa-siapa. Kala mengetuk pintu kamar mandi lalu membukanya, dan masih tak menemukan Arita disana. Kala berjalan mengelilingi kamar dan akhirnya menemukan sebuah catatan kecil di nakas samping ranjang, sebuah kertas kecil berwarna putih yang dibubuhi tulisan tangan yang sangat rapi. Ibu jogging sebentar, di meja makan sudah ada sarapan. Kala melirik jam dinding dan menemukan jarum pendek menunjuk angka delapan.
Kala meremas kertas itu dengan gemas bercampur kesal. Satu lagi kesalahan terjadi padanya kali ini; ia bangun kesiangan. Hal ini sebenarnya lumrah terjadi saat Kala berada di rumah. Namun kali ini hal ini terjadi di depan Arita. ARITA. A R I T A. Sosok perempuan perfeksionis nan cerdas yang sedang Kala gadang-gadangkan sebagai calon ibu mertuanya.
Kala terduduk lemas. Segala rentetan kemalangan ini membuat ia benar-benar ingin mengutuki dirinya sendiri.
Namun sedetik kemudian Kala mendapatkan ide bagus untuk sedikit memperbaiki nama baiknya; ia akan membereskan kamar hotel Arita hingga nampak apik seapik-apiknya.

¤¤¤

Setelah merapikan tempat tidur, membereskan dapur, mencuci beberapa peralatan masak yang kotor karena Arita memasak sarapan, menyapu sudut-sudut lantai yang tampak berdebu dan beberapa kegiatan membersihkan kamar lainnya, Kala memandang puas pada kamar hotel Arita yang tampak cemerlang, bahkan cleaning service yang mengetok kamar pun Kala tolak dan dengan bangga ia berkata bahwa ia akan membereskan kamar itu seorang diri.
Setelah memastikan semua rapi, Kala bergegas mandi sebab badannya terasa begitu lengket. Di kamar mandi, dibawah pancuran air yang mengguyur tubuhnya, Kala senyam senyum sendiri membayangkan wajah Arita yang begitu sumringah memujinya sebab kamar yang ia tempati telah begitu rapi dan bersih. Kala rasanya begitu tak sabar bertemu Arita, ia ingin cepat-cepat mendapat pengampunan atas kesalahan-kesalahannya sejak semalam.
Usai mandi, Kala segera memakai piama handuknya dan keluar kamar mandi demi kemudian melihat pemandangan ganjil; Arita lengkap dengan pakaian joggingnya sedang membereskan ulang tempat tidur.
“Ibu?” panggil Kala pada Arita yang memunggunginya.
Arita melirik Kala sekilas lalu tersenyum, “abis mandi? Udah sarapan?” ia kemudian kembali membereskan tempat tidurnya. Menata ulang susunan bantal, melipat ulang bentuk selimut, dan merapikan lipatan lipatan di sudut sprei.
“Bu, tadi tempat tidurnya udah Kala beresin loh hehe,” Kala tertawa garing keheranan melihat kejadian itu.
“Oh udah diberesin ya? Ibu kira belum, soalnya masih agak berantakan gitu, gak sesuai susunannya.” Arita mengucapkan kalimat itu tanpa dosa seolah kalimat itu tak bermakna apa-apa. Padahal Kala nyaris terjatuh lemas mendengarnya.
“Kala juga tadi udah beresin dapur, Bu. Kamar ibu juga udah Kala sapu.” Tambah Kala cepat, masih mencoba menyelamatkan namanya.
Arita tersenyum, “iya, Ibu sudah lihat. Tadi air cucian piringnya banyak yang nyiprat. Lupa Kala bersihkan ya?” tohok Arita kemudian. Kala benar-benar ingin masuk ke dalam perut bumi rasanya. Nada bicara Arita memang terdengar biasa saja, begitu santai mengalun, seperti tak ada apa-apa, Kala akui wanita ini memang begitu pandai menyembunyikan segala gejolak emosi yang ada pada dirinya. Namun dalam hati, Kala tahu bahkan sadar, Arita secara tidak langsung menyudutkannya hingga benar-benar terhimpit.
“Maaf, Bu. Kala minta maaf kalau tidak sebersih sesuai mau Ibu.” Suara Kala mulai bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya begitu sakit dan kecewa. Pedih sebab segala usahanya tak berharga.
Arita bangkit dari ranjang lalu beranjak ke dapur hendak membuat teh, “iya, gapapa. Lagian kenapa ga suruh cleaning service aja tadi?”
Kala terdiam, ia tak sanggup lagi bicara. “Bu, Kala pamit ya. Sudah ditunggu teman-teman.” Dengan gerakan cepat Kala mengambil barang-barangnya di nakas lalu melenggang pergi dari kamar itu menggunakan piama handuk, tak perduli meski Arita memanggilinya berkali-kali menyuruhnya mengganti baju dan mengajaknya meminum teh bersama.

