BRAJA PRAMUDYA
Namanya Braja
Pramudya, seorang staff ahli disebuah perusahaan properti ternama. Karirnya ia
rintis dengan tak mudah, berawal dari status karyawan kontrak selama nyaris
sepuluh tahun, Braja akhirnya berhasil mendapatkan status karyawan tetap ketika
sang istri tengah mengandung anak pertama mereka. Berawal dari sebuah rumah
kontrakan sempit dengan dua kamar, Braja sedikit demi sedikit mulai menabung,
membangun rumah untuk keluarga kecilnya dan membeli kendaraan yang lebih baik.
Tepat ketika sang anak sulung yang ia beri nama Sangkala Indah Lestari itu
berulang tahun kedua, Braja memboyong keluarga kecilnya pindah kerumah baru
berkamar lima dengan halaman luas yang baru selesai ia bangun dengan jerih
payah yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan dan begitu banyak getir pahit
yang ia alami, Braja telah bertransformasi menjadi pribadi yang begitu pandai
mensyukuri sekecil apapun nikmat hidup. Dimata istri dan kedua anaknya, Braja
adalah sosok bijaksana, tempat segala aduan keluh kesah dan permasalahan dapat
selesai dengan lapang dada.
Siang itu Braja
tampak duduk tenang di teras rumahnya sembari menyesap segelas teh hangat dan
menghabiskan setoples kue kering. Setelah semalam Kala mengatakan akan membawa
lelaki teman dekatnya siang ini kerumah, Braja memutuskan untuk menunggu
kehadiran lelaki itu langsung, sebagai sambutan hangat sekaligus pertanda betapa
senangnya ia mendengar putri kecilnya telah mendapatkan sosok tambatan hati
yang kelak akan menjaga Kala sebagai perpanjangan tangan Braja dikala Braja
telah memasuki usia senja.
Lelaki itu sebenarnya
bukan sekali dua kali memamiti Kala ketika hendak membawa Kala pergi, Braja
sudah seringkali melihatnya. Namun ya hanya sebatas itu saja, pamit pergi,
tanpa pernah berbicara sepatah kata apapun lebih jauh. Namun siang ini berbeda,
Kala bilang lelaki itu ingin mengenal keluarga kecil mereka lebih dalam dan berbincang
dengan dirinya serta istrinya, Lilia.
Tepat pukul satu
siang, sebuah mobil sedan berwarna perak berhenti di pelataran parkir rumah
Braja. Braja kontan melipat dengan rapi Koran yang ia baca, mengatur emosinya
agar tetap tampak wibawa walau di dalam hati ia kegirangan bukan main layaknya
seorang anak kecil. Braja memanggil Kala yang berada di dalam rumah. Tak lama,
Kala keluar, dengan setelan dress berwarna abu-abu dengan sentuhan motif bunga
kecil di bagian bawah.
Sesosok
laki-laki bertubuh tegap atletis dengan kulit sawo matang turun dari mobil.
Wajahnya tampak canggung. Braja melirik sekilas pada Kala yang berdiri
disampingnya, wajah anak sulungnya itu tampak bercahaya dengan bahagia.
Abad
menghentikan langkahnya tepat di depan Braja dan Kala yang berdiri bak palang
pintu di depan teras. Abad menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, sebagai
tanda hormat pada Braja. Diulurkannya tangan kemudian, “perkenalkan Om, saya
Abad. Temannya Kala.”
Kala menahan
tawa, melihat wajah Abad yang begitu canggung.
Braja menyambut
uluran tangan itu dengan senyum sumringah, seolah ingin melunturkan
kecanggungan Abad dan memberikan sinyal bahwa ia tak sama seperti ayah-ayah di
tv yang sering digambarkan dengan watak galak dan pemarah. “Terimakasih Abad
sudah mau main kerumah Kala. Ayo masuk.”
Braja melepas jabatan tangan itu dan menggiring Abad serta Kala masuk
kedalam rumah. Semerbak wangi masakan yang baru saja diangkat dari wajan
tercium seketika.
“Ma… Mama…”
panggil Braja sembari berjalan melangkah menuju ruang makan. Dan tepat, disana,
ia menemukan Lilia, istrinya, baru saja selesai memasak, bahkan ia belum
melepas celemeknya.
Lilia kontan
terkejut mendapati tamu yang ia tunggu-tunggu telah tiba, bahkan memergokinya
di dapur dengan keadaan dirinya yang masih berantakan. Lilia dengan gerakan
cepat menyopot celemeknya lalu mencuci tangan. “Silahkan duduk. Duduk dulu.
Aduh, jadi malu baru selesai masak.”
Braja, Kala dan
Abad duduk di kursi makan masing-masing. Menyusul kemudian Lilia dan tak lama
Maryam datang dari arah ruang tengah.
Makan siang itu
dimulai dengan hangat, canda tawa bertebaran disana kemari, obrolan ringan
namun dibalut dengan suasana santai, sungguh membuat Abad langsung jatuh hati
pertama kali pada keluarga kecil sederhana ini. Segala kecanggungannya luntur
tak berbekas, hanyut bersama waktu yang berjalan dengan sukacita. Abad jelas
dapat merasakan, keluarga ini menyambutnya dengan tangan begitu terbuka.
¤¤¤
Dalam hidupnya,
tak pernah sekalipun terbayang dalam pikiran Braja akan terbujur kaku disebuah
ranjang beralaskan sprei putih di dalam ruangan berbau khas lengkap dengan
tangan yang ditusuk oleh jarum yang entah apalah namanya ia juga tak tahu.
Dalam hidupnya, Braja selalu merasa tubuhnya dalam keadaan baik-baik saja, tak pernah ada
keluhan apapun yang ia rasa. Olahraga teratur serta makan makanan sehat selalu
ia terapkan dalam hidupnya. Hingga akhirnya, hari ini tiba, Braja sadar,
olahraga dan makan sehat saja tak cukup bagi kesehatan tubuhnya yang mulai
menua, namun istirahat cukup juga haruslah menjadi urutan pertama.
Braja
mengedarkan pandang, memandang Lilia sedang duduk di depan meja kecil di
seberang tempat tidurnya sembari mengupas beberapa apel. Sementara itu di kiri
tempat tidurnya, tepat diatas sebuah sofa empuk, tampak Maryam sedang tertidur
kelelahan. Braja melirik jam dinding tepat diatas tv, pukul dua siang rupanya.
“Ma…” panggilnya
pelan pada Lilia. Lilia menengok sekilas kemudian tersenyum.
“Sudah bangun?
Tadi tidurnya pulas banget.”
“Apa kata
dokter?” tembak Braja langsung pada inti, ia tak dapat lagi menyembunyikan rasa
penasarannya.
Lilia tersenyum
kecil, tangannya masih sibuk mengupasi apel. “Kelalahan. Anemia. Dokter bilang
istirahat dua malam lagi mungkin baru sembuh.”
Braja memijat
kepalanya pelan. Baru semalam saja rasanya ia sudah bosan dan muak berada di
ruangan berukuran 4x4 meter ini, apalagi jika ditambah dua malam. Braja
menghela nafas panjang. Pasrah.
Sepersedetik
kemudian terdengar gagang pintu ditarik, dan menyembullah tubuh Kala diikuti
Abad dibelakangnya dari balik pintu. Kala mendekati ranjang Braja lalu
menyalimi lelaki paruh baya itu, Abad mengikuti.
“Papa gimana?
Udah mendingan?” Kala mengambil kursi lalu duduk disamping Braja sembari
memijati kaki Papanya itu.
Braja mengangguk
lemah, “lumayan.” Ia masih belum mampu banyak bicara. Tubuhnya seperti memaksa
untuk terus menghemat energi dan beristirahat. Kepalanya mulai memberat lagi,
matanya seperti memaksa untuk memejam. “Kala…” panggilnya kemudian.
Kala menoleh,
menatap mata Braja lurus, “ya, Pa?”
Braja kemudian
menoleh pada Abad yang duduk disamping Lilia, “Abad….” panggilnya lagi. Abad
kontan bangkit lalu berjalan mendekat. Kini sepasang kekasih itu berjejer di
sebelah kiri tubuh Braja dengan serasi.
Braja tersenyum
memandangi wajah keduanya bergantian, “kalian berdua ini ya. Cocok sekali.”
Kala terpana,
itu adalah senyum pertama yang ia lihat sejak kemarin sore Ayahnya dilarikan ke
rumah sakit karena terjatuh pingsan di kantornya.
“Abad, kalau
misalnya umur Om ini ga lama lagi, Om titip Kala ya, dia ini tangguh tapi
manja, isi kepalanya aneh-aneh, masih butuh diarahkan. Kamu harus sabar. Kalian
harus menguatkan satu sama lain.” Entah dorongan darimana, kata demi kata itu
meluncur begitu saja dari mulut Braja tanpa terencana, seperti digerakkan
sendirinya.
Kala kontan
melotot, lalu memasang muka cemberut, “Papa ini ngomong apa sih. Kok
aneh-aneh. Cuma anemia aja kok mikirnya
jauh banget.”
Braja kontan
tertawa, tawa yang begitu meledak seperti ada adegan lucu yang sedang ia
tonton. Kala terdiam menatap kejanggalan itu, Braja seperti mendapatkan
suntikan energi tiba-tiba. “Ya kan mikir itu harus visioner, Kal. Kedepan.”
Celoteh Braja kemudian, lalu memejamkan matanya. “Udah ah, Papa ngantuk, mau
tidur lagi.”
Abad beradu
pandang dengan Kala, keheranan, sementara itu Lilia memasang ekspresi yang juga
tak jauh berbeda, namun akhirnya ketiga makhluk itu tersenyum geli bersamaan. Braja,
sesakit apapun ia, selemah apapun tubuhnya, tetaplah sosok menyenangkan yang
tangguh dan pantang mengeluh.
SEBUAH PENYESUAIAN
Kala terbangun
di pagi hari dengan pemandangan sawah yang berjejer rapi membentangi seluruh
penjuru matanya. Tak lama pemandangan itu menghilang, lenyap seiring dengan
deritan roda-roda besi yang melaju dengan cepat, kini Kala kembali disuguhkan
dengan pemandangan hutan remang berbalur sinar mentari yang masih nampak malu.
Tubuhnya terasa lumayan pegal setelah semalaman tidur dengan posisi duduk dan
kaki berselonjor di kuda-kuda meja. Kereta antar provinsi yang ditumpanginya
itu akan membawa Kala bersama tiga orang perempuan teman co-ass nya ke ibukota
provinsi tetangga yang khas sekali dengan jembatan besar dilingkupi sungai
penghasil ikan-ikan terbaik. Disana, Kala dan teman-temannya akan mengikuti
seminar pelatihan kegawatdaruratan sebagai perwakilan kampus.
Tepat pukul
sembilan pagi, kereta itu berhenti di stasiun tujuan akhir. Kala menggeret
kopernya dengan keadaan mengantuk berat, teman-temannya membuntuti di belakang
dengan keadaan tak jauh berbeda. Keempatnya kompak memesan taksi online menuju
hotel yang sudah disiapkan dari pihak kampus. Hotel itu tepat berada di jantung
keramaian kota, megah berdiri dengan 20 lantai dan kaca-kaca besar yang tampak
selalu memantulkan awan ketika siang sedang terik-teriknya.
Setibanya di
kamar hotel dengan empat single bed itu, Kala merebah tubuhnya terlebih dahulu
tanpa berniat sedikitpun membereskan pakaian-pakaiannya dari dalam koper.
Seluruh anggota tubuhnya sudah menjerit kelelahan dengan duduk manis selama
perjalanan dua belas jam. Dalam hitungan detik, tanpa suara, Kala sudah
tertidur dalam sepulas-pulasnya.
¤¤¤
“Kal, Bangun!”
Sayup Kala mendengar suara perempuan lantang tepat disebelah telinganya. Ia pun
dapat merasakan tubuhnya diguncang dengan hebat. “Kal, bangun, udah maghrib!”
suara perempuan itu lantang sekali lagi terdengar, Kala dengan terpaksa membuka
matanya, dan mendapati Stevia, salah satu temannya berada diatas ranjang yang
ia tiduri.
“Kal, ayo
siap-siap. Lo mandi terus sholat, abis itu kita keliling-keliling kota malam
ini. Keburu besok ga sempet jalan-jalan kan udah keburu sibuk seminar.” Dewi,
temannya yang lain menyahut dari ujung kamar sembari menyetrika baju.
“Enaknya makan
di dekat sungai nih! Ya gak sih? Malam-malam gini pasti jembatan keliatan
keren, banyak lampu-lampu,” timpal Carla yang sedang menyatok rambutnya, tak
mau ketinggalan.
Kala mengulat
mendengar itu semua, matanya masih begitu ingin terpejam.
“Kala!!!” Stevia
kembali mengguncang tubuh Kala melihat gadis itu kembali hendak memejamkan
mata.
Mendengar
lengkingan sepuluh desibel itu, Kala menyerah. Ia bangkit berdiri dan mengambil
handuknya dari dalam koper lalu bergegas menuju kamar mandi.
¤¤¤
Tepat pukul tujuh
malam, keempat dokter muda itu melenggang keluar hotel dengan menggunakan taksi
online. Sepakat, mereka akan makan malam di sebuah rumah makan khas di pinggir
sungai utama kota yang menyajikan pemandangan sungai dan jembatan raksasa saat
malam hari.
Kala tak mampu
lagi menutupi rasa kagumnya melihat pemandangan kota malam itu. Lampu-lampu
yang menghiasi jembatan raksasa saat gelap seolah menjadi magnet bagi mata
semua orang. Riuh pula terdengar dari aliran sungai yang mendebur pelan dan
terdengar samar.
Rumah makan yang
Kala dan ketiga temannya datangi adalah salah satu rumah makan terkenal di kota
itu dengan sajian makanan khas kota yang lezatnya bukan main. Perut lapar
mereka membuat keempatnya berhasil menghabiskan enam porsi besar makanan khas
bercuka dan satu termos besar es teh.
“Abis ini
kemana?” Carla bertanya sembari memukul-mukul perutnya kekenyangan.
“Bentar-bentar
googling dulu,” Stevia membuka ponselnya dengan cepat.
Kala menarik
nafas panjang, “gabisa pulang ke hotel aja ya? Besok seminar. Takut kesiangan gue.”
Mendengar
kalimat itu, kontan Dewi, Carla dan Stevia menatap tajam pada Kala yang secara
tidak langsung menunjukkan ketidaksetujuan.
“Hey, Kal. This
is big beautiful town and you still want to stay in your bed?” Stevia
berseloroh.
Kala menggaruk
kepala kebingungan. Ia pecinta lampu-lampu kota sungguh, sejak dulu,
pemandangan kota adalah salah satu favoritnya selain pantai. Namun rasanya tubuh
lelahnya lebih memilih untuk memandangi lampu kota dari balik jendela kamar
hotel saja.
“Guys, save your
energy please. We still have next three days here.” Kala tetap keras kepala.
Ketiga temannya
tetap terdiam.
“Oke, oke. Kalo
gitu gue pulang duluan. Kalian bertiga keliling kota. Gimana?” Kala memasang
muka memelas. “Please, girls. Ya? Gue capek banget.”
Carla, Stevia
dan Dewi saling pandang sesaat lalu sepakat mengangguk secara bersamaan. Kala
menghela nafas lega, ia tersenyum, bangkit lalu pamit dan lekas memesan taksi
online.
¤¤¤
Kala tiba di
lobi hotel pukul sembilan malam. Dengan tubuh sempoyongan dan mata berat, ia
berjalan menyusui lobi, masuk lift, demi kemudian naik ke kamarnya di lantai
enam. Sudah lima kali ia menguap sejak turun dari taksi. Membayangkan kasur
nyaman nan empuk membuatnya semakin terkantuk-kantuk.
Kala merogoh
saku bajunya, namun tak menemukan kunci kamar disana. Ia membuka tasnya
mengeluarkan isi-isi tasnya dengan sembarangan, namun tak kunjung juga
menemukan apa-apa. Kala mengingat-ngingat kembali demi pada detik berikutnya ia
menepuk dahinya sendiri.
“Astaga… kunci
kamar kan dibawa Dewi,” Kala mengutuki dirinya sendiri. Ia menghempas tubuhnya
ke lantai. Lemas. Kala lantas mencoba menghubungi ketiga temannya, namun tak
ada satupun yang menjawab panggilan.
Kala terduduk
sembari menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ketika kemudian sesosok perempuan
berparas khas ayu Jawa muncul diujung lorong. Perempuan itu tampak menggeret
sebuah koper berukuran mini sembari berjalan mendekat kearahnya namun
pandangannya tampak celingukan membaca satu persatu nomor kamar. Kala
memicingkan mata, meyakinkan bahwa penglihatannya tak salah menerjemahkan.
Jantung Kala kontan berdegub tak beraturan ketika wanita itu berhenti tepat di
hadapannya. Kala kini dapat memastikan dengan benar, kedua matanya sedang tak
salah lihat.
“Ibu…” desis
Kala kaku dengan sorot mata bingung. Seketika rasa kantuknya menguap begitu
saja.
¤¤¤
“Kala? Kamu
disini?” Arita tak mampu menyembunyikan ekspresi kagetnya. Ia memandang heran
pada Kala yang terduduk diam di depan pintu seperti sedang kebingungan.
Kala spontan
berdiri, menyalimi Arita dengan segera. “Iya, Bu. Kala disini. Ada seminar
sampai tiga hari kedepan.” Jawab Kala lugas, mencoba tampak baik-baik saja.
Padahal ia malu setengah mati Arita memergokinya sedang terduduk di depan pintu
persis seperti orang hilang.
“Ini kamar kamu?
Kenapa ga masuk?” tanya Arita kemudian, menyelidik. Segala tentang Kala rasanya
memang selalu ingin ia selidiki.
Kala menggaruk
kepala dan memasang ekspresi mesem, “eh… anu, Bu… Kala tadi keluar sama
teman-teman. Kala pulang duluan. Ternyata kunci kamarnya sama teman Kala, Kala
lupa, jadi gabisa masuk hehe,” Kala tertawa garing. Arita selalu berhasil
membuat tubuhnya terasa kaku.
Arita tertawa
kecil, “yasudah, yuk kita ke kamar ibu dulu, minum kopi atau makan cemilan
sambil nunggu teman-teman kamu pulang.” Arita menyentuh pundak Kala dan tanpa
persetujuan menggiring Kala ke kamarnya yang ternyata bersebelahan dengan kamar
Kala. Kala hanya mampu terdiam, tak kuasa menolak.
¤¤¤
Kamar Arita
memiliki ukuran yang sama dengan kamar Kala dan teman-temannya. Hanya saja di
kamar ini tempat tidurnya adalah sebuah single bed berukuran large dengan
interior mewah terukir di sisi-sisi tempat tidur.
“Kala suka kopi
atau teh?” tanya Arita dari balik bilik dapur mini di pojok kamar.
“Teh saja, Bu.”
Jawab Kala singkat sembari berusaha menenangkan hatinya. Kejadian ini
benar-benar diluar nalar. Bisa-bisanya ia bertemu Arita di provinsi lain. Dunia
rasanya sempit sekali.
Arita datang
dari dapur dengan membawa dua cangkir teh hangat. “Diminum dulu, Kal.” Tegur
Arita. Ia memosisikan duduknya tepat di kursi seberang tempat Kala duduk.
Kala meneguk teh
itu dengan pelan, sembari menatap Arita diam-diam. “Ibu lagi liburan ya
disini?” tanya Kala, bermaksud menegaskan tujuan Arita sebenarnya.
“Engga, Ibu
besok ada pertemuan sama pebisnis-pebisnis berlian di ballroom hotel ini,”
Arita tertawa ringan, “kalau liburan, ga mungkin ibu sendirian.” Arita
mengedipkan matanya, jenaka.
Kala tersenyum
kaku untuk kesekian kali.
“Kala sudah
makan?”
“Sudah, Bu.”
“Tapi Ibu
belum.”
“Banyak restoran
enak kok, Bu, disini. Itu di depan ada…”
“Engga… engga…
ibu gabisa makan sembarangan begitu. Kita masak saja gimana? Nanti
bahan-bahannya ibu beli dari dapur hotel. Kebetulan manager hotel ini teman
Ibu.”
Kala melongo,
“masak, Bu?”
Arita mengangguk
santai kemudian mengambil ponselnya dan menelepon langsung ke manager hotel.
Dengan lincah Arita menyebutkan bahan-bahan yang ia butuhkan. Kala terdiam
mendengar pembicaraan itu sembari menebak-nebak beberapa bentuk bahan makanan
yang ia tak tahu.
“Baik, bahan makanan
sampai 10 menit lagi. Habiskan tehnya dulu.” Arita memerintah Kala halus. Arita
selalu berhasil memerintahnya tanpa mampu ia bantah.
Kala menelan
ludahnya bulat-bulat. Malam ini akan menjadi sebuah pertaruhan hidup matinya.
Sebab Arita mungkin belum tahu kalau Kala tidak bisa memasak.
¤¤¤
“Enaknya masak
apa ya, Kal?” tanya Arita sembari mewadahi satu persatu bahan makanan mentah
yang baru saja datang.
Kala tercenung,
kepalanya kosong mendadak. Boro-boro mau memikirkan akan memasak hidangan apa,
angka kejadian Kala memasuki dapur saja dapat dihitung dengan jari.
“Masak apa ya,
Bu?” Kala tampak dengan santai menenangkan dirinya sembari ikut mewadahi
beberapa jenis sayur. “Ibu sukanya apa?”
“Ibu sukanya apa
aja, yang penting makanannya bersih. Ibu ikut Kala aja, mungkin Kala suka
makanan tertentu?”
Kala terdiam,
matanya berkeliling melihat berbagai jenis bahan makanan yang ada di
hadapannya. Ia lekas berpikir cepat kira-kira menu apa yang bisa dibuat
menggunakan bahan-bahan ini.
“Ikan goreng saja
bu, sama tumis kangkung mungkin? Hehe.” Kala menyarankan menu yang kira-kira
dapat ia masak saja. Sungguh ia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri,
“Sederhana juga
ya selera makanan Kala,” Arita tersenyum simpul, “yasudah ini ikannya
dibersihkan dulu.” Arita menyodorkan mangkuk plastik besar berisi ikan-ikan
segar yang masih bersisik. Kala menelan ludah. Sepertinya ia salah memilih
menu.
Kala mengambil
mangkuk itu dengan ragu sambil memikirkan bagaimana cara yang benar
membersihkan ikan. Ia berdiri di depan wastafel cukup lama sembari
menimang-nimang pisau ditangannya. Kala menyentuh tubuh ikan itu, mulai
menempelkan pisaunya disisik dekat ekor, namun kemudian ia ragu. Ia balik tubuh
ikan itu dan menempelkan pisaunya di sisik sekitar leher, namun sekali lagi,
Kala kembali ragu.
“Bisa, Kal?”
tanya Arita kemudian sembari berjalan mendekati Kala. Ditengokannya kepala
kearah wastafel. Lalu tersenyum simpul mendapati Kala bahkan belum melakukan
apa-apa. “Kala gabisa ya? Kenapa ga bilang ibu? Sini sini ibu ajarin.” Arita
dengan cepat mengambil pisau ditangan Kala lalu mulai membersihkan sisik ikan
dengan lincahnya. Pisau itu bergerak maju mundur tanpa jeda dari ekor hingga
leher. Arita lalu meletakkan ikan itu diatas sebuah talenan, membeset perutnya,
dan mengeluarkan kotoran dari dalam perut ikan. “Begini, Kal, membersihkan
ikan. Bisa?” Arita melirik sekilas pada Kala sambil tersenyum. Kala membalas
pertanyaan itu dengan senyum kaku malu bercampur wajah merah padam. “Yasudah,
ikannya biar ibu yang bersihin, Kala kupasin bawang merah sama putih aja. Bisa
kan?”
Kala mengangguk
kaku, dulu sewaktu kecil ia sering diminta ibunya untuk membantu mengocek
bawang sembari menonton kartun di tv. Kala rasa untuk urusan satu ini ia masih
sanggup melakukannya.
Kala mengupas
bawang dengan lumayan cepat, lalu mulai mengirisinya. Kemudian ia mencuci
kangkung hingga bersih. Dan mulai mengirisi cabai. Di saat yang bersamaan,
Arita juga sudah selesai dengan urusannya membersihkan ikan dan membumbuinya.
Wajan berisi minyak mulai dipanaskan dengan api
sedang. Saat mintak telah panas, dengan gerakan cepat Arita memasukan
bumbu-bumbu tumis kangkung kedalamnya. Kala melihat adegan demi adegan itu
dengan kagum. Arita tampak begitu pandai memasak. Dalam hitungan lima belas
menit tumis kangkung itu selesai dan telah tersaji cantik di sebuah mangkuk
porselen berwarna putih. Dari baunya saja Kala tau tumis kangkung itu rasanya
sedap.
“Kala, tolong
goreng ikannya ya, ibu mau ke kamar mandi sebentar.” Arita pun berlenggang
meninggalkan Kala.
Kala dengan gerakan
hati-hati menuang minyak ke dalam wajan, lalu menyalakan api. Ia kemudian
memasukkan tiga ekor ikan sekaligus ketika minyak telah panas. Kala menarik
nafas lega, setidaknya sampai langkah ini, ia tidak salah.
Kala sedang
menunggu-nunggu kapan waktu yang tepat untuk membalikkan ikan-ikan itu ketika
kemudian Arita datang dari kamar mandi. “Sudah?”
“Baru
dimasukkin, Bu. Belum dibalik.”
Arita
manggut-manggut dan kembali menyibukkan diri dengan mewadahi beberapa buah ke
sebuah keranjang.
Kala tak kalah
ingin tampak sibuk, ia mencoba membalikkan ketiga ikan tersebut namun ketiganya
justru terasa begitu lengket di dasar wajan. Dengan sedikit tenaga ia
mencungkil dasar wajan dengan paksa. Hingga kemudian minyak panas dari wajan
justru menyiprat dan mengenai tangan Arita yang sedang mencuci buah di wastafel
samping kompor. Kala terbelalak kaget melihat ekspresi Arita menahan pedih
diiringi dengan bibirnya yang menceracau aduh.
“Ibu… ibu maafin
Kala. Ya ampun ibu. Maaf ga sengaja,” Kala dengan cepat mengelap percikan
minyak di tangan Arita sembari meniup-niup membantu agar tangan Arita tak
kepanasan lagi. Ia panik bukan main. Sungguh kejadian ini benar-benar
mempermalukan dirinya. Rasanya detik ini juga Kala ingin terbang keluar
jendela.
Dengan elegan
Arita tersenyum sembari mengusap-usap tangannya, “sudah-sudah gapapa. Kan Kala
ga sengaja,” Arita tersenyum. “Kala sekarang duduk aja, biar ibu yang goreng
ikannya ya, oke?”
Kala terdiam,
mundur teratur beberapa langkah ke belakang. Malam ini adalah salah satu malam
terburuk di hidupnya.
¤¤¤
Seusai makan
malam penuh kecanggungan itu, Kala buru-buru membereskan piring-piring bekas
makanan dan mencucinya. Segala tentang malam ini tak hanya membuat tubuhnya
lelah, namun hatinya juga. Kala sudah begit ingin pulang ke kamarnya, merebah,
tertidur, dan berharap esok semua kejadian malam ini lekas menguap dari
kepalanya.
Jam menunjukkan
pukul sebelas malam, namun ketiga temannya belum juga menjawab panggilan
telepon Kala. Pertanda, mereka bertiga belum pulang ke hotel.
“Teman Kala
belum pulang?” Arita tampak sedang membereskan tempat tidurnya. “Kalau mereka
belum pulang, Kala tidur disini saja. Sama Ibu.”
Kala ternganga, dahinya
berkerut maksimal.
Arita tertawa
kecil melihat ekspresi Kala, “kenapa? Kok kaget?”
Kala menggaruk
kepalanya, tersenyum canggung. “Gausah, Bu. Nanti Kala merepotkan Ibu.”
“Loh merepotkan
kenapa? Kan Ibu yang nawarin bukan Kala yang meminta, ya kan?”
Kala terdiam tak
mampu membantah.
Arita berjalan
menuju lemari pakaiannya, mengeluarkan sebuah baju tidur berbentuk dress
berbahan satin lembut berwarna cokelat tua. “Sekarang Kala ke kamar mandi, cuci
muka, gosok gigi, pakai pakaian tidur ini. Sudah malam, sudah waktunya
istirahat.”
Kala menurut
tanpa mampu membantah. Segala perkataan Arita memang mengandung nilai magis
tersendiri bagi siapapun yang mendengarnya.
¤¤¤
Setengah
tersadar Kala mengerjapkan matanya. Ponselnya yang tepat berada di samping
telinganya berdering hebat membuat gadis itu terkejut dan mau tak mau
terbangun. “Halo?”
“Kala! Lo kok
gak pulang semaleman? Mana di telepon ga nyambung-nyambung,” Kala spontan
membelalakkan mata lalu terduduk di atas ranjang. Suara Stevia membuat
kesadarannya kembali penuh.
“Astaga!” Kala
menepuk dahinya, “Sorry… gue lupa bilang ya, gue tidur di kamar sebelah.”
“Hah? Kamar
sebelah?”
“Nanti gue ceritain
deh. Jangan sekarang.”
“Oke sekarang lo
bangun, balik ke kamar. Dua jam lagi seminar mulai.” Sambungan telepon itu pun
langsung terputus. Kala menghela nafas sembari memandangi layar ponselnya.
Tiba-tiba Kala
tersadar akan suatu hal, sisi tempat tidur di sebelahnya kosong, tak hanya itu,
bahkan kamar itu memang kosong melompong menyisakan Kala seorang diri disana.
Arita tak ada dimana-mana. Kala melongok ke arah dapur dan masih tak ada
siapa-siapa. Kala mengetuk pintu kamar mandi lalu membukanya, dan masih tak
menemukan Arita disana. Kala berjalan mengelilingi kamar dan akhirnya menemukan
sebuah catatan kecil di nakas samping ranjang, sebuah kertas kecil berwarna
putih yang dibubuhi tulisan tangan yang sangat rapi. Ibu jogging sebentar, di meja makan sudah ada sarapan. Kala melirik
jam dinding dan menemukan jarum pendek menunjuk angka delapan.
Kala meremas
kertas itu dengan gemas bercampur kesal. Satu lagi kesalahan terjadi padanya
kali ini; ia bangun kesiangan. Hal ini sebenarnya lumrah terjadi saat Kala
berada di rumah. Namun kali ini hal ini terjadi di depan Arita. ARITA. A R I T
A. Sosok perempuan perfeksionis nan cerdas yang sedang Kala gadang-gadangkan
sebagai calon ibu mertuanya.
Kala terduduk
lemas. Segala rentetan kemalangan ini membuat ia benar-benar ingin mengutuki
dirinya sendiri.
Namun sedetik
kemudian Kala mendapatkan ide bagus untuk sedikit memperbaiki nama baiknya; ia
akan membereskan kamar hotel Arita hingga nampak apik seapik-apiknya.
¤¤¤
Setelah merapikan
tempat tidur, membereskan dapur, mencuci beberapa peralatan masak yang kotor
karena Arita memasak sarapan, menyapu sudut-sudut lantai yang tampak berdebu
dan beberapa kegiatan membersihkan kamar lainnya, Kala memandang puas pada
kamar hotel Arita yang tampak cemerlang, bahkan cleaning service yang mengetok
kamar pun Kala tolak dan dengan bangga ia berkata bahwa ia akan membereskan
kamar itu seorang diri.
Setelah
memastikan semua rapi, Kala bergegas mandi sebab badannya terasa begitu
lengket. Di kamar mandi, dibawah pancuran air yang mengguyur tubuhnya, Kala
senyam senyum sendiri membayangkan wajah Arita yang begitu sumringah memujinya
sebab kamar yang ia tempati telah begitu rapi dan bersih. Kala rasanya begitu
tak sabar bertemu Arita, ia ingin cepat-cepat mendapat pengampunan atas kesalahan-kesalahannya
sejak semalam.
Usai mandi, Kala
segera memakai piama handuknya dan keluar kamar mandi demi kemudian melihat
pemandangan ganjil; Arita lengkap dengan pakaian joggingnya sedang membereskan
ulang tempat tidur.
“Ibu?” panggil
Kala pada Arita yang memunggunginya.
Arita melirik
Kala sekilas lalu tersenyum, “abis mandi? Udah sarapan?” ia kemudian kembali
membereskan tempat tidurnya. Menata ulang susunan bantal, melipat ulang bentuk
selimut, dan merapikan lipatan lipatan di sudut sprei.
“Bu, tadi tempat
tidurnya udah Kala beresin loh hehe,” Kala tertawa garing keheranan melihat
kejadian itu.
“Oh udah
diberesin ya? Ibu kira belum, soalnya masih agak berantakan gitu, gak sesuai
susunannya.” Arita mengucapkan kalimat itu tanpa dosa seolah kalimat itu tak
bermakna apa-apa. Padahal Kala nyaris terjatuh lemas mendengarnya.
“Kala juga tadi
udah beresin dapur, Bu. Kamar ibu juga udah Kala sapu.” Tambah Kala cepat,
masih mencoba menyelamatkan namanya.
Arita tersenyum,
“iya, Ibu sudah lihat. Tadi air cucian piringnya banyak yang nyiprat. Lupa Kala
bersihkan ya?” tohok Arita kemudian. Kala benar-benar ingin masuk ke dalam
perut bumi rasanya. Nada bicara Arita memang terdengar biasa saja, begitu santai
mengalun, seperti tak ada apa-apa, Kala akui wanita ini memang begitu pandai
menyembunyikan segala gejolak emosi yang ada pada dirinya. Namun dalam hati,
Kala tahu bahkan sadar, Arita secara tidak langsung menyudutkannya hingga
benar-benar terhimpit.
“Maaf, Bu. Kala minta
maaf kalau tidak sebersih sesuai mau Ibu.” Suara Kala mulai bergetar, matanya
mulai berkaca-kaca. Hatinya begitu sakit dan kecewa. Pedih sebab segala
usahanya tak berharga.
Arita bangkit
dari ranjang lalu beranjak ke dapur hendak membuat teh, “iya, gapapa. Lagian
kenapa ga suruh cleaning service aja tadi?”
Kala terdiam, ia
tak sanggup lagi bicara. “Bu, Kala pamit ya. Sudah ditunggu teman-teman.”
Dengan gerakan cepat Kala mengambil barang-barangnya di nakas lalu melenggang
pergi dari kamar itu menggunakan piama handuk, tak perduli meski Arita
memanggilinya berkali-kali menyuruhnya mengganti baju dan mengajaknya meminum
teh bersama.
¤¤¤
Abad baru saja
tiba di kantor ketika nama Kala terpampang pada layar ponselnya, menderingkan
ponsel itu berulang-ulang kali.
“Halo, Sayang. Selamat
pagi. Aku sudah dikantor ya.” Abad membuka pintu ruangannya, merapikan beberapa
berkas yang tampak menumpuk, ponsel itu dijepitkannya diantara telinga dan
bahu. “Kamu semangat seminarnya hari ini. Cepet pulang. Aku kangen.”
“Bad…” suara
Kala terdengar bergetar. Abad menangkap nada itu sebagai sesuatu yang tak
biasa.
“Kal? Kamu kenapa?”
“Bad… aku ga
kuat…” Kala menggantung kalimatnya demi pada detik berikutnya menangis
sesenggukan diujung telepon.
“Kal? Kala? Sayang?
Kamu kenapa? Kala… Kala dengerin aku, Sayang. Tenang tenang. Pelan-pelan. Cerita
ke aku oke?” rasanya Abad begitu ingin memeluk Kala demi menenangkannya detik
itu juga.
“Bad… aku ga
kuat pokoknya aku nyerah…” tangis itu masih begitu parau terdengar.
“Nyerah? Nyerah apa?
Nyerah jadi dokter? Nyerah menghadapi aku? Nyerah apa, Sayang? Jelasin ke aku
pelan-pelan.” Abad mulai ikut kebingungan, tangis Kala itu terdengar layaknya
orang yang benar-benar terluka.
“Bad pokoknya
aku ga kuat…”
“Kamu dimana
sekarang?” Abad memotong kalimat Kala.
“Di kamar hotel.
Setengah jam lagi seminar mulai.”
Abad melirik jam
tangannya sekilas, “enam jam lagi aku bakal sampe disana, aku bakal naik
pesawat penerbangan pertama pagi ini. Kamu tunggu aku disana. Tenang ya, Kal. Aku
datang. Oke? Nanti kita bicarakan semuanya disana. Sekarang kamu hapus air mata
kamu, kamu ikuti dulu acara seminarnya. Pokoknya nanti kamu selesai seminar,
aku sudah sampai disana.” Abad menutup semua lembar pekerjaan yang sudah ia
siapkan. Tak perduli. Kala jauh lebih penting saat ini.
Mendengar itu
semua, Kala hanya mampu menangis dalam diam, menghapus air matanya pelan-pelan.
Hatinya mulai tenang mengetahui pengobat segala kekalutannya akan segera
datang.
¤¤¤
“Kamu dimana?”
“Aku lagi antri
ambil bagasi, Kal. Sebentar ya…”
“Aku di lobby.”
Abad mengerutkan
dahinya, “Lobby mana?”
“Lobby bandara. Jemput
kamu. Aku di lobby kedatangan B. Aku tunggu ya.” Telepon itu pun mati tanpa
aba-aba.
Begitu koper berada
ditangan, Abad dengan buru-buru berlari kencang kearah pintu kedatangan. Rasa cemasnya
semakin menjadi, Kala sungguh terdengar sangat tidak baik-baik saja.
Tiba di lobby, Abad
dapat langsung menemukannya dalam satu kali pandang, gadis itu, berdiri
menyandar pada dinding dengan mata yang sembab. Cantiknya motif batik yang Kala
kenakan bahkan tak mampu menutupi tubuhnya yang lemah dan tampak rapuh. Begitu lelah.
“Kala!” Abad
memanggil sembari berjalan cepat.
Kala menoleh dan
tanpa ampun langsung berlari kencang kemudian memeluk Abad demi menangis
sekencang-kencangnya dalam dekapan kekasih yang sangat ia sayangi itu. Tak diperdulikannya
berapa banyak mata yang menatapnya heran. Kala tetap menangis, sejadi-jadinya. Segela
kesedihan itu telah menemukan tempat tumpah.
“Kala… Sayang…
tenang dulu. Ssssttt… udah ya, Sayang. Aku sudah disini. Semua bakal baik-baik
aja kok.” Abad mengusap lembut kepala Kala, lalu melepaskan pelukan itu pelan
pelan. Ditatapnya mata Kala yang basah dengan lurus. Segala kesedihan itu dalam
sekejap langsung turut menghujami batin Abad. Abad dapat merasakannya dengan
jelas. “Sayang, kita cari tempat ngobrol yuk. Tenang ya. Sudah-sudah.” Abad
menggenggam tangan Kala, menggiringnya menuju ke lantai paling atas gedung parkir
bandara.
¤¤¤
Dari gedung
parkir paling atas, pemandangan kota nampak tersaji dengan sempurna. Jembatan raksasa
tampak megah menjulang dari kejauhan dengan aliran sungai besar yang tenang
dibawahnya. Kala tersenyum, memandang Abad sekilas, lelaki itu selalu tahu
bagaimana cara membuat Kala tenang. Samar, Kala kembali teringat pertemuan
pertamanya dengan Abad di atap gedung fakultas kedokteran.
Ditemani langit
yang mulai menjingga, Kala dan Abad berdiri bersisian di pagar pembatas gedung
dengan tatapan yang membuang jauh pada semua sudut pemandangan.
“Udah bisa
cerita?” tanya Abad setelah sekian lama keduanya menghening. Membiarkan Kala
tenang.
Kala menarik
nafas panjang. Hal ini akan menjadi perbicangan yang tak mudah. Sebab segala
yang menyangkut Arita tentu saja akan membuat Abad lebih sensitif. “Bad, Ibu
lagi dimana?” Kala membuka pembicaraan.
Abad mengernyit.
“Kok kamu jadi nanyain ibu?”
“Pingin tahu aja
Ibu lagi dimana.”
Abad tertawa
kecil, “kamu aneh banget,” diusapnya kepala Kala. “Ibu dari kemarin keluar
kota, ada perlu katanya.”
“Kamu gatau ibu
perginya ke kota mana?”
Abad menggeleng,
“engga, soalnya Ibu biasanya sekali pergi langsung ke beberapa kota. Kalau sudah
pulang beliau baru cerita. Eh, kenapa sih kok nanyain Ibu?”
Kala menghela
nafas, “Ibu disini, Bad. Di kota ini. Satu hotel sama aku. Dan kamar kami
sebelahan.” Kala menjelaskan dengan pelan sebelum masuk ke inti cerita.
“Hah? Serius? Berarti
kamu ketemu Ibu? Kok kamu ga cerita dari kemarin?”
Kala tertawa
miris, “bukan cuma ketemu, kami tidur satu ranjang malah.”
Abad ternganga,
ditatapnya Kala sambil geleng kepala. “Kal? Kamu lagi ga bercandain aku kan?”
“Apa aku
keliatan terlalu sering bercanda ya?”
Abad mengangguk,
“oke… oke… aku percaya. Terus gimana? Bagus dong kalau kamu bisa sekamar sama
Ibu. Itu ibu yang ajakin kamu? Kamu ngobrol apa aja sama Ibu?” Abad tak tahan
lagi, diberondongnya Kala dengan rentetan pertanyaan.
Kala tersenyum,
namun matanya mulai berkaca-kaca. Ditatapnya Abad dengan begitu pedih. “Bad…
aku ga ngerti… aku bener-bener ga paham kenapa semua yang aku lakuin di mata
ibu kamu salah. Semua yang aku lakuin itu cacat bagi beliau. Aku tahu beliau
itu sempurna, perfeksionis, sedangkan aku ini belum tahu apa-apa, tapi….” Kala mulai
terisak, “tapi kenapa beliau memperlakukan aku seperti sampah, Bad… seharusnya beliau
ga begitu ke aku…”
“Kal… aku ga
ngerti apa maksud kamu? Ibu kenapa sama kamu, Kal? Ibu jahatin kamu?”
“Semalam aku ga
sengaja ketemu ibu di lobby. Entah kebetulan. Entah rancangan ibu kamu. Aku juga
ga tahu. Kemudian aku diajak beliau minum teh dikamar beliau yang ternyata
sebelahan sama kamar aku. Kemudian beliau bilang beliau lapar, lalu beliau ajak
aku masak. Beliau minta aku bersihin ikan tapi ternyata aku gabisa. Beliau minta
aku goreng ikan, tapi kemudian minyaknya nyiprat ke tubuh beliau. Dan setelah
kejadian memalukan itu beliau ajak aku tidur sekamar. Lalu hari ini aku bangun
kesiangan, sedangkan beliau sudah pergi jogging. Lalu demi menyelamatkan nama
baikku aku berinisiatif membersihkan kamar beliau. Tapi sepulangnya beliau
jogging beliau malah mengomentari seluruh hasil pekerjaanku. Beliau bilang tempat tidurnya masih ga rapih lah, air bekas cucian
piring belum dibersihankan lah, lantai masih berdebu lah…” sambil terisak Kala
terus berceracau tanpa jeda.
“Kal…”
“Diam! Jangan potong
aku bicara!” Kala menarik napas pendek, amarahnya begitu membludak, “iya… iya… aku tau beliau memang ga secara langsung mengatakan
semua pekerjaanku berantakan. Tapi beliau menyindir aku dengan tajam dan aku
merasa.”
“Kal…”
“Bad… aku ini
manusia. Selalu ada salahnya. Aku sampai kapanpun ga akan pernah bisa sempurna.
Kalau Ibu kamu cari yang sempurna sampai ke hal-hal terkecil aku mundur, Bad. Aku
ga kuat.”
“Kal, tenang
dulu…”
“Bad, mau sampai
kapan ibu kamu menguji aku seperti ini? Mau sampai kapan??? Aku ini sedang
pacaran, bukan sedang sekolah, ga butuh ujian!”
“Sangkala…” Abad
memeluk Kala spontan begitu menyadari emosi gadis itu mulai meledak hingga ke
ubun-ubun. Kala diam, namun air matanya kembali menderas.
“Bad… aku ga
kuat…” lirih Kala kembali.
“Sayang, ingat,
kamu punya aku. Apa yang gabisa kita lewatkan selagi kita masih saling
memiliki? Kamu jangan takut.” Abad melepas pelukan itu. Menatap mata Kala
lembut. “Nanti biar aku bicarakan dengan ibu baik-baik ya. Aku ikut kamu pulang
ke hotel, biar aku temui ibu.”
Kala menghapus
air matanya satu persatu, kemudian ia mengangguk pelan. “Makasih ya, Bad. Makasih…”
Abad kembali
memeluk Kala, namun kali ini lebih erat. Dalam hatinya, Kala mengucapkan
terimakasih entah untuk keberapa kali pada semesta, sebab semesta telah
memberinya lelaki yang mencintainya tanpa tetapi.
bersambung....