Selasa, 27 November 2012

janji part 5



Mata Eri sibuk menjelajahi satu-persatu pemandangan taman buah yang terhampar luas dihadapannya, sambil sesekali berdecak kagum atau melontarkan kalimat “Wow!” atau “Ih keren!” dari mulutnya. Dan I’am hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Eri yang seperti anak kecil itu. Ada yang tahu dimana Eri dan I’am sekarang? Ya, Eri dan I’am sekarang ada di taman buah Mekarsari.
Awalnya sih I’am pengen mengajak Eri ke Dufan, tapi Eri bilang dia bosan kalau ke Dufan. Setelah Eri dan I’am berembuk ala para petinggi DPR yang sedang rapat fraksi, dihasilkanlah Mekarsari sebagai tempat tujuan.
“’am! Gue mau naik waterbike itu!” rengek Eri manja sambil menarik-narik lengan baju I’am. Matanya tertuju pada beberapa waterbike yang nganggur ditepi sebuah danau buatan.
“Iya-iya.” I’am nurut lalu menggandeng lengan Eri menuju ketepi danau. Mereka berdua mendekat kesebuah waterbike yang berwarna biru muda. “Naik gih!”
Eri menggeleng. “Elo duluan! Gue takut jatuh!”
I’am murut, dan menaiki waterbike itu terlebih dahulu. Lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Eri ikut naik. “Ayo!”
Duk! “Aw!” Eri meringis, kakinya terhantuk badan dari waterbike.
“Makanya pelan-pelan.” I’am mendudukkan tubuh Eri didalam waterbike.
“Bawel! Udah kayuh sana pedalnya biar waterbike-nya bisa jalan!”
I’am tertawa renyah mendengar kebawelan Eri yang terlihat sudah melebihi batas itu. Tapi ujung-ujungnya menurut juga, dan mengayuh pedal pada waterbike hingga waterbike itu tiba ditengah danau.
“Hh.. kaki gue pegel. Pijitin!” I’am menyikut Eri.
Mata Eri membulat kesal, membuat I’am mengulum senyum menahan tawa melihat wajah Eri yang terlihat sangat lucu itu. “Nggak mau! Pijit aja sendiri,” Eri mencubiti lengan I’am, membuat I’am meliuk-liukan tubuhnya, bermaksud untuk mengelak. “Ih I’am jangan gerak-gerak, entar waterbike-nya terbalik!”
“Hahahaha. Bodok! Week!” I’am memeletkan lidahnya pada Eri. Membuat cubitan Eri semakin menjadi-jadi. I’am bukannya kesakitan, malah tertawa lepas mendapat siksaan yang bertubi-tubi dari Eri itu. Begitu pula Eri, ia ikut tertawa melihat I’am tertawa. Mereka semua sama-sama tertawa lepas melupakan kesedihan yang sempat merundung tadi. Ternyata, TANPA RYZKY disini, gue masih bisa senang-senang kok, batin Eri.

* * * * * * * *

Ryzky memicingkan matanya kearah gawang yang hanya berjarak beberapa meter dari hadapannya, mencoba mencari sudut tendangan yang pas. Sedangkan “si kulit bundar” yang berada dititik putih itu seakan terus memanggil Ryzky, minta segera “disarangkan”
3, 2, 1…
Dukkk! Set! “Goool!” teriak teman-teman Ryzky yang ada dipinggir lapangan disusul dengan gemuruh tepuk tangan yang dipersembahkan untuk Ryzky.
“Baik. Latihan hari ini sampai disini dulu. Besok kita lanjutkan lagi.” Pak Bram, coach tim sepakbola dari sekolah Ryzky pamit lalu pergi dari tengah lapangan sepakbola yang masih dipenuhi dengan para pemain yang baru selesai latihan.
Ryzky melangkah lunglai keluar dari lapangan. Tenaganya hampir terkuras habis, karena terus menerus memainkan pola permainan yang menyerang dan cepat.
“Ki, sini gabung!” ajak David, salah satu teman Ryzky. Namun Ryzky hanya melempar senyum, dan berlalu menuju ruang ganti pemain.
Ryzky terduduk lemas sambil bersandar pada kursi yang ada diruang ganti. Tatapannya kosong, seperti orang yang mati segan, hidup tak mau. Ryzky melongoh kesampingnya, dan mendapati tas besar yang dibawanya dari rumah tadi. Ryzky celingukan, dan saat mendapati ruangan yang kosong, Ryzky bergegas mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu : sebuah buku catatan kecil, sebuah pena, dan sebungkus butir-butiran obat.
Ryzky membuka buku catatan kecil yang dibawanya dan menuliskan sesuatu disana.
5 menit berlalu.. Ryzky selesai menulis, lalu meletakkan buku catatan itu tepat diatas tasnya.
Sekali lagi Ryzky celingukan memandangi ruangan disekitarnya, dan kembali mendapati ruangan yang kosong. Dengan cepat Ryzky menuang semua butiran obat yang ada didalam plastik kecil tadi kedalam tangannya dan menelan semua obat itu dalam sekali teguk tanpa air.
Dan pada detik itu pula, perlahan Ryzky merasakan pusing yang luar biasa menyerangnya, pandangan matanya kabur tak jelas, hanya samar-samar. Dan  tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

 * * * * * * *

I’am melajukan motornya dengan kecepatan 60 Km/Jam. Membuat Eri hanya bisa bergidik ngeri.
“’am pelan-pelan!” pekik Eri. Namun sia-sia, suaranya malah tertelan oleh dengungan udara yang bising disekitar telinga mereka.
Eri menjawil pundak I’am keras. I’am akhirnya bereaksi juga dan melirik sekilas pada Eri yang ada dibelakangnya. “Kenapa?”
“Pelan-pelan!!” pekik Eri tak kalah kencang dari sebelumnya.
I’am hanya mengulas senyum jahil, dan malah menambah kecepatan membuat Eri berteriak semakin kencang. Teriakan yang dapat memecah suara deruan kendaraan yang sedang berlalu lalang ditengah jalan. “’am gue belum mau mati!” Eri meremas pundak I’am.
“Elo nggak akan mati sekarang Ri! Percaya sama gue.” Perlahan I’am mulai menurunkan kecepatannya. Membuat Eri bisa sedikit tenang. Setidaknya, kemungkinan nyawanya melayang karena kecelakaan lalu lintas menjadi semakin kecil.
Tiba-tiba Eri terlonjak kaget, ringtone dari ponselnya berbunyi nyaring. “’am minggir dulu!” Eri menepuk pundak I’am.
“Kenapa?”
“Ada yang nelepon gue nih!”
I’am menurut dan menepikan motornya dibawah sebuah pohon yang rindang dipinggir jalan. “Siapa yang telepon?”
Eri menggidikkan bahunya. “Nggak tahu! Nggak ada di phone-book gue.” Eri kini mengalihkan perhatiannya pada ponselnya. “Halo?”
“Eri? Ini Tante Ayu.” Suara Tante Ayu terdengar bergetar, apa jangan-jangan Tante Ayu menangis?!
“Tante nangis ya? Kenapa?” tanya Eri memastikan.
“Huhuhuhu… Ryzky, Ri. Ryzky!!”
Eri menelan ludahnya getir mendapati nama orang yang disayanginya itu disebut-sebut oleh Tante ayu dengan diiringi isakan tangis. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu ada Ryzky? Oh no! Kalau itu benar, siap-siap saja mendengar tangisan Eri yang meledak-ledak.
“Ry.. Ryzky kenapa Tante?”
“Huhuhuhu… Ryzky meninggal, Ri. Dia overdosis obat penenang.”

* * * * * * * *

Eri menelungkupkan kepalanya kedalam bantal, ia menangis sejadi-jadinya membayangkan Ryzky yang telah pergi untuk selamanya. Kenapa Ryzky harus ninggalin Eri secepat ini? Eri belum siap kalau harus kehilangan Ryzky. Eri sayang banget sama Ryzky. Tuhan! Kalau saja diizinkan, Eri mau nyusul Ryzky.
Tok tok tok! “Kak Eri? Ini aku Dinda.”
Eri mengangkat kepalanya begitu mendengar Dinda, adik semata wayang Ryzky mengetuk pintu. “Masuk Din!”
Cklik! Pintu terbuka dan Dinda langsung menghambur masuk kedalam kamar. “Kak, ini ada kiriman dari pembantu Kakak di Bandung.” Dinda menyodorkan seuntai kalung mawar yang telah mengering, pemberian Ryzky 8 tahun yang lalu. Kalung itu masih terbungkus rapi oleh plastik transparan.
Begitu mengetahui Ryzky meninggal, Eri memang langsung memberi tahu Bi Mar yang ada di Bandung untuk segera mengirimkan beberapa helai baju Eri dan kalung bunga mawar itu melalui paket kilat. Mengingat Eri harus menginap dirumah Ryzky sampai pemakaman besok dan Eri memang tak bisa tidur jika tak memandangi kalung bunga mawar itu terlebih dahulu.
Eri mengambil kalung itu dan langsung memeluknya erat, tangisannya semakin pecah mengingat semua kenangannya bersama Ryzky. Ryzky yang jahil, Ryzky yang selalu ada disamping Eri saat Eri membutuhkannya, Ryzky yang menyayangi Eri, dan Ryzky yang..,
“Ri?” Eri dan Dinda menoleh kearah pintu, dan mendapati I’am tengah berdiri disana dengan wajah yang tegang. I‘am berjalan mendekat dan duduk disamping Eri. “Ini!” I’am menyerahkan sebuah buku catatan kecil dengan sampul berwarna hijau tua kepada Eri.
Eri mengusap air matanya. “Ini apa ‘am?”
“Lihat aja!” I’am tersenyum penuh arti lalu menoleh pada Dinda dan memeberikan isyarat agar Dinda keluar dari kamar itu. “Gue sama Dinda keluar dulu ya.” I’am dan Dinda pun beranjak dari atas tempat tidur lalu keluar dari kamar dan menutup pintu dengan sangat rapat.
Kini hanya tertinggal Eri dan buku catatan yang bersampul hijau tua itu. Eri pun membuka halaman pertama..

Note:
Hari ini gue jadian sama Eri. Senangnya!
Penantian selama sepuluh tahun yang nggak sia-sia J
Naresa Libery, I LOVE YOU TILL THE END OF MY BREATH. Xoxo :*

Air mata Eri semakin tumpah. Ya tuhan! Ryzky benar-benar sayang padaku, pikirnya. Bahkan ia benar-benar menyayangiku seperti kata-katanya didalam buku ini “till the end of my breath”. Eri membuka halaman selanjutnya..,

Note:
Gue nggak pernah tahu apa yang terjadi saat ini? Kenapa gue bisa jenuh sama Eri? Bukannya kalau kita menyayangi seseorang, kita nggak akan pernah jenuh jika menjalani hubungan sama orang itu?
Gue yang bego. Kenapa gue harus menjadikan jarak yang terbentang begitu jauh menjadi halangan untuk hubungan gue dan Eri? Benar apa kata I’am, kalau gue mau jadi pacar Eri seharusnya gue harus siap dengan semua resikonya.
Eri, maafin gue ya. Karena kebodohan gue, gue jadi bersikap dingin dan nggak peduli sama lo. Tapi jauh didalam lubuk hati gue, gue bener-bener sayang sama lo. Trust it!

Eri memeluk buku catatan itu kuat-kuat. Ryzky!!! Gue juga sayang sama lo!!! Tapi kenapa elo ninggalin gue?!! Jerit hati Eri menahan perih. Eri menyeka air matanya, dan kembali membuka halaman selanjutnya..,

Note:
Mungkin tuhan memang belum menghendaki gue dan Eri bersatu. Buktinya, hari ini gue dan Eri memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dan kembali menjadi teman biasa, seperti apa yang kami jalani selama sepuluh tahun belakangan ini.
Gue cuma nggak mau terus-menerus nyakitin perasaan Eri. Just that!
Tapi gue yakin, suatu hari nanti cewek sebaik Eri pasti akan mendapat pengganti yang jauh lebih pantas disisinya dibandingkan gue. Yang jelas, cowok itu adalah cowok yang lebih baik dan nggak akan pernah menyakiti perasaan Eri. Seperti apa yang gue lakuin ke dia. Maafin gue Ri. Ini yang terbaik buat lo. ‘cause i don’t wanna hurt you again L

“Gue nggak yakin, bakal dapet pengganti yang lebih baik dibanding elo Ki.” Desis Eri pelan pada dirinya sendiri. Lalu kembali membuka halaman berikutnya..

Note:
Gue nggak tahu dan nggak pernah tahu. Kenapa semua obat penenang yang gue minum selama ini, nggak pernah bikin pikiran dan perasaan gue tenang? Kenapa setiap muncul bayang-bayang Eri dibenak gue, jiwa gue terasa terguncang. Seperti ada beribu-ribu rasa bersalah yang menyerbu otak gue. Dan berapa banyakpun obat penenang yang gue minum, nggak  pernah bisa mengusir rasa bersalah itu dan ujung-ujungnya kembali membuat hidup gue nggak tenang.
Apalagi pagi ini, Eri sudah  datang kerumah gue dan menyiapkan surprise ulang tahun. Dan entah mengapa, saat gue  benar-benar ada didepan Eri, rasa bersalah yang menyerbu itu terasa semakin banyak. Gue nggak siap harus ada didekat Eri lagi.
Akhirnya pun gue mutusin buat nyuruh I’am nemenin Eri selama di Jakarta. Semoga Eri bisa sedikit  melupakan masalahnya dengan gue saat bersama I’am. Gue nggak mau liat Eri nangis dan sedih lagi karena gue! Gue nggak kuat!
Dan gue sekarang udah benar-benar nemuin gimana caranya supaya gue bisa tenang untuk selamanya. Gue harus mati! Itulah satu-satunya jalan.  Supaya Eri nggak akan pernah bisa melihat wajah penjahat gue yang selalu bikin dia nangis. Dan supaya Eri bisa secepatnya ngelupain gue juga nemuin pendamping yang baru. Dan yang terpenting adalah, supaya Eri bahagia.
Selamat tinggal Eri! God will always bless you to find your love. And “there” I will laughing with god when you have find your happiness. I love you, and see you in the heaven ;)

PS to I’am : gue titip Eri ya ‘am. Jaga dia baik-baik dan buat dia bahagia. Jangan sampai lupa juga semua cerita tentang kehidupan Eri yang pernah gue ceritain sama elo. Jadiin itu patokan buat elo supaya elo bisa membuat Eri bahagia. Gue percaya elo ‘am. Elo pasti bisa ngelakuinnya. Goodluck J

Eri terhenyak. Jadi Ryzky menitipkan Eri kepada I’am? Eri geleng-geleng tak percaya. Tapi mau bagaimana lagi? Inilah kenyataan, I’am lah yang akan menjaga Eri seperti Ryzky menjaga Eri dulu walaupun status I’am dan Eri hanya teman. Dan I’am lah yang akan menggantikan Ryzky, walaupun Eri tahu benar Ryzky tak akan pernah terganti dalam hidupnya. Akankah semua semudah itu untuk dijalani Eri dan I’am? Entahlah, hanya tuhan yang tahu.

* * * * * * * *

Eri menatap lekat kalung mawar yang kering itu. Entah sudah berapa lama, ia hanya termangu dan terhanyut dalam pikirannya didepan kalung mawar pemberian Ryzky. Seakan kalung mawar itu, adalah cermin fatamorgana yang dapat memantulkan semua gambaran cerita yang Eri dan Ryzky pernah alami.
“Ri? Masih mau disini?” tanya I’am pelan.
“Tunggu sebentar!” pinta Eri sambil menyeka air matanya. Eri menatap kalung itu sekali lagi, dan mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Hhh!” Eri mengehela nafas panjang, lalu meletakkan kalung mawar itu tepat diatas tanah makam Ryzky yang masih basah. “Selamat jalan Ki. Selamat tinggal untuk selamanya!” ucap Eri lirih sambil menahan air matanya yang selalu saja memaksa untuk keluar.

* * * * * * * *

“Igo.” Cowok berambut cepak, dengan wajah yang manis dan berperangai kocak itu menyodorkan tangannya tepat dihadapan wajah Eri.
“Eri.” Balas Eri sambil tersenyum.
“Dia temen gue dan Ryzky disekolah Ri.” Papar I’am pada Eri.
Eri hanya kembali tersenyum. “Makasih ya, udah bela-belain nyisihin waktu cuma buat ngehibur gue.” Eri menyeruput jus jeruknya.
Igo cengengesan. “Iya. Hehe. Lagian gue penasaran aja. Gimana sih cewek yang namanya Eri  itu. Sampe-sampe bisa bikin Ryzky yang dingin kayak beruang es itu takhluk dan cinta mati.”
I’am geleng-geleng kepala. “Huss! Awas loh dihantuin sama Ryzky entar malem.”
Igo masih saja cengengesan. “Gapapa. Biar aja hantunya Ryzky gue ajak maen sepakbola.”
Eri baru saja hendak angkat suara dalam pembicaraan seru ini, ketika tiba-tiba ponselnya bergetar.

Andra
Calling..

“Bentar ya!” pamit Eri pada I’am dan Igo lalu berjalan  menuju luar restoran.
“Halo? Kenapa Ndra?”
“Ri? Lo dimana sih? Kenapa nggak masuk sekolah? Mana nggak ada keterangan apa-apa lagi! Gue datengin kerumah lo, lo-nya nggak ada. Gue tanya pembantu lo, lo-nya kemana. Dia nggak mau jawab.” Seloroh Andra.
“Gue lagi nggak di Bandung, Ndra.” Ujar Eri terpatah-patah.
“Nggak di Bandung? Terus lo dimana?”
Eri mengetuk-ngetuk kepalanya. Harus nggak sih, Eri menceritakan semuanya pada Andra? “Gue, lagi ada masalah.”
“Masalah apa?” selidik Andra semakin jauh.
Huh! Terpaksa cerita nih. Siap-siap aja bakal ada pertumpahan air mata lagi. Eri berjalan kesudut parkir restoran, lalu ia berdiri dibawah sebuah pohon yang letaknya terkucilkan dari keramaian. Singkat kata, tempat Eri sekarang berada adalah tempat yang sepi.
Saat mentalnya telah benar-benar siap, barulah Eri mulai berbicara lagi. “Ryzky.., me… meninggal.” Eri mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.
“Innalillahiwainnaillaihiroji’un.” Ucap Andra dari seberang sana.
“Dia meninggal kemarin, Ndra. Hari ini pemakamannya.”
“Gue turut berduka cita ya Ri.” Ujar Andra tulus.
“Iya, Ndra. Makasih ya,” Eri kembali mengusap sisa-sisa air matanya. “Udah dulu ya Ndra, udah jam 5 sore. Gue mau mandi.” Dusta Eri. Padahal nyatanya ia sekarang tengah berada disebuah kafe bersama I’am dan Igo.
“Iya. See you Ri.” Klik! Andra mematikan telepon, Eri bergegas memasukkan ponselnya kembali kedalam saku dan berjalan masuk kedalam kafe.
“Sori lama.” Eri tersenyum pada I’am dan Igo, menyembunyikan raut sedih wajahnya yang sehabis menangis itu.
Ígo (masih) cengengesan. “Hehe. iya. Tenang aja.” Jawabnya enteng. Kapan ya anak ini berhenti untuk cengengesan? Ckck! Pikir Eri iseng.
Eri mengahabiskan jus jeruknya yang masih tersisa dalam sekali sedot. “Yuk pulang!”

* * * * * * * *

“Pulang sekolah,makan siang sama gue yuk?” tawar andra.
Eri hanya mampu mengangguk tanpa mengucap sepatah katapun. Matanya masih menerawang entah kemana. Yaaah, mungkin pada bayang-bayang Ryzky.
“Lo mau kita makan siang dimana entar Ri?”
Eri hanya angkat bahu.
“Di Red-Table gimana?”
Eri mengangguk, masih tanpa sepatah suara pun dari bibirnya.

* * * * * * * *

Eri  memutuskan untuk berhenti diujung  jalan rumahnya saja. Ia sedang enggan untuk diantar oleh Andra  sampai kedepan rumah.
Thanks, Ndra.” Eri mengembalikan helm yang tadi ia kenakan pada Andra.
“Seharusnya gue yang berterima kasih sama lo karena udah mau nemenin gue makan siang.”
“Iya-iya. Intinya kita berdua sama-sama berterima kasih,” Eri tersenyum simpul. “Gue balik dulu ya, Ndra.” Setelah melambaikan tangannya pada Andra, Eri segera berjalan menuju rumahnya  yang hanya berjarak sekitar seratus meter dari ujung jalan.
Eri baru saja mengerakkan tangannya untuk membuka pintu gerbang rumahnya ketika seseorang memanggilnya dari belakang. “Ri?”
Eri menoleh dan mendapati I’am tengah berdiri dibelakangnya dengan tangan yang masuk kedalam saku. “I’am? Lo?”
“Kenapa?”
Eri celingukan. “Lo naik apa kesini?”
“Naik kereta. Gue cuma pengen nengokin keadaan lo aja. Gue harus tetep jaga amanat Ryzky untuk selalu ngejaga lo.”
Eri tersenyum penuh arti lalu menggamit lengan I’am. “Ayo! Duduk didalam aja ‘am,” lalu menariknya masuk kedalam rumah. “Lo duduk aja dulu disini ya. Gue mau ganti baju.” Eri mendudukan tubuh I’am diatas sofa ruang tamunya lalu bergegas pergi menuju kamarnya yang ada didekat ruang keluarga. Rumah Eri memang rumah yang sangat sederhana. Bukan rumah yang bertingkat dengan pilar yang besar, tetapi  hanya rumah dengan satu lantai berukuran 30x20 meter. Dan hanya memiliki 4 kamar.
Tak lama Eri kembali datang keruang tamu dengan membawa sebuah nampan yang berisi dua gelas sirup dan tiga stoples kue.
“Maaf ya ‘am. Seadanya. Hehe.” Eri meletakkan semua barang bawaanya diatas meja ruang tamu. I’am malah cekikian.
“Nyantai aja kali. Nggak dikasih lo minum atau kue juga nggak apa-apa.”
Eri duduk disofa yang ada dihadapan I’am. “Langsung ke intinya aja deh. Apa tujuan lo kesini?”
“Loh , tadi ‘kan gue udah bilang. Gue mau ngejenguk  elo Ri.”
Just that?” tanya Eri curiga.
“Iya. Nggak percaya?”
Eri menghela nafas panjang. “Iya deh percaya.”
“Kita jalan yuk Ri.”
Eri mendelik kaget pada I’am. “Tuh ‘kan. Baru aja tadi bilangnya nggak ada maksud apa-apa kesini, cuma mau nengokin gue aja. Tapi sekarang malah ngajak jalan! Gimana sih? Lain dihati, lain dimulut.” Cerocos Eri sok pujangga.
I’am jadi salah tingkah sendiri. Sepertinya perkataan Eri barusan sangat kena dihatinya. “Ya.. gue..,”
“Apa?” desak Eri.
“Gue emang mau ngajak lo jalan bareng sih. Hehe. tapi kalau elo nggak mau juga nggak apa-apa kok.”
Eri tertawa melihat tingkah I’am. Seperti maling yang ketangkap mencuri. “Gue mau kok ‘am pergi sama lo.”
“Serius?”
Eri mengangguk. “Emang kita mau pergi kemana?”
“Nonton. Setuju?”

* * * * * * * *

Eri merasakan matanya begitu berat. Ancang-ancang untuk tidur. Namun detik-detik menuju alam mimpi itu selalu saja terhalang dengan kegaduhan penonton yang sibuk  tertawa terbahak-bahak.
“Ri? Kamu ngantuk? I’am menyikut Eri.
Eri menguap. “Hoaahhm! Iya nih ‘am. Nggak seru banget ih filmnya.”
“Kamu nggak suka?”
“NGGAK! Katanya tuh film, film komedi. Tapi kok nggak ada lucu-lucunya sama sekali. Gue heran sama semua penonton disini termasuk lo. Kok bisa ya ketawa nonton film garing begitu.”
Ya begitulah, film yang ditonton Eri dan I’am ini memang garing abis (itu sih menurut Eri loh). Awalnya Eri memilih untuk menonton film action, tapi I’am nggak setuju. Soalnya kata dia, dia udah pernah nonton film itu beberapa hari yang lalu dan jelek. Tapi kalau begini mah, kayaknya bagusan film action itu kemana-mana deh daripada film sok ngelucu ini.
“Cabut aja yuk!” ajak Eri dengan wajah memelas.
“Tanggung Ri.” Cegah I’am.
“Gue bisa mati bosen kalau dalam waktu 5 menit nggak buru-buru keluar dari sini.” Gerutu Eri.
“Bentar lagi deh.”
“Ih ogah. Nonton aja sana lo sendirian!” Eri bangkit dari duduknya dan berbalik hendak keluar dari ruangan bioskop, namun langkahnya terhenti saat mendapati sesuatu menghadang langkahnya menuju pintu keluar. Dup! Tiba-tiba layar bioskop juga mati seiring dengan langkah Eri yang ikut terhenti itu. Layar mati saat film sedang ada dibagian closing dan seluruh penonton berseru kesal. Mereka semua hendak berbalik pergi meninggalkan ruangan bioskop. Namun persis sama seperti Eri, langkah mereka semua ikut terhenti ditempatnya masing-masing begitu melihat apa yang juga dilihat Eri.
Mulut Eri menganga lebar, matanya membulat takjub, pipinya bersemu merah. Alunan nada dari orkestra biola perlahan mengalun dengan merdu. Alunan yang berasal dari gesekan biola para pria yang tengah berdiri dibelakang ruangan bioskop itu.
“Suka?”
Eri tersentak mengetahui tenyata I’am sudah berdiri dibelakangnya dan menanyainya. Jangan-jangan.. “Jangan bilang ini semua rencana lo!”
I’am terkekeh. “Kalau gue mau bilang ini semua rencana gue gimana? Lo pasti tambah seneng ‘kan?”
“Ih.. I’am.” Rengek Eri manja.
Suara alunan biola semakin berderu keras. Membuat para penonton yang sempat terbakar emosi kembali tenang dan justru menikmati kejutan tak terduga ini. Malahan sekarang mereka semua seolah menjadikan Eri dan I’am sebagai tontonan gratis mereka.
“Duh! Romantisnya.. mau dong Mas, saya jadi pacarnya.” Celetuk salah seorang penonton wanita yang disusul dengan sorakan penonton yang lainnya.
“’am, apa maksud lo?”
I’am mendekatkan tubuhnya pada Eri dan mengenggam tangan Eri kuat-kuat. “Gue cuma mau elo tahu, Ri. Elo udah nempatin posisi yang spesial dihati gue.”
“Elo?..,” Eri memutus kalimatnya ditengah jalan. Waah jangan GeEr dulu deh, I’am ‘kan bukan nembak. Tapi cuma membicarakan hal yang penting dan spesial aja. Nggak lebih!
Gemuruh tepuk tangan penonton mulai terangkat, melihat Eri dan I’am yang saling pandang dengan tatapan saling tak mengerti.
“Cuma mau membicarakan hal ini, elo sampai menyiapkan persiapan yang segini mewahnya, ‘am?”
“Emang nggak boleh? Sah-sah aja kali kalau gue mau mempersembahkan sesuatu yang spesial untuk orang yang spesial buat gue.”
Eri tersenyum dan melempar sorot mata penuh arti pada I’am. “You’ve take an important place in my heart, ‘am.”

* * * * * * * *

Eri memandang langit-langit kamarnya sambil senyam-senyum sendiri, persis seperti orang yang baru keluar dari Rumah Sakit Jiwa.
Semua saat-saat indah bersama I’am tadi kembali berkelebat hebat diotaknya. Eri juga sampai sekarang tak habis pikir, bagaimana bisa ia begitu cepat melupakan Ryzky dan sekarang malah menaruh hati pada I’am (walaupun mereka berdua belum jadian sih). Padahal awalnya, Eri sempat pesimis akan bisa melupakan Ryzky didalam hidupnya. Ternyata tidak, hanya butuh waktu kurang-lebih sebulan untuknya agar bisa menggantikan cintanya untuk Ryzky, menjadi cintanya untuk I’am.
Tok tok tok! “Ri? Buka pintunya.”
Eri terperanjat, dan terduduk kaget diatas ranjangnya. “Iya, ‘am. Tunggu!”
Cklik! Eri memandangi I’am yang masih mengenakan handuk dikepalanya sesaat. “Kenapa ‘am? Udah mandinya?”
“Udah kok. Eh, Ri. Gue pinjem HP lo dong.” Pinta I’am. I’am memang masih ada dirumah Eri sekarang, dia menumpang mandi (tapi nggak ganti baju, karena nggak bawa baju gantian) dan menunggu jemputan dari Igo yang sekarang masih on the way dari Jakarta menuju Bandung.
“Buat?”
Handphone gue lowbatt, gue mau nelpon Igo. Gue mau nanya, dia udah sampe mana.”
“Oke,” Eri berjalan mendekati ranjangnya dan mengambil handphone-nya yang tergeletak disana lalu menyerahkannya pada I’am. “Nih!”
“Thanks gue pake dulu ya..” I’am mengedipkan sebelah matanya pada Eri lantas langsung memunggungi Eri, pergi.

* * * * * * * *

2 jam kemudian, tepat jam 8 malam..
Ting tong!
Bel rumah Eri berbunyi, Eri dan I’am yang sedang nonton DVD film Prince Of Persia hanya melengos cuek. Karena Eri tahu, pasti Bi Mar akan segera membukakan pintu itu. Dan bener aja, tak lama Bi Mar datang dengan tergopoh-gopoh menuju ruang  tengah bersama seseorang.
“Igo!!!” pekik Eri riang lantas menghambur memeluk Igo. “Kenapa tadi siang nggak kesini sih? Kalau ada elo ‘kan pasti tambah seru.”
Igo cengengesan dengan gaya tengil minta ampun. “Kenapa memangnya? Kangen ya sama Abang yang ganteng ini?” Igo mengusap rambutnya menggunakan celah jari dari depan kebelakang.
Eri menirukan gaya orang muntah. “Uuekk! Mau muntah gue.”
“Eh, Ri. Gue balik dulu ya?” pamit I’am iba-tiba yang langsung disambut tampang cembetut Eri.
Igo menepuk pundak I’am. “Nanti aja ngapa ‘am? Nyantai dulu disini. Istirahat bentar. Gue capek nyetir dari tadi.”
Wajah Eri yeng tertekuk langsung kembali sumringah mendengar ucapan Igo. “Iya, ‘am. Bener apa kata Igo. Istirahat disini dulu aja,” Eri mengerling manja pada I’am. “Ayo nonton lagi!” Eri menggamit lengan I’am dan langsung membawanya kembali keruang tengah, Igo membuntuti.
“Waah, Prince Of Persia ya? Gue udah nonton ini mah. Ganti-ganti!” Igo menggondol remot DVD yang diletakkan diatas meja. Jari Igo baru saja ingin menekan tombol power ketika Eri mencekal lengannya. “Apa’an sih, Ri?”
“Elo yang apa-apa’an? Lagi seru tau!”
“Bawel!”
Eri merampas paksa remot yang ada digenggaman Igo. “Sini! Jangan harep ya elo bakal bisa ngeganti filmnya.”
I’am melirik tajam pada Eri dan Igo. “Sshhh! Jangan berisik, nggak kedengeran!” lalu kembali mengalihkan pandangannya pada layar TV.
“Dasar, Eri bawel, cerewet!” bisik Igo pada Eri sambil cekikikan.
“Bodok!”
“Hehe, becanda, Ri. Peace!” Igo mengacungkan jari tengah dan telunjuknya di udara.

* * * * * * * *

I’am masuk kedalam mobil disusul Igo.
Tak lama, lampu depan mobil menyala dan bunyi suara mesin berderu kencang, tanda mesin telah dihidupkan.
I’am menurunkan jendela menggunakan power window, dan menatap Eri yang masih berdiri terpaku disamping mobil. “Jaga diri kamu baik-baik ya, Ri.”
“Iya, ‘am. Makasih ya udah mau dateng kesini.”
I’am tersenyum penuh arti. “Gue janji, gue bakal sering-sering kesini buat jenguk elo.”
Eri mengangguk. “Pintu rumah gue bakal selalu terbuka buat lo kok ‘am.”
“Oh ya, Ri. Kita tetep keep in touch lewat handphone ‘kan?”
Sekali lagi Eri mengangguk pasti. “Iya, ‘am. Pasti.”
“Woy, udah belum perpisahannya?” tegur Igo dari balik setir.
“Reseh.” Desis Eri pelan.
Tin! Klakson mobil berbunyi sebagai tanda pamit. “Gue pulang, ya.” Pamit Ryzky lalu menutup jendela dengan menggunakan power window.
Mobil mulai berjalan, Eri melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Suasana yang seharusnya mengharu biru langsung berubah begitu terdengar suara Igo yang berteriak dari dalam mobil. “Daaah, oneeeeeng!” ucapnya lantang.
Eri tercengang. Oneng? Sejak kapan dia punya nama oneng?

* * * * * * * *

3 bulan kemudian..
Eri termenung menatap papan tulis yang ada dihadapannya. Deretan rumus kimia berjejer rapi disana. Eri mengehembus nafas pelan, pikirannya menerawang pada sosok I’am. Akhir-akhir ini, Eri memang suka dibuat gelisah dan gregetan oleh sikap I’am yang nggak kunjung menyatakan cintanya padanya. Padahal udah hampir 4 bulan mereka dekat dan saling mengenal satu sama lain. Memang nggak cukup ya waktu pedekate 4 bulan buat memantapkan semuanya? Lagi pula waktu itu ‘kan I’am juga udah bilang sama Eri, kalau Eri telah mengambil tempat yang penting dihatinya. Kalau udah gitu, I’am pasti suka dong sama Eri! Tapi kenapa I’am belum nyatain cinta secara resmi sih? Sampe kapan Eri dan I’am Cuma HTS-an doang?
Huh! Masak iya, Eri yang mau nembak duluan. Gengsi ah!
“Naresa!” pekik Pak Irman dari depan kelas dengan suara melengking, membuat Eri terperanjat. “Mana catatan kamu?!” tanya Pak Irman sambil berjalan mendekat menuju meja Eri yang ada dipaling belakang.
Aduh! Mampus gue. Ini nih gara-gara ngelamun dikelas, rutuk batin Eri.
Pak Irman membolak-balik buku catatan Eri yang masih kosong blong, nggak ada satu-pun rumus yang tertulis disana. “Dari  tadi apa aja yang kamu kerjain?! Kenapa buku catatannya masih kosong?!” tanya Pak Irman garang, membuat Eri merinding disko dan akhirnya hanya mampu tertunduk dengan mulut terkatup rapat. “Cepat kamu kerjakan soal latihan dihalaman 44 dari nomor 1 sampai 10 di papan tulis!!”
Glek!

* * * * * * * *

Malam harinya..
Eri menatap layar ponselnya bingung. Kenapa I’am belum menghubungi dia ya sampai sekarang? Biasanya ‘kan I’am selalu ngasih kabar mulai dari hal sepele seperti, dia lagi apa, dimana, apa aja kegiatan dia hari ini. Tapi kok, dari tadi pagi sampai malem, I’am malah nggak terdengar rimbanya sedikitpun ya?
Apa dia udah bosen ya berhubungan sama gue? Apa dia udah eneg sama tingkah gue yang kayak enak kecil? Arrgh! Eri mengacak rambutnya kesal, berusaha menghilangkan pikiran negatifnya itu.
Akhirnya (daripada pusing dan bingung) Eri memutuskan untuk menarik selimut yang sedari tadi hanya dianggurinya, menutup sekujur tubuhnya menggunakan selimut itu, dan tertidur pulas hingga pagi menjelang nanti. Semoga mimpi ketemu I’am, harapnya dalam hati.

Minggu, 18 November 2012

janji part 4



Eri menggandeng lengan Ryzky kuat-kuat. Seperti anak ayam yang takut terpisah dari induknya. Sementara Ryzky hanya terus celingak-celinguk mencari tempat duduk yang kosong diruang VIP kapal yang mereka naiki.
Setelah sekian lama, akhirnya Ryzky menoleh juga pada Eri dengan tatapan putus asa. “Nggak ada yang kosong Ri.”
“Tuh ‘kan udah gue bilang. Duduk di deck aja. ‘kan bisa gelar tikar. Yuk!” Eri menggamit lengan Ryzky dan membawanya menuju salah satu deck kapal yang cukup sepi.
“Tikarnya mana?”
“Nih ambil di tas gue.”
Ryzky menatap Eri kagum. “Waah, nggak nyangka ya. Mau naik kapal aja sempet-sempetnya lo bawa tikar. Mau piknik, neng?” canda Ryzky.
Eri menggeram kesal. “Iiiih. Ya udah deh, terserah! Kalo lo masih ngejek gue, gak gue izinin duduk diatas tikar. Duduk dilantai aja sana. Bawel!” Eri sibuk menggeledah tasnya dan mengeluarkan tikar kecil berukuran 3x3 meter.
“Hehe, aku cuma bercanda kok. Eri ku sayang.”
Eri memegangi pipinya yang mungkin sekarang sudah merah. Merah karena rasa senang, malu sekaligus bingung yang bercampur aduk . Sejak kapan Ryzky memanggilnya dengan sebutan “sayang”??  Walaupun sudah resmi jadian sejak beberapa hari yang lalu, Ryzky nggak pernah sekalipun memanggil Eri dengan sebutan mesra layaknya orang pacaran. Ryzky tetap dengan kecuekannya memanggil Eri “lo”. Jadi wajar-wajar aja kalo Eri heran melhat sikap Ryzky yang jadi aneh gini.
“Lo kenapa sih Ki? Kesambet?” Eri memegangi dahi Ryzky dengan lagak menirukan gaya seorang dokter yang sedang memeriksa suhu tubuh pasien.
Ryzky mengehempas tangan Eri pelan. “Siapa yang kesambet? Ngaco!”
“Ya elo. Kenapa jadi manggil gue ‘sayang’? tumben!” Tanya Eri cuek. Padahal dalam hatinya deg-deg-ser tuh! Hehe.
“Nggak boleh? ‘kan kita udah pacaran Eri sayang.”
Cless! Hati Eri benar-benar mencelos dan meleleh sekarang mendengar semua yang diucapkan Ryzky. “Ngg.. Ya gue.. Ngg.. Aneh aja. Hehe.” jawab Eri garing, mencoba mengusir sedikit ketegangannya.
“Gimana mau duduk kalo tikarnya sekecil itu?” celetuk Ryzky tajam, membuat Eri menyadari sesuatu. Ia lupa membuka lipatan tikar, sehingga tikar yang tergelar hanya berukuran tak lebih dari 1 meter karena masih terlipat enam.
“Hehe. Maaf.” Eri membuka lipatan tikar dengan cepat. Secepat Ryzky duduk diatas tikar itu.
“Gue yang gelar. Elo enak-enak duduk.” Gerutu Eri. Ryzky hanya cengengesan nggak tahu malu.

* * * * * * * *

“Mama Papa lo mana?”
Ryzky hanya menggidikkan bahu. “Tau nih! Gue telepon aja deh.” Ryzky sibuk memencet-mencet tombol ponselnya, tak lama berselang ia sudah asyik mengoceh sendiri. “Pa dimana?.. Oh disitu.. Sebelah mana sih?.. Oh ya-ya.. Aku kesana sama seseorang.. Orang deh pokoknya, bukan monyet. Entar aku kenalin.. Oke, bye.”
“Dimana Ki?”
“Dekat gerbang sana. Jalan sedikit aja kok.”
Eri meraba detak jantungnya yang begitu kencang. Grogi banget rasanya mau ketemu lagi sama orang tua Ryzky yang sudah delapan tahun nggak ditemuinya. Eri merasa, ini bukan seperti perkenalan biasa. Karena statusnya dan Ryzky sekarang ‘kan pacaran. Berarti Mama Papa-nya Ryzky, calon mertua Eri dong. Membayangkan hal itu saja, membuat detak jantung Eri semakin menjadi-jadi.
“Ryzkyyyy!!! Ya ampun, Mama kangen.” Mama langsung memeluk Ryzky tanpa ampun, begitu melihat Ryzky sudah ada didepan matanya. Tak lama, Mama mengalihkan pandangannya pada Eri yang berdiri manis dibelakang Ryzky. “Ini siapa Ki?”
Ryzky melepas pelukan Mama. “Ini Eri Ma.”
Mata Mama membulat senang. “Ya ampun Eri. Sudah besar ya sekarang.” Mama lantas memeluk Eri hangat.
“Ini Eri yang teman kamu waktu kecil dulu?” bisik Papa ada Ryzky. Ryzky mengangguk.
“Kok bisa bareng kamu?”
“Panjang ceritanya Pa. Entar deh aku ceritain.”
“Eri mau kemana?” suara Mama membuat Papa dan Ryzky berhenti saling berbisik.
“Ke Bandung Tante.”
Alis Mama terangkat sebelah, tanda kebingungan. “Kok..,”
“Hmm, Ma. Entar aja ngobrolnya didalam mobil.” Putus Ryzky.
Kini bukan hanya Mama yang terlihat bingung, tetapi Papa juga. “Mobil?” Tanya Mama dan Papa kompak.
Ryzky menggaruk-garuk kepalanya, bingung. “Iya Ma, Pa. Gapapa ‘kan kalo Eri numpang mobil kita sampe ke Stasiun Gambir?”

* * * * * * * *

Tok tok tok! “Bi!!! Bibi!!!” Eri mengetuk-ngetuk pintu rumahnya tak sabar.
Cklik! “Eh Non Eri. Bibi kangen loh udah lama nggak ngeliat Non,” Bi Mar memeluk Eri. “Non sehat-sehat aja ‘kan?”
Eri melepas pelukan Bi Mar lalu mengangguk. “Rumah baik-baik aja ‘kan Bi?”
“He-eh Non. Tenang aja. Tapi dari dua hari yang lalu ada teman cowok Non yang nyari Non kesini.”
Eri meneguk segelas air es yang ada ditangannya dengan cepat. “Siapa Bi?”
Bi Mar mengetuk-ngetuk dagunya. “Kalo nggak salah nih Non, namanya Mandra.”
“Uhuk! Uhuk.. uhuk..” Eri tersedak air es yang diminumnya tadi sebagai refleksi dari kekagetannya. Sejak kapan dia punya temen namanya Mandra? Eri memutar bola matanya terlihat berpikir, dan mencoba membuka ensiklopedia nama orang-orang yang yang dikenal selama hidupnya. Mandra? Mandra? Mandra? Mandra mana ya? Adanya juga Manda, teman SMP Eri yang sekarang sudah jadi foto model top seantero Bandung. Tapi Manda ‘kan cewek, bukan cowok. Lagian ngapain Manda kesini? Eri memutar bola matanya mulai berpikir lagi. Tring! Eri teringat seseorang. Seseorang yang sangat dikenalnya, bahkan sangat dekat dengannya akhir-akhir ini. “Andra kali Bi?” Tanya Eri memastikan.
“Nah iya Non. Itu tuh. Hehe. maaf ya tadi salah sebut, Bibi nggak hapal banget namanya.”
Eri mengangguk maklum. “Aku masuk kedalam kamar dulu ya Bi.” Eri menenteng koper besar miliknya, berjalan menuju kamarnya yang ada didekat ruang TV. Sempat terlintas diotaknya niat untuk menelepon Andra. Tapi niat itu batal 100% mengingat besok sudah masuk sekolah. Sekalian aja interogasi dan cerita semuanya besok, pikir Eri.

* * * * * * * *

“Nggak nyangka ya Ki, kamu emang lagi untung rupanya.” Ujar Mama saat makan malam baru mulai.
“Untung kenapa?”
“Ya kamu ketemu Eri di Bandarlampung.”
Ryzky terkekeh membenarkan perkataan Mama barusan. Ia teringat kata Mama sebelum kepergiannya ke Bandarlampung. Mama bilang, kalau Ryzky lagi untung, pasti dia ketemu Eri di Bandarlampung sana. Ternyata keuntungan itu benar-benar datang.
“Hehe iya Ma. Bukan cuma beruntung malah.” Pancing Ryzky.
Papa dan Mama saling melempar pandangan penuh tanya. “Emang kenapa?” Tanya Papa.
Ryzky meletakkan sendoknya, berhenti makan sebentar. “Aku..,” Ryzky memajukan wajahnya ketengah meja makan, diikuti Mama dan Papa yang ikut memajukan wajahnya. “Aku..,” ulang Ryzky. “Aku..,” Ryzky melempar senyum penuh arti membuat Papa Mama semakin penasaran. “Aku jadian sama Eri.” Jreng-jreng-jreng-jreng.
Mama dan Papa kini saling tukar pandang lagi, namun dengan pandangan kegembiraan. “Wah selamat ya Ki.” Mama menyalami Ryzky, serasa menyalami mempelai pria dalam sebuah pesta perkawinan.
“Iya Ki. Papa juga ngucapin congrats buat kamu. Akhirnya anak Papa ini laku juga.” Sindir Papa, mengingat selama ini Ryzky memang belum pernah punya pacar, dan Eri adalah pacar pertama Ryzky.
Ryzky hanya tersenyum tersipu malu lalu kembali melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda.

* * * * * * * *

Pagi yang cerah.
Secerah hati Eri. Ia bersiul riang sambil berjalan melewati koridor demi koridor SMA 17 Agustus. SMA yang sudah hampir sebulan ini tak dilihatnya karena liburan semester. Eri jadi kangen sama teman-teman sekelasnya. Teman-teman sekelasnya yang kadang jayus tapi gokil itu. Apalagi Andra, Eri sangat merindukan sahabat barunya itu.
“Andra!!!” Eri menghambur dari pintu kelas dan langsung berlari memeluk Andra yang sedang duduk dibangkunya sambil memetik gitar.
“Weits. Ngapa lo? Seneng amat?”
“Hahaha. Ya gue senenglah ketemu elo lagi. Gue ‘kan bisa ngejahilin lo.” Eri cekikikan.
Andra menempeleng kepala Eri sebal. "Enak aja lo!” Andra meletakkan gitar yang sedari tadi dipeluknya keatas meja. “Gimana cerita liburan lo di Bandarlampung?” tanya Andra penuh selidik.
Eri tak menjawab, hanya menggeleng-geleng malu dengan wajah yang bersemu merah.
“Kenapa sih lo? Ayan?”
Bletak! Sebuah jitakan maut Eri melayang tepat diatas ubun-ubun Andra. Enak aja! Orang lagi seneng gini malah dibilang ayan. Nyebelin!
“Lo yang ayan. Dasar stress.”
“Hehe. Ya gue bercanda kali Ri. Serius nih. Gimana cerita lo di Bandarlampung?”
Eri menoleh kepada Andra dengan mata yang berkilat senang. “Gue, disana dapet pacar baru Ndra. Hahahahaha.” Eri tertawa senang. Padahal ekspresi diwajah Andra tak terlihat senang sama sekali.
Andra menaikan sebelah alisnya. “Pacar? Siapa?”
“Ryzky. Temen gue dari kecil bla bla bla..,” Eri mulai berceloteh riang menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama liburan kepada Andra dengan se-detail mungkin.
Sampai cerita Eri selesai, tak ada satupun tanggapan yang keluar dari bibir Andra. Andra hanya melipat tangannnya didepan dada dengan raut yang susah ditebak. Entah itu senang, sedih atau marah. “Oh.” Jawab Andra pendek.
“Ih Andra, kok gitu doang sih nanggepinnya. Bukannya ngasih gue selamat kek, apa kek. Biasanya juga ‘kan lo lebih bawel dari burung beo-nya tetangga gue, kenapa jadi pendiem gini sih?” seloroh Eri. Namun Andra bergeming.
Buk! Eri memukul lengan Andra dengan tas sekolahnya. “Ih nggak seru ah cerita sama lo! Padahal gue mau cerita banyak tau!” sungut Eri kesal lalu memutar balik badannya dan berjalan menuju kursi tempatnya duduk yang ada dipaling belakang.
Sementara Andra hanya diam, hatinya merasakan sesuatu yang aneh. Seperti terluka karena teriris sesuatu yang tajam. Dan batinnya terasa pahit seperti baru menelan pil dengan berjuta-juta dosis yang bisa membuat orang jadi mual.
Pada  menit berikutnya Andra baru bergerak dari ketergemingannya. Mengambil gitar yang sedari tadi hanya membatu diatas meja. Memetik gitar itu perlahan, menyanyikan lagu mellow yang sedih dengan penuh penghayatan. Membuat Eri melongo tajam kepada Andra. Andra kenapa sih? Aneh banget. Batin Eri.


* * * * * * * *

“Udah deh Ri, gue udah gede. Gue  juga udah biasa keluar malem. Nyantai aja.”
“Tapi ‘kan..,”
“Eh udah dulu ya Ri, entar kalau sempet gue hubungin lagi. Bye!”
Klik! Sambungan telepon itu terputus secara tidak terhormat. Eri membanting ponselnya kesal keatas kasur lalu membenamkan wajahnya dibalik bantal, menangis.
Kenapa sih Ryzky berubah banget? Udah 3 minggu semenjak mereka jadian, Ryzky mulai berbeda. Bukan Ryzky yang dulu  asyik dan penyayang. Tapi Ryzky yang dingin, cuek, dan easy-going pada Eri. Sebenarnya apa sih salah Eri? Sampai Ryzky bersikap segitunya?
Ryzky malah jadi pembangkang sekarang.  Eri selalu melarang Ryzky untuk keluar dimalam hari karena takut Ryzky kenapa-kenapa, tapi Ryzky suka ngotot dan membantah. Ujung-ujungnya ya begini nih,  ribut yang selalu berakhir dengan tangisan Eri.
Eri mengangkat kepalanya dan menengok kearah LCD ponselnya, ia berharap Ryzky akan meneleponnya balik. Tapi sayang, itu nggak terjadi. Ryzky ‘kan sekarang cuek bebek sama Eri. Dia nggak pernah mengerti perasaan Eri. Apapun yang Eri lakukan Ryzky seperti tak mau tahu. Ryzky dan Eri pun jadi jarang berkomunikasi sekarang. Hanya pada saat penting-penting saja. Menyedihkan bukan? Jujur, Eri kecewa dengan semua ini! Haruskah hubungan ini dipertahankan? Ck! Entahlah. Eri bingung.

* * * * * * * *

“Siapa Ki yang telepon?”
Ryzky menoleh pada orang yang bertanya itu dengan tatapan masak-lo-nggak-tahu-itu-siapa?
“Oh. Pacar lo yang namanya Eri itu?”
Ryzky mengangguk.
“Kenapa dimatiin teleponnya?”
“Gue mulai jenuh sama semuanya Am.”
Cowok yang bertanya tadi yang ternyata bernama I’am itu membelalak kaget. “Jenuh? Jenuh gimana maksud lo?”
“Gue capek aja mesti long-distance gini.”
I’am menepuk-nepuk pundak Ryzky sambil tertawa kecil. “Lo tu lucu ya? Seharusnya elo tahu dari awal dong resikonya pacaran sama Eri. Kalau lo nggak siap buat resikonya, ya jangan dipacarin.”
“Tapi gue sayang sama Eri, Am.”
“Kalo sayang, jangan jenuh dong!”
Ryzky hanya bergidik menanggapi saran I’am. Pandangannya menerawang. Emang kalo sayang nggak boleh bosen ya? Kalo Ryzky bosen atau jenuh, berarti Ryzky nggak sayang dong sama Eri? Tapi suer deh! Ryzky sayang kok. Cuma sedikit jenuh aja karena long-distance dan jarang ketemu Eri.
“Balik yuk!”
“Kenapa? Tumben lo ngajak pulang jam segini. Biasanya juga nongkrong sampe hampir tengah malem.” Tanya I’am heran, mengingat ini baru jam 9 malam. Biasanya ‘kan Ryzky dan I’am menghabiskan waktu di kafe Starbucks ini sampe larut.
“Tau nih! Kepala gue mumet.”
“Karena Eri?”

* * * * * * * *

Eri menelungkupkan kepalanya keatas meja. Wajahnya yang lusuh dari semalam itu, belum juga hilang. Matanya yang sembab, bukti bahwa ia menangis hingga jam dua pagi. Sedangkan Ryzky? Ia belum menghubungi Eri hingga saat ini. Nomornya  terus saja mailbox bila Eri telepon. Kemana Ryzky? Eri benar-benar membutuhkannya sekarang.
“Ri?”
Eri mendongak dan mendapati Andra tengah menatapnya prihatin.
“Lo kenapa Ri?”
Eri hanya menggeleng lemah lalu kembali menenggelamkan kepalanya dibalik meja.
“Nggak mau cerita nih sama gue?” Andra membelai rambut Eri pelan.
“Entar elo ngetawain gue kalo gue cerita.” Suara Eri masih teredam dengan kayu meja yang menjadi sandaran wajahnya.
“Nggak. Gue janji.” Andra membentuk huruf “V’ diudara menggunakan tangan kanannya.
Eri luluh. Ia mengangkat wajahnya yang mendung itu, dan melempar sorot mata memelas pada Andra. “Cowok gue nyebelin Ndra!” pekik Eri histeris disusul dengan suara tangisan.
Andra jadi salah tingkah sendiri, karena teman-teman sekelasnya sekarang melempar pandangan kambing hitam kepada Andra. Seolah Andra-lah yang membuat Eri jadi mewek seperti ini. Padahal? Andra aja nggak tahu apa-apa kok.
Andra mengibas-ngibaskan tangannya pada semua orang yang menatapnya aneh. Sambil berkata “Bukan gue.” Tanpa bersuara.
Kini pandangan Andra kembali tertuju pada Eri. “Apa tadi?”
“Cowok gue nyebelin!” pekik Eri sekali lagi namun dalam volume yang sedikit mengurang.
“Nyebelin kenapa?”
Pandangan Eri pun menerawang kedepan, seolah semua kejadian menyebalkan yang membuatnya terluka kembali terulang didepan matanya. “Dia jadi aneh,” Eri mengehela nafas panjang. “Akhir-akhir ini, dia jarang ngehubungin gue. Kalo gue hubungin, selalu aja berlagak sok sibuk. Dia seperti nganggep gue nggak ada Ndra.” Air mata Eri mulai menitik lagi.
“Kenapa gitu?”
Eri menggidikkan bahu disusul dengan gelengan kepala. “Gue juga nggak tahu. Gue nggak ngerti Ndra. Dia berubah.”
Andra mengusap bahu Eri sayang. “Ri. Semua akan terjawab seiring waktu. Jangan terlalu dipikirin ya? Liat tuh mata lo udah ngalah-ngalahin mata panda.”
Eri tertawa, akhirnya. Mendengar candaan Andra. “Thanks for always beside me, Ndra.”

* * * * * * * *

“Ki? Lo kemana aja sih? Gue nyariin lo. HP lo mailbox terus.” Sembur Eri begitu Ryzky mengangkat teleponnya. Setelah sekian kali mencoba menghubungi Ryzky. Akhirnya bisa tersambung juga. Lagian Ryzky tuh kayak seleb sok sibuk aja sih. Ponsel pake susah dihubungi segala.
“HP gue lowbatt Ri.”
Lowbatt! Lowbatt! Emang dirumah lo nggak ada charger apa? Sampe nggak bisa nge-charge lagi?” kepala Eri sudah ditumbuhi tanduk sekarang saking kesalnya.
“Ri. Lo kenapa sih? Kok jadi marah-marah gini?”
“Ya  marahlah. Gue berhak marah sama lo karena perlakuan lo yang kayak gini ke gue.”
Diam.
Hening.
Ryzky tak bicara, begitu pula Eri.
5 menit…
10 menit..
Masih diam juga..
Eri mulai kehilangan kesabarannya.
“Ngomong kenapa sih!”
“Ngomong apa lagi Ri? Apa yang perlu kita omongin?”
“Banyak! Soal hubungan kita! Kenapa lo jadi aneh gini sih Ki? Kenapa lo berubah?”
“Berubah gimana?”
“Ya berubah! Lo jadi dingin dan cuek sama gue. Lo seperti nggak pernah peduliin gue Ki.”
Diam lagi.
Hening lagi.
Namun sekarang semua kebisuan itu hanya berlangsung selama 5 menit.
“Ri? Lebih baik kita putus aja ya? Gue nggak mau lo sakit.”
Deg! Mata Eri membasah, jantungnya berdetak sangat lambat, aliran darahnya tersendat. Tubuhnya terpaku tak bergerak. Mimpikah ini? Ryzky ingin mengakhiri semuanya?
“Kenapa Ki? Kenapa mesti putus?”
“Gue nggak bikin lo sakit karena kita pacaran jarak jauh gini.”
“Siapa bilang gue sakit?” sergah Eri marah. “Gue nggak sakit sama sekali Ki.”
“Tapi gue sakit.”
Eri mengambil bantal spongebob miliknya dan menyumbatkannya pada telinga. “Gue nggak mau denger!”
“Ri? Udahlah, kita bukan anak kecil lagi,” huh! Percuma, suara Ryzky tetap saja terdengar ditelinga Eri. “Mungkin kita memang lebih baik jadi temen aja, seperti waktu kita kecil dulu.”
Ryzky terhenyak, suara tangisan Eri terdengar dengan sangat jelas ditelinganya sekarang. “Ri, please jangan nangis.”
“Gimana gue nggak nangis kalo lo ngelakuin hal sekeji ini sama gue Ki!”
“Maafin gue Ri. Gue nggak bermaksud nyakitin lo. Mungkin lo bakal dapet cowok yang lebih baik dari gue nanti. Satu yang harus lo tahu, gue beruntung pernah milikin elo.”
Kalau saja  Ryzky ada dihadapan Eri sekarang, ingin rasanya Eri menampar Ryzky sekuat tenaga. Beraninya ia berkata seperti itu. “Kalo lo ngerasa beruntung punya gue, kenapa elo harus mutusin gue?” Eri terisak, Ryzky tak menjawab. “Dan cowok yang lebih baik gimana lagi maksud lo?! Jangan ngaco!”
“Yang jelas cowok itu nggak akan bersikap cuek dan dingin sama lo. Ri, please jangan marah sama gue, gue masih mau kita temenan.” Ucap Ryzky akhirnya.
“Hhh..,” Eri menghela nafas dalam tangisnya.
“Ri? Gue mohon, jangan buat semua ini menghancurkan persahabatan yang sudah kita bangun sejak sepuluh tahun yang lalu.” Kini suara Ryzky terdengar sangat memelas, membuat Eri tak tega.
“Ri? Gue mohon banget sama lo.”
Eri menyeka air matanya yang sudah banjir. “Ya.”
“Ya?” tanya Ryzky memastikan.
“Ya. Kita temenan.”

* * * * * * * *

Eri mondar-mandir gelisah didepan gerbang sebuah rumah yang cukup megah. Eri sedang menunggu si empunya rumah membukakan pintu gerbang.
Set! Celah dari pintu gerbang mulai terbuka, dan menyembul kepala Andra dari dalamnya. “Ri? Kenapa?”
Eri mendongak menatap Andra. Menunjukkan wajahnya yang sembab dan menyedihkan. “Gue mau curhat!”
Andra berdiri diambang pagar dengan pose berkacak pinggang. “Dari tampang lo yang suntuk itu, lo pasti mau curhat soal Ryzky ‘kan?”
Eri tak menjawab, hanya terus menerobos masuk kedalam rumah Andra lalu dengan seenak udel duduk dikursi teras milik Andra.
“Gak sopan!” celetuk Andra.
“Elo yang lebih nggak sopan! Ada tamu kok malah diajak ngobrol diluar gerbang!”
“Nggak sopanan mana sama tamu yang seenaknya aja masuk tanpa permisi?”
“Ya nggak sopanan tuan rumahnya bla bla bla..,”
Aduh! Naluri Tom and Jerry, anjing dan kucing, minyak dan air, kancil dan Pak tani-nya Eri dan Andra keluar deh. Kalo udah begini nih, bisa tunggu mulut berbusa dulu baru berhenti.
Dan benar saja, setengah jam pun berlalu dengan saling adu cemooh dan argumen yang nggak ada penting-pentingnya antara Andra dan Eri. Mulai dari saling ejek tentang tinggi badan, warna kulit, berat badan, sampe ukuran celana. Nggak penting semua ‘kan pokok bahasan ejekannya? Mbok ya kalo ribut itu ejekannya agak berbobot dikit kek. Ejek-ejekan tentang global warming misalnya, atau sebab musabab kematian Adolf Hitler, ejek-ejekan tentang sejarah perang dunia kedua juga bisa, atau ejek-ejekan tentang nama latin dari tumbuhan, atau mungkin ejek-ejekan tentang rumus kimia! (Loh, mau ejek-ejekan apa belajar bersama sih?)
“Capek mulut gue!” Eri menggigit bibirnya yang mulai lelah berkoar-koar sedari tadi.
“Salah sendiri! lo duluan yang ngajak ribut!”
“Eh kok gue? ‘kan lo duluan? Kenapa jadi nyalahin gue?”
“Ya elo lah kalo lo nggak nyerobot masuk kedalam rumah gue, ya gue nggak akan gini.”
Eri berdiri lalu berkacak pinggang. “Enak aja! ‘kan elo duluan yang bla bla bla..,”
Hadoooh! Kok mulai lagi sih ributnya? Males ah gue ngelanjutin ceritanya. Pokoknya si penulisnya ngambek  sama Eri dan Andra. Abisnya ribut mulu.
“Eh kok Mba penulisnya gitu sih?” gerutu Eri.
Penulis : “Ya abisnya kalian berdua ribut mulu! Males lah gue ngelanjutin ceritanya kalo ribut.”
“Tuh ‘kan Ndra. Gara-gara elo sih. Marah Mba penulisnya.”
“Kok gue?”
Penulis : “Tuh ‘kan mulai!”
“Iya-iya ampun deh. Nggak dilanjutin lagi. Suer!” Andra mengacungkan jarinya diudara.
“Iya Mba penulis. Nggak dilanjutin lagi deh. Lagian kalo Mba penulis ngambek, siapa yang ngelanjutin ceritanya?”
Penulis : “Iya, gue lanjutin ceritanya. Udah ah yang serius, jangan ribut-ribut lagi! Ceritanya nih, Eri lagi mau curhat sama Andra.”
Oke, back to story..
Eri menatap Andra lekat. “Gue putus sama Ryzky, Ndra.”
Andra terperanjat kaget dikursinya. “Putus? Kok bisa?”
Air mata Eri mulai menitik lagi. “Dia bilang dia nggak mau long-distance gini, Ndra.”
“Alah. Alasan aja pacar lo tuh!” Andra mengompori. “Emang kapan putusnya?”
“Tadi waktu pulang sekolah.”
Andra memeluk Eri penuh kasih sayang. ”Udah ya Ri, jangan nangis lagi. Gue nggak mau ngeliat lo sedih. Walaupun nggak ada Ryzky, gue yang akan selalu nemenin lo menggantikan dia. Gue janji.”
Eri mendongak, menatap Andra penuh tanya. “Maksudnya?”

* * * * * * * *

Eri ada dirumah Ryzky sekarang, dia bela-belain berangkat dari Bandung subuh-subuh dengan naik kereta, demi mengejar waktu supaya nggak kesiangan nyampe rumah Ryzky yang ada di Jakarta. Dan  emang pas banget, Eri tiba dirumah Ryzky jam 8 tepat. Dan Ryzky sepertinya memang belum bangun, karena sedari tadi tak ada tanda-tanda Ryzky sedang beraktifitas (Ini nih kebiasaan jelek Ryzky. Kalo hari minggu dan hari libur pasti bangunnya siang-siang). Eri sudah membawa kue tart besar, sekotak coklat dan kado yang dibungkus menggunakan kertas kado berwarna biru muda. Pasti udah pada tau dong kenapa Eri bela-belain kerumah Ryzky hari ini? Ya, Ryzky ulang tahun!
Bisa dibilang Eri emang nekat. Udah tau Ryzky dan dia nggak ada hubungan apa-apa lagi, tapi masih aja didatengin. Pake acara surprise segala lagi.
“Assalamu’alaikum.” Eri mengetuk-ngetuk pintu rumah Ryzky yang masih tertutup rapat.
Tak lama keluar seseorang yang sangat dikenal Eri dari balik pintu itu. “Tante Ayu?” Orang yang ternyata Tante Ayu alias Mama-nya Ryzky itu langsung disalami tangannya oleh Eri.
“Eri?” Tante Ayu menyinggahi bibirnya diatas pipi kanan dan pipi Eri secara bergantian. “Eri ngapain kesini?”
“Nyari Ryzky Tante. Mau kasih surprise.” Eri mengerling bangga pada setumpuk barang yang dibawanya dari Bandung tadi, barang-barang itu  diletakkannya diatas meja kecil yang ada di teras.
“Waah! Banyak banget Ri.” Tante Ayu  takjub sendiri. “Ayo masuk! Ryzky belum bangun, masih ada dikamarnya.” Tuh ‘kan bener! Ryzky belum bangun. Bangga Eri dalam hati.
Tante Ayu menggamit lengan Eri masuk kedalam rumah dan membawanya hingga kedepan sebuah pintu yang bertulis “Ryzky’s privat room”.
“Ketuk aja pintunya,” Tante Ayu mengedipkan sebelah matanya penuh arti pada Eri. “Goodluck ya. Ryzky pasti seneng dikasih kejutan sama pacarnya.” Tante Ayu berbalik dan pergi.
Apa kata Tante Ayu? Pacar? Jadi Tante Ayu belum tahu kalau Eri dan Ryzky itu udah.., aduh! Kok tiba-tiba Eri jadi nggak enak hati gini ya sama Tante Ayu. Hmm, udahlah forget it. Sekarang yang terpenting jalankan misi untuk memberi kejutan pada Ryzky (duilee, berat amat bahasanya?)
Eri baru saja mengangkat  tangannya keudara bersiap mengetuk pintu, namun terlambat, kepala Ryzky telah menyembul terlebih dahulu dari balik pintu itu.
“Eri?!” seru Ryzky tak percaya. “Elo ngapain?”
Eri diam, dan hanya memberi isyarat dengan bola matanya agar Ryzky melihat kearah tangannya yang sedang membawa kue tart.
“Buat gue?”
Eri mengangguk. “Happy birthday ya Ki.”
Ryzky tersenyum. Namun senyuman yang sangat hambar tanpa makna, membuat Eri sedikit kecewa. “Thanks.” Ujarnya pendek.
Ooh iya! Mungkin Ryzky bakal senang kalau Eri menunjukkan kado yang dibawanya. “Tunggu bentar ya Ki. Tolong pegangin!” Eri menyerahkan tart-nya pada Ryzky, lalu kedua tangannya sibuk mengaduk isi tas kecil yang dipanggulnya dibahu kanan. “Nih!” Eri menyerahkan kado dengan sampul berwarna biru yang dibawanya tadi kepada Ryzky. Namun Ryzky masih bergeming dalam kehambarannya.
Thanks.” Ujar Ryzky sangat pendek untuk kedua kalinya saat mengambil kado itu dari tangan Eri. Nggak ada kata lain apa selain “thanks”?! gerutu batin Eri sebal.
“Nih tart-nya!” Ryzky menyodorkan kue tart itu pada Eri lagi.
Dum! Eri tersentak mundur beberapa langkah melihat sikap Ryzky kepadanya barusan. Ia menutup (lebih tepatnya sih membanting) pintu kamarnya dengan kuat tepat didepan wajah Eri. Nggak sopan! Udah dapet kado, eh malah seenaknya banting pintu dan ninggalin Eri sendirian disini.
Eri hanya bisa terduduk lemas disofa yang ada disebelah pintu kamar Ryzky. Kue tart yang dibawanya tadi, diletakkan oleh Eri dilantai, tepat diujung kakinya.
Percuma gue kesini! Gue pikir hati Ryzky bakal luluh dan bisa sadar kalau gue masih sayang sama dia. Ternyata nggak! Jangankan untuk sadar. Dia menerima kehadiran gue disini juga nggak kok! Mending pulang aja deh! Putus batin Eri cepat dalam kekecewaan yang mendalam.
Eri baru saja bangkit dari kursinya ketika mendengar seseorang memanggilnya.
“Mau kemana lo?”
Eri menoleh dan mendapati Ryzky tengah berdiri dibelakangnya dengan menggunakan pakaian yang sangat rapi. Ryzky mengenakan kemeja polos berwarna putih, jins belel, dan sepatu  berwarna kecoklatan. Waah, jangan-jangan Ryzky mau ngajak Eri pergi atau jalan bareng lagi! Asyiik!
Ryzky menatap Eri datar. “Kita pergi!”

* * * * * * * *

Mobil Ryzky berhenti tepat didepan sebuah rumah sederhana yang minimalis. Rumah dengan warna ungu yang dominan. Eri jadi heran sendiri, ngapain Ryzky ngajak Eri kesini? Kok bukannya pergi ke restoran yang romantis atau jalan-jalan ke mall sih??
“Ngapain Ki kesini?” tanya Eri penuh selidik.
Ryzky diam, ia hanya turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Eri tanpa berkata apa-apa. Eri jadi ikut mengunci mulutnya rapat-rapat. Takut salah ngomong.
Ryzky menarik lengan Eri dan membawanya duduk diteras rumah itu. “Tunggu sebentar!” pinta Ryzky dengan nada dingin. Lalu masuk kedalam rumah itu tanpa permisi, meninggalkan Eri sendirian.
Eri mengusap wajahnya lesu. Ngapain sih kesini? Nggak jelas banget! Mana Ryzky nggak ngasih tahu apa-apa lagi ke Eri. Bikin Eri jadi penasaran.
Tuk! Tiba-tiba terdengar suara sepatu yang terhantuk kaki dari kursi teras yang memang terbuat dari kayu. Eri mendongak, dan mendapati Ryzky dan…, dan siapa itu ya? Eri nggak tahu. Yang jelas Eri nggak kenal sama cowok yang ada disamping Ryzky itu. Cowok itu emang cakep sih. Udah cakep, tinggi, putih, wajahnya itu charming banget!
Hus! Kok Eri jadi mikir gitu sih?! Inget Eri! Cintamu hanya untuk Ryzky seorang. Pertahankanlah itu. Merdeka! Merdeka! Merdeka! (apa’an sih?)
“Ri, ini I’am. Temen gue.” Ryzky menarik lengan I’am maju kedepan, sehingga tubuh I’am sekarang berada tepat didepan Eri.
“Hai, gue I’am.” I’am tersenyum muaniiiiiissss sekali lalu mengulurkan tangannya kehadapan wajah Eri. Eri sampai bengong takjub melihat perlakuan I’am terhadapnya. Cowok yang amaze.
“Gue Eri.” Eri membalas uluran tangan itu dan tersenyum tak kalah muaniiiisssnya dari I’am tadi (padahal aslinya, senyum Eri tuh bikin mual. Hehe)
Detik berikutnya jabatan tangan itu terlepas. Kini Eri kembali mengalihkan perhatiannya pada Ryzky. Menunggu cowok itu menjelaskan apa maksudnya membawa Eri kerumah I’am sekaligus mengenalkan Eri padanya.
“I’am yang bakal nemenin lo hari ini. Gue nggak ada waktu.”
Eri terperanjat. Kalau aja Eri nggak tahu malu, mungkin udah dari tadi dia meloncat dari kursinya saking kaget. “Maksud lo?”
“Lo tuh anak TK atau apa sih?! Gue udah ngomong segitu jelasnya masih aja nggak ngerti!”
Eri berdiri dari duduknya, kekesalannya sudah sampai ubun-ubun. “Lo bisa ‘kan nggak usah bentak-bentak gue?! Gue nggak budeg sampe elo harus ngomong teriak-teriak!” Eri mengusap air matanya yang sudah mulai menetes satu-persatu. “Apa sih salah gue sama lo? Sampe segitu bencinya elo sama gue dan nggak ada waktu buat gue? Gue kesini mau ketemu dan menghabiskan waktu sama elo Ki. Bukan sama I’am!” Eri meluapkan semua kekesalannya pada Ryzky. Air matanya mengalir semakin deras, tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit yang semakin dahsyat.
“Maafin gue Ri.” Ujar Ryzky terakhir kalinya sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Eri dan I’am.
Eri menghempas tubuhnya. Kembali duduk keatas kursi tempatnya bersandar tadi. Wajahnya terbenam dibalik kedua telapak tangannya.
Sementara itu I’am masih berdiri terpaku ditempatnya tadi. Sorot matanya mengarah pada Eri dengan kasihan. Kasihan karena Eri harus menelan kekecawaan bulat-bulat, kasihan karena Eri dipaksa untuk menghabiskan waktu dengan orang yang asing baginya seperti I’am, dan kasihan karena orang sebaik Eri harus disia-siakan oleh Ryzky. Betapa bodohnya Ryzky, pikir I’am.
5 menit berlalu..
Perlahan I’am mendekati tubuh Eri yang masih mematung dengan air mata. I’am menyentuh pundak Eri pelan. Membuat Eri mendongak dengan sedikit terkesiap. “I’am?”
I’am melempar senyum yang teduh pada Eri. “Jangan nangis ya Ri. Gue jadi ikut sedih kalau elo sedih. Kalau elo udah nggak mau di Jakarta lagi, gue bisa kok nganterin lo ke stasiun Gambir.”
Eri menggeleng kuat. “Gue masih mau disini, gue mau nungguin Ryzky sampe dia ada waktu buat gue.”
“Dia sibuk Ri.”
“Sesibuk apa sih dia sampe dia nggak ada waktu buat gue?!”
Sekali lagi I’am hanya melempar senyum. “Dia lagi sibuk latihan bola, mau ada pertandingan.” Jelas I’am dengan sangat sabar. Membuat Eri jadi nggak enak hati sendiri. Dia ‘kan tadi udah bentak-bentak I’am, tapi cowok ini masih aja menunjukkan sikap yang adem ayem sama Eri.
Eri mulai mencoba meredam amarahnya, agar tak kelepasan membentak I’am lagi. “Gue bingung sekarang mesti ngapain.”
“Mau pulang?” tawar I’am sekali lagi.
“Nggak. Gue mau jalan-jalan.”
I’am tersenyum penuh arti. “Gue harus nepatin janji gue sama Ryzky. Jadi, gue yang bakal nemenin lo jalan-jalan. Deal?