Minggu, 23 Desember 2012

janji part 7 (ending)



“Kamu mau kemana?” sergah Eri ketika Andra beranjak dari tempat duduknya. “Es krimnya aja belum abis.”
Andra menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal itu, ia terlihat begitu salah tingkah. “Ng.. aku cuma mau ke toilet aja kok.”
“Bener?”
“Iya, entar aku balik. Oke. Dah!” Andra tersenyum lalu bergegas pergi menuju toilet yang ada bagian belakang kafe ini.
Eri menyendok es krim tiramisu miliknya dengan lesu. Bayang-bayang I’am kembali numpang lewat diotaknya. Hhhfff! Kenapa susah banget sih buat sehari aja nggak mikirin I’am. Kalau keadaan begini terus, bisa-bisa mata Eri bengkak setiap hari. Secara tiap ada I’am dibenaknya, selalu aja air mata Eri memaksa menyembul keluar. Jujur, Eri benar-benar merindukan I’am. Lelaki yang sangat dicintai sekaligus merangkap sebagai lelaki yang sudah disakitinya itu.
Tiba-tiba Eri terperanjat, mendengar ringtone ponselnya berbunyi. Oh! Ada sms rupanya.

From : My Andra
Aku plg dluan ya! Soalnya aku lg ada prlu.
Sori gk smpet blg ke km. soalnya aku plg lwat pntu blakang. Skali lg maaf ya.
I love you J

Uueekk! Ingin rasanya Eri memuntahkan semua makanan yang mengisi lambungnya. Apa-apaan sih si Andra? Dengan seenak udelnya aja ninggalin Eri. Nyebelin banget! Awas aja, sampe rumah entar Andra bakal Eri gebukin, terus Andra nggak bakal Eri kasih jatah makan malam kesukaan Andra, yaitu tulang ayam dan daging ikan (loh! Emangnya Andra anjing apa?)

* * * * * * * *

Siang yang terik. Matahari lagi bersemangat banget kayaknya menyinari bumiku yang indah dan nan cerah ini (duh! Bahasanya. Nggak nahan, Mang!). Emang ada bagusnya juga sih kalo mataharinya nyengat begini. Jemuran dirumah bisa cepet kering, ya gak? Tapi kalau keseringan gini, waah penduduk bumi bisa gosong booo!
Setelah memilih untuk pulang dari kafe karena ditinggal pergi oleh Andra. Eri memutuskan untuk pergi ke salah satu butik yang ada di Tanah Abang, bersama Neta, teman sekelasnya. Rencananya sih, Eri mau beli baju. “Net, yang ini bagus?” tanya Eri sembari menyodorkan sebuah baju yang dominasi warna hitam dan terdapat banyak mote-mote kecil di daerah bahunya.
Neta mengtuk-ngetuk dagunya. “Bagus! Tapi bagusan juga yang di mall.” Jawab Neta singkat, lalu kembali sibuk menyeka keringat yang berjatuhan dari pori-pori dahinya.
“Gue lagi nggak ada uang mau beli di mall. Lagian disini juga udah lumayan bagus-bagus kok.”
Neta mengerjapkan matanya jengkel. “Minta sama Andra dong! Masak sama tunangannya sendiri dia pelit!”
No way!” Eri mengibaskan jari telunjuk kanannya tepat didepan hidung Neta. “Gue paling pantang minta-minta sama cowok gue!”
“Hhh! Terserah!” Neta terduduk lemas di kursi plastik yang sedari tadi nganggur dibelakangnya. Sepertinya, Neta adalah salah satu orang dari semua orang yang sangat tidak mensyukuri dan menikmati sinar ultra violet matahari yang menerobos masuk melalui kaca jendela butik.
Eri menggidikkan bahu cuek, lalu kembali sibuk memilah-milah baju. Eri sempat tertarik untuk membeli baju berwarna abu-abu dengan corak berbentuk kelopak bunga berjatuhan, namun kembali menarik niatnya begitu mengetahui harga baju itu melebihi budget yang dibawanya. Yaaah! Kalau begini mah sama aja dengan di mall, gerutu batinnya kesal.
Set! Set! Set! “Apa’an sih, Net?” seru Eri sebal pada Neta yang malah sibuk menarik ujung baju seragamnya.
“I… itu!” jawab Neta tergugup, matanya tertuju pada satu titik diluar butik.
Eri mengerutkan dahi. “Apanya yang ‘itu’?”
Neta kembali membuka mulutnya, matanya masih belum berkedip. “A… Andra… sa… sama cewek.”
Slep! Secepat kilat Eri memutar kepalanya, melongok kearah mata Neta tertuju. “An… Dra?!!” seru Eri tak percaya melihat Andra tengah berdiri disalah satu toko yang ada didepannya dengan merangkul mesra seorang… cewek! “Andra?!” serunya sekali lagi, air mukanya memerah menahan emosi.
Eri terus memerhatikan Andra dari tempatnya berdiri, ia tak menggeser tubuhnya semilimeterpun! Neta sampai dibuat heran. Biasanya nih, kalau cewek ngeliat cowoknya selingkuh didepan matanya sendiri, tuh cewek bakal nyamperin cowok itu terus marah-marah nggak jelas dan ujung-ujungnya bakal minta putus. Laah ini! Kok diem aja? kesambet ya?
“Kita diem aja disini! Gue pengen liat! Mau ngapain dia sama cewek itu!” ucap Eri akhirnya, menahan geram.
Neta mengangguk paham. “Jadi elo nggak mau nyamperin dia?”
“Gue pasti samperin kok! Tapi nanti, tunggu waktu yang pas.” Eri tersenyum sinis dan penuh arti. Tatapan matanya, seperti elang. “Eh! Ayo! Kita ikutin!” Eri menggamit lengan Neta dan beranjak berjalan keluar butik.
“Ikutin? Katanya lo mau diem aja didalam butik, Ri?”
“Strategi berubah. Gue mau ngikutin dia sama selingkuhannya itu dari jarak aman, gue pengen tau mereka mau ngapain aja disini,” Eri mengehentikan langkahnya lalu menghentak tangan Neta. “Sshh! Liat gih! Mereka ke tempat parkir.”
Neta menarik Eri untuk bersembunyi dibalik sebuah pilar besar. “Kita intip aja dari sini!” saran Neta yang langsung disambut anggukan kepala dari Eri.
Andra dan cewek selingkuhannya itu terlihat menghampiri motor Andra yang terparkir dipojok, setelah motor berhasil keluar dari barisan parkir, Andra segera menghidupkan mesin motor dan diikuti dengan gerakan si cewek selingkuhan yang menaiki jok belakang motor. Motor milik Andra itu pun melaju pelan keluar dari Tanah Abang.
“Kita ikutin mereka mau kemana!” perintah Eri.