¤¤¤

Abad baru saja tiba di kantor ketika nama Kala terpampang pada layar ponselnya, menderingkan ponsel itu berulang-ulang kali.
“Halo, Sayang. Selamat pagi. Aku sudah dikantor ya.” Abad membuka pintu ruangannya, merapikan beberapa berkas yang tampak menumpuk, ponsel itu dijepitkannya diantara telinga dan bahu. “Kamu semangat seminarnya hari ini. Cepet pulang. Aku kangen.”
“Bad…” suara Kala terdengar bergetar. Abad menangkap nada itu sebagai sesuatu yang tak biasa.
“Kal? Kamu kenapa?”
“Bad… aku ga kuat…” Kala menggantung kalimatnya demi pada detik berikutnya menangis sesenggukan diujung telepon.
“Kal? Kala? Sayang? Kamu kenapa? Kala… Kala dengerin aku, Sayang. Tenang tenang. Pelan-pelan. Cerita ke aku oke?” rasanya Abad begitu ingin memeluk Kala demi menenangkannya detik itu juga.
“Bad… aku ga kuat pokoknya aku nyerah…” tangis itu masih begitu parau terdengar.
“Nyerah? Nyerah apa? Nyerah jadi dokter? Nyerah menghadapi aku? Nyerah apa, Sayang? Jelasin ke aku pelan-pelan.” Abad mulai ikut kebingungan, tangis Kala itu terdengar layaknya orang yang benar-benar terluka.
“Bad pokoknya aku ga kuat…”
“Kamu dimana sekarang?” Abad memotong kalimat Kala.
“Di kamar hotel. Setengah jam lagi seminar mulai.”
Abad melirik jam tangannya sekilas, “enam jam lagi aku bakal sampe disana, aku bakal naik pesawat penerbangan pertama pagi ini. Kamu tunggu aku disana. Tenang ya, Kal. Aku datang. Oke? Nanti kita bicarakan semuanya disana. Sekarang kamu hapus air mata kamu, kamu ikuti dulu acara seminarnya. Pokoknya nanti kamu selesai seminar, aku sudah sampai disana.” Abad menutup semua lembar pekerjaan yang sudah ia siapkan. Tak perduli. Kala jauh lebih penting saat ini.
Mendengar itu semua, Kala hanya mampu menangis dalam diam, menghapus air matanya pelan-pelan. Hatinya mulai tenang mengetahui pengobat segala kekalutannya akan segera datang.

¤¤¤

“Kamu dimana?”
“Aku lagi antri ambil bagasi, Kal. Sebentar ya…”
“Aku di lobby.”
Abad mengerutkan dahinya, “Lobby mana?”
“Lobby bandara. Jemput kamu. Aku di lobby kedatangan B. Aku tunggu ya.” Telepon itu pun mati tanpa aba-aba.
Begitu koper berada ditangan, Abad dengan buru-buru berlari kencang kearah pintu kedatangan. Rasa cemasnya semakin menjadi, Kala sungguh terdengar sangat tidak baik-baik saja.
Tiba di lobby, Abad dapat langsung menemukannya dalam satu kali pandang, gadis itu, berdiri menyandar pada dinding dengan mata yang sembab. Cantiknya motif batik yang Kala kenakan bahkan tak mampu menutupi tubuhnya yang lemah dan tampak rapuh. Begitu lelah.
“Kala!” Abad memanggil sembari berjalan cepat.
Kala menoleh dan tanpa ampun langsung berlari kencang kemudian memeluk Abad demi menangis sekencang-kencangnya dalam dekapan kekasih yang sangat ia sayangi itu. Tak diperdulikannya berapa banyak mata yang menatapnya heran. Kala tetap menangis, sejadi-jadinya. Segela kesedihan itu telah menemukan tempat tumpah.
“Kala… Sayang… tenang dulu. Ssssttt… udah ya, Sayang. Aku sudah disini. Semua bakal baik-baik aja kok.” Abad mengusap lembut kepala Kala, lalu melepaskan pelukan itu pelan pelan. Ditatapnya mata Kala yang basah dengan lurus. Segala kesedihan itu dalam sekejap langsung turut menghujami batin Abad. Abad dapat merasakannya dengan jelas. “Sayang, kita cari tempat ngobrol yuk. Tenang ya. Sudah-sudah.” Abad menggenggam tangan Kala, menggiringnya menuju ke lantai paling atas gedung parkir bandara.

¤¤¤

Dari gedung parkir paling atas, pemandangan kota nampak tersaji dengan sempurna. Jembatan raksasa tampak megah menjulang dari kejauhan dengan aliran sungai besar yang tenang dibawahnya. Kala tersenyum, memandang Abad sekilas, lelaki itu selalu tahu bagaimana cara membuat Kala tenang. Samar, Kala kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Abad di atap gedung fakultas kedokteran.
Ditemani langit yang mulai menjingga, Kala dan Abad berdiri bersisian di pagar pembatas gedung dengan tatapan yang membuang jauh pada semua sudut pemandangan.
“Udah bisa cerita?” tanya Abad setelah sekian lama keduanya menghening. Membiarkan Kala tenang.
Kala menarik nafas panjang. Hal ini akan menjadi perbicangan yang tak mudah. Sebab segala yang menyangkut Arita tentu saja akan membuat Abad lebih sensitif. “Bad, Ibu lagi dimana?” Kala membuka pembicaraan.
Abad mengernyit. “Kok kamu jadi nanyain ibu?”
“Pingin tahu aja Ibu lagi dimana.”
Abad tertawa kecil, “kamu aneh banget,” diusapnya kepala Kala. “Ibu dari kemarin keluar kota, ada perlu katanya.”
“Kamu gatau ibu perginya ke kota mana?”
Abad menggeleng, “engga, soalnya Ibu biasanya sekali pergi langsung ke beberapa kota. Kalau sudah pulang beliau baru cerita. Eh, kenapa sih kok nanyain Ibu?”
Kala menghela nafas, “Ibu disini, Bad. Di kota ini. Satu hotel sama aku. Dan kamar kami sebelahan.” Kala menjelaskan dengan pelan sebelum masuk ke inti cerita.
“Hah? Serius? Berarti kamu ketemu Ibu? Kok kamu ga cerita dari kemarin?”
Kala tertawa miris, “bukan cuma ketemu, kami tidur satu ranjang malah.”
Abad ternganga, ditatapnya Kala sambil geleng kepala. “Kal? Kamu lagi ga bercandain aku kan?”
“Apa aku keliatan terlalu sering bercanda ya?”
Abad mengangguk, “oke… oke… aku percaya. Terus gimana? Bagus dong kalau kamu bisa sekamar sama Ibu. Itu ibu yang ajakin kamu? Kamu ngobrol apa aja sama Ibu?” Abad tak tahan lagi, diberondongnya Kala dengan rentetan pertanyaan.
Kala tersenyum, namun matanya mulai berkaca-kaca. Ditatapnya Abad dengan begitu pedih. “Bad… aku ga ngerti… aku bener-bener ga paham kenapa semua yang aku lakuin di mata ibu kamu salah. Semua yang aku lakuin itu cacat bagi beliau. Aku tahu beliau itu sempurna, perfeksionis, sedangkan aku ini belum tahu apa-apa, tapi….” Kala mulai terisak, “tapi kenapa beliau memperlakukan aku seperti sampah, Bad… seharusnya beliau ga begitu ke aku…”
“Kal… aku ga ngerti apa maksud kamu? Ibu kenapa sama kamu, Kal? Ibu jahatin kamu?”
“Semalam aku ga sengaja ketemu ibu di lobby. Entah kebetulan. Entah rancangan ibu kamu. Aku juga ga tahu. Kemudian aku diajak beliau minum teh dikamar beliau yang ternyata sebelahan sama kamar aku. Kemudian beliau bilang beliau lapar, lalu beliau ajak aku masak. Beliau minta aku bersihin ikan tapi ternyata aku gabisa. Beliau minta aku goreng ikan, tapi kemudian minyaknya nyiprat ke tubuh beliau. Dan setelah kejadian memalukan itu beliau ajak aku tidur sekamar. Lalu hari ini aku bangun kesiangan, sedangkan beliau sudah pergi jogging. Lalu demi menyelamatkan nama baikku aku berinisiatif membersihkan kamar beliau. Tapi sepulangnya beliau jogging beliau malah mengomentari seluruh hasil pekerjaanku. Beliau bilang tempat tidurnya masih ga rapih lah, air bekas cucian piring belum dibersihankan lah, lantai masih berdebu lah…” sambil terisak Kala terus berceracau tanpa jeda.
“Kal…”
“Diam! Jangan potong aku bicara!” Kala menarik napas pendek, amarahnya begitu membludak, “iya… iya…  aku tau beliau memang ga secara langsung mengatakan semua pekerjaanku berantakan. Tapi beliau menyindir aku dengan tajam dan aku merasa.”
“Kal…”
“Bad… aku ini manusia. Selalu ada salahnya. Aku sampai kapanpun ga akan pernah bisa sempurna. Kalau Ibu kamu cari yang sempurna sampai ke hal-hal terkecil aku mundur, Bad. Aku ga kuat.”
“Kal, tenang dulu…”
“Bad, mau sampai kapan ibu kamu menguji aku seperti ini? Mau sampai kapan??? Aku ini sedang pacaran, bukan sedang sekolah, ga butuh ujian!”
“Sangkala…” Abad memeluk Kala spontan begitu menyadari emosi gadis itu mulai meledak hingga ke ubun-ubun. Kala diam, namun air matanya kembali menderas.
“Bad… aku ga kuat…” lirih Kala kembali.
“Sayang, ingat, kamu punya aku. Apa yang gabisa kita lewatkan selagi kita masih saling memiliki? Kamu jangan takut.” Abad melepas pelukan itu. Menatap mata Kala lembut. “Nanti biar aku bicarakan dengan ibu baik-baik ya. Aku ikut kamu pulang ke hotel, biar aku temui ibu.”
Kala menghapus air matanya satu persatu, kemudian ia mengangguk pelan. “Makasih ya, Bad. Makasih…”
Abad kembali memeluk Kala, namun kali ini lebih erat. Dalam hatinya, Kala mengucapkan terimakasih entah untuk keberapa kali pada semesta, sebab semesta telah memberinya lelaki yang mencintainya tanpa tetapi.


bersambung....