“Kamu mau kemana?” sergah Eri ketika Andra beranjak dari
tempat duduknya. “Es krimnya aja belum abis.”
Andra menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal itu, ia
terlihat begitu salah tingkah. “Ng.. aku cuma mau ke toilet aja kok.”
“Bener?”
“Iya, entar aku balik. Oke. Dah!” Andra tersenyum lalu bergegas pergi menuju toilet yang ada bagian belakang kafe ini.
“Iya, entar aku balik. Oke. Dah!” Andra tersenyum lalu bergegas pergi menuju toilet yang ada bagian belakang kafe ini.
Eri menyendok es krim tiramisu miliknya dengan lesu. Bayang-bayang
I’am kembali numpang lewat diotaknya. Hhhfff! Kenapa susah banget sih buat
sehari aja nggak mikirin I’am. Kalau keadaan begini terus, bisa-bisa mata Eri
bengkak setiap hari. Secara tiap ada I’am dibenaknya, selalu aja air mata Eri
memaksa menyembul keluar. Jujur, Eri benar-benar merindukan I’am. Lelaki yang
sangat dicintai sekaligus merangkap sebagai lelaki yang sudah disakitinya itu.
Tiba-tiba Eri terperanjat, mendengar ringtone ponselnya
berbunyi. Oh! Ada sms rupanya.
From : My Andra
Aku plg dluan ya! Soalnya aku lg ada
prlu.
Sori gk smpet blg ke km. soalnya aku
plg lwat pntu blakang. Skali lg maaf ya.
I love you J
Uueekk! Ingin rasanya Eri memuntahkan semua makanan yang
mengisi lambungnya. Apa-apaan sih si Andra? Dengan seenak udelnya aja ninggalin
Eri. Nyebelin banget! Awas aja, sampe rumah entar Andra bakal Eri gebukin,
terus Andra nggak bakal Eri kasih jatah makan malam kesukaan Andra, yaitu
tulang ayam dan daging ikan (loh! Emangnya Andra anjing apa?)
* * * * * * * *
Siang yang terik. Matahari lagi bersemangat banget kayaknya
menyinari bumiku yang indah dan nan cerah ini (duh! Bahasanya. Nggak nahan,
Mang!). Emang ada bagusnya juga sih kalo mataharinya nyengat begini. Jemuran
dirumah bisa cepet kering, ya gak? Tapi kalau keseringan gini, waah penduduk
bumi bisa gosong booo!
Setelah memilih untuk pulang dari kafe karena ditinggal
pergi oleh Andra. Eri memutuskan untuk pergi ke salah satu butik yang ada di
Tanah Abang, bersama Neta, teman sekelasnya. Rencananya sih, Eri mau beli baju.
“Net, yang ini bagus?” tanya Eri sembari menyodorkan sebuah baju yang dominasi
warna hitam dan terdapat banyak mote-mote kecil di daerah bahunya.
Neta mengtuk-ngetuk dagunya. “Bagus! Tapi bagusan juga yang
di mall.” Jawab Neta singkat, lalu kembali sibuk menyeka keringat yang berjatuhan
dari pori-pori dahinya.
“Gue lagi nggak ada uang mau beli di mall. Lagian disini
juga udah lumayan bagus-bagus kok.”
Neta mengerjapkan matanya jengkel. “Minta sama Andra dong!
Masak sama tunangannya sendiri dia pelit!”
“No way!” Eri
mengibaskan jari telunjuk kanannya tepat didepan hidung Neta. “Gue paling
pantang minta-minta sama cowok gue!”
“Hhh! Terserah!” Neta terduduk lemas di kursi plastik yang
sedari tadi nganggur dibelakangnya. Sepertinya, Neta adalah salah satu orang
dari semua orang yang sangat tidak mensyukuri dan menikmati sinar ultra violet
matahari yang menerobos masuk melalui kaca jendela butik.
Eri menggidikkan bahu cuek, lalu kembali sibuk memilah-milah
baju. Eri sempat tertarik untuk membeli baju berwarna abu-abu dengan corak
berbentuk kelopak bunga berjatuhan, namun kembali menarik niatnya begitu
mengetahui harga baju itu melebihi budget
yang dibawanya. Yaaah! Kalau begini mah sama aja dengan di mall, gerutu
batinnya kesal.
Set! Set! Set! “Apa’an sih,
Net?” seru Eri sebal pada Neta yang malah sibuk menarik ujung baju seragamnya.
“I… itu!” jawab Neta tergugup, matanya tertuju pada satu
titik diluar butik.
Eri mengerutkan dahi. “Apanya yang ‘itu’?”
Neta kembali membuka mulutnya, matanya masih belum berkedip.
“A… Andra… sa… sama cewek.”
Slep! Secepat kilat
Eri memutar kepalanya, melongok kearah mata Neta tertuju. “An… Dra?!!” seru Eri
tak percaya melihat Andra tengah berdiri disalah satu toko yang ada didepannya
dengan merangkul mesra seorang… cewek! “Andra?!” serunya sekali lagi, air
mukanya memerah menahan emosi.
Eri terus memerhatikan Andra dari tempatnya berdiri, ia tak
menggeser tubuhnya semilimeterpun! Neta sampai dibuat heran. Biasanya nih,
kalau cewek ngeliat cowoknya selingkuh didepan matanya sendiri, tuh cewek bakal
nyamperin cowok itu terus marah-marah nggak jelas dan ujung-ujungnya bakal
minta putus. Laah ini! Kok diem aja? kesambet ya?
“Kita diem aja disini! Gue pengen liat! Mau ngapain dia sama
cewek itu!” ucap Eri akhirnya, menahan geram.
Neta mengangguk paham. “Jadi elo nggak mau nyamperin dia?”
“Gue pasti samperin kok! Tapi nanti, tunggu waktu yang pas.”
Eri tersenyum sinis dan penuh arti. Tatapan matanya, seperti elang. “Eh! Ayo!
Kita ikutin!” Eri menggamit lengan Neta dan beranjak berjalan keluar butik.
“Ikutin? Katanya lo mau diem aja didalam butik, Ri?”
“Strategi berubah. Gue mau ngikutin dia sama selingkuhannya
itu dari jarak aman, gue pengen tau mereka mau ngapain aja disini,” Eri
mengehentikan langkahnya lalu menghentak tangan Neta. “Sshh! Liat gih! Mereka
ke tempat parkir.”
Neta menarik Eri untuk bersembunyi dibalik sebuah pilar
besar. “Kita intip aja dari sini!” saran Neta yang langsung disambut anggukan
kepala dari Eri.
Andra dan cewek selingkuhannya itu terlihat menghampiri
motor Andra yang terparkir dipojok, setelah motor berhasil keluar dari barisan
parkir, Andra segera menghidupkan mesin motor dan diikuti dengan gerakan si
cewek selingkuhan yang menaiki jok belakang motor. Motor milik Andra itu pun
melaju pelan keluar dari Tanah Abang.
“Kita ikutin mereka mau kemana!” perintah Eri.
* * * * * * * *
“Lo salah besar tau gak, Ri!” Neta melirik keki pada Eri.
“Salah kenapa?”
“Lo seharusnya bukan ngajak gue buat nemenin elo beli baju,
tapi ngajak Andra.”
Alis Eri bertaut. “Maksudnya?”
“Ya, lo liat dong! Dia aja ngebawa cewek selingkuhannya makan di restoran mahal yang ada di MOI. Masak ngajak elo aja ketempat yang lebih mahal buat beli baju dia nggak bisa!” celetuk Neta pedas membuat kuping Eri memerah panas.
“Ya, lo liat dong! Dia aja ngebawa cewek selingkuhannya makan di restoran mahal yang ada di MOI. Masak ngajak elo aja ketempat yang lebih mahal buat beli baju dia nggak bisa!” celetuk Neta pedas membuat kuping Eri memerah panas.
“Terserah deh!” tanggapnya tak peduli lalu kembali
mengalihkan perhatiannya pada Andra dan si cewek selingkuhannya yang sedang
menikmati makan siang mereka bersama. Eri dan Neta memutuskan untuk duduk
dikursi yang berada dipojok restoran, jarak yang aman untuk menjadi “spy” sementara
menurut mereka. Sedangkan Andra dan selingkuhannya itu, duduk tepat dimeja yang
ada ditengah restoran.
Duk! Eri menghentak
meja geram melihat Andra membelai mesra rambut si selingkuhan. “Dasar buaya!”
“Cemburu?” tanya Neta nggak penting.
“Cemburu?” tanya Neta nggak penting.
“Nggak!” Eri menggeleng kuat. “Gue sebel aja dia udah
ngebohongin gue. Lo tunggu disini!” perintah Eri sembari menatap tajam pada
Neta. “Gue mau nyamperin mereka!”
“Tapi, Ri..,”
“Pokoknya TUNGGU! Ini waktu yang tepat, Net.” Eri tersenyum
sinis pada Neta lalu segera berlalu pergi menghampiri Andra yang terlihat
sedang asyik cengengesan bersama si selingkuhan.
“Sialan!” byur!
Tanpa babibu Eri langsung menyambar segelas penuh jus anggur yang ada dihadapan
Andra, lalu menyiramnya tepat diwajah “sang kekasih”
“E… Eri?” Andra tergagap.
“Kenapa? Kaget!?” tantang Eri dalam kalimatnya.
“Ndra, ini siapa?” tanya si selingkuhan terlihat bingung.
Tatapan matanya menyapu seluruh tubuh Eri dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Eri tersenyum penuh kemenangan. “Kenalin! Nama gue Eri, gue
adalah..,” Eri menatap tajam Andra penuh makna. “Orang yang paling membenci
Andra.”
“Maksudnya?”
“Tanya aja sama pacar kesayangan lo ini!” Eri berucap sadis
tepat disamping telinga Andra sambil berlalu kembali menghampiri Neta yang
masih bengong tak percaya dengan adegan barusan.
“Yuk pulang!” Eri menarik lengan Neta.
“Tapi, Ri..,”
“Pulang!”
* * * * * * * *
Eri menarik koper berukuran kecil yang ada dibawah kolong
lemari bajunya. “Hff!” berkat hembusan nafas dari mulut Eri, debu-debu yang
melekat pada permukaan koper berhasil melayang terbang dengan sukses.
“Non?” terdengar suara Bi Mar dari ambang pintu.
Eri menoleh lalu melempar senyum pada asisten rumah tangga
yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri itu. “Iya? Kenapa, Bi? Sini
masuk!”
“Mmm, Non yakin mau ke Jakarta?” ucap Bi Mar saat dirinya
sudah “mendarat” di atas ranjang empuk milik Eri.
“Iya.” Jawab Eri singkat sambil membuka pintu lemari baju
miliknya.
“Kalau nggak ketemu sama orang yang Non cari gimana?”
Eri tertawa kecil. “Kalau nggak ketemu ya nggak apa-apa,”
senyum masam terulas dibibir Eri. “Kalau begitu akhirnya, ya anggap aja aku ke
Jakarta buat liburan.” Eri membawa setumpuk baju miliknya keatas ranjang.
“Jangan khawatir. Aku bisa jaga diri kok, Bi. Lagian ngebosenin juga ‘kan.
Kalau liburan panjang gini aku cuma diam dirumah.” Sambung Eri lagi. Memang
benar, sekarang Eri sedang menikmati liburan panjang selepas mengikuti Ujian
Nasional. Eri akan mulai aktif bersekolah lagi sekitar pertengahan bulan mei
mendatang, itu pun hanya untuk melihat pengumuman kelulusan yang dilanjuti
dengan penyerahan ijazah.
“Iya, Non. Tapi pokoknya Non harus jaga diri!” tegas Bi Mar
sekali lagi, yang hanya disambut senyuman hangat Eri.
* * * * * * * *
“Ri, mau kemana sih?”
“Bukan urusan lo!”
“Ri, gue mau ngomong.”
“Emang masih ada ya yang perlu kita omongin?”
Andra mencengkeram bahu Eri kuat-kuat dan memenjarakan
pandangan Eri agar tertuju pada kedua matanya. “Ri, soal di MOI itu, lo cuma
salah paham.”
“Salah paham gimana!?” Eri menghempas tangan Andra.
“Gue sama cewek itu nggak pacaran.”
“Nggak pacaran tapi saling selingkuh, gitu ‘kan?” tandas Eri
tajam, Andra mengatupkan mulutnya rapat. “Gue udah selidiki semuanya! Nama
cewek itu Rere ‘kan? Anak ITB semester 4. Dia udah punya pacar namanya Didas
dan elo sama dia udah berkomplot buat menjalin hubungan dibelakang gue dan si
Didas itu ‘kan?”
Andra masih diam, semua kata-katanya kembali tertelan pahit.
“Lo sama gue udah over,
Ndra. Jadi kalau elo mau ngelanjutin hubungan terlarang lo itu, ya silahkan aja!
gue nggak ada hak buat ngelarang.”
“Ri, gue mohon!”
Tiba-tiba Eri mengangkat tangan kirinya, melepaskan cincin
yang melingkar manis disana. “Nih! Gue balikin cincin lo! Seharusnya elo kasih
itu buat Rere bukan buat gue.” Eri menarik gagang koper kecil miliknya dan
berjalan memasuki pintu kereta. Sementara Andra, terlihat mengepalkan tangannya
kesal. Setumpuk emosi sedang berusaha diredakannya. Didalam genggamannya
terdapat sebuah cincin, cincin yang “dulunya” adalah milik Eri. Huh! Kandas
sudah pertunangan ini. Semua yang sudah dititi dari awal, hancur dalam sekejap
hanya dengan sebuah kesalahan besar yang dibuat Andra : membiarkan wanita lain
menempati hatinya.
* * * * * * * *
Eri membuang pandangannya keluar jendela kereta. Pikirannya
terbang ke awang-awang. Secercah harapan menyembur dihatinya, semoga ia dapat
bertemu I’am di Jakarta kelak. Namun kini pikirannya teralih akan suatu hal
yang baru saja terjadi kemarin. Kejadian yang indah, pikir Eri sambil
tersenyum-senyum sendiri. Semua rekaman reka ulang di detik-detik saat Eri memutuskan
hubungannya dengan Andra di MOI kemarin kembali berkelebat.
Mungkin ini yang dinamakan takdir Tuhan. Disaat Eri
benar-benar telah jenuh akan semuanya, disaat itu pula ia menemukan waktu yang
pas untuk mengakhiri hubungannya dengan Andra. Kalau boleh jujur, Eri
setidaknya cukup senang mengetahui Andra berselingkuh. Karena dengan begitu,
Eri akan punya alasan kuat untuk membuang Andra jauh-jauh dari hidupnya, dan
kembali fokus untuk membuka hati pada I’am.
Benar kata orang-orang : Tuhan tidak tidur, dan Tuhan adalah
hakim yang seadil-adilnya.
“Mba, mau minum?” tawar seorang pedagang asongan sambil
menyodorkan sekaleng minuman soda.
Eri melempar senyum termanisnya. “Boleh,” lantas merogoh
saku celananya dan mengeluarkan selembar uang sepuluh-ribuan. “Kembaliannya
ambil aja.” Ucap Eri ketika kaleng minuman soda sudah berada digenggamannya.
Pedagang asongan itu tersenyum penuh makna lalu kembali
berjalan menyelusuri gerbong kereta, menjajakan dagangannya.
Eri meneguk minuman soda miliknya, matanya kembali memandang
kearah luar jendela kereta. Kini pikirannya telah penuh dengan sosok I’am. Tak
ada lagi Ryzky, tak ada lagi Andra.
* * * * * * * *
Igo duduk didepan PC butut miliknya, tangannya beradu dengan
kibor. Sementara itu, ditelinganya tercantol headset berwarna hitam.
Dan ponsel kesayangan miliknya, sudah tersampir dipangkuan.
“Gimana di Amsterdam?” tanya Igo pada orang yang
diteleponnya.
“Ya gitu deh! Borned!”
Alis Igo bertaut, namun tangannya masih sibuk memencet tuts kibor.
“Borned? Gimana bisa? Bukannya disana
asyik!”
“Karena disini nggak ada Eri, makanya membosankan.”
Kali ini jari-jari gempal milik Igo berhenti bergerak. Ia
menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. “Eri terus yang ada dipikiran lo!
Sembuhin dulu tuh kaki!”
Orang yang ternyata adalah I’am itu malah terkekeh. “Kenapa
memang? Nggak boleh?”
“Ya, boleh sih,” Igo bangkit dari duduknya dan menghampiri
meja kecil yang ada disamping tempat tidur, disana sudah tersedia secangkir teh
hangat. “Tapi utamanin dulu kesehataan lo. Oh ya, gimana sekolah disana ‘am?”
Igo meneguk teh hangat miliknya dengan cepat.
“Ya gitu deh. Banyak bule-bule.”
“Banyak kompeninya nggak?” tanya Igo nggak mutu. Halooo!
Kompeni mah udah musnah dari zaman baheula kaleee!
“Dasar bodoh!” tanggap I’am. “Hm, gue nggak sabar pengen
balik ke Indonesia. Gue pengen buru-buru lulus terus pengen cepet-cepet
nyelesain terapi kaki gue.”
“Karena Eri lagi?”
“Iya. Bagaimanapun gue harus memenuhi amanat Ryzky buat jaga
Eri, sekalipun sekarang Eri udah ada tunangan…”
* * * * * * * *
Thamrin City, malam hari…
Eri memasuki sebuah swalayan kecil. Ia pergi kesana untuk
membeli beberapa buah makanan kaleng dan cemilan karena persediaan makanannya
sudah hampir habis. Sebenarnya sih bisa beli di supermarket yang ada didekat
hotel tempat Eri menginap. Tapi berhubung Eri berniat sekalian jalan-jalan plus
“cuci mata” jadi deh Thamrin City sebagai tujuan.
Eri memasukkan beberapa snack
kentang dan singkong kedalam keranjang belanjaan yang dibawanya, setelah
itu tangannya menjelajahi rak tempat minuman dijajarkan. Beberapa detik
berpikir, Eri memutuskan untuk membeli 5 kaleng jus jambu dan dua kaleng susu
instan.
Puas berbelanja bahan makanan, Eri memutuskan menyusuri
barisan rak-rak yang menyediakan peralatan mandi. Disana Eri membeli dua buah
sabun mandi dan sebotol sampo. Ketika jemari lentik Eri hendak menjamah sebuah
sikat gigi berwarna ungu yang ada dihadapannya, tepat pada titik itu pula
tangan seseorang menyentuh punggung tangan Eri. Sepertinya orang itu juga berniat
untuk membeli sikat gigi ungu itu.
Eri menoleh, menatap tajam orang yang ada disampingnya itu.
“Sori, sikat gigi ini…, Igo?” Eri menjerit tertahan. Keranjang belanjaan yang
ada ditangannya ikut jatuh kelantai, membuat semua barang belanjaannya jatuh
berhamburan. “Igo, gue udah lama nyari elo!” Eri memeluk Igo gembira.
Igo melepas pelukan Eri dan menjatuhkan pandangannya lekat,
tepat dikedua mata Eri. “Gue rasa kita perlu ngomong banyak, Ri.”
* * * * * * * *
“Jadi, I’am pindah ke Amsterdam?”
Igo mengangguk, ia membuang pandangannya ke lantai kafe.
Pada detik berikutnya, Igo dapat merasakan sesuatu menjamah tangannya, rupanya
tangan lembut nan hangat Eri telah menggenggam punggung tangan Igo erat. “Gue
mohon elo cerita sama gue, Go! Buat apa I’am pindah ke Amsterdam?”
“Seharusnya gue nggak boleh ceritain hal ini ke elo, Ri.”
“Kenapa!?”
“Karena I’am melarang gue.”
“Kenapa dia ngelarang elo?!”
Igo tersentak, tubuhnya mundur beberapa centi. “R i, please. Jangan paksa gue cerita.”
Igo tersentak, tubuhnya mundur beberapa centi. “R i, please. Jangan paksa gue cerita.”
“Nggak!” Eri menghentak meja, membuat Igo benar-benar hampir
terjungkal dari kursinya. “Pokoknya gue mau elo cerita!” desak Eri, memebuat
Igo makin terpojok.
Kini air muka Igo sangat mirip dengan anak kecil yang sedang
berhadapan dengan kuntilanak yang akan menculiknya. Menyedihkan! Bentakan Eri
ternyata ampuh membuat Igo merinding ketakutan dan hampir ngompol. “Iya-iya.
Gu.. gue cerita!” putus Igo akhirnya, menyerah.
Eri menarik nafas panjang, mencoba mengatur emosinya yang
meledak-ledak. “Oke, sekarang cerita kenapa I’am pindah ke Amsterdam?”
Igo memainkan kedua jari jempol tangannya. Ia terlihat
gugup. “Sebenarnya waktu malam pertunangan lo itu…,” Igo mendekatkan wajahnya
ke wajah Eri. “Gue sama I’am mau datang.” Bisiknya.
Eri tersentak, wajahnya menunjukkan betapa ia tak percaya
akan apa yang dibicarakan oleh Igo barusan. “Tapi kok..,”
“Gue sama I’am nggak boleh masuk! Kami nggak bawa undangan.”
“Gue sama I’am nggak boleh masuk! Kami nggak bawa undangan.”
Eri diam, tangannya bergemetar hebat.
“Akhirnya gue dan I’am memutuskan untuk pergi…,” Igo
menghelas nafas panjang. “Untuk mencari mawar.”
“Mawar?!”
Igo mengangguk. “I’am bilang sama gue, Ryzky pernah cerita kalau elo pengen banget suatu hari nanti dilamar pake sekarung mawar. Dan I’am pergi..,”
Igo mengangguk. “I’am bilang sama gue, Ryzky pernah cerita kalau elo pengen banget suatu hari nanti dilamar pake sekarung mawar. Dan I’am pergi..,”
“Buat nyari sekarung mawar penuh, gitu?” potong Eri pada
sasaran.
Sekali lagi Igo mengangguk, kini air mukanya berubah. “I’am
pengen ngebatalin acara pertunangan itu, Ri. Karena I’am engen ngelamar elo. Dan
lo tahu? I’am ngedapetin semua bunga mawar itu dari hasil mencuri.”
Mata Eri membulat kaget, rasa penuh tak percaya benar-benar
menyelubunginya. “Tapi sayang, dia ketahuan sama pemilik kebun dan akhirnya…,”
“Akhirnya apa!?” desak Eri, ia mengguncang tubuh Igo
kencang.
Igo menghela nafas berat. “I’am tertabrak mobil saat
dikejar-kejar oleh pemilik kebun dan massa disekitar kompleks itu. Itulah sebabnya
I’am pergi ke Amsterdam.”
“Dia menjalani pengobatan disana?” tanya Eri jitu.
“Iya, tapi bukan cuma itu, Ri.”
“Terus? Apa lagi!”
“Dia kesana juga sekaligus melanjutkan beasiswa sekolah menengah-nya.”
“Dia kesana juga sekaligus melanjutkan beasiswa sekolah menengah-nya.”
Eri mencelos, tubuhnya terasa begitu lemah. Ia menyenderkan
punggungnya pada sandaran kursi, disusul dengan air matanya yang berbulir. “Gue
ngerasa bersalah banget sama I’am.”
“Ini bukan salah lo, Ri,” Igo tersenyum penuh makna. “Lagi
pula I’am janji kok bakal segera balik ke Indonesia bulan Juli nanti. Setelah
kelulusan.”
Eri mendongak, menatap Igo penuh harap. “Serius?”
Igo mengangguk, senyum teduhnya masih belum luntur. “Tapi sepertinya percuma ya sekalipun I’am balik ke Indonesia.”
Igo mengangguk, senyum teduhnya masih belum luntur. “Tapi sepertinya percuma ya sekalipun I’am balik ke Indonesia.”
Eri menyeka air matanya. “Kenapa?”
“Karena elo udah ada tunangan. Jadi I’am udah nggak ada
kesempatan lagi buat ngedapetin hati lo, bukan?”
Eri tersenyum geli sambil melempar sorot mata dengan makna
tersembunyi pada Igo. “Kata siapa bakal begitu? Sok tahu!”
Dahi Igo jadi keriting. “Maksud lo?”
* * * * * * * *
I’am beranjak bangun dari tidurnya. Telinganya mendengar
suatu suara. Entah suara apa, yang jelas sangat berisik.
Ia melangkahkan kaki keluar kamar, menuju lantai dasar
rumahnya. Disana ia hanya mendapati Mama dan Papa-nya yang sedang sarapan. “Ma,
Pa?”
“Eh udah bangun kamu ‘am. Ayo sini! Sarapan.”
I’am tersenyum simpul. “Nggak usah, Ma. Belum lapar,” I’am
kembali mengedarkan pandangannya kesetiap sudut ruangan. Mencari asal suara
berisik itu. “Ma, Pa. dengar suara berisik gitu nggak sih?”
Mama dan Papa saling tukar pandang sejenak sambil
senyam-senyum. “Oh itu kali bunyinya dari kebun belakang.” Sahut Mama.
“Kebun belakang?”
“Iya. Ada tukang kebun baru.” Kali ini Papa yang bicara.
“Tukang kebun itu lagi ngapain sih, Ma? Kok berisik banget.”
“Lagi Mama suruh tanam bunga baru.”
Mata I’am membola terkejut. “Bunga? Baru? Terus tulip
aku..,” I’am memutus kalimatnya dan tanpa dikomando berlari menuju halaman
belakang.
Sialan! Kalau Mama nyuruh tukang kebun baru itu buat tanam
bunga baru, berarti semua bunga tulip gue…, aaaarrrgh! I’am jadi pusing sendiri
memikirkan jika bunga tulip kesayangannya yang sudah susah payah dirawat dengan
seenak udel dirusak oleh orang lain.
I’am mengerem laju larinya, ia berhenti tepat diambang pintu
yang berhadapan langsung dengan taman belakang. Ia menjatuhkan pandangannya
tepat pada si tukang kebun baru yang sedang membelakanginya dengan posisi
berjongkok, tukang kebun itu sedang menanam bunga… mawar. I’am mengunci
mulutnya rapat, menyadari satu hal : taman tulipnya sudah berubah menjadi taman
mawar.
“Hei! Tukang kebun! Sini kamu!” sentak I’am dengan nada
geram. Namun tukang kebun itu masih bergeming. Ia tak bergerak sedikitpun.
“Hei! Saya ini majikan kamu. Kamu seharusnya patuh sama saya.”
I’am menghentak kakinya kesal. Sial! Sengak banget nih
tukang kebun, pikirnya.
I’am berjalan cepat, mendekati tukang kebun itu. Saat telah
berada dibelakangnya, dengan secepat kilat I’am membuka topi ala cowboy yang
dikenakan si tukang kebun. “Kamu itu budeg atau…,” I’am memutus perkataannya
dan menelan ludahnya dengan susah payah. “Kamu cewek?” I’am terkejut bukan main
begitu mendapati juntaian rambut hitam lebat yang indah menyibak dari balik
topi.
Si tukang kebun berdiri, masih membelakangi I’am. Arit yang
ada digenggamannya jatuh ketanah dengan kasar. I’am sampai bergidik ngeri
sendiri. Tukang kebun ini seakan siap membunuhnya.
Baru saja I’am hendak memutar tubuhnya dan berbalik masuk
kedalam rumah ketika pundaknya digenggam erat oleh si tukang kebun dan dengan
gerakan cepat si tukang kebun berhasil memutar tubuh I’am 1800
menghadap kearahnya.
“Hai ‘am. Long time no
see, right?”
Apa mata I’am nggak salah lihat?! Kok…, ya tuhan! Kalau saja
ini mimpi, sungguh I’am nggak mau bangun lagi dari tidurnya. “Eri?”
Eri tersenyum. “Maaf ya, udah bikin kacau kebun tulip lo.
Gue cuma mau ngasih lo surprise.”
“Iya, Ri. Iya,” I’am memeluk Eri hangat. “Apapun itu, demi
elo. Gue rela. Sekalipun kebun tulip kesayangan gue jadi korban.” Ujar I’am
setengah bercanda.
Eri melepas pelukan I’am dan menatapnya geli. “Lagian lo
pasti suka ‘kan sama kebun mawar ini? Gue sendiri loh yang tanam.” Bangga Eri.
Namun tiba-tiba air muka I’am berubah, matanya itu adalah
mata yang penuh tanda tanya. “Tapi tunggu dulu! Lo tahu dari mana kalau..,”
“Igo. Dia yang ngasih tahu gue semuanya,” Eri menggenggam
tangan I’am erat, seakan tak ingin dilepaskannya lagi. “Gue kesini cuma buat
elo ‘am. Gue pengen elo tahu, gue sayang sama lo.”
I’am geleng-geleng kepala. “Nggak, Ri! Nggak! Lo nggak boleh
begini. Lo udah ada yang punya.”
Eri tergelak hebat hingga air mata muncul disudut matanya.
Ia seperti habis menonton acara lawak terlucu didunia. “Gue? Ada yang punya?
Hahahahahaha.” Sekali lagi Eri tergelak.
“Maksud lo?”
Eri menghentikan tawanya dan berubah menatap I’am dalam.
“Gue udah nggak punya siapa-siapa lagi ‘am.”
“Kata siapa? Bentar lagi ‘kan Eri mau jadi punya I’am. Ya
nggak, Pa?” terdengar suara lantang Mama I’am dari ambang pintu.
Kontan I’am menoleh, menatap Mama dengan tatapan bingung.
“Kalian semua ngomong apa sih? Aku nggak ngerti,” keluh I’am. “Ma, asal Mama
tahu ya, Eri udah ada yang…, hhmpph!” tiba-tiba Eri memebekap mulut I’am rapat.
“Bawel banget sih! Udah gue bilang gue nggak ada yang
punya.” Sungut Eri.
I’am menghempas tangan Eri. Matanya membola, sepertinya ia
sudah mengerti maksud dari semua pembicaraan ini. “Jadi, kamu sama Andra…,”
Eri mengangguk mantap. “Iya.”
Senyum lebar mengembang dibibir I’am. Sebuah beban besar seakan sudah lepas dari hidupnya. “Kalau gitu…,” I’am berlutut menggenggam tangan Eri erat. Matanya dan mata Eri saling beradu. “Would you marry me?”
Senyum lebar mengembang dibibir I’am. Sebuah beban besar seakan sudah lepas dari hidupnya. “Kalau gitu…,” I’am berlutut menggenggam tangan Eri erat. Matanya dan mata Eri saling beradu. “Would you marry me?”
“HAH!?” seru Mama, Papa dan Eri kompak.
SELESAI