* * * * * * * *

“Lo salah besar tau gak, Ri!” Neta melirik keki pada Eri.
“Salah kenapa?”
“Lo seharusnya bukan ngajak gue buat nemenin elo beli baju, tapi ngajak Andra.”
Alis Eri bertaut. “Maksudnya?”
“Ya, lo liat dong! Dia aja ngebawa cewek selingkuhannya makan di restoran mahal yang ada di MOI. Masak ngajak elo aja ketempat yang lebih mahal buat beli baju dia nggak bisa!” celetuk Neta pedas membuat kuping Eri memerah panas.
“Terserah deh!” tanggapnya tak peduli lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Andra dan si cewek selingkuhannya yang sedang menikmati makan siang mereka bersama. Eri dan Neta memutuskan untuk duduk dikursi yang berada dipojok restoran, jarak yang aman untuk menjadi “spy” sementara menurut mereka. Sedangkan Andra dan selingkuhannya itu, duduk tepat dimeja yang ada ditengah restoran.
Duk! Eri menghentak meja geram melihat Andra membelai mesra rambut si selingkuhan. “Dasar buaya!”
“Cemburu?” tanya Neta nggak penting.
“Nggak!” Eri menggeleng kuat. “Gue sebel aja dia udah ngebohongin gue. Lo tunggu disini!” perintah Eri sembari menatap tajam pada Neta. “Gue mau nyamperin mereka!”
“Tapi, Ri..,”
“Pokoknya TUNGGU! Ini waktu yang tepat, Net.” Eri tersenyum sinis pada Neta lalu segera berlalu pergi menghampiri Andra yang terlihat sedang asyik cengengesan bersama si selingkuhan.
“Sialan!” byur! Tanpa babibu Eri langsung menyambar segelas penuh jus anggur yang ada dihadapan Andra, lalu menyiramnya tepat diwajah “sang kekasih”
“E… Eri?” Andra tergagap.
“Kenapa? Kaget!?” tantang Eri dalam kalimatnya.
“Ndra, ini siapa?” tanya si selingkuhan terlihat bingung. Tatapan matanya menyapu seluruh tubuh Eri dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Eri tersenyum penuh kemenangan. “Kenalin! Nama gue Eri, gue adalah..,” Eri menatap tajam Andra penuh makna. “Orang yang paling membenci Andra.”
“Maksudnya?”
“Tanya aja sama pacar kesayangan lo ini!” Eri berucap sadis tepat disamping telinga Andra sambil berlalu kembali menghampiri Neta yang masih bengong tak percaya dengan adegan barusan.
“Yuk pulang!” Eri menarik lengan Neta.
“Tapi, Ri..,”
“Pulang!”

* * * * * * * *

Eri menarik koper berukuran kecil yang ada dibawah kolong lemari bajunya. “Hff!” berkat hembusan nafas dari mulut Eri, debu-debu yang melekat pada permukaan koper berhasil melayang terbang dengan sukses.
“Non?” terdengar suara Bi Mar dari ambang pintu.
Eri menoleh lalu melempar senyum pada asisten rumah tangga yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri itu. “Iya? Kenapa, Bi? Sini masuk!”
“Mmm, Non yakin mau ke Jakarta?” ucap Bi Mar saat dirinya sudah “mendarat” di atas ranjang empuk milik Eri.
“Iya.” Jawab Eri singkat sambil membuka pintu lemari baju miliknya.
“Kalau nggak ketemu sama orang yang Non cari gimana?”
Eri tertawa kecil. “Kalau nggak ketemu ya nggak apa-apa,” senyum masam terulas dibibir Eri. “Kalau begitu akhirnya, ya anggap aja aku ke Jakarta buat liburan.” Eri membawa setumpuk baju miliknya keatas ranjang. “Jangan khawatir. Aku bisa jaga diri kok, Bi. Lagian ngebosenin juga ‘kan. Kalau liburan panjang gini aku cuma diam dirumah.” Sambung Eri lagi. Memang benar, sekarang Eri sedang menikmati liburan panjang selepas mengikuti Ujian Nasional. Eri akan mulai aktif bersekolah lagi sekitar pertengahan bulan mei mendatang, itu pun hanya untuk melihat pengumuman kelulusan yang dilanjuti dengan penyerahan ijazah.
“Iya, Non. Tapi pokoknya Non harus jaga diri!” tegas Bi Mar sekali lagi, yang hanya disambut senyuman hangat Eri.

* * * * * * * *

“Ri, mau kemana sih?”
“Bukan urusan lo!”
“Ri, gue mau ngomong.”
“Emang masih ada ya yang perlu kita omongin?”
Andra mencengkeram bahu Eri kuat-kuat dan memenjarakan pandangan Eri agar tertuju pada kedua matanya. “Ri, soal di MOI itu, lo cuma salah paham.”
“Salah paham gimana!?” Eri menghempas tangan Andra.
“Gue sama cewek itu nggak pacaran.”
“Nggak pacaran tapi saling selingkuh, gitu ‘kan?” tandas Eri tajam, Andra mengatupkan mulutnya rapat. “Gue udah selidiki semuanya! Nama cewek itu Rere ‘kan? Anak ITB semester 4. Dia udah punya pacar namanya Didas dan elo sama dia udah berkomplot buat menjalin hubungan dibelakang gue dan si Didas itu ‘kan?”
Andra masih diam, semua kata-katanya kembali tertelan pahit.
“Lo sama gue udah over, Ndra. Jadi kalau elo mau ngelanjutin hubungan terlarang lo itu, ya silahkan aja! gue nggak ada hak buat ngelarang.”
“Ri, gue mohon!”
Tiba-tiba Eri mengangkat tangan kirinya, melepaskan cincin yang melingkar manis disana. “Nih! Gue balikin cincin lo! Seharusnya elo kasih itu buat Rere bukan buat gue.” Eri menarik gagang koper kecil miliknya dan berjalan memasuki pintu kereta. Sementara Andra, terlihat mengepalkan tangannya kesal. Setumpuk emosi sedang berusaha diredakannya. Didalam genggamannya terdapat sebuah cincin, cincin yang “dulunya” adalah milik Eri. Huh! Kandas sudah pertunangan ini. Semua yang sudah dititi dari awal, hancur dalam sekejap hanya dengan sebuah kesalahan besar yang dibuat Andra : membiarkan wanita lain menempati hatinya.

* * * * * * * *

Eri membuang pandangannya keluar jendela kereta. Pikirannya terbang ke awang-awang. Secercah harapan menyembur dihatinya, semoga ia dapat bertemu I’am di Jakarta kelak. Namun kini pikirannya teralih akan suatu hal yang baru saja terjadi kemarin. Kejadian yang indah, pikir Eri sambil tersenyum-senyum sendiri. Semua rekaman reka ulang di detik-detik saat Eri memutuskan hubungannya dengan Andra di MOI kemarin kembali berkelebat.
Mungkin ini yang dinamakan takdir Tuhan. Disaat Eri benar-benar telah jenuh akan semuanya, disaat itu pula ia menemukan waktu yang pas untuk mengakhiri hubungannya dengan Andra. Kalau boleh jujur, Eri setidaknya cukup senang mengetahui Andra berselingkuh. Karena dengan begitu, Eri akan punya alasan kuat untuk membuang Andra jauh-jauh dari hidupnya, dan kembali fokus untuk membuka hati pada I’am.
Benar kata orang-orang : Tuhan tidak tidur, dan Tuhan adalah hakim yang seadil-adilnya.
“Mba, mau minum?” tawar seorang pedagang asongan sambil menyodorkan sekaleng minuman soda.
Eri melempar senyum termanisnya. “Boleh,” lantas merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang sepuluh-ribuan. “Kembaliannya ambil aja.” Ucap Eri ketika kaleng minuman soda sudah berada digenggamannya.
Pedagang asongan itu tersenyum penuh makna lalu kembali berjalan menyelusuri gerbong kereta, menjajakan dagangannya.
Eri meneguk minuman soda miliknya, matanya kembali memandang kearah luar jendela kereta. Kini pikirannya telah penuh dengan sosok I’am. Tak ada lagi Ryzky, tak ada lagi Andra.

* * * * * * * *

Igo duduk didepan PC butut miliknya, tangannya beradu dengan kibor. Sementara itu, ditelinganya tercantol headset berwarna hitam. Dan ponsel kesayangan miliknya, sudah tersampir dipangkuan.
“Gimana di Amsterdam?” tanya Igo pada orang yang diteleponnya.
“Ya gitu deh! Borned!
Alis Igo bertaut, namun tangannya masih sibuk memencet tuts kibor. “Borned? Gimana bisa? Bukannya disana asyik!”
“Karena disini nggak ada Eri, makanya membosankan.”
Kali ini jari-jari gempal milik Igo berhenti bergerak. Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. “Eri terus yang ada dipikiran lo! Sembuhin dulu tuh kaki!”
Orang yang ternyata adalah I’am itu malah terkekeh. “Kenapa memang? Nggak boleh?”
“Ya, boleh sih,” Igo bangkit dari duduknya dan menghampiri meja kecil yang ada disamping tempat tidur, disana sudah tersedia secangkir teh hangat. “Tapi utamanin dulu kesehataan lo. Oh ya, gimana sekolah disana ‘am?” Igo meneguk teh hangat miliknya dengan cepat.
“Ya gitu deh. Banyak bule-bule.”
“Banyak kompeninya nggak?” tanya Igo nggak mutu. Halooo! Kompeni mah udah musnah dari zaman baheula kaleee!
“Dasar bodoh!” tanggap I’am. “Hm, gue nggak sabar pengen balik ke Indonesia. Gue pengen buru-buru lulus terus pengen cepet-cepet nyelesain terapi kaki gue.”
“Karena Eri lagi?”
“Iya. Bagaimanapun gue harus memenuhi amanat Ryzky buat jaga Eri, sekalipun sekarang Eri udah ada tunangan…”

* * * * * * * *

Thamrin City, malam hari…
Eri memasuki sebuah swalayan kecil. Ia pergi kesana untuk membeli beberapa buah makanan kaleng dan cemilan karena persediaan makanannya sudah hampir habis. Sebenarnya sih bisa beli di supermarket yang ada didekat hotel tempat Eri menginap. Tapi berhubung Eri berniat sekalian jalan-jalan plus “cuci mata” jadi deh Thamrin City sebagai tujuan.
Eri memasukkan beberapa snack kentang dan singkong kedalam keranjang belanjaan yang dibawanya, setelah itu tangannya menjelajahi rak tempat minuman dijajarkan. Beberapa detik berpikir, Eri memutuskan untuk membeli 5 kaleng jus jambu dan dua kaleng susu instan.
Puas berbelanja bahan makanan, Eri memutuskan menyusuri barisan rak-rak yang menyediakan peralatan mandi. Disana Eri membeli dua buah sabun mandi dan sebotol sampo. Ketika jemari lentik Eri hendak menjamah sebuah sikat gigi berwarna ungu yang ada dihadapannya, tepat pada titik itu pula tangan seseorang menyentuh punggung tangan Eri. Sepertinya orang itu juga berniat untuk membeli sikat gigi ungu itu.
Eri menoleh, menatap tajam orang yang ada disampingnya itu. “Sori, sikat gigi ini…, Igo?” Eri menjerit tertahan. Keranjang belanjaan yang ada ditangannya ikut jatuh kelantai, membuat semua barang belanjaannya jatuh berhamburan. “Igo, gue udah lama nyari elo!” Eri memeluk Igo gembira.
Igo melepas pelukan Eri dan menjatuhkan pandangannya lekat, tepat dikedua mata Eri. “Gue rasa kita perlu ngomong banyak, Ri.”

* * * * * * * *

“Jadi, I’am pindah ke Amsterdam?”
Igo mengangguk, ia membuang pandangannya ke lantai kafe. Pada detik berikutnya, Igo dapat merasakan sesuatu menjamah tangannya, rupanya tangan lembut nan hangat Eri telah menggenggam punggung tangan Igo erat. “Gue mohon elo cerita sama gue, Go! Buat apa I’am pindah ke Amsterdam?”
“Seharusnya gue nggak boleh ceritain hal ini ke elo, Ri.”
“Kenapa!?”
“Karena I’am melarang gue.”
“Kenapa dia ngelarang elo?!”
Igo tersentak, tubuhnya mundur beberapa centi. “R i, please. Jangan paksa gue cerita.”
“Nggak!” Eri menghentak meja, membuat Igo benar-benar hampir terjungkal dari kursinya. “Pokoknya gue mau elo cerita!” desak Eri, memebuat Igo makin terpojok.
Kini air muka Igo sangat mirip dengan anak kecil yang sedang berhadapan dengan kuntilanak yang akan menculiknya. Menyedihkan! Bentakan Eri ternyata ampuh membuat Igo merinding ketakutan dan hampir ngompol. “Iya-iya. Gu.. gue cerita!” putus Igo akhirnya, menyerah.
Eri menarik nafas panjang, mencoba mengatur emosinya yang meledak-ledak. “Oke, sekarang cerita kenapa I’am pindah ke Amsterdam?”
Igo memainkan kedua jari jempol tangannya. Ia terlihat gugup. “Sebenarnya waktu malam pertunangan lo itu…,” Igo mendekatkan wajahnya ke wajah Eri. “Gue sama I’am mau datang.” Bisiknya.
Eri tersentak, wajahnya menunjukkan betapa ia tak percaya akan apa yang dibicarakan oleh Igo barusan. “Tapi kok..,”
“Gue sama I’am nggak  boleh masuk! Kami nggak bawa undangan.”
Eri diam, tangannya bergemetar hebat.
“Akhirnya gue dan I’am memutuskan untuk pergi…,” Igo menghelas nafas panjang. “Untuk mencari mawar.”
“Mawar?!”
Igo mengangguk. “I’am bilang sama gue, Ryzky pernah cerita kalau elo pengen banget suatu hari nanti dilamar pake sekarung mawar. Dan I’am pergi..,”
“Buat nyari sekarung mawar penuh, gitu?” potong Eri pada sasaran.
Sekali lagi Igo mengangguk, kini air mukanya berubah. “I’am pengen ngebatalin acara pertunangan itu, Ri. Karena I’am engen ngelamar elo. Dan lo tahu? I’am ngedapetin semua bunga mawar itu dari hasil mencuri.”
Mata Eri membulat kaget, rasa penuh tak percaya benar-benar menyelubunginya. “Tapi sayang, dia ketahuan sama pemilik kebun dan akhirnya…,”
“Akhirnya apa!?” desak Eri, ia mengguncang tubuh Igo kencang.
Igo menghela nafas berat. “I’am tertabrak mobil saat dikejar-kejar oleh pemilik kebun dan massa disekitar kompleks itu. Itulah sebabnya I’am pergi ke Amsterdam.”
“Dia menjalani pengobatan disana?” tanya Eri jitu.
“Iya, tapi bukan cuma itu, Ri.”
“Terus? Apa lagi!”
“Dia kesana juga sekaligus melanjutkan beasiswa sekolah menengah-nya.”
Eri mencelos, tubuhnya terasa begitu lemah. Ia menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi, disusul dengan air matanya yang berbulir. “Gue ngerasa bersalah banget sama I’am.”
“Ini bukan salah lo, Ri,” Igo tersenyum penuh makna. “Lagi pula I’am janji kok bakal segera balik ke Indonesia bulan Juli nanti. Setelah kelulusan.”
Eri mendongak, menatap Igo penuh harap. “Serius?”
Igo mengangguk, senyum teduhnya masih belum luntur. “Tapi sepertinya percuma ya sekalipun I’am balik ke Indonesia.”
Eri menyeka air matanya. “Kenapa?”
“Karena elo udah ada tunangan. Jadi I’am udah nggak ada kesempatan lagi buat ngedapetin hati lo, bukan?”
Eri tersenyum geli sambil melempar sorot mata dengan makna tersembunyi pada Igo. “Kata siapa bakal begitu? Sok tahu!”
Dahi Igo jadi keriting. “Maksud lo?”

* * * * * * * *

I’am beranjak bangun dari tidurnya. Telinganya mendengar suatu suara. Entah suara apa, yang jelas sangat berisik.
Ia melangkahkan kaki keluar kamar, menuju lantai dasar rumahnya. Disana ia hanya mendapati Mama dan Papa-nya yang sedang sarapan. “Ma, Pa?”
“Eh udah bangun kamu ‘am. Ayo sini! Sarapan.”
I’am tersenyum simpul. “Nggak usah, Ma. Belum lapar,” I’am kembali mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan. Mencari asal suara berisik itu. “Ma, Pa. dengar suara berisik gitu nggak sih?”
Mama dan Papa saling tukar pandang sejenak sambil senyam-senyum. “Oh itu kali bunyinya dari kebun belakang.” Sahut Mama.
“Kebun belakang?”
“Iya. Ada tukang kebun baru.” Kali ini Papa yang bicara.
“Tukang kebun itu lagi ngapain sih, Ma? Kok berisik banget.”
“Lagi Mama suruh tanam bunga baru.”
Mata I’am membola terkejut. “Bunga? Baru? Terus tulip aku..,” I’am memutus kalimatnya dan tanpa dikomando berlari menuju halaman belakang.
Sialan! Kalau Mama nyuruh tukang kebun baru itu buat tanam bunga baru, berarti semua bunga tulip gue…, aaaarrrgh! I’am jadi pusing sendiri memikirkan jika bunga tulip kesayangannya yang sudah susah payah dirawat dengan seenak udel dirusak oleh orang lain.
I’am mengerem laju larinya, ia berhenti tepat diambang pintu yang berhadapan langsung dengan taman belakang. Ia menjatuhkan pandangannya tepat pada si tukang kebun baru yang sedang membelakanginya dengan posisi berjongkok, tukang kebun itu sedang menanam bunga… mawar. I’am mengunci mulutnya rapat, menyadari satu hal : taman tulipnya sudah berubah menjadi taman mawar.
“Hei! Tukang kebun! Sini kamu!” sentak I’am dengan nada geram. Namun tukang kebun itu masih bergeming. Ia tak bergerak sedikitpun. “Hei! Saya ini majikan kamu. Kamu seharusnya patuh sama saya.”
I’am menghentak kakinya kesal. Sial! Sengak banget nih tukang kebun, pikirnya.
I’am berjalan cepat, mendekati tukang kebun itu. Saat telah berada dibelakangnya, dengan secepat kilat I’am membuka topi ala cowboy yang dikenakan si tukang kebun. “Kamu itu budeg atau…,” I’am memutus perkataannya dan menelan ludahnya dengan susah payah. “Kamu cewek?” I’am terkejut bukan main begitu mendapati juntaian rambut hitam lebat yang indah menyibak dari balik topi.
Si tukang kebun berdiri, masih membelakangi I’am. Arit yang ada digenggamannya jatuh ketanah dengan kasar. I’am sampai bergidik ngeri sendiri. Tukang kebun ini seakan siap membunuhnya.
Baru saja I’am hendak memutar tubuhnya dan berbalik masuk kedalam rumah ketika pundaknya digenggam erat oleh si tukang kebun dan dengan gerakan cepat si tukang kebun berhasil memutar tubuh I’am 1800 menghadap kearahnya.
“Hai ‘am. Long time no see, right?
Apa mata I’am nggak salah lihat?! Kok…, ya tuhan! Kalau saja ini mimpi, sungguh I’am nggak mau bangun lagi dari tidurnya. “Eri?”
Eri tersenyum. “Maaf ya, udah bikin kacau kebun tulip lo. Gue cuma mau ngasih lo surprise.”
“Iya, Ri. Iya,” I’am memeluk Eri hangat. “Apapun itu, demi elo. Gue rela. Sekalipun kebun tulip kesayangan gue jadi korban.” Ujar I’am setengah bercanda.
Eri melepas pelukan I’am dan menatapnya geli. “Lagian lo pasti suka ‘kan sama kebun mawar ini? Gue sendiri loh yang tanam.” Bangga Eri.
Namun tiba-tiba air muka I’am berubah, matanya itu adalah mata yang penuh tanda tanya. “Tapi tunggu dulu! Lo tahu dari mana kalau..,”
“Igo. Dia yang ngasih tahu gue semuanya,” Eri menggenggam tangan I’am erat, seakan tak ingin dilepaskannya lagi. “Gue kesini cuma buat elo ‘am. Gue pengen elo tahu, gue sayang sama lo.”
I’am geleng-geleng kepala. “Nggak, Ri! Nggak! Lo nggak boleh begini. Lo udah ada yang punya.”
Eri tergelak hebat hingga air mata muncul disudut matanya. Ia seperti habis menonton acara lawak terlucu didunia. “Gue? Ada yang punya? Hahahahahaha.” Sekali lagi Eri tergelak.
“Maksud lo?”
Eri menghentikan tawanya dan berubah menatap I’am dalam. “Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi ‘am.”
“Kata siapa? Bentar lagi ‘kan Eri mau jadi punya I’am. Ya nggak, Pa?” terdengar suara lantang Mama I’am dari ambang pintu.
Kontan I’am menoleh, menatap Mama dengan tatapan bingung. “Kalian semua ngomong apa sih? Aku nggak ngerti,” keluh I’am. “Ma, asal Mama tahu ya, Eri udah ada yang…, hhmpph!” tiba-tiba Eri memebekap mulut I’am rapat.
“Bawel banget sih! Udah gue bilang gue nggak ada yang punya.” Sungut Eri.
I’am menghempas tangan Eri. Matanya membola, sepertinya ia sudah mengerti maksud dari semua pembicaraan ini. “Jadi, kamu sama Andra…,”
Eri mengangguk mantap. “Iya.”
Senyum lebar mengembang dibibir I’am. Sebuah beban besar seakan sudah lepas dari hidupnya. “Kalau gitu…,” I’am berlutut menggenggam tangan Eri erat. Matanya dan mata Eri saling beradu. “Would you marry me?
“HAH!?” seru Mama, Papa dan Eri kompak.


SELESAI

Selasa, 11 Desember 2012

janji part 6



Seminggu kemudian..
“Mana ya bukunya?” tanya Eri dengan tampang kusut setelah dua jam lamanya mengitari toko buku Gramedia untuk mencari buku kumpulan rumus matematika. Eri menoleh kesebelahnya, namun tak mendapati Andra berada disampingnya lagi. “Loh? Andra kemana?” Eri celingukan. “Ndra!” pekik Eri sedikit keras sambil menyelusuri lorong-lorong buku dengan air muka bingung. Awas aja kalo ketemu, gue jitak lo, Ndra, batin Eri berang. “Ndra!” panggil Eri sekali lagi. Kini ia tengah berada di lorong buku yang berada paling pojok, tak ada orang disana kecuali Eri dan…, “Andra!” pekik Eri tertahan ketika mendapati Andra tengah pingsan dengan posisi tubuh bersandar pada rak buku.
Eri mendekat lalu berjongkok didepan tubuh Andra. “Ndra! Ndra! Bangun!” Eri mengguncang tubuh dan menepuki pipi Andra. “Aduh! Ndra, bangun dong!” Eri makin panik.
Gimana kalau Andra mati? Siapa yang mau bawa jenazahnya? Ih, Andra nyusahin banget deh!
Eri baru saja hendak berdiri untuk pergi meminta pertolongan ketika seseorang menggaet tangannya. “Ri?” panggil orang itu lembut.
Kontan Eri menoleh dan mendapati Andra sudah sadar dengan wajah segar bugar. Segar bugar? Nggak salah? Bukannya tadi Andra pingsan. “Ndra, elo?” Eri kembali berjongkok tepat dihadapan Andra.
Andra terlihat merogoh bagian dalam bajunya dan mengeluarkan setangkai bunga mawar dari sana. “I love you, Ri.” Ucapnya dengan wajah sumringah.
Eri tercengang. Andra menyukainya? Ya tuhan, mimpikah ini?
“Ndra…,”
“Sshh!” Andra meletakkan telunjuk didepan bibirnya. “Lo nggak perlu jawab sekarang kalau emang lagi bingung. Yang jelas gue akan selalu menunggu jawaban lo.”
“Siapa juga yang mau ngomong gitu!” sungut Eri kesal.
Andra mengernyit. “Terus?”
“Ndra, gue sebel sama lo. Lo ngerjain gue ‘kan? Lo tadi pura-pura pingsan ‘kan?” Eri menjitaki kepala Andra sebal, sesuai dengan janjinya tadi.

* * * * * * * *

Eri merutuki ponselnya yang tak kunjung berbunyi menandakan ada sms masuk dari I’am. Sudah seminggu lebih I’am hilang nggak ada kabar. Kemana sih dia? Bikin Eri cemas. Padahal ‘kan perjalanan hubungan mereka lagi seru-serunya. Tinggal “tembak” lagi tau gak! Tapi kalau begini, apanya yang mau di “tembak”?
Eri memutuskan untuk membuka phonebook di ponselnya dan memilih nama Igo disana.

To : Igo
Go, lo tau gk I’am kmn? Dia udh smnggu gk ngsh kbr k gue.

5 menit..
Datang balasan.


From : Igo
Gue jg gk tau. Dia jg udh lma gk kliatan dskolah.

Eri menghela nafas panjang. Kalau sudah begini, apa  boleh buat. Mungkin inilah jalan terbaik. Eri nggak mau menunggu seseorang yang tak pasti, sama seperti halnya dulu ia menunggu Ryzky. Dan ujungnya, penantian itu akan tertelan pahit dan sia-sia. Mungkin akan lebih baik jika semuanya diakhiri.
Eri menekan tombol dial-up di ponselnya dan tertera tulisan “calling Andra” pada LCD.
“Ri, kenapa? Tumben malem gini nelpon gue.” Sahut Andra dari seberang.
Eri menelan ludahnya pahit. “Ndra…, I wanna be yours.”

* * * * * * * *

1tahun kemudian..
Eri tersenyum penuh arti menatap sepasang cincin yang ada dihadapannya. “Ini cincin buat tunangan kita?” tanya Eri pada Andra yang disambut anggukan mantap dari Andra.
“Iya, kamu suka ‘kan?”
“Tentu aja dong, Ndra. Ini bagus banget.” Eri menatap cincin polos yang berukirkan tulisan nama mereka masing-masing itu dengan takjub.
Satu tahun telah berlalu, untuk Eri memang nggak mudah melupakan I’am, nggak semudah melupakan Ryzky dulu. Karena I’am adalah orang yang sangat berarti untuk Eri. I’am adalah orang yang membantunya untuk tetap bertahan disaat sulit dulu.
Namun saat semuanya berjalan sempurna bersama Andra, cinta untuk I’am itu pun perlahan terkubur dalam dan terkunci rapat bersama hati Eri yang telah mati rasa. Dan perlahan tapi pasti, dihati Eri mulai bersemai cinta untuk Andra. Walaupun Eri akui, terkadang, bayang I’am suka datang menghampirinya. Namun itu semua tak akan membuat cintanya untuk Andra berubah, ia begitu menyayangi Andra.
“Entar kita hunting baju ya, Ri?” tawar Andra.
“Iya. Pokoknya aku mau baju yang cantik untuk bersanding sama kamu di pertunangan kita nanti.”

* * * * * * * *

Seorang lelaki turun dari pesawat dengan label “American Airlines”. Lelaki yang berusia sekitar 17 tahun itu terlihat celingukan seperti sedang mencari seseorang.
Tak lama, datang seorang lelaki yang seusianya menghampiri. Setelah berbincang sesaat, mereka berdua berjalan keluar dari terminal kedatangan Bandar Udara Soekarno-Hatta.
Saat dipelataran parkir, lelaki yang turun dari pesawat itu langsung masuk kedalam mobil diikuti lelaki yang menghampirinya. Terlihat, mobil yang mereka naiki mulai berjalan menuju arah pintu keluar.

* * * * * * * *

Eri tak henti-hentinya berdecak kagum memandangi gaun indah yang ada dihadapannya. Gaun berwarna perak dengan taburan batu safir diatasnya. Eri sempat berpikir dua kali untuk mengenakannya di acara pertunangan nanti, soalnya gaun itu pasti berat banget, liat aja batunya yang segede-gede penghapus ujian itu. Tapi berkat bujukan maut Andra, akhirnya Eri mau juga.
“Aku coba dulu ya.” Pamit Eri lalu bergegas masuk ke fitting room yang ada dipojok ruangan butik milik perancang terkenal, Johanes Brandal ini.
5 menit..
Eri sudah selesai mengenakan gaun cantik dan MAHAL itu. Ia tak bisa berhenti untuk mengagumi bayangan dirinya yang terlihat sangat berbeda dibalik cermin yang tergantung di fitting room.
“Ri?! Udah?!” jerit Andra dari luar fitting room.
“Iya. Tunggu!” buru-buru, Eri membereskan bajunya yang berserakan dilantai dan memasukannya kedalam tas kecil yang ia bawa.
Cklik! Pintu terbuka, Eri menyembulkan kepalanya keluar. “Ndra, bagus…,” deg! Eri menggigit bibirnya kuat bertepatan dengan kalimatnya yang terputus. Bukan! Bukan Andra yang duduk diluar ruangan menunggu Eri. Kalau saja Eri adalah es, mungkin ia sudah meleleh sekarang. Rasa kaget sekaligus tak percaya, bercampur aduk didalam hati Eri saat ini. Mimpikah apa yang dilihatnya saat ini? “I’am? Kok lo bisa disini?”
“Eri? Elo?” I’am memandangi Eri dari atas sampai bawah. “Elo mau nikah?”
Eri menggeleng. “Nggak! Gue cuma..,” duh! Bilang gak ya? Hati Eri bimbang.
“’am bagus nggak baju.., Eri?” tiba-tiba entah dari mana rimbanya, Igo muncul dengan membawa dua pasang baju dan langsung terkejut mendapati Eri tengah berada ditempat yang sama dengan dirinya. “Kok..,”
“Gue lagi fitting baju.” Jelas Eri singkat.
“Buat?” tanya Igo.
Eri menghembus nafas berat. Kenapa disaat seperti ini harus ketemu I’am dan Igo sih? “Buat urusan penting.”
“Ri, udah?” tanya Andra yang telah berdiri diujung ruangan dengan tangan terlipat didepan dada.
“Udah. Yuk pulang! Aku capek.” Eri tersenyum kecil lantas pergi meninggalkan I’am dan Igo yang masih terbengong-bengong tak percaya dengan kenyataan yang baru mereka hadapi.
“Mereka siapa, Ri?” tanya Andra saat sudah berada dalam jarak yang cukup jauh dari I’am dan Igo.
“Aku nggak tahu. Nggak kenal,” jawab Eri getir. “Aku ganti baju dulu di toilet, kamu tunggu disini!”
“Loh, kenapa nggak di fitting room?” tanya Andra heran.
“Disana panas, aku gerah.” Dusta Eri.

* * * * * * * *

Eri mengobrak-abrik isi tas kecil miliknya untuk mengeluarkan semua baju yang ia masukkan kedalam sana tadi. Namun tangannya terasa meraba sesuatu, suatu getaran yang berasal dari ponselnya, tanda ada pesan masuk.

From : +6285399214XXX
Gue mau ktmu lo. Entar gw jmpt di rmh lo jam 7 malam.
I’am

Eri membulatkan matanya kaget. Tuhan! Apa lagi sekarang?! Kenapa I’am mesti datang lagi saat Eri benar-benar telah bahagia bersama Andra. Kenapa dia datang disaat yang salah? Kenapa?

* * * * * * * *

Eri duduk diteras rumahnya. Sebentar lagi jam 7 malam. Kalau memang I’am menepati janjinya, maka sebentar agi I’am pasti akan menjemput Eri.
“Non, dingin gini udaranya. Nggak nunggu didalam aja?” tawar Bi Mar yang datang mendadak dengan raut wajah khawatir.
Eri tersenyum. “Nggak usah, Bi. Bibi masuk gih!” perintah Eri halus, lalu kembali mengalihkan pandangannya kejalan raya yang ada didepan rumahnya.
Tin! tiba-tiba terdengar suara deruan mesin motor disertai dengan bunyi klakson berkepanjangan. Eri tahu persis siapa pemilik motor itu. Dia adalah lelaki yang membuat Eri merindu setengah mati seperti orang bodoh. Dia juga yang membuat Eri mencintainya tetapi dengan begitu aja menghilang. Seharusnya, Eri benci sama dia. Tapi entah kenapa, Eri nggak bisa!

* * * * * * * *

“Jadi apa maksud lo ngajak gue ketemu?” tanya Eri to the point saat dirinya dan I’am baru saja mencicipi empuknya sofa yang ada disudut ruangan kafe.
“Gue mau ngejelasin semuanya sama elo, Ri.”
“Ngejelasin apa?!”
“Kenapa gue menghilang selama setahun. Lo harus tahu!”
“Kenapa gue harus tahu?!” ucap Eri dengan suara melengking. “Emang lo siapa?!”
“Ri, please jangan marah dulu.”
Eri mengehempas punggungnya kesal pada sandaran sofa sambil melipat tangannya didepan dada.
“Ri, sebenarnya, gue menghilang selama setahun karena gue ngambil beasiswa ke Amerika,” Ujar I’am lirih. “Gue nggak ngehubungin lo karena gue harus konsen sama program pembelajaran gue disana. Bahkan bukan cuma lo yang nggak gue kasih tau, tapi semua teman-teman gue juga.”
“Jadi status gue sama teman-teman lo itu sama? Jadi teman-teman lo juga menempati tempat yang penting dihati lo? Gitu!” hujam Eri sengit dengan nada tajam.
“Ri, bukannya gitu. Tapi gue..,”
“’am. Udah deh. Lo nggak usah ganggu gue lagi! Gue udah punya pacar.”
I’am terlonjak kaget, dan hampir jatuh dari kursinya.  “Apa?”
“Iya, pacar gue itu yang nemenin gue ke butik kemarin. Dan lo tahu? Gue sayang banget sama dia, karena dia nggak pernah ninggalin gue begitu aja tanpa kabar. Nggak seperti seseorang yang dulu pernah gue kenal.” Tandas Eri akhirnya lalu bangkit dari kursi meninggalkan I’am. Ia dapat merasakan, matanya mulai berkabut. Air mata itu siap terjun bebas sebagai reaksi dari hati Eri yang begitu sakit. Sakit karena harus menjadi orang munafik yang membohongi dirinya sendiri.

* * * * * * * *

Eri memandangi contoh berbagai undangan yang ada didepan matanya. Emang kesannya terlalu berlebihan sedikit sih kalau cuma buat pertunangan doang pake undangan segala. Tapi mau gimana lagi, ini request Mama-nya Andra, nggak mungkin dong Eri dan Andra nolak.
“Yang ini bagus.” Tunjuk Eri pada undangan dengan pita cantik menyampulinya.
“Iya sih. Tapi bagusan ini deh, Ri.” Tunjuk Andra pada undangan yang didominasi warna krim dan hitam.
Eri mengetuk-ngetuk dagunya. “Hm, ya udah deh yang itu aja.”
“Oh ya, mau mesen undangannya berapa, Mas?” tanya pegawai dari toko advertising yang didatangi Andra dan Eri itu.
“300 aja,” jawab Andra. “Kapan jadinya?”
“Mungkin 2 atau 3 hari, Mas.”
“Baguslah. Kalau bisa secepatnya ya. Soalnya hari pertunangan kami..,” Andra merangkul Eri mesra. “5 hari lagi.”

* * * * * * * *

3 hari kemudian..
Eri menimbang-nimbang undangan pertunangannya, rasa bingung tengah menyelimutinya sekarang. Pilih mana? Mengundang Igo dengan resiko I’am ikut datang, atau tidak mengundang Igo dengan resiko Igo akan menganggap Eri memusuhinya.
Eri meremas-remas rambutnya kesal, ditatapnya alamat rumah Igo yang terpampang manis pada secarik kertas diatas meja belajarnya.
“Mungkin, menyakiti orang yang pernah menyakiti gue, akan lebih baik. Dari pada gue kehilangan sahabat.” Desis Eri pada dirinya sendiri.

* * * * * * * *

“Den, ada surat.”
Igo mengernyit heran mendapati tiba-tiba Mbok Iyem datang padanya dengan membawa sebuah surat dengan amplop berwarna krim.  “Buat saya?”
“Iya, Den,” Mbok Iyem menyerahkan surat itu pada Igo. “Nih!”
“Makasih. Mbok kerja lagi sana!” perintah Igo halus, yang langsung dipatuhi oleh Mbok Iyem.
Igo memandangi surat itu sesaat, menebak-nebak apa isinya. Kalau bom, jelas nggak mungkin. Atau surat cinta? Halah! Apa lagi surat cinta! Apa kabar sama teknologi Short Message Service (SMS) atau telepon gitu loh. Ngapain pake surat-suratan segala.
Penasaran, buru-buru Igo membukanya..

KAMI SEGENAP KELUARGA BESAR YANG BERBAHAGIA. TURUT MENGUNDANG ANDA. SEHUBUNGAN DENGAN AKAN DIADAKANNYA ACARA PERTUNANGAN ANTARA:

ANDRA MIRALDI (ANDRA)

&

NARESA LIBERY (ERI)

YANG AKAN DILAKSANAKAN PADA : MINGGU, 2 JULI
TEMPAT : GEDUNG GRAHA WANGSA, BANDUNG
PUKUL : 20:00 WIB S/D SELESAI

YANG BERBAHAGIA

KELUARGA BESAR                                                                                                    KELUARGA BESAR
TJOKRO WINAWAN & VANI ALFIAN                                                           FANDI ATMAJA & WINDA GUSTAV

“Uhuk! Uhuk.. uhuk.. uhuk..!” Igo terbatuk-batuk, tersedak coklat panas yang sedang mengalir ditenggorokannya. Buru-buru ia mengambil ponsel yang ada disaku celana jins yang ia kenakan.

To : Radiam Wiratmaja
Kita hrs ktemu, urgent!
Gue tnggu di starbucks Thamrin.

* * * * * * * *

“Nih!”
I’am menatap heran amplop pink dihadapannya. “Apa’an nih?”
“Liat aja!” Igo menyeruput coffee late miliknya.
I’am membuka amplop itu terburu-buru, ingin cepat melihat apa yang tersembunyi dibaliknya. Mulut I’am komat-kamit, lalu pada kalimat terakhir yang dibacanya ia terlihat membelalakkan mata. “Eri tunangan?”
“Iya.” Jawab Igo singkat, takut salah ngomong.
“Sekarang tanggal berapa?”
Igo merogoh sakunya demi melihat kalender yang ada di ponselnya. “Tanggal…,” Igo menghela nafas tak percaya. “2 Juli.”
Plak! I’am mengehentak meja dengan keras. “Kita ke Bandung SEKARANG!”

* * * * * * * *

Malam hari, sebelum pertunangan...
Eri duduk sendirian diruang make-up. Menatap pantulan dirinya dicermin. Eri yang cantik, Eri yang anggun, Eri yang akan menjadi tunangan Andra. Kenapa mesti Andra? Hati Eri sakit menyadari hal itu. Akhir-akhir ini, semenjak I’am kembali, Eri tak bisa menepis bayangnya untuk tak masuk kedalam benak Eri. Hampir setiap hari I’am datang dalam mimpi semu Eri, mempermainkan dunia bawah sadar Eri, seolah menyuruhnya meninggalkan Andra.
Aah! I’am, lagi dimana dirinya sekarang? Terus terang, Eri merindukannya. Merindukan saat-saat indah bersamanya. Saat indah itu, akankah terulang lagi?
Bagaimana pula dengan Igo? Apa dia akan datang ke pesta ini…, bersama I’am. Eri menitikkan air matanya, membuat polesan bedak branded dipipinya sedikit terkikis. Sama seperti perasaannya pada Andra yang mulai terkikis semenjak I’am muncul lagi beberapa hari yang lalu.
Eri memukul kepalanya sendiri, merasa bodoh. Nggak! Nggak! Eri nggak boleh jadi penghianat! Ingat! Sebentar lagi, tinggal menunggu hitungan jam lagi,  Andra akan menjadi tunangannya. Calon pendamping hidupnya.
“Mba Eri?”
Eri menoleh kearah pintu, ada Mba Lily rupanya. Gadis manis dengan rambut panjang ini adalah penata rias Eri. “Kenapa?”
“Anu, Mba. Udah ditunggu diluar. Tamu udah pada datang.”
Eri mengangguk. “Iya. Bilang sama yang lain saya akan segera keluar.”

* * * * * * * *

Ciit!
Mobil sedan biru metalik milik Igo, berhenti tepat didepan Graha Wangsa. I’am menatap situasi sesaat. “Masuk?” tanyanya pada Igo.
“Terserah elo ‘am. Kalau elo siap sakit hati ngeliat Eri bersanding dengan orang lain, ya masuk aja.”
“Gue kesini bukan untuk melihat Eri bersanding dengan cowok bernama Andra itu,” kilah I’am. “Tapi gue bakal mencegah supaya pertunangan ini nggak terjadi!”

* * * * * * * *

Eri termangu menatap gemerlap pesta pertunangannya. Pesta mewah dengan para tamu undangan yaitu para pengusaha-pengusaha sukses, teman dari Papa Andra dan dokter-dokter ahli ternama di Indonesia, teman dari Ayah dan Bunda Eri. Tak lupa juga, ada teman-teman dari Eri dan Andra di SMA 17 Agustus.
“Kamu seneng?” tanya Andra yang tiba-tiba muncul disamping Eri.
Eri menoleh sesaat dengan senyum dipaksakan. “Iya.”
I love you.” Bisik Andra tiba-tiba, ih basi banget!
Eri hanya membalasnya dengan senyuman ala kadar.

* * * * * * * *

“Mana undangannya, Mas?” cegat seorang satpam pada pintu masuk gedung.
I’am dan Igo saling tukar pandang. “Undangan?”
“Iya, Mas. Kalau mau masuk harus bawa undangan. Bukannya tertera di undangannya kalau undangan itu harus dibawa? Apa Mas nggak baca?”
“Pak, sumpah deh. Saya diundang. Undangannya aja yang lupa dibawa.” Ucap Igo dengan tangan membentuk hurruf “V” diudara.
“Tapi maaf, Mas. Kami hanya menjalankan perintah. Mas sekalian nggak bisa masuk kalau nggak ada undangannya.”

* * * * * * * *

“Harus gimana dong, ‘am? Kita nggak bisa masuk.” Tanya Igo saat mereka berdua sudah ada didalam mobil lagi.
I’am bergeming, ia sedang memijat-mijat kepalanya. Berharap akan terlintas ide cemerlang disana.

“Lo tau nggak ‘am? Tadi Eri bilang sama gue kalau suatu hari nanti dia mau dilamar pake sekarung mawar.”
“Oh ya? Khayalan tingkat tinggi banget cewek lo.”
“Haha. Lucu kali! Gue janji, kalau gue bisa gue pasti bakal ngabulin permintaan Eri itu.”

Tiba-tiba sepotong percakapan antara dirinya dan Ryzky di masa lalu terlintas. Membuat I’am menyadari suatu hal. “Go, di Bandung, ada nggak tempat yang banyak bunga mawarnya?”

* * * * * * * *

I’am berlari menembus langit malam yang mengguyurkan air hujan pada kota Bandung. Ditangannya ada sebuah karung besar yang dibelinya pada pedagang asongan yang ditemuinya dijalan tadi. Kini ia berada disebuh kompleks perumahan elit, ia sendiri, meninggalkan Igo yang lebih memilih untuk berdiam diri didalam mobil. I’am nggak tahu lagi mesti mencari mawar dimana. Igo, juga nggak tahu dimana tempat di Bandung yang banyak mawarnya. Jadi terserahlah, dimanapun itu, sekalipun harus mencuri, I’am harus mendapatkan mawar.
I’am celingukan, meneliti satu-persatu halaman rumah gedongan dihadapannya. Ah! Itu dia! Batin I’am sumringah melihat hamparan bunga mawar tersusun rapi disalah satu rumah berwarna ungu. “Ri, those are for you!”

* * * * * * * *

“Silahkan kepada Eri dan Andra untuk menaiki panggung.” Pinta MC dengan senyum mengembang.
Andra dan Eri saling tukar pandang, bingung mesti apa.
“Ssh! Ayo sana naik!” bisik Bunda yang berdiri dibelakang Eri. “Ndra, ayo dong gandeng Eri!” ucap Bunda sekali lagi, namun kali ini terdengar seakan memaksa.
Andra menatap Eri lembut. Baru kali ini Eri merasakan tatapan itu seolah membuatnya muak. Padahal biasanya, tatapan mata Andra yang teduh itulah yang membuat Eri tenang. “Ayo!” ajak Andra pelan sambil menggamit lengan Eri.

* * * * * * * *

I’am terus mencabuti mawar merah yang bermekaran segar dihadapannya, tak peduli sudah berapa banyak darah yang mengucur deras menembus kulitnya yang robek akibat tersayat duri mawar. Sesekali ia meringis menahan sakit, namun rasa cintanya pada Eri, seakan bisa mengalahkan itu semua.
“Hei! Maliiiing! Maliiing!” teriak seseorang dari arah rumah, I’am menoleh cepat dan mendapati seorang wanita yang mengenakan piama berdiri diatas balkon lantai dua rumah tersebut.
“Bu..,”
“Maliiiing! Maliiing!” potong wanita itu pada kalimat I’am. Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh tegap dan berkumis tebal meneyeruak dari dalam rumah dan langsung menatap tajam pada I’am.
“Maling! Berani-beraninya ya kamu mencuri dirumah saya!” ucapnya dengan suara serak. Membuat I’am ngeri. “Tunggu kamu!” Dengan gerakan cepat lelaki itu berbalik masuk kerumah.
Secepat kilat I’am ikut berbalik juga, menuju arah gerbang depan rumah untuk kabur. Firasat  buruk menghantuinya, jangan-jangan lelaki tadi ingin menghampirinya lalu memukulinya karena ia ketangkap basah sedang mencuri.

* * * * * * * *

Eri hampir menjatuhkan air matanya saat Andra memasangkan cincin pada jari manisnya. Bukan rasa haru atau bahagia yang menghampirinya, tetapi rasa penyesalan yang begitu dalam. Kenapa bukan I’am yang memasang cincin itu pada jarinya? Kenapa harus Andra?
“Baiklah, sekarang giliran Eri yang memasangkan cincin ke jari I’am.” Suara MC mulai berkoar lagi, membuat Eri tersadar dari lamunannya.

* * * * * * * *

I’am terus berlari menerobos hujan yang semakin deras, kakinya sudah letih. Ber-blok-blok dari kompleks ini sudah ia lewati agar dapat kabur dari si empu taman mawar yang dicurinya tadi serta gerombolan hansip dan peronda. Ditangannya yang penuh luka, tergenggam sekarung penuh mawar. Kini I’am berlari kearah mobil Igo diparkir, Igo pasti menunggunya disana.
I’am berhenti sejenak, memandang kebelakang. Ah! Orang-orang itu masih belum nampak. Mungkin mereka tertinggal jauh dibelakang.
I’am terduduk sesaat diatas trotoar dipinggir jalan yang sepi.
“Itu dia! Tangkap!”
I’am menoleh, dari arah jalan dibelakangnya, segerombol orang yang dikepalai bapak berkumis tebal tadi terlihat semakin mendekat. Kontan I’am berdiri, kembali berlari menerobos guyuran hujan. I’am berlari lurus kedepannya. Sedikit lagi, ia akan sampai ditempat mobil Igo terparkir. Tinggal menikung ke kiri.
I’am terus berlari, ia berbelok ke tikungan itu. Tubuhnya yang basah dan letih berlari menyeberang jalan. Namun tiba-tiba… “Tiiiinnnn!!!!!” suara klakson mobil bergema ditelinga. Diiringi dengan suara sesuatu terpantal. Darah! Darah mengucur dimana-mana. Ikut bercampur dengan air hujan yang menggenang dijalan raya. Dan mawar itu, benghamburan menaburi jalan raya. Bercampur dengan warna darah yang semakin memerah.

* * * * * * * *

Tubuh Eri terkulai lemas. Ia tak sanggup menahan air matanya. Bukan! Seharusnya bukan Andra yang mengenakan cincin ini! Bukan! Jerit hari Eri perih. Eri merutuki tepuk tangan yang bergemuruh disekililingnya. Ia juga melaknati tatapan mata para tamu undangan yang menatap haru kearah Andra dan dirinya yang masih berdiri diatas panggung dengan punggung tangan terjorok kedepan, memamerkan cincin tunangan mereka.
Ya tuhan! Eri ingin mengakhiri semua ini!

* * * * * * * *

10 bulan kemudian…
“Gimana keadaan lo? Udah baikan?”
“Alhamdulillah. Minggu ini gue udah boleh pulang.”
“Sekolah lo?”
“Gue bakal daftar di Amsterdam International school. Gue pengen ngelanjutin beasiswa gue yang tertunda dulu.”

* * * * * * * *

“Ri? Gimana? Masakan Tante enak?”
Eri mendongak menatap mata Tante Winda (Mama Andra) dengan senyum mengembang. “Enak, Tante.”
“Kamu bisa masak?”
Eri cengengesan. “Dikit sih! Hehe.”
“Nah! Gimana kalau Tante ngajarin kamu masak? Kalau udah jadi istri Andra ‘kan kamu harus bisa masak,” Tante Winda melirik penuh arti pada Andra. “Iya ‘kan, Ndra?”
“Uhuk! Uhuk.. uhuk..”Eri terbatuk-batuk. Makanan yang numpang lewat di kerongongannya menyangkut dengan seenak jidat. Ih! Malu-maluin!
“Ri, kamu nggak apa-apa?” tanya Andra sambil menyodorkan segelas air putih hangat pada Eri.
“Iya. Uhuk!”
“Duh! Eri, pelan-pelan dong!” Tante Winda mengusap-usap punggung Eri lembut.
Eri meneguk habis air putih hangatnya. “Iya, Tante.”
“Kamu kenapa sih, kok Tante ngomongin tentang kalau kamu jadi istri Andra, kamu jadi batuk-batuk gitu?”
Eri menelan ludahnya susah payah. Mau jawab apa nih? Nggak mungkin dong Eri jujur sama Tante Winda kalau Eri udah nggak sayang lagi sama Andra. Cari mati itu namanya!
“Ngg.. aku belum siapa aja Tante. ‘kan masih lama.” Aha! Jawaban yang… mm, lumayan bagus!
“Yah, pokoknya siap-nggak-siap kamu harus siap!”
“Uhuk.. uhuk.. uhuk...” untuk kesekian kalinya, Eri kembali terbatuk-batuk.

* * * * * * * *

Entah sudah keberapa kali, Eri kembali menyeka air matanya yang jatuh diatas selembar foto yang ada digenggamannya. Foto itu, foto dengan objek seorang lelaki yang sedang tersenyum sambil merangkul seorang gadis yang sedang tertawa dengan latar tempat berupa danau yang indah. Itu adalah foto ketika Eri dan I’am berada di taman buah Mekarsari.
“’am, I miss you.” Lirih Eri. I’am, dimana dia sekarang? Semenjak pertemuannya dengan I’am di kafe 10 bulan yang lalu, Eri kembali kehilangan jejak I’am. Padahal kini Eri sudah mulai bisa mencintai I’am lagi. Tapi kenapa, kembali untuk kesekian kalinya I’am kembali hilang bak ditelan bumi? Dan yang lebih parah lagi, sekarang bukan hanya I’am yang menghilang. Tetapi Igo juga, satu-satunya orang yang menjadi harapan Eri untuk menjadi informan agar dirinya dapat mengetahui keberadaan I’am. Ah! Semuanya kacau! Kacau